
Terlihat lebih dari 400 orang berada di tengah Hutan yang cukup jauh dari Kota. Mereka tak lain adalah para Hunter. Mereka tengah menjalankan tugas dari pemimpin mereka masing-masing. Mereka masih diam dan memilih melihat atasan mereka sedang berbincang-bincang.
"Karena kalian dekat dengan kelima orang asing itu, aku memerintahkan kalian untuk mengajak mereka untuk masuk ke Perusahaan Guild SILVER." kata Johan.
Budi terkekeh mendengarnya. Lalu ia kembali memandang dingin ke Johan. "Maaf sekali, Tuan Johan. Kami berlima memutuskan untuk keluar dari Perusahaan Guild-mu."
Johan terdiam dan memandang tajam ke arah Budi. Henri yang di dekatnya pun berbicara padanya. "Johan, apa aku tidak salah dengar ?"
Jujur saja, Henri merasa kesal, karena ia merasa diabaikan. Dan ia semakin kesal, karena mendengar ucapan salah satu bawahannya, yang tak lain Johan yang rupanya juga menginginkan kelima orang hebat asing tadi.
Johan menoleh, dan memandang Henri yang berdiri yang cukup dekat dengannya. Ia tersenyum ramah, meski dalam hatinya ia benar-benar terpaksa. "Jujur saja, Tuan Henri. Aku juga menginginkan kelima orang itu untuk maauk ke Perusahaan Guildku."
"Begitu 'kah ?" sahut Henri sambil tersenyum.
Johan menjawab. "Aku tak ingin menafik, Tuan Henri. Tak hanya aku dan anda, tetapi semua Pemimpin Perusahaan Guild yang di bawah naunganmu juga menginginkan hal yang sama."
"Kalau aku tak mengizinikannya, apa kalian tetap teguh dengan keinginan kalian ?" balas Henri yang bertanya.
"Tentu saja kami tidak keberatan." jawab Johan dengan sopan, dan mewakili semua pemimpin Perusahaan Guild lainnya.
Sebenarnya dalam hatinya, ia keberatan. Begitu juga dengan pemimpin Perusahaan Guild lainnya. Mengingat Henri adalah atasan mereka, mereka tak bisa berbuat macam-macam. Terlebih lagi, Henri juga seorang Hunter yang terkuat dan membawa semua bawahannya saat ini.
Jelas sekali, Johan dan yang lainnya bukanlah apa-apa dibanding dengan Henri. Di sisi Albert, yang merupakan Pemimpin Perusahaan Guild BROWN, ia melangkah maju mendekati Henri dan pemimpin Perusahaan Guild SILVER itu. Seseorang yang tak lain istrinya, juga berjalan mengekorinya.
Semua orang memandang mereka berdua, begitu juga dengan Henri dan Johan menoleh dan memandang Pemimpin Perusahaan BROWN mendekat. Setelah berdiri di dekat mereka, Albert memandang rendah ke arah Budi yang berdiri di hadapannya dan memandang dingin padanya.
__ADS_1
"Tak kusangka kau masih memiliki harga diria untuk menunjukkan dirimu di dihadapanku." ucap Albert. Sedangkan istrinya yang bernama Julia, ia sudah berdiri di samping suaminya, ia juga memandang remeh ke arah Budi yang merupakan mantan suaminya.
"Albert, bisakah kau diam dan menyampingkan urusan prubadimu ? Karena aku sedang ingin berbicara dengan ketua Tim Elang Hitam ini." ucap Henri. Ya, dia sedikit tau masa lalu Budi, Julia, dan Albert. Karena Albert adalah sahabatnya, tetapi ia tak begitu peduli masa lalu mereka bertiga.
Albert memandang Henri, lalu ia mengangguk kepalanya. Henri pun kembali memandang Budi dan keempat temannya. "Selagi kalian masih ada di sini, aku ingin menanyakan secara langsung kepada kalian. Apakah selama ini kalian berdiam dan berlindung di balik kelima orang tadi ?"
Dengan dingin Budi menjawab. "Berlindung ? Aku tak pernah meminta mereka untuk melindungi kami."
Johan membalas. "Lalu, kemana kalian selama ini ? Kalian menghilang tanpa sebab, seakan ditelan bumi."
Andi menjawab. "Suka-suka kami yang ingin bila ingin pergi kemana pun."
