
Warna langit yang sebelumnya berwarna biru cerah, tiba-tiba berubah berwarna gelap kehijauan. Reyhan dan semuanya melihat ke arah langit. "Apa yang terjadi ?" itulah isi pertanyaan di kepala mereka.
"Kalian bertiga fokus." ucap Reyhan kepada Budi, Sean, dan Peter yang kini tengah melakukan perintahnya. Katakanlah mereka sedang melakukan ritual untuk membuka Portal Dunia Kultivator disaat situasi Dunia mereka sedang mengalami kekacauan.
Tiba-tiba langit menampakan sesuatu yang berbeda. Dan itu adalah pemandangan pertama kali yang mereka lihat, yaitu retakan di langit. Retakan itu berwarna hijau. Tak hanya itu, terjadilah hembusan angin yang lumayan besar. Bahkan mereka semua merasakan guncangan pada tanah.
Kejadian ini benar-benar tak hanya dirasakan oleh Reyhan dan yang lainnya, tetapi semua mahluk hidup yang tinggal di Dunia D-22. Tentu saja, semua orang yang tak tau apa-apa pasti panik bukan main. Bahkan semua Hunter di Dunia tak diam saja.
Entah Hunter dari Rank terendah, hingga tertinggi segera bergerak. Mereka segera menyiapkan perlengkapan mereka masing-masing. Bahkan ada yang langsung waspada tanpa perlengkapan. Isi pikiran semua orang du Dunia itu adalah bencana besar akan datang.
*****
Di sisi lain, tempat Edgar menunggu, dia terkejut. Ia bergumam. "Aku tak menyangka kalian memiliki ide untuk menggunakan Infinity Stone seperti itu."
Edgar berkata lagi sambil tersenyum. "Sepertinya, kalian membuka jalan untuk membawa paksa salah satu orang yang pernah 'ku transmigrasikan."
"Ahh, aku benar-benar lupa, kalau aku pernah mentransmigrasikan seseorang pilihanku ke Dunia Kultivator." tambahnya.
*****
Di waktu bersamaan, di markas Reyhan dan yang lainnya, mereka tentu saja tidak bergitu kaget, karena mereka 'lah dalang kejadian yang saat ini sedang terjadi. Tiba-tiba 10 meter di depan mereka muncul sebuah Portal hitam kebiruan, dan disertai sedikit percikan Petir biru.
Reyhan pun bersuara. "Budi, pertahankan..!!"
Tanpa menjawab, Budi hanya mengangguk kepalanya. Tapi terlihat ekspresinya, seperti Budi tersiksa. Reyhan yang melihatnya pun bergumam. "Ini tak bisa biarkan. Dia takkan bisa bertahan lama."
"1 jam saja, dia pasti takkan bisa bertahan." Reyhan bergumam lagi. Lalu ia teringat rencana sebelumnya, yang dimana mungkin ia pergi ke Dunia Kultivator selama sehari. "Sepertinya, aku sama saja akan membunuhnya kalau begini."
__ADS_1
Tak ada rencana baru, Reyhan berfikir keras. Entah apa imajinasinya yang ia bayangkan disaat situasi darurat seperti saat ini. Tiba-tiba sebuah imajinasi barunya datang di kelas. Ya, rencana baru. Entah berhasil atau tidak, setidaknya diciba.
Reyhan pun memberi perintah. "Hei kalian berenam, cepat !! Berikan kekuatan kalian ke mereka bertiga...!!" ucapnya sambil menunjuk ke arah Budi, Sean, dan Peter.
Arkhan, Queen, Andi, Beni, Iwan, dan Hendi segera menjalankan perintah dari Seniornya. Arkhan berdiri di belakang Sean dan Peter, dan memegang pundak mereka berdua. Dibelakang Arkhan, ada Queen yang juga memegang kedua pundaknya Arkhan. Beni memegang pundaknya Andi, sedangkan Andi sendiri memegang pundaknya Sean.
Iwan memegang pundaknya Hendi, dan Hendi sendiri memegang pundaknya Peter. Mereka semua saling menyalurkan kekuatan mereka, dan Budi sebagai tempat berkumpulnya semua Kekuatan. Semakin besar Kekuatan yang Budi terima, maka semakin mudah Budi mengendalikan Power Stone-nya.
Saat Reyhan akan masuk, ia melihat sosok seseorang yang berdiri di balik Portalnya. Tak begitu jelas dari sosok itu karena terhalang dinding Portal yang gelap. Akan tetapi entah kenapa sosok itu diam saja dan tak mau mendekat atau masuk ke dalam Portal mereka.
Reyhan yang awalnya akan masuk, ia urungkan. Ia juga kesal karena sosok itu malah diam saja. Ia segera mengeluarkan rantainya dari ruang penyimpanannya. Lalu ia kendalikan rantainya itu untuk memasuki Portal tersebut. Reyhan berencana menarik paksa sosok itu.
