Sequel Of The Hunter : The Guardians

Sequel Of The Hunter : The Guardians
BAB 39 : Meninggalkan Dungeon.


__ADS_3

Reyhan yang telah datang, ia langsung mendarat dan berdiri membelakangi keempat juniornya. "Jangan samakan kami dengan kalian." ucapnya sambil melempar tatapan dingin ke arah sekumpulan Hunter yang berjumlah 30 orang.


Salah satu dari mereka, yang tak lain Henri, ia juga memandang dingin ke arah Reyhan. Henri tersenyum dan berkata. "Jika kau sudah disini, berarti kamu sudah selesai dengan pertarunganmu ? Apa kamu sudah mengalahkan lawanmu tadi ?"


Semakin dingin Reyhan memandang Henri. "Aku memiliki hak untuk tidak menjawab pertanyaanmu. Dan jangan anggap seakan kita saling kenal."


"Dan aku memiliki hak untuk mendapat jawaban darimu." balas Henri yang tak kalah dinginnya. "Kalian berlima adalah Hunter, maka sudah tugas kalian harus melaporkan apapun yang kalian lakukan." tambahnya.


Saat Reyhan akan menjawab, tiba-tiba sebuah sentuhan di pundaknya. Reyhan yang tau, ia memilih diam saja, dan membiarkan salah satu juniornya ini berjalan melewatinya dan mendekati Henri. Semua bawahan Henri langsung bersiap melihatnya.


Mereka yang memiliki senapan langsung mengarahkan sosok yang mendekati pemimpin besar mereka. Henri mengangkat salah satu tangan agar semua Hunter yang untuk tetap diam. Kini sosok itu berdiri di hadapan memandang dingin ke arahnya.


Sosok itu seorang Gadis cantik yang terlihat seperti berusia 20 tahun. Dia mengenakan gaun Hitam Biru. Cantik bagaikan dewi yang turun dari kayangan. Ya, sosok itu tak lain adalah Queen. Disisi Peter, ia memijit pelipisnya melihat Queen yang maju, ia bergumam. "Apa yang akan dilakukannya ?"


Henri tersenyum ramah memandang Queen. Sungguh, ia benar-benar terpesona dengan kecantikan yang dimiliki Queen. Henri pun bersuara. "Ada apa nona cantik ? Apa kau tertarik untuk bergabung ?"


Tak hanya Henri saja yang terpesona pada Queen, para bawahannya juga tak kalah terpesona seperti atasannya.


Queen tersenyum mendengarnya. Lalu ia menampilkan senyuman. Henri terbelalak melihat salah satu mata kiri Gadis itu berubah merah menyala. Queen pun berkata. "Entah kenapa rasanya aku ingin sekali meminum darahmu."


Tubuh Henri gemetaran mendengar Queen berbicara di hadapannya. Ditambah ia semakin tak ada yang beres ketika melihat 4 gigi taring Queen yang tiba-tiba memanjang. Ia bergumam. "Vampir ?"


Queen tersenyum menyeringai. Lalu ia menyentuhkan telapak tangannya di ujung kepalanya Henri. "Dari awal pertemuan, aku menilai sifatmu yang sangat keras kepala."


Dor..!! Dor..!! Dor..!! Dor..!!


Dor..!! Dor..!! Dor..!! Dor..!!


Dor..!! Dor..!! Dor..!! Dor..!!


Dor..!! Dor..!! Dor..!! Dor..!!


Semua Hunter menembaki Queen yang telah berni berbuat yang menurut mereka tidak sopan, dan terkesan meremehkan. Senyuman Queen memudar, ia memandangi mereka semua. Dengan dingin ia menatap mereka yang terus menembakinya secara bergantian.

__ADS_1


Semua semakin terheran bukan main melihat Queen tak terluka sedikit pun. Padahal mereka sudah menggunakan senapan milik mereka yang seharusnya, tembakan mereka mampu membuat seseorang sekarat, bahkan kehilangan nyawa. Ya, karena Gadis setengah Vampir itu memiliki kemampuan regenerasi.


Tatapan Queen, langsung membuat mereka tediam membeku dan seketika menghentikan tembakan mereka. Lalu tubuh Queen diselimuti cahaya kuning. Ia mengarahkan salah satu tangannya dengan telapak terbuka ke semua Hunter yang ada di sekitarnya, termasuk Henri.