Johan memandang mereka berlima dengan dengan tajam. Ia tak menyangka anggota Tim Elang Hitam yang berada di naungannya, kini telah berani padanya. "Apa kalian lupa ? Aku adalah atasan kalian !!"
Tindakan Budi diikuti oleh keempat temannya. Lalu mereka berdua menjatuhkan perangkat Augma mereka masing-masing. Lagi pula, masing-masing dari mereka berlima telah mendapatkan cincin penyimpanan yang telah diberikan oleh Reyhan sebelumnya ketika akan berangkat.
Tindakan mereka berlima membuat semua orang di sana terkejut bukan main. Terutama Johan yang merupakan atasan mereka. Johan pun bersuara. "Apa kalian tidak berfikir tentang akibat apa yang kalia lakukan barusan ?"
Budi dan keempat temannya mengangguk kepalanya. Bersamaan mereka menjawab. "Ya, kami tau."
Johan tersenyum menyeringai. "Status kalian masih terikat kontrak dengan Perusahaanku. Bila kalian ingin keluar, kalian harus membayar denda. Tak hanya membayar denda padaku, tetapi juga membayar denda kepada Tuan Henri, karena sampai kapanpun Gen Hunter mengalir pada diri kalian."
Tiba-tiba 2 kantong melayang masing-masing ke arah Johan dan Henri. Dengan gesit Johan dan Henri menangkapnya sambil memasang ekspresi bingung memandang Budi yang tiba-tiba melempar kantong padanya. Ketika dibuka, isinya banyak sekali koin emas.
Ya, itu adakah koin yang telah diberikan oleh Reyhan pada mereka masing-masing sebagai bayaran bulanan. 2 kantong yang ia lempar itu baru setengah dari bayaran mereka berlima. Tak menyangka kalau Reyhan begitu mudahnya menggaji mereka dengan koin emas dengan jumlah yang tak biasa.
__ADS_1
"Itu adalah bayaran untuk denda kami kepada kalian." kata Budi, lalu ia berbalik dan melangkah pergi meninggalkan semua orang di sana. Keempat temannya juga mengekorinya.
Disisi Albert dan Julia terbelalak melihat Budi yang bersikap seperti itu. Di sisi Henri, ia tak masalah, lagi pula ia hanya tertarik dengan kelima orang asing tadi. Tetapi berbeda dengan Johan, ia merasa direndahkan di depan ratusan orang, termasuk semua bawahannya.
Johan pun berteriak. "Semua Hunter dari Perusahaan Guild SILVER, serang mereka berlima !!"
Henri terkejut mendengar teriakan Johan. Seharusnya kalau sudah membayar denda, maka semua sudah selesai. Tetapi kenapa Johan tiba-tiba menyuruh semua anak buahnya untuk menyerang Budi dan keempat temannya ? Apa segitunya Johan membenci mereka berlima ?
100 Hunter dari Perusahaan Guild SILVER berlari maju setelah mendengar teriakan Johan. Mereka adalah pasukan Hunter yang di bawa Johan. Ia tak membawa semua Hunternya, karena tak ada gunanya membawa Hunter yang lemah. Tingkat Hunter yang dia bawa berada di Rank A dan B. Begitu juga dengan pemimpin Perusahaan Guild lainnya.
Di sisi Budi dan keempat temannya, menghentikan langkah kaki mereka. Mereka berlima berbalik dan memandang pasukan Hunter dari Perusahaan BROWN datang berjalan ke arah mereka.
Budi menghela nafasnya. "Apakah semua Manusia di Dunia ini benar-benar sudah tidak waras ?"
"Entahlah, apa kita harus menghadapi mereka ?" tanya Andi.
"Bila aku ingin membalas mereka, apa kalian akan ikut ?" tanya Budi sambil memandang keempat temannya.
Andi, Beni, Iwan, san Hendi mengangguk kepalanya. "Tentu saja. Mau bagaimana pun, kamu adalah ketua kami. Kita akan selalu bersama menghadapi semua masalah yang datang pada kita."
Budi tersenyum, lalu ia mengeluarkan pedang katananya dari cincin penyimpanannya. Begitu juga dengan keempat temannya. Mereka berlima sudah menggenggam senjata mereka masing-masing, dan langsung memasang posisi kuda-kuda.
______________________
Jangan Lupa Like.
__ADS_1