Sequel Of The Hunter : The Guardians

Sequel Of The Hunter : The Guardians
BAB 47 : Budi VS Albert (2).


__ADS_3

Sementara Di tempat lain, terlihat 4 orang baru saja menglahkan semua Monster beserta Bos Dungeon, tepatnya mereka telah membunuh semua Monster dan juga Bos Monster. Mereka berempat tak lain Reyhan, Sean, Peter, dan Queen. Di tempat itu, banyak sekali kristal tergeletak di tanah, kristal itu tak lain adalah inti dari semua Monster yang telah dibasmi oleh mereka berempat.


Mereka berempat tak tertarik sama sekali dengan semua kristal itu. Yah, lagi pula mereka sudah memiliki harta yang banyak di penyimpanan mereka masing-masing. Mereka membunuh Bos Monster yang tak memiliki akal. Ya, sampai saat ini mereka terus mencari Bos Monster yang memiliki akal untuk diajak berbicara mengenai D-Danger, dan Hahn.


Ini adalah Dungeon kedua yang sudah mereka tahlukan setelah Dungeon pertama, yang dimana mereka meninggalkan Budi dan keempat temannya untuk menyelesaikan urusan mereka. Tiba-tiba tanah bergetar, dan terasa tempat itu seperti terguncang. Tanda ini menandakan Dungeon akan segera ditutup dalam waktu tertentu, entah 1 jam atau 2 jam.


Mereka berempat tidak akan terkejut hal ini, karena sudah sering mereka alami. "Ayo, kita ke Portal selanjutnya." ucap Reyhan, lalu ia menggunakan Space Stone-nya untuk membuka Portal.


Saat Portalnya Reyhan dibuka, Peter bersuara. "Apakah Budi dan teman-temannya bisa menyelesaikan urusannya ?"


Reyhan yang baru saja membuka Portal menjawab pertanyaan Peter. "Entahlah, kita tak bisa menebaknya. Kalau dari kekuatan mereka yang sekarang, seharusnya mereka bisa melarikan diri pasukan Hunter."


Reyhan menoleh ke arah Sean. "Bagaimana menurutmu, Sean ?"


Sean menjawab. "Kalau menurutku pribadi, seharusnya mereka bisa mengalahkan lebih dari setengah pasukan Hunter tadi. Apakah mereka bisa melarikan diri ? Seharusnya dengan kekuatan mereka yang sekarang, mereka pasti bisa melarikan diri."


Setelah mendengar kata-kata Sean, mereka tak bersuara lagi. Queen saja diam tak ikut berkomentar apapun. Reyhan melangkah masuk ke dalam Portal yang telah terhubung langsung ke Dungeon selanjutnya. Sean, Peter, dan Queen pun juga mengikuti Senior mereka.


.....


Di sisi lain, di waktu bersamaan, Budi dan Albert tengah bertarung. Sudah hampir 1 jam, mereka bertarung, Budi lebih banyak bertahan ketimbang menyerang. Ia pun terdorong setelah bertahan dari serangan Albert. kini Albert berlutut sambil mengatur nafasnya. Ia bergumam dalam hatinya. "Serangan semakin kuat saja. Hahahaha.., aku benar-benar terlihat menyedihkan."

__ADS_1


Albert tak menyerang lagi. Ia menancapkan ujung pedang besarnya ke tanah. Ia berdiri sambil melipatkan kedua tangannya di depan dadanya. "Kau benar-benar membuatku terkejut, Budi. Kau masih bisa bertahan dari semua seranganku."


Budi pun berdiri. Ia memenjamkan kedua matanya. Albert tersenyum melihatnya. "Apa kau sudah menyerah ? Kalau begit...." ucapnya menggantung ketika melihat tubuh Budi diselimuti cahaya ungu.


Budi membuka kedua matanya. Ia memandang dingin ke arah Albert. Keempat temannya Budi, tersenyum melihat Budi sudah mulai memakai Power Stone-nya. Di sisi semua orang terheran-heran melihat sosok Budi yang diselimuti cahaya ungu.


Albert sedikit mengerut dahinya. Ia bergumam dalam hatinya. "Cahaya apa itu ? Dan juga, kenapa tekanan di sisi terasa lebih berat ?"


