Sequel Of The Hunter : The Guardians

Sequel Of The Hunter : The Guardians
BAB 24 : Terlepas.


__ADS_3

Setelah hampir 2 jam keributan di sudut taman kota, pun akhirnya bisa diatas, meski menjadi sebuah pertanyaan besar. Ya, tiba-tiba ke-3 pemuda yang saling berkelahi pun berhenti seketika terjatuh dan terbaring tak sadarkam diri. Tak hanya para petugas keamanan taman hiburan saja, para pengunjung juga heran melihatnya.


Yang awalnya ke-3 pemuda itu terus berkelahi dan sulit dipisahkan, mereka tiba-tiba terhenti dan langsung ambruk begitu saja. Keadaan mereka sudah babak belur, bahkan noda darah tak hanya membasahi pakaian mereka, tetapi juga berceceran dimana-mana.


Tentu saja aksi ke-3 pemuda itu menjadi viral setelah hampir semua pengunjung merekam mereka dan mengunggahnya ke sosial media. Ke-3 pemuda itu pun dibawa oleh petugas keamanan ke tempat khusus, dan akan mengintrohasi mereka ketika sudah sadar.


Disisi lain seorang Gadis cantik tengah duduk di kursi panjang, dan menundukkam wajahnya setelah diberi nasehat yang amat lembut oleh seorang pemuda tampan yang duduk di sebelahnya. Dia tak lain Queen yang sedang dinasehati oleh Peter.


"Kamu boleh memberi mereka pelajaran, tetapi jangan berlebihan. Meski mereka Hunter, tetap saja tindakanmu bisa membahayakan nyawa mereka."


Ya, sebelumnya Peter menasehati Gadis setengah Vampir itu. Tak tertampak wajah marahnya, malahan lemah lembut memberi pengertian kepada Gadis pujaan hatinya ini.


"Kamu bahkan sempat-sempatnya menghisap darah mereka." ucap Peter lagi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum kecil.


Queen hanya menahan senyumannya. Peter bersuara lagi. "Aku tak ingin kamu manjadi naif, tetapi berilah kasihan kepada mereka. Begitu juga mereka pasti memiliki keluarga dirumah."


"Ya, aku paham." jawab Queen sambil tersenyum.


Senyuman Peter semakin lebar melihat senyuman dari Gadis setengah Vampir ini. Ia memegang kepala Queen dan mengelusnya. "Cantiknya.... pacarku ini kalau lagi tersenyum."


Queen terkekeh geli mendengarnya. Ya, mereka sudah menjadi sepasang kekasih sebelum datang ke pertemuan bersama lainnya. Peter mengutarakan perasaannya ketika menjemput Queen. Gadis itu juga mengakui kalau dirinya benar-benar merasa kehilangan setelah kepergian Peter saat itu.


Mereka belum menyatakan hubungan mereka kepada yang lainnya. Mereka menjalankan hubungan ini apa adanya. Bila ada yang bertanya, tentu saja, mereka menjawab kalau mereka memang menjalani hubungan sepasang kekasih. Tak ada yang ditutupi.


Peter pun bangkit dari duduknya. Lalu ia mengulurkan tangan kanannya. "Ayo."


Queen mengangkat alis sebelahnya. "Aku bisa berdiri sendiri."

__ADS_1


Peter masih mengulur tangannya yang menunggu sambutan dari pasangannya. "Aku tau. Aku tau kamu bisa berdiri sendiri, dan aku kamu akan bilang begitu. Tetapi aku akan tetap mengulurkan tanganku, menandakan aku akan selalu bersamamu, apapun yang terjadi."


Queen tersenyum. Lalu ia menyambut tangannya Peter. Ia pun berdiri dari duduknya. Mereka berdua pun berjalan bersama meninggalkan tempat itu. Tempat tujuan mereka kali ini adalah kembali ke markas.


.....


Disisi Lain, Reyhan masih di dalam Dungeon. Nafasnya terengah-engah. Ya, dia cukup kelelahan bertarung dengan bos Dungeon yang ia masuki, yang tak lain Centaur yang besar. Ia berdiri tak jauh dari mahluk ini. Centaur itu kini tengah menekuk keempat kaki kudanya, tepatnya ia terduduk di tanah, dan juga telihat luka-luka di seluruh tubuhnya.


Hampir seluruh zirah yang melindungi tubuh mahluk itu hancur. Reyhan tak menyangka lawannya ini sangat kuat dan hampir bisa mengimbanginya. Meski ia tak mendapat luka, tetapi tenaganya cukup terkuras banyak. Ya, ia akui sekuat apapun dirinya, pasti akan memiliki batasan, tak selamanya ia bisa terus menang.


