
Monster Gorila terdorong mundur ke belakang setelah menerima pukulan dari Queen. Monster itu pun terduduk di tanah, dia memegang wajahnya dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya, ia hantamkan di tanah, seakan-akan dirinya marah.
Monster Gorila itu merasakan rasa sakit di wajahnya. Terlebih di punggungnya, karena ada luka sayatan yang cukup panjang. Dia tak hanya marah, dia juga seperti merengek karena tak terima apa yang ia rasakan. Bukatinya dia memegang wajahnya dan tangan satunya memukul-pukul tanah.
Sementara Queen, dia berdiri tenang dan memandang dingin ke arah Monster Gorila itu. Dia pun menoleh kepalanya dan melihat sosok yang tak asing baginya datang padanya. "Kenapa kau bisa tau aku di sini ?"
"Tentu saja aku tau. Karena aku telah menanamkam energi manaku ke cincin yang kuberikan kepadamu." jawab pemuda berjaket hoodie hitam, dia tak lain Peter, kekasih Queen.
Peter berjalan mendekati Queen, bersamaan dia masuk ke Mode Normalnya. Ya, dia yang datang begitu melihat Queen, dia langsung melesat datang dan memberi luka sayatan di punggung Monster Gorila itu.
Queen sedikit memiringkan kepalanya. "Bagaimana bisa ? Bukankah kau bilang ini hanyalah cincin pertunangan kita ?"
Ya, itulah yang Queen tau. Cincin yang ia terima dari Peter adalah cincin pengikat atau pertunangan mereka berdua. Peter melakukan itu sebagai tanda kalau dirinya benar-benar serius menjalani hubungan dengan Queen. Tak ada orang satu pun yang tau kalau mereka telah saling mengikat.
10 hari yang lalu, diam-diam Peter membeli sebuah inti Monster kelas tinggi di sebuah toko khusus Hunter. Setelah membelinya, ia datang ke tempat pengrajin untuk membuat sebuah cincin dari inti Monster itu. Cincin pesanannya jadi, meski memakan waktu tidak sedikit.
Tepat 4 hari yang lalu, sebelum ia memberikannya kepada Queen, Peter menanankan energi mananya ke cincin itu. Sebenarnya ia tak tau kalau cincin yang terbuat dari inti Monster ini bisa ditanamkan energi mana, ia hanya mencoba-coba.
Dan benar saja, energi mananya terserap ke cincinnya itu. Jadi niatan Peter membuat cincin dari inti Monster kelas tinggi, bukan hanya sebagai pertunangan saja. Tetapi, ia ingin selalu bisa melacak keberadaan pujaan hatinya.
Setelah mendengar penjelasan dari Peter, Queen tak menjawab apapun. Tetapi terlihat jelas kalau wajahnya sedikit memerah. Peter yang melihat itu hanya tersenyum, ia berkata apapun juga atau menggodanya, karena tak ingin membuat Gadis setengah Vampir itu semakin malu.
__ADS_1
Terlebih kini situasi sekarang tidaklah tepat. Kini pandangan mereka beralih ke arah Monster Gorila yang kini sudah berdiri sambil memukul-pukul tanah di sekitarnya dan berteriak keras. Dia memandang marah ke arah mereka berdua.
Peter yang berdiri disamping Queen berkata. "Apa dia Bos Dungeonnya ?"
Queen mengangguk kepalanya. "Ya, tak kusangka Monster ini sangat kuat."
Peter menjawab. "Ayo kita serang dia bersama-sama." Queen hanya merespon dengan mengangguk kepalanya.
Peter tau, kalai Queen pasti sangat marah karena tak bisa mengalahkan lawannya ini. Karena ia bisa merasakan aura kematian yang terus keluar dari tubuh Gadis setengah Vampir ini. Peter berdiri tegak di tempatnya sambil mengarahkan pedangnya ke arah Monster Gorila itu.
