Sequel Of The Hunter : The Guardians

Sequel Of The Hunter : The Guardians
BAB 37 : Sungguh Aneh.


__ADS_3

Di saat Henri mulai mengajak Peter, Arkhan, dan Queen untuk berbicara, di waktu bersamaan, Reyhan dan Sean tengah berusaha untuk mengalahkan Hahn. Hahn adalah seseorang yang mengaku dirinya sebagai Dewa Iblis. Dari penampilan Hahn saja memang seperti iblis biasa, karena memiliki 2 tanduk di dahinya.


Namun, diluar dugaan Reyhan dan Sean, rupanya Hahn ini benar-benar sangatlah kuat. Reyhan dan Sean bahkan telah mengerahkan semua kekuatannya. Hasilnya, sungguh diluar dugaan, Hahn masih bisa mengimbangi kekuatan Reyhan dan Sean.


Disinilah, Reyhan dan Sean mulai mengakui kalau Hahn memang benar-benar Dewa Iblis, sosok yang merupakan dalang yang sudah menciptakan D-Danger. Di sisi Sean, ia mulai terlihat seperti melemah. Tak sesuai yang diharapkan, Sean pun terdorong kebelakang setelah menerima sebuah hantaman di dadanya.


Di saat Sean terdorong setelah mendapat tendangan dari Hahn. Reyhan tetap fokus bertarung melawan Hahn. Karena ia akan lengah bila mengalihkan untuk menyelamatkan Sean, Hahn akan menyerangnya. Bukan tak peduli, tetapi Reyhan percaya kalau Sean tak keberatan hal itu.


Dan benar saja, Sean yang terdorong dan akan menyentuh tanah, ia mengimbangi tubuhnya agar dirinya dapat mendaratkan dirinya dengan posisi baik-baik saja. Setelah mendarat di tanah, Sean langsung ambruk dalam posisi berlutut. Nafasnya naik turun.


Kondisi Sean sudah masuk ke dalam wujud normal, Mode Petirnya telah hilang karena energi mananya yang sudah hampir terkuras semuanya. Dan kapaknya tergeletak di tanah. Untuk saat ini, ia hanya bisa mempercayakan sisanya kepada Sang Seniornya yang kini masih dalam bertarung melawan Hahn.


Berawal pandangan Sean ke pertarungan Reyhan dan Hahn, beralih melihat Peter, Arkhan, dan Queen yang tak begitu jauh darinya. Mungkin jarak mereka 50 meter darinya. Lalu ia berdiri dengan perlahan, ia mengerahkan sisa energi mananya untuk menggunakan kekuatan regenerasinya.


.....


Di sisi lain, Peter, Arkhan, dan Queen yang sedang berbicara dengan Henri. Sosok bernama Henri itu sedang menawarkan mereka untuk bergabung dengan Asosiasi Hunter yang ia pimpin.


Peter pun menjawab tentang tawaran Henri. "Aku paham maksudmu. Aku memawakili kami berlima, menolak tawaranmu."


"Tunggu dulu !! Atau begini saja, lebih baik kita menunggu kedua Senior kalian. Jadi kalian bisa mendiskusikan tentang apa yang sudah aku tawarkan." jawab Henri. Baginya sungguh aneh bila tak ada yang tergiur dengan tawarannya.


Peter, Arkhan, dan Queen memandang dingin ke arah Henri. Arkhan berkata. "Kamu kira, saat ini Senior kami tidak kesulitan ?"

__ADS_1


"Kesulitan ? Apa maksudnya ? Aku melihat aksi kalian termasuk kedua Senior kalian terlihat sangat luar biasa. Aku yakin mereka pasti akan menyelesaikan pertarungannya dengan cepat." jawab Henri dengan percaya diri.


"Kami menolak !!"


Bukan Peter, Arkhan, dan Queen yang menjawab. Melainkan Sean yang menjawab, ia berjalan mendekati mereka. Ya, ia mendengar semua ucapan Henri yang sedang memberi tawaran untuk bergabung.


Henri menoleh kepalanya. Ia memandang Sean dengan mengerut dahinya. "Kenapa kamu di sini ? Bukankah kamu sedang bertarung ?"


"Aap hakmu bertanya hal itu padaku." balas Sean dengan tatapan dingin.


Sebelum Henri akan menjawab, Sean bersuara lebih dulu. "Kami tak ingin terikat dengan pihak manapun. Kami tidak seperti kalian yang sudah terobsesi dengan kekuatan. Tujuan kami adalah menghentikan fenomena yang sudah menimpa Dunia ini."