Awalnya sosok itu menghindar, akam tetapi ujung rantai milik Reyhan tentu saja tidak akan membiarkan lolos. Sosok itu telah terikat oleh rantai, Reyhan langsung menarik rantainya. Wusss....!! Sosok itu pun juga ikut tertarik. Hingga akhirnya sosok yang terikat oleh rantainya keluar dari Portalnya.
Bersamaan, Portal hitam kebiruan pun menghilng. Semua orang menyudahi kegiatannya. Semua bisa duduk di tanah dan bernafas lega. Tapi tidak untuk Budi, dia berlutut, kedua tangannya menyentuh tanah, tak hanya itu, dia juga memuntahkan seteguk darah dari mulutnya.
Plak..!!
Kepala Iwan terkena pukulan sedikit keras dari Andi. Andi pun menjawab. "Kenapa kamu malah memberi pertanyaan bodoh. Apa kau tidak bisa lihat sendiri kondisinya ? Apakah dia baik-baik saja ?" Iwan hanya menyengir kuda sambil mengelus kepalanya.
Ketika Andi akan bersuara, tiba-tiba mereka merasakan sesuatu yang tak biasa di dekat mereka, seakan mereka dibuat tertekan. Andi, Beni, Iwan, dan Hendi menoleh kepala mereka untuk melihat apa yang telah terjadi. Mereka langsung terkejut bukan main, bahkan Budi yang baru saja menoleh membeku melihatnya.
Tak hanya mereka berlima saja, di sisi Sean, Peter, Arkhan, dan Queen juga berdiam membeku. 30 meter di depan mereka, adalah sosok pemuda asing tengah berdiri dihadapan Reyhan. Dia tampan dan dia mengenakan pakaian hanfu hitam, rambutnya hitam panjang dan diikat.
Sosok itu memandang dingin ke arah Reyhan dengan mengeluarkan aura merah gelap dari tubuhnya. Dia terus menatap dingin ke arah Reyhan. Reyhan yang berdiri 7 meter darinya hanya tersenyum tipis. Lalu ia bersuara. "Salam kenal, maaf aku telah menyeretmu ke Dunia ini."
"Apa maumu ?" tanya sosok pemuda itu dengan dingin.
__ADS_1
"Apa kau mengetahui benda ini ?" tanya Reyhan sambil membuka salah satu telapak kanannya ke samping. Lalu terlihat sebuah benda terbang datang mendekatinya.
Kini benda itu sudah ada di genggamannya. Reyhan pun menunjukkannya kepada pemuda itu. Pemuda itu terbelalak melihatnya, seketika aura yang keluar dari tubuhnya terhenti dan menghilang. "Kalung itu ?"
Reyhan tersenyum dan mengangguk kepalanya. "Benar, apa benar kamu mengenal pemilik dari kalung ini ?"
"Dari mana kau mendapatkan ?"
Reyhan menjawab. "Tentu saja, pemilik dari kalung ini yang memberikannya sebelum dirinya meninggal."
pemuda bergumam. "Tidak mungkin."
"Semua bisa terjadi, Tuan Fang Lin." sahut Reyhan.
Sosok itu terbelalak mendengar nama yang diucapkan Reyhan. Ya, nama pemuda itu bukan lain adalah Fang Lin, sang Kultivator. Semua orang yang melihat masih diam berdiri melihat dan percakapan antara Reyhan dan Fang Lin.
Tanpa diduga, Fang Lin mengeluarkan pedang dari cincin penyimpanannya. Reyhan yang melihat itu mengerut dahinya, dan bergumam dalam hatinya. "Cincin ruang penyimpanan ? Ternyata di Dunia Kultivator juga ada ?"
Lalu ia berkata lagi dalam batinnya. "Yang awalnya aku berencana pergi ke Dunia Kultivator, tanpa diduga, rencanaku ini malah langsung menemukannya tanpa harus pergi ke Dunianya."
"Tapi tunggu, dia mengeluarkan pedangnya, bukankah berarti dia berencana ingin menyerangku ?" tambahnya, yang saat ini melihat Fang Lin memasang kuda-kudanya.
Reyhan pun juga mengeluarkan kedua pedangnya dari Portal ruang penyimpanannya. Lalu ia berkata. "Apakah seorang Kultivator memang langsung bertindak tanpa berfikir yang jernih ?"
Mendengar ucapan dari Reyhan, di sisi Fang Lin terdiam dengan wajah ekspresi bimbang. Lalu Reyhan kembali bersuara. "Bisakah kamu bersikap lebih bijak dan mendengarkan penjelasan dari lawan bicaramu terlebih dahulu ?"
______________________
__ADS_1
Jangan Lupa Like.