
Tiba-tiba sebuah Portal muncul, lalu keluar sosok Pria Tua dari Portal itu. Bagi Reyhan, Sean, Peter, Arkhan, dan Queen tidaklah asing, tapi bagi Budi dan yang lainnya sangatlah asing, bahkan mereka sempat mengambil posisi kuda-kuda. Sean pun memberi tanda kalau sosok itu bukanlah musuh.
Beberapa saat kemudian, semua memandang terkejut melihat Fang Lin tiba-tiba berlutut memberi hormat kepada sosok yang baru datang barusan yang bukan lain Edgar. Bahkan semua semakin terkejut ketika mendengar Fang Lin mengucap. "Salam Yang Mulia Dewa."
Seakan tak percaya apa yang mereka dengar, lalu Edgar bersuara. "Hah..., sudah lama sekali aku tak melihatmu. Sudahlah tak perlu berlutut, aku merasa tak nyaman bila melihat orang-orang pilihanku berlutut kepadaku."
Fang Lin pun mengangguk, lalu ia berdiri. Reyhan bersuara. "Ternyata selama ini, Kau Dewa ?" lalu pandangannya ke arah Fang Lin.
Fang Lin mengerti, lalu ia menjelaskan kalau Tuan Edgar adalah sosok salah satu Dewa yang tertinggi dan yang bertugas penjaga Multiverse. Dan Fang Lin mengakui kalau Tuan Edgar adalah sosok Dewa memiliki sifat yang paling rendah diri dari dari semua Dewa yang ada. Semua terdiam mendengarnya.
Edgar yang ikut mendengar penjelasan Fang Lin, ia menghela nafasnya. "Sungguh tak nyaman rasanya bila aku mengakui diriku adalah Dewa. Aku lebih suka dianggap orang tua biasa."
Semua masih terdiam tak berkata apapun. Edgar pun berkata. "Semuanya, Terimakasih telah dalam berupaya menyelamatkan Multiverse dari D-Danger. Sekarang Multiverse manjadi aman, dan damai."
"Dan Revolusi, Rotasi, dan Waktu Dunia D-22 ini, telah kembali normal. Meskipun Dunia-Dunia yang sebelumnya sudah dilahap D-Danger tak bisa di selamatkan (dikembalikan)" tambahnya
Edgar memandang ke arah Fang Lin. "Maafkan aku, saudara Fang Lin. Aku lupa akan keberadaanmu. Dan tanpa diguda semua Juniormu menggunakan Infinity Stones untuk menjemputmu, meski secara paksa." ucapnya sambil menahan tawanya.
Fang Lin dengan sopam mengangguk kepalanya. "Tidak masalah, Yang Mulia, bila untuk menjaga Multiverse dari ancaman, saya tak keberatan."
Lalu pandangan Edgar memandangi semua orang-orang yang telah terlibat. "Dan aku tak menyangka kalian menggunakan keenam Infinity Stones secara bersamaan."
Reyhan pun mulai bersuara. "Maaf sebelumnya, Tuan Edgar. Setelah aku menggunakan keenam batu itu, kenapa mereka langsung hilang begitu saja."
Arkhan pun ikut bersuara. "Setahuku, keenam Infinity Stones masih ada pada tempatnya bila telah digunakan, 'kan ?" tanyanya, dan Peter juga sependapat dengan Arkhan.
Edgar pun menjawab. "Ya, dasarnya keenam Infinity Stones sama seperti di film yang pernah kalian tonton. Tapi bedanya, Infinity Stones ini akan menghilang setelah digunakan untuk mencapai tujuan (impian)"
"Menghilang bukan berarti keenam batu itu hilang lenyap. Tepatnya mereka pergi dan menyebar di Multiverse. Jujur saja, aku juga kesulitan saat mencari keenam batu itu sebelumnya." tambahnya.
Semua pun mengerti, bila diingat keenam Infinity Stones ini mirip sekali dengan ketujuh bola naga yang ada diserial anime yang pernah mereka tonton. Bedanya ketujuh bola naga itu akan menyebar secara terpisah di dalam 1 Dunia, sedangkan Infinity Stones tidak. Mereka menyebar di Multiverse, dan sulit mencarinya.
"Kalau semua Revolusi, Rotasi, dan Waktu Dunia ini telah kembali normal, jadi sudah berapa lama bila dibandingkan dengan waktu aslinya ?" tanya Sean.
"Mungkin kalian sudah pergi kurang lebih 82 menit." jawab Edgar.
__ADS_1
Semua terkejut mendengar jawaban Edgar. Dalam batin mereka berkata. "Waktu normal kita pergi untuk menghentikan D-Danger 82 menit. Sedangkan yang waktu yang kita rasakan sudaj hampir 3 bulan."
Edgar memandang Reyhan. "Apa kondisimu sudah baik-baik saja, Reyhan ?"
"Ya, kondisi sudah lebih baik dari sebelumnya." jawab Reyhan. "Bisakah, kau membukakan Portal untukku. Aku masih merasa lelah untuk menggunakan kekuatanku."
Dalam batin Reyhan, ia berkata. "Aku ingin segera kembali pulang ke Duniaku untuk berkumpul dengan keluargaku."
