
Terlihat Monster Yeti itu mulai berlari ke arah Budi dan keempat temannya. Mereka berlima tidak panik, mereka sudah siap dan membuang rasa takut mereka. Mereka tak ingin nihil dari latihan selama ini. Mereka pun mengeluarkan senjata mereka masing-masing dari inventory.
Kini mereka memiliki senjata baru, senjata lama mereka telah rusak saat latihan. Budi memakai pedang katana, Andi memakai dua belati, Iwan memakai tombak, Hendi memakai cambuk, dan Beni memakai busur. Senjata mereka bukanlah senjata biasa.
Mereka bisa mendapatkan senjata baru karena Reyhan yang memberikannya dengan cuma-cuma. Ya, karena Reyhan sudah memiliki segalanya yang tak terhitung di ruang hartanya.
Pedang katana milik Budi bisa mengeluarkan Api. Dua belati di kedua genggamannya Andi bisa membuat dirinya bergerak dengan cepat. Tongkat milik Iwan bisa memanjang dan mengecil, efek serangannya tidak bisa. Cambuk milik Hendi bisa memanjang dan menghantarkan Petir.
Meski begitu, mereka harus memakai energi mananya untuk bisa memakai senjata mereka secara luasa. Dan untuk Busur milik Beni yang cukup istimewa, karena dengan menarik string/tali busurnya, seketika anak panahnya muncul dan siap digunakan untuk menyerang.
Jadi Beni tak perlu amunisi untuk Busurnya, tinggal menarik stringnya, anak panah sudah siap dilancarkan. Sama seperti keempat temannya, untuk menggunakan 1 anak panah saja, Beni harus sedikit memakai energi mananya.
.....
Bruukk...!!
Budi dan yang lainnya melompat mundur ketika Monster Yeti itu melompat ke arah mereka dan langsung melancarkan serangannya. Dengan kedua tangannya disatukan untuk menghantam, itu cukup membuat serangan dari Monster Yeti tanah menjadi retak tak karuan.
Beni yang sudah ada di dahan pohon, ia segera menarik string busurnya. Anak panahnya pun muncul dan siap ia lancarkan. Bedi membidik targetnya. Meski jaraknya 20 meter dari target, ia yakin bisa melakukannya.
Bedi pun melepaskan anak panahnya. Anak panahnya meluncur dengan cepat, dan juga disertai dengan gelombang udara di ujung runcing anak panahnya. Ya, Busur miliknya mengandung elemen Angin.
JLEB...!!
Bedi segera menarik string busurnya lagi setelah melihat anak panahnya barusan telah menancap di punggung Monster Yeti. Ia bergumam. "Sepertinya tubuh Monster ini cukup kebal."
Bedi berfikir seperti itu, karena Anak panahnya panahnya tadi hanya membuat Monster itu sedikit oleng, padahal sudah disertai gelombang udara. Monster Yeti hanya berteriak, entah itu teriakan marah atau kesakitan. Beni terus memanahnya.
Beberapa anak panah milik Beni menyerang Monster Yeti. Lalu ada 2 anak panahnya menancap di dadanya dalam 1 titik. Tangan kanan Monster Yeti itu meraih kedua anak panah yang telah menusuk dadanya. Melihat itu Andi bergerak dengan cepat untuk mendekat.
Lalu Andi melompat dan langsung memberikan luka sayatan di punggung Monster itu. Begitu mendarat, Andi langsung melompat mundur dan membalikkan tubuhnya. Ia kembali memberi luka sayatan lagi di punggung Monster itu. Monster itu meraung keras.
__ADS_1
Bukannya segera menjauh, Andi segera melompat lagi untuk mendekat Monster itu. Monster Yeti langsung melancarkan kirinya tangannya untuk menyerang Andi yang mendekatinya, sedangkan tangan kanannya tengah menahan luka tusukan sebelumnya agar darahnya tak terus keluar.
Tiba-tiba, gerakan tangan kirinya terhenti setelah ada yang mengikatnya lengannya.
Slasshh..!!
Andi berhasil mesayat perutnya.
DUGH...!!
Iwan memukul salah satu lutut kaki Monster itu dengan tongkatnya setelah ia mendekat. Serangannya, membuat Monster Yeti berlutut.
JLEB...!!
JLEB...!!
JLEB...!!
