Sequel Of The Hunter : The Guardians

Sequel Of The Hunter : The Guardians
BAB 75 : Kekacauan - Pertarungan (3).


__ADS_3

BUGH..!! BUGH..!! BUGH..!!


BUGH..!! BUGH..!! BUGH..!!


BUGH..!! BUGH..!! BUGH..!!


Fang Lin dan Hahn masih terbang dan bertarung di langit. Mereka berdua saling beradu tinju dan tendangan. Setiap tinju dan tendangan mereka, membuat hembusan angin yang cukup kuat. Dalam posisi ini, hahn masih bisa menampilkan senyuman di bibirnya.


Sedangkan Fang Lin, ekspresi di wajahnya seakan dirinya tertekan. Hahn bersuara. "Apa hanya segini saja, Fang Lin ?" tanyanya di sela-sela pertarungan mereka.


Fang Lin tak menjawab. Ia terus melancarkan pukulan dan tendangannya. Akan tetapi, apa yang ia lancarkan masih bisa di sambut sama oleh Hahn. Dan hebatnya, Hahn terlihat santai dan tersenyum.


BOOM....!!


Pukulan terakhir mereka membuat ledakan energi di langit, dan itu membuat keduanya terdorong ke belakang. Hahn hanya terdorong mundur dua puluhan meter saja. Namun, untuk Fang Lin ia terpental puluh-puluhan meter ke belakang.


Fang Lin segera mengimbangi tubuhnya agar terhenti. Kini ia sudah dalam posisi melayang sambil memegang tangan kanannya yang sedikit terasa sakit. Ya, karena pukulan terakhirnya barusan. Di sini, ia menyadari kalau Tingkat Kultivasinya benar-benar berada di bawah Hahn.


Dengan perlahan, Hahn melayang maju ke arah Fang Lin. "Apa kau lelah ?" tanyanya setelah dirinya berada 10 meter di depan lawannya ini.


"Hahn, aku akui kau lebih hebat dariku. Tapi, apa itu masih belum cukup hingga membuatmu bertindak sejauh ini, hingga harus melenyapkan semua Dunia ?" kata Fang Lin dan bertanya.


Hahn terkekeh mendengar kata-katanya Fang Lin. Lalu ia menjawab. "Entahlah, aku hanya merasa, dari semua Dunia yang ada, cukup 1 Dunia saja dan aku yang berkuasa."


Ketika Fang Lin akan menjawab, tiba-tiba ia merasa ada energi kehidupan yang mendekat. Fang Lin menoleh, ia melihat Reyhan dan Sean terbang ke arahnya. Hahn yang melihat itu tersenyum menyeringai, seakan-akan ia ingin menyantap semuanya.


"Kenapa kalian datang kemari ?" tanya Fang Lin setelah melihat Reyhan dan Sean sudah melayang di dekatnya.


Sean menjawab. "Tentu saja, kami akan membantumu untuk mengalahkan orang ini."


"Ini adalah urusanku, kalian tidak perlu ikut campur." jawab Fang Lin.

__ADS_1


Reyhan membalas. "Masalah Hahn juga masalah kami. Karena ulahnya, semua Dunia di Multiverse terancam. Kami tentu saja harus ikut turun tangan karena nasib Dunia kami masing-masing juga terancam akibat keberadaan kekuatannya."


Sejenak Fang Lin terdiam, lalu ia menghela nafasnya. Ia berfikir apa yang dijelaskan Reyhan ada benarnya. Rasanya egois kalau hanya dirinya yang turun tangan, dan juga belum tentu ia sendiri bisa mengatasi kekuatan Hahn yang sekarang.


Belum sempat Fang Lin akan berbicara, Hahn lebih dulu bersuara. "Apa kalian sudah selesai dramanya ? Rasanya membosankan kalau aku harus mendengar percakapan kalian."


Reyhan membalas. "Hei.., orang yang mengaku dirinya Dewa Iblis. Aku harap kau tidak menyesal setelah kau akan kalah nantinya."


Hahn tersenyum. "Itu seharusnya kata-kataku. Akan kubuat kalian menyesal karena telah berani melawanku."


Wusss....!!


Bersamaan Fang Lin, Reyhan, dan Sean melesat maju ke arah Hahn. Mereka baru siap akan melancarkan pukulan mereka ke arah Hahn. Woosssss....!! Tiba-tiba hembusan angin besar yang disertai warna merah keluar dari tubuh Hahn, dan itu membuat mereka bertiga terdorong melayang mundur belasan mya.