Budi mengarahkan tangan kirinya ke arah Albert. Lalu tanah di di arenanya bergetar. Tanah yang bergetar juga dirasakan oleh semua orang. Tiba-tiba permukaan tanah di dekat Budi retak, lalu meluas hingga ke tempat semua Hunter berdiri. Dan dari retakan itu juga bercahaya ungu.


Semua Hunter tekejut bukan main. Di sisi Henri, ia melebarkan kedua matanya, dirinya tak menyangka melihat sesuatu yang tak pernah ia lihat selama seumur hidupnya. Kembali di sisi Budi, ia terus memandang dingin ke arah Albert. Tiba-tiba banyak sekali gumpalan tanah, batu kerikil yang di sekita tempat itu berterbangan ke arah Albert.


Serangan itu bagaikan hujan. Di sisi Albert, ia segera membuat dinding dari tanah untuk melindunginya dari serangan hujan tanah milik Budi. Albert bertanya-tanya, ia bergumam. "Bukankah pengendali elemen Api ? Kenapa dia juga bisa mengendalikan elemen Tanah ?"


Albert keluar dari pertahanannya. Ia memandang tajam ke arah Budi. "Kau tau, aku takkan menahan diri lagi." ucapnya, lalu ia langsung melesat maju ke arah Budi dengan cepat.


Tang...!! Wussss....!!


Hebusan angin yang kuat setelah pedang besar milik Albert dan dan katana milik Budi saling beradu. Albert menarik pedangnya dan langsung melayangkan kembali untuk menyerang. Budi pun juga tidak tinggal akan bertahan saja, ia juga melayangkan pedangnya.


Kedua laki-laki itu saling beradu senjata mereka. Meski pedang Albert berukuran besar, tentu saja tidak berat, justru terasa ringan, secara dipegang oleh pemiliknya. Albert terus menyerang dan bertahan. Dia menyerang dengan gaya vertikal, horisontal, diagonal kepada lawannya.

__ADS_1


Albert bermakud menekan lawannya dan setelahnya, ia akan membunuhnya. Di sisi lawannya, yang tak lain Budi, ia juga tak kalah hebatnya dalam mamainkan pedangnya. Tak hanya bertahan, ia juga terus melayangkan pedangnya untuk menyerang Albert.


Albert mulai terasa tertekan dari cahaya ungu yang menyelimuti tubuh lawannya, ia tak menduga kalau Budi bisa mengimbangi dirinya. Parahnya, dia dibuat terdesak, karena gerakan serangan dari Budi, mulai sedikit cepat. Dan anehnya, ekspresi wajah Budi tidak berubah, pandangannya terus dingin padanya.


Di sisi lain, Henri menatap kagum dengan pertarungan Budi dan Albert. Terlebih melihat Budi yang ternyata jauh lebih kuat dari yang ia dengar selama ini. Bahkan Albert pernah bercerita tentang Budi yang merupakan salah satu Hunter terlemah.


Henri bergumam. "Lelaki itu, bukanlah lelaki biasa."


Johan dan Julia yang berdiri di dekat Henri, menolehkan kepalanya dan memandang padanya. Julia bersuara. "Apa maksud anda, Tuan Henri ?"


Henri menoleh memandang Julia. Jujur saja, ia mengakui kecantikan yang dimiliki wanita ini. Namun, ia tak tertarik dengan Julia. Pandangan Henri kembali beralih ke arah pertarungan Budi dan Albert.


"Mantan suamimu jauh lebih unggul dari suamimu yang sekarang." ucap Henri.


Johan yang berdiri di dekat Henri dan Julia, ia memilih diam saja dan ia menonton pertarungan Budi dan Albert yang menurutnya sangat hebat.


Pandangan Julia menjadi dingin setelah mendengar ucapan pemimpin Asosiasi Hunter itu. "Sebenarnya kau memuji atau menyinggungku ?"


Henri kembali menolehkan kepalanya dan memandang Julia, lalu ia menjawab. "Aku tak bermaksud seperti yang kau katakan barusan. Aku hanya mengutarakan sesuai dengan apa yang kulihat saat ini." ia pun tersenyum tipis. "Ternyata kau telah mensia-siakan lelaki hebat seperti Budi." tambahnya.


______________________

__ADS_1


Jangan Lupa Like.


__ADS_2