Sedangkan Queen, dia hanya membuka telapak tangannya ke arah samping, dan seketika senjata yang sebelumnya ia buang ke sembarang tempat pun bergerak melayang dengan sendirinya dan datang padanya. Peter pun bergerak maju, begitu juga dengan Queen.
Ketika serangan Queen akan melayangkan senjatanya, tiba-tiba...., Slasshh....!! Sebuah serangan tebasan di punggung Monster Gorila. Yang menyerang adalah Peter. Perbuatan Peter, membuat pertahan Monster itu menjadi terbuka.
Slasshh...!! Lagi-lagi Monster Gorila mendapat luka sayatan. Kali ini dadanya yang kena serangan dari Queen. Parahnya lukanya cukup dalam, hingga darah hitam keluar dari mengalir lebih banyak dari luka sayatan yang ada di belakang punggungnya.
Sang Monster berteriak keras tak karuan. Karena lagi-lagi dia mendapat luka sayatan, tak hanya di punggungnya lagi, tetapi di dadanya. Meski begitu, dia masih bisa berdiri dengan luka-luka yang ada tubuhnya. Mungkin tekadnya yang kuat jadi baginya luka-luka itu hanyalah sebuah hiasan saja.
Queen dan Peter saling bergantian menyerang Monster Gorila itu. Di sisi Sang Monster, dia juga tak mau kalah, dia hanya mengandalkan kedua tangannya yang keras sebagai senjatanya untuk melawan. Mereka cukup lama saling beradu, menyerang, bertahan, dan menangkis setiap serangan yang datang.
Peter dan Queen pun melompat mundur. Bersamaan, mereka berdua kembali melompat maju lagi ke arah Monster Gorila itu selagi sibuk berteriak dan mengamuk di tempatnya. Queen melempar tongkat sabitnya ke arah Monster itu. Senjatanya berputar-putar mendekat targetnya.
__ADS_1
JLEB...!!
Tongkat sabit milik Queen tertancap di dada Monster Gorila itu. Belum sempat berteriak kesakitan, tiba-tiba sebuah tusukan datang menembus ke depan dadanya. Peter 'lah yang melakukan itu yang masuk ke dalam Mode Petirnya.
Bahkan terdapat kristal hitam di dekat ujung pedangnya. Benda itu tak lain inti dari Monster Gorila ini. Tiba-tiba tubuh Sang Monster Gorila membeku dan perlahan memudar bagaikan kertas yang terbakar. Pertarungan melawan Bos Dungeon telah selesai dan dimenangkan Queen dengan bantuan Peter.
Peter mengibaskan pedangnya ke samping, dan seketika inti Monster yang tertusuk oleh Pedangnya pun terlempar. Ia pun berjalan mendekati Queen sambil memasukan kembali pedangnya ke cincin penyimpanannya. Di sisi Queen, ia terduduk di tanah, lalu memandang Peter yang mendekatinya yang sudah masuk ke Mode Normal.
Peter yang sudah berdiri di dekat Queen, ia lalu mengulurkan tangan kanannya. Queen tersenyum. "Aku masih bisa berdiri sendiri." ucapnya sambil memasukkan kembali senjatanya ke gelang penyimpanannya.
Peter masih saja mengulur tangannya yang menunggu sambutan dari Gadis pujaannya. Ia tersenyum dan berkata. "Aku tau kamu bisa berdiri sendiri. Akan tetapi, aku akan tetap mengulurkan tanganku, menandakan aku akan selalu bersamamu, apapun yang terjadi."
Queen mengerut dahinya. "Kata-kata itu ? Kamu pernah mengatakan kata-kata itu sebelumnya padaku."
"Benar, aku mengulang kata-kataku. Itu pun tertuju padamu, bukan yang lain." jawab Peter yang masih mengulurkan tangannya yang masih belum disambut oleh Gadis setengah Vampir itu.
Queen pun menyambut tangannya Peter. Ia pun berdiri dari duduknya. Mereka berdua pun berjalan bersama meninggalkan tempat itu.
______________________
Jangan Lupa Like.
__ADS_1