Di saat Hendi tengah menyetrum Monster Yeti itu, di sisi Budi, ia tengah berdiri tenang sambil menggenggam pedang katana dengan kedua tangannya. Pedangnya pun tereselimuti Api yang membara. Ia pun berlari mendekati Monster Yeti.
Keempat sahabatnya sudah tau, apa yang akan dilakukan Budi, mereka segera menghindar. Tangan kiri Monster Yeti itu terlepas dari cambukan Hendi. Ternyata Monster kelas Rank S memang memiliki fisik tubuh yang tidak biasa. Meski Hendi sudah menyetrumnya, Monster itu tidak tumbang.
Monster itu menolehkan kepalanya. Dia melihat Budi yang berlari mendekatinya, dengan membawa pedangnya yang siap untuk membunuhnya. Monster Yeti itu tentu saja tidak tinggal diam saja. Ia segera bangkit dan ikut melesat ke arah Budi.
Di sisi Budi, ia tak panik sama sekali melihat Monster Yeti datang padanya. Kedua tangannya semakin mengeratkan genggamannya pada gagang pedangnya. Budi pun melompat maju, seluruh tubuhnya pun terselimuti cahaya ungu, begitu juga pedangnya.
Budi dan Monster Yeti semakin mendekat. Hingga akhirnya Monster Yeti melayangkan salah satu tangannya untuk menyerang Budi. Sedangkan Budi, ia melayang pedangnya ke arah Monster Yeti yang juga menyerangnya.
.....
Sementara, di waktu bersamaan, di tempat lain, terlihat 4 orang tengah berjalan santai bersama. Mereka tak lain Reyhan, Sean, Peter, dan Queen. Sebelumnya, mereka sudab berpencar ke segala arah. Tak ada 1 jam lebih, mereka pun berkumpul di satu titik setelah membunuh semua Monster yang mereka temui.
__ADS_1
Sambil berjalan mereka berbincang-bincang. Mereka menceritakan tentang semua Monster yang telah mereka bunuh. Lalu Peter mulai menyinggung hal lain.
"Menurutmu, Budi dan yang lainnya apakah baik-baik saja ?" tanya Peter.
Sean menjawab. "Semua pasti baik-baik saja. Tidak perlu ada yang dikhawatirkan."
Lalu mereka menghentikan langkah kaki mereka. Mereka merasa sesuatu gelombang lembut di dalam tubuh mereka. Ya, itu tak lain Infinity Stone yang ada dalam diri mereka berempat. Mereka saling memandang.
Reyhan pun bersuara. "Arkhan atau Budi yang sedang menggunakan Infinity Stone-nya ?"
Reyhan bertanya hal itu, karena diantara mereka berempat tidak ada yang memakai Infinity Stone mereka semenjak kedatangan Hahn hingga sekarang. Dan Arkhan sedang ada di markas untuk menjaga Lisa, anak perempuannya Budi. Jadi mana mungkin Arkhan menggunakannya.
Lalu pikirannya mereka beralih tentang Budi. Peter pun bersuara. "Apa Budi yang menggunakannya ?"
"Bisa jadi." sahut Sean.
Setelah menebak, mereka pun melanjutkan perjalanannya. Sebenarnya mereka bisa saja berlari cepat atau Reyhan membuka Portal untuk ke tempat Budi dan yang lainnya. Namun mereka tidak melakukannya, karena tidak ada salahnya mereka sesekali berjalan santai bersama.
"Sepertinya Budi merasa terdesak, jadi dia menggunakan Power Stone-nya." Queen menebak.
Sean menggeleng-gelengkan kepalanya. "Sepertinya tidak seperti itu, Queen."
Reyhan dan Peter memilih diam, dan mendengar percakapan Sean dan Gadis setengah Vampir itu
"Sebenarnya, mereka berlima seberapa kuat ?" tanya Queen penasaran. Ia yakin Sean yang lebih mengerti dengan perkembangan Budi dan keempat temannya, secara Sean yang selalu turun melatih mereka berlima.
Sean menjawab. "Dari segi kekuatan mereka masing-masing, mereka sudah berkembang, terutama Budi, dia lebih kuat dari keempat temannya itu. Namun tetap saja kekuatannya masih jauh dibawah kita semua."
Sean menambahkan. "Akan tetapi, dia bisa membuatku dalam bahaya saat dia dan keempat temannya bekerja sama."
______________________
__ADS_1
Jangan Lupa Like.