
Beni menarik string/tali busurnya dan mengarahkan busurnya ke arah langit. Dan seketika anak panah muncul. Lalu ia melepaskan tali busurnya. Wuusss....!! Anak panah yang Beni lepaskan meluncur ke arah langit. Beberapa saat kemudian, anak panahnya itu meledak bagaikan kembang api.
Budi, Andi, Hendi, dan Iwan segera melompat mundur pergi dari tempatnya, begitu juga dengan Beni. 100 Hunter Perusahaan Guild SILVER terdiam melihat kembang api di langit. Beberapa detik kemudian, mereka terbelalak melihat ratusan anak panah datang bagaikan hujan. Ya, itu adalah salah satu jurus Beni dari Busurnya, yaitu bisa membuat ratusan anak panah.
Tetapi yang sebenarnya itu hanyalah ilusi, semua Hunter terkena dampaknya, itulah akibatnya karena terlalu fokus melihat kembang Api ilusi milik Beni. Meski ilusi, itu membuat semua Hunter panik dan berlarian kocar-kacir bukan main. Di sinilah kesempatan datang, Andi melesat ke arah semua Hunter di depannya.
Dengan lincah Andi begerak sangat cepat kesana kemari untuk menyerang satu-persatu Hunter yang ada di dekatnya dengan dua belatinya. Di sisi Hendi, juga tak mau kalah, ia menyerang dengan menggunakan cambuknya, sesekali cambuknya mengikat salah satu Hunter, lalu ia menariknya dan memukul wajahnya dengan keras.
Di sisi Iwan, juga tak kalah hebatnya, ia memukul-pukul semua Hunter yang ada di dekatnya dengan tongkatnya. Sesekali tongkatnya memanjang dan menghantam belasan Hunter. Sedangkan Beni, ia tak menghentikan gerakan tangannya untuk menarik benang busurnya dan terus melepaskan anak panahnya.
Anak anah yang dilancarkan oleh Beni, cukup membuat lawan-lawannya kesakitan membuat mereka tumbang, dan hanya menimbulkan yang tidak begitu parah. Sementara Budi, ia menyerang dengan pukulannya tangan kanannya. Pedang di tangan kirinya, ia gunakan untuk menangkisnya.
Setiap pukulan yang dilancarkan oleh Budi, cukup membuat mereka mundur puluhan meter. Ia tak menggunakan pedangnya untuk menyerang, karena ia tak ingin membuat parah Hunter mendapat luka yang fatal. Ya, Budi dan keempat temannya menyerang tanpa membunuh.
Cukup membuat mereka tumbang atau luka parah yang tak membuat para Hunter untuk tidak berdiri dan melawan. Mau bagaimana pun mereka semua manusia, biar dikatakan naif, karena ia dan keempat temannya masih memiliki rasa kemanusiaan. Semua Hunter yang menjadi lawan mereka berlima tak menyangka kalau mereka dibuat kalah.
Setelah beberapa lama kemudian, dan hampir 1 jam, 100 Hunter Perusahaan Guild SILVER telah kalah, ada yang tak sadarkan diri, dan berlutut. Di sisi Johan, ia tak menyangka hal itu, padahal semua Hunternya adalah laki-laki, tidak ada yang perempuan, karena di matanya Hunter perempuan adalah lemah.
Di sisi para Hunter dari Perusahaan - Perusahaan Guild lain, terutama para pemimpin, tak menyangka kalau semua Hunternya dikalahkan. Dan untuk Budi dan keempat temannya hanya mendapat luka dan sayatan yang ringan. Tetapi mereka berlima masih bisa berdiri dengan tegas dan kuat.
Budi dan keempat temannya sungguh terlihat gagah oleh parah Hunter perempuan. Bahkan Julia, yang merupakan mantan istri Budi, ia terdiam membeku karena kagum pada mantan suaminya itu. Dengan cepat ia menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menyadarkan posisinya yang saat ini.
__ADS_1
Henri juga tak kalah terkejut melihat kehebatan dari Budi dan keempat temannya itu. Kini semua orang di tempat itu terasa Hening setelah melihat kekalahan pasukan Hunter Perusahaan Guild SIlVER. Henri menggumam. "Mereka sungguh hebat. Kalau disetarakan masing-masing dari mereka berlima berada di Tingkat Rank S."