Dan mungkin saja, masih ada Mahluk yang lebih kuat dari Centaur ini. Centaur ini masih terdiam duduk lemas di tanah. Helm zirahnya masih melindungi kepalanya. Reyhan pun mengeluarkan Api Biru di tangan kanannya. Lalu ia melemparnya ke arah kepala mahluk itu.


Ya, Reyhan bermaksud menghancurkan helm Centaur, karena ia penasaran dengan rupa wajah mahluk ini. Helm zirah milik centaur itu pun hancur. Kini terlihat sudah. Rupanya mahluk ini memiki wajah yang tak kalah tampan rupanya. Namun yang membuat Reyhan terbelalak bukan itu, tetapi ukuran mahluk itu perlahan mengecil.


kini Centaur itu memiliki ukuran tubuh manusia dan tubuh kuda yang normal. Kedua mata centaur ini tak menyala merah lagi, melainkan kedua matanya sama persis seorang manusia biasa, dan memiliki rambut panjang berwarna coklat. Mahluk itu memandang Reyhan, ia tersenyum.


"Terimakasih telah membebaskanku." ucap centaur itu.


"Tentu saja aku bisa berbicara sebelum aku masuk ke dalam pengaruhnya."


"Pengaruhnya ?" gumam Reyhan bertanya-tanya.


"Hahhh..., senang sekali rasanya bisa terlepas dari penderitaan." ucap centaur itu sambil tersenyum lebar dengan kedua mata sayunya, meski ia masih terlihat lemas dan tak berdaya.


Reyhan juga tersenyum mendengarnya. Karena bukan hanya membebaskan Mahluk ini, tetapi juga keputusan untuk mengalahkannya tanpa harus membunuh. Jadi ia bisa berbicara dengannya untuk mencari informasi.


"Bolehkah aku bertanya sesuatu ?" tanya Reyhan, lalu ia berlutut di hadapan centaur itu yang masih terduduk lemas.

__ADS_1


Centaur itu mengangguk kepalanya. "Silahkan, selagi aku masih memiliki waktu."


Reyhan sedikit memiringkan kepalanya. "Waktu ?"


"Ya, karena aku tak memiliki waktu yang banyak setelah terlepas dari pengaruhnya."


"Kenapa bisa begitu ? Dan siapa yang telah membuatmu seperti ini ?" tanya Reyhan yang sangat penasaran dengan raut wajah yang marah, karena tak terima melihat centaur, seakan mahluk ini dipermainkan.


"Aku juga tidak tau, karena aku hanya merasa jiwaku akan lepas dari ragaku." ucap sang centaur. "Kalau kau ingin tau, siapa yang telah membuatku seperti ini, jawabannya adalah dewa iblis." lanjutnya.


"Dewa iblis ? Aku tak menyangka ada iblis menjadi dewa." sahut Reyhan.


Centaur itu terkekeh. Lalu Reyhan kembali bersuara. "Apa dewa iblis itu adalah dalang yang telah melakukan semua ini ?"


Centaur mengangguk kepalanya. "A-aku tak bisa bercerita banyak, karena a-aku merasakan jiwaku benar-benar terlepas dari raga ini. Yang jelas tujuan dewa iblis ini adalah menginginkan menguasai semua Dunia yang a-ada di Multiverse."


Reyhan terkejut mendengarnya. Ia tak menyangka mahluk ini bisa mengetahui apa itu Multiverse. "Kamu tau apa itu Multiverse ? Apa kamu juga mengenal Tuan Edgar ?"


Centaur itu menggeleng-gelengkan kepalanya. "A-aku tak mengenal siapa yang kamu maksud. Dan, ke-kenapa aku tau apa itu Multiverse ? Karena a-aku memiliki sahabat se-seseorang yang tinggal di salah satu Dunia, yang dimana Dunia itu adalah Dunia Kultivator."


"Dunia Kultivator ?" sahut Reyhan yang tak tau apa Dunia itu.


"Ma-af, a-aku tak bisa memiliki waktu yang lama. Yang je-jelas datanglah ke Dunia Kultivator, dan temuilah sahabatku. Dia bernama, Fang Lin. Dan tolong, bunuhlah dewa iblis."


Reyhan yang tak rela melihat centaur ini, tak punya pilihan lain, ia mengangguk kepalanya. Ia bertanya. "Sebelum kamu pergi, alangkah baiknya kita berkenalan. Namaku Reyhan."


Centaur itu tersenyum. "Namaku..... George." ucapnya. Setelah mengatakan namanya, ia pun menutup kedua matanya.

__ADS_1


_______________________


Jangan Lupa Like.


__ADS_2