Merasa tak ingin kalah Fang Lin terbang maju lebih dulu. Akan tetapi, tiba-tiba Hahn muncul di tepat hadapannya. BUGH...!! Perut Fang Lin terkena pukulan dari Hahn. Dan itu membuatnya terpental mundur dan ia sedikit memuncratkan darah dari mulutnya. Reyhan pun maju dan langsung memberi serangan pukulan.


Dengan mudahnya Hahn bisa menghindari semua pukulan Reyhan. Reyhan sedikit mundur, lalu ia memunculkan ratusan pedangnya. Semua pedangnya siap akan meluncur ke arah Hahn yang sudah dijadikan target oleh Reyhan. Dan terkejutnya, tiba-tiba Hahn menghilang dari tempatnya.


Di sisi Sean, ia yang juga akan melempar Kapak Petirnya, ia terbelalak karena Hahn tiba-tiba menghilang dari pandangannya. Tiba-tiba sebuah tangan menggenggam salah satu lengan kakinya, tubuh Sean pun langsung terayun dan terlempar jauh. Ya, Hahn yang melakukan itu.


Fang Lin yang terbang balik menuju Hahn. Kedua tangannya sudah di selimuti aura energi kebiruan. "Pukulan Amarah...!!"


Tanpa jeda ketika sudah di dekatnya, Fang Lin langsung melancarkan gerakan pukulan kedua tangannya dengan cepat. Semua pukulannya dihindari dengan mudah oleh Hahn. BUGH...!! Sangat mudah bagi Hahn, ia melihat celah, jadi ia menghantamkan perut Fang Lin dengan salah satu lututnya.


Tubuh Fang Lin perlahan terdorong mundur setelah menerima hantaman barusan. Tak sampai disitu, Hahn mendekat dan salah satu meletakan telapak tangannya di perutnya Fang Lin. Hahn bergumam. "Telapak Maut."


BOOM...!! Wuusss....!!


Tubuh Fang Lin terdorong mundur setelah menerima salah satu serangan kuat milik Hahn. Ia terus terdorong hingga tarusan meter menjauhi tempat pertarungan. Sementara Reyhan, ia tak diam saja, ia mengeluarkan ratusan pedang. Semua pedang-pedangnya melayang mengelilinginya dan langsung ke arah Hahn.


Wusss...!! Wusss...!! Wusss...!!

__ADS_1


Wusss...!! Wusss...!! Wusss...!!


Wusss...!! Wusss...!! Wusss...!!


Wusss...!! Wusss...!! Wusss...!!


Hahn masih terlihat tenang, lalu ia mengeluarkan pedangnya dari cincin penyimpanan miliknya. Tang..!! Tang..!! Tang...!! Tang...!! Hahn menangkis semua pedang-pedang yang datang padanya. Hingga semua serangannya selesai, Hahn berhasil menangkis semua tanpa luka.


Reyhan melesat terbang ke arah Hahn. Sst...!! Tiba-tiba Reyhan menghilang dari pandangnya Hahn. Tap...!! Sebuah kepalanan berhasil ditahan oleh Hahn. Ekspresinya Reyhan pahit, karena tak berhasil memberika luka.


"Apa hanya ini kekuatan kalian ?" tanya Hahn dengan tenang, dia tersenyum.


.....


Sementara di sisi lain. Terlihat Peter dan Queen berhasil mengalahkan Monster Badak yang telah menghalangi jalan mereka. Lalu terdengar suara langkah kaki mendekat. Rupanya Arkhan, keempat temannya Budi datang.


"Apa kalian tugas kalian sudah kelar ?" tanya Peter.


Arkhan menjawab. "Ya, kita semua telah mengevakuasi semua orang yang masih hdiup ke tempat yang aman."


Semua pandangan mereka ke arah langit yang ada di arah pusat kota. Andi bersuara pelan. "Pertarungan yang menakutkan."


"Ayo kita kesana." ajak Peter.


Semua mengangguk setuju. Mereka pun berlari secepat mungkin. Mungkin Peter dan Queen sudah melaju jauh ke depan, Arkhan yang dirinya paling lemah dari semua seniornya berada di urutan ketiga. Keempat temannya Budi, berada di urutan ketinggalan jauh.


______________________


Info : Beberapa BAB lagi Tamat.


Jangan Lupa Like.

__ADS_1


__ADS_2