Edgar mengangguk kepalanya. "Tentu saja."
Setelah menjawab, Edgar pun memunculkan sebuah Portal untuk Reyhan. Reyhan pun berjalan mendekati Portal jalan pulangnya. Tapi setelah 2 meter di depan Portal, ia berbalik dan memandang semua orang.
"Semua Terimakasih atas kerja kalian. Dan mungkin mulai sekarang kita sudah jarang bertemu lagi. Karena setelah ini, aku benar-benar ingin pensiun." ucap Reyhan dengan tersenyum. "Tapi bila ada waktu luang, aku akan mengunjungi kalian. Mau bagaimanapun, kita ini pernah bekerja sama dalam 1 Tim." tambahnya.
Semua tersenyum dan mengangguk kepalanya mereka. Reyhan bersuara lagi. "Mungkin telat aku mengatakan ini. Tim kita adalah Guardians."
"Sampai jumpa." ucapnya, lalu Reyhan berbalik dan masuk ke dalam Portal.
Setelah masuk Portal itu pun menghilang. Lalu Edgar pun juga membukakan Portal untuk Sean. Setelah Sean berpamitan dan pergi, lalu ia membukakan Portal untuk Arkhan. Setelahnya, Portal untuk Peter dan Queen, Peter memutuskan tinggal di Dunianya Queen. Peter dan Queen berencana untuk hidup bersama.
Edgar pun berkata. "Aku memiliki penawaran untuk kalian. Kalian ingin masih ingin tinggal di Dunia ini, atau pindah ke Dunia baru ?"
Semua saling menatap, lalu mereka mengangguk kepalanya. Budi paham lalu ia memandang Putrinya. Lisa pun juga menangguk kepalanya. Sebagai perwakilan, Budi menjawab. "Kami ingin tinggal di Dunia baru."
"Kenapa ?" tanya Edgar.
Budi menjelaskan, kalau masih tinggal di Dunia D-22, pasti akan banyak orang yang mencarinya, tepatnya orang-orang Hunter. Andi, Hendi, Beni, dan Iwan juga setuju. Lagi mereka, terutama Budi dan Putrinya ingin membuka lembaran baru.
Edgar mengangguk kepalanya. "Bagitu, baiklah. Bagaimana jika kalian kutransmigrasikan ke Dunia D-32. Dunia itu adalah Dunia Sihir. Bisa dikatakan Dunia itu adalah Dunia Fantasi. Kalian pasti akan memiliki sebuah pengalaman dan wawasan yang baru."
"Tidak masalah." Andi.
"Aku jadi semangat." Beni.
"Tak kusangka akan pindah ke Dunia lain." Iwan.
__ADS_1
"Akhirnya, impian pergi ke Dunia lain jadi kenyataan." Hendi.
Keempat temannya Budi terlihat bersemangat.
Budi memandang Lisa. "Apa kamu mau berpamitan dengan ibumu ?"
Dengan tegas, Putrinya menjawab. "Tidak, lagi pula dia sudah tidak mengakui diriku yang merupakan anaknya."
"Baiklah, ayah tidak akan memaksa." sahut Budi menghargai jawaban Putri tersayangnya.
Budi memandang Edgar. "Tuan Edgar. Kami sudah siap."
Edgar tak menjawab. Tapi ia mendekat, lalu ia memberikan cincin masing-masing dari mereka berlima. "Ini adalah cincin penyimpanan. Di dalamnya sudah ada bekalan untuk kebutuhan kalian di Dunia baru nanti."
"Jadi kalian tak perlu membawa barang bawaan kalian yang lama, cukup bawa senjata yang pernah diberikan Reyhan pada kalian." tambahnya.
Semua mengangguk kepalanya. Mereka pun memasukkan senjata mereka ke cincin penyimpanan mereka masing-masing. Kecuali Lisa, memang dirinya tak memiliki senjata. Lalu Edgar memunculkan Portal untuk pergi ke Dunia D-32.
Semua pun berpamitan kepada Edgar. Lalu Andi, Hendi, Beni, dan Iwan masuk ke Portal lebih dulu. Giliran Budi dan Lisa, mereka berdua saling menggengam tangan, mereka pun menyusul yang lainnya. Setelah semua masuk, Portal Dunia D-32 pun menghilang, dan kini tinggallah Edgar.
"Semua telah pergi kembali pulang. Dan juga ada yang membuka lembaran baru." ucapnya.
Lalu Edgar membukakan Portal untuk pergi ke Dunia D-50. Ia berencana pergi untuk mengunjungi seseorang. Sambil berjalan masuk ke dalam Portal, ia bergumam. "Bagaimana kabarnya dia sekarang ?"
...-- END --...
______________________
Jangan Lupa Like.
______________________
Terimakasih sudah mengikuti cerita ini. Mohon maaf bila ada kesalahan. Bila ada yang bertanya, "Apa ada cerita lanjutannya ?"
Aku menjawab, Ada. Dan itu sudah dalam rencana. Nanti akan ada pemberitahuan lanjutannya. Terimakasih.
__ADS_1