Reyhan dan yang lainnya tersenyum melihat aksi dari Gadis setengah Vampir itu. Queen menggunakan Mind Stone-nya. Lalu tatapan ke-30 Hunter itu menjadi kosong, mereka pun saling mendekat, dan pada akhirnya mereka saling berkelahi satu sama lain.


Ya, Queen menggunakan Mind Stone-nya untuk memanipulasi pikiran mereka untuk saling berkelahi. Queen tersenyum puas melihatnya. Lalu ia berbalik, mata kirinya kembali normal. Ia berjalan mendekati para seniornya.


"Sudah puas ?" Reyhan yang bertanya.


"Belum sih, aku merasa kesal aja sama mereka. Kita menolak dengan baik-baik, dianya malah tetap maksa. Ya, sudah kubuat mereka saling serang." jawab Queen dengan santainya.


Semua yang mendengar terkekeh mendengarnya. Reyhan pun berkata ke semua Juniornya. "Ayo kita tinggalkan tempat ini."


Keempat Juniornya mengangguk kepalanya. Reyhan memandang Queen. "Kamu mau membiarkan mereka ?" tangannya sambil menunjuk ke arah ke-30 Hunter yang sedang saling memukul. Mereka semua benar-benar terlihat tidak bisa membedakan mana yang musuh dan kawan.


Queen mengangkat kedua bahunya. "Biarkan saja. Nanti keadaan mereka juga akan kembali ke semua setelah kita pergi dari sini."


Reyhan mengangguk-angguk kepalanya. Lalu ia menggunakan Sihirnya untuk memunculkan Portalnya, ia pun segera masuk, lalu diikuti oleh Sean, Peter, Arkhan, dan Queen. Setelah mereka berlima masuk ke dalam Portal, Portal itu pun menghilang.


Seketika tubuh mereka ambruk, ada yang duduk ditanah, dan terbaring. Rupa mereka penuh dengan luka lebam. Nafas mereka semua saling memburu, seakan mereka telah lelah berlari. Mereka pun saling menatap satu sama lain.


"Ahh, lelah sekali rasanya. Sebenarnya apa yang terjadi ?"


"Kau kira hanya kamu saja yang terasa lelah ? Aku pun juga sama."


"Tetapi, perasaan kita tak melakukan apapun ? Dan kenapa tubuhku juga terasa sakit ?"


.


"Kenapa dengan wajahmu ?"


"Hei, seharusnya aku yang bertanya padamu, ada apa dengan wajahmu itu ?"

__ADS_1


.


"Kenapa wajahmu banyak sekali lebamnya ?"


"Seharusnya kamu bercemin, karena kamu yang memiliki banyak luka lebam di wajahmu."


.


"Kenapa wajahku sakit sekali ?"


"Apa kau bodoh ? Wajahmu penuh dengan lebam."


"Lebam ? Sebaiknya kamu bercemin untuk memastikan wajahmu."


.


"Hei, kenapa wajahmu seperti badut ? Hihihi..., aduhh...!!"


"Apa kamu sedang mengatakan tentang dirimu ? Hahaha...., Aarrgghh, kenapa wajahku terasa sakit ?"


.


Itulah percakapan semua ke-30 Hunter yang ada di tempat itu. Masih banyak lagi percakapan lainnya. Bahkan ada yang saling menertawakan satu sama lain. Di sisi Henri, ia menahan rasa sakit di wajahnya, tak hanya itu, ia juga merasakan rasa sakit di tubuhnya dan kelelahan.


"Sial, sebenarnya apa yang sudah terjadi ?" Henri bergumam. "Kenapa semua orang di sini malah terlihat seperti orang bodoh ?" tambahnya.


Henri memenjam kedua matanya, ia mencoba mengingat-ngingat apa yang sudah terjadi padanya dan para bawahannya. Henri pun membuka kedua matanya lebar-lebar setelah ia berfikir keras. Ya, ia pun teringat. Yang dimana kelima orang asing yang hebat menolak tawaran mereka.


Tetapi, Henri tak ingat, jadian terakhir apa yang sudah menimpanya dan para bawahannya. Tau-tau mereka tersadar, dan keadaan mereka sudah babak belur. Setelah diingat-ingat kembali, ingatannya hanya mengingat tawrannya yang ditolak.


Mengingat itu, Henri mengeraskan rahangnya. Urat-urat di dahinya sedikit terlihat. Ya, dia marah, dirinya merasa diremehkan oleh kelima orang asing itu. Henri bergumam. "Jika kita bertemu lagi, aku takkan melepaskan kalian."


______________________

__ADS_1


Jangan Lupa Like.


__ADS_2