Budi dan keempat temannya berjalan untuk berkumpul. Budi pun bersuara. "Ayo kita pergi dari sini" keempat laki-laki mengangguk kepalanya. Lalu mereka menyimpan senjata mereka ke cincin penyimpanan mereka masing-masing.
Dan benar saja, semua orang yang melihat mereka terkejut bukan main. Mereka bergumam. "Bagaimana bisa ?"
Mereka bertanya-tanya dalam kepala mereka. Karena Budi dan keempat temannya telah menyatakan kalau mereka telah mengundurkan diri dari Perusahaan Guild SILVER. Tak hanya itu, perangkat Augma mereka telah mereka lepaskan. Jadi, bagaimana caranya mereka berlima bisa menyimpan senjata mereka masing-masing.
Budi dan keempat temannya pun berjalan menjauhi tempat itu meninggalkan semua orang yang masih menatap mereka dengan bingung. Ketika baru berjalan 10 meter, tiba-tiba ada seseorang datang dengan gerakan cepat ke arah mereka. Sontak mereka berlima langsung menyadari hal itu dan mereka melompat ke segala untuk menghindar.
Tak hanya Budi dan keempat temannya yang terkejut, tetapi semua orang juga tak kalah terkejutnya. Ya, yang datang menyerang adalah Albert, sang pemimpin Perusahaan Guild BROWN sekaligus suami dari Julia. Di sisi Budi, ia memandang dingin ke arah lelaki itu. Di sisi Julia, ia tak menduga kalau suami keduanya berniat menyerang mantan suaminya.
"Apa maksud dari tindakanmu ini ?" tanya Budi yang masih memandang dingin ke arah Albert. Begitu juga dengan keempat temannya yang terheran atas tindakan yang dilakukan oleh Albert.
Di sisi Henri, dan semua orang memilih diam dan menonton saja.
"Apakah aku harus menjawab pertanyaanmu itu ?" balas Budi bertanya.
"Tentu kamu harus menjawabnya. Karena aku sangat mengenalmu. Mana mungkin orang yang tak begitu tertarik dengan kekuatan sepertimu bisa memiliki kekuatan yang setara dengan Hunter Tingkat Rank S." jawab Albert sambil mengacungkan pedang besarnya ke arah Budi.
Budi terkekeh mendengarnya. Ia pun menjawab. "Tentu saja aku latihan keras untuk bisa meraih kekuatan yang aku miliki saat ini."
__ADS_1
Albert mengibaskan pedangnya ke samping. "Kalau begitu, aku ingin mengujimu."
Budi mengangkat alis sebelahnya. "Mengujiku ? Apa sebegitu menariknya sehingga membuatmu tertarik dengan kekuatanku ?"
Albert menjawab. "Ya. Aku sangat tertarik dengan kekuatanmu itu. Bagiku itu adalah ancaman yang harus kuatasi."
Budi tersenyum menyeringai. "Kenapa ? Apa karena kau takut bila istrimu berpaling darimu dan kembali padaku ?"
Albert tak menjawab, ia memandang tajam ke arah Budi, perasaannya sungguhlah kesal. Jelas ia marah mendengar kata-kata itu. Di sisi Julia, ia terbelalak mendengar kata-kata dari mantan suaminya itu.
Semua orang yang mendengar kata-kata Budi sedikit terkejut mendengarnya, dan ada sebagian yang belum mengerti. Sedangkan Henri, ia biasa-biasa saja, karena ia adalah sahabat Albert, jadi jelas tau masa lalu dengan 2 laki-laki itu. Jadi ia memiliki diam dan menonton drama ini.
Budi kembali bersuara. "Kamu tenang saja. Aku sudah tak tertarik padanya, dan juga aku tidak niat untuk merebut kembali apa yang sudah kamu rampas dariku."
"Lagi pula, aku sudah menikmati hidupku selama ini. Bagiku hidup tenang dan damai tanpa membayangkan masa lalu, itu sudah sangat cukup bagiku." tambahnya dengan disertai senyuman tanpa ada paksaan. Bahkan keempat temannya juga tersenyum mendengarnya.
Wusss...!!
Albert melesat maju menyerang. Dan Budi, ia langsung mengeluarkan pedangnya lagi dari cincin penyimpanannya dan langsung menggunakan pedangnya untuk menahan serangan Albert.
______________________
__ADS_1
Jangan Lupa Like.