Henri mengangkat alis sebelahnya. Ia sedikit berfikir. Lalu ia memasang wajah seriusnya, dan berkata. "Dari ucapanmu, seakan kalian ingin mengakhiri semua Asosiasi Hunter."


Tak hanya Sean, ketiga juniornya mengerut dahinya. Mereka berempat bergumam. "Kenapa dia terlihat tidak suka ?"


Dengan marahnya, Henri menjawab. "Tentu saja aku marah. Apa yang kalian lakukan, itu sama saja menghapus semua Asosiasi Hunter yang ada. Jika fenomena ini benar-benar berakhir, bagaimana dengan semua nasib Asosiasi Hunter ?"


Sungguh terdengar aneh di telinga Sean, Peter, Arkhan, dan Queen. Bagaimana tidak aneh menurut mereka ? Ibaratkan di saat semua ingin hidup damai dari perang, tetapi ada sekumpulan orang yang ingin masih perang. Sungguh aneh bukan ?


Seperti halnya sekarang. Semua fenomena aneh datang menimpa sebuah Dunia. Dan membuat Dunia itu menjadi tercancam, bukankah senang bila fenomena itu menghilang ? Tetapi, kenapa ada yang marah bila ada yang menghentikan hal itu ? Seakan dia akan kehilangan pekerjaannya.


Sean terkekeh dengan pemikiran Henri ini. Lalu ia berkata. "Jadi maumu apa ? Kalau kamu tetap menginginkan kami untuk bergabung, aku tegaskan, sampai kapanpun kami takkan bergabung, bahkan dengan pihak manapun!"

__ADS_1


Henri tersenyum. Lalu ia membalas. "Kalian tak akan bisa menolak." lalu ia menjentikkan jarinya.


Ctak...!!


Lalu terlihat 9 orang berjalan cepat mendekatinya. Sean dan yang lainnya terdiam, mereka ingin tau, apa yang akan dilakukan oleh rombongan Hnri ini. Terlihat 4 orang dari 9 orang itu mengeluarkan senjata yang terlihat seperti senapan. Mereka ber-4 menembak sesuatu di 4 tempat berbeda.


Beberapa detik kemudian sebuah dinding holongam berbentuk kubus mengurungi Sean, Peter, Arkhan, dan Queen. Mereka berempat menduga, kalau mereka disamakan dengan tahan, mereka hanya terkekeh melihat apa yang dilakukan oleh rombongan Henri.


"Kalian takkan lepas dariku. Kalau aku tak bisa membuat kalian bergabung, maka aku akan membuat kalian bergabung." ucap Henri sambil memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana hitam panjang yang ia kenakan.


Sean memandang dingin ke arah Henri dan ke-9 orangnya. Ia bergumam. "Kalian benar-benar tidak tau tempat. Sempat-sempatnya ingin membuat pesta di waktu yang tak sesuai."


Sean dan ketiga juniornya saling memandang. Ia pun berkata. "Apa kalian masih sanggup bergerak bebas."


Peter yang menjawab. "Tentu saja kami bertiga masih bisa bergerak dengan bebas. Justru kami khawatir kalau Senior Sean tidak bisa bergerak bebas." ucapnya, lalu diangguki oleh Arkhan dan Queen.


Sean tersenyum. "Tentu saja, aku masih sangat sanggup." meski energi mananya baru terkumpul sepertiga saja, ia tak masalah.


Lalu Sean mengarahkan tangan kirinya ke samping. Henri dan ke-9 orangnya memandang heran. Lalu terlihat sebuah benda terbang datang mendekat. Benda itu tak lain adalah kapak bercahaya yang disertai percikan Petir.


Kapak itu mendekat hologram berbentuk kubus yang mengurungi Sean dan ketiga juniornya. Kapak itu menghantam kubus itu dan seketika kubus itu hancur. Hahn dan ke-9 orangnya terkejut melihatnya. Mereka tak menyangka kalau Kapak itu mampu menghancurkan hologram kubus buatan mereka.


Sebenarnya tanpa Kapak itu, Sean, dan ketiga juniornya bisa saja menghancurkan hologram kubus yang mengurungi mereka berempat. Tetapi mereka ingin melihat reaksi Henri dan ke-9 orangnya ketika melihat sebuah senjata mampu mematahkan teknik mereka.

__ADS_1


______________________


Jangan Lupa Like.


__ADS_2