
Hotel terbengkalai, tempat markas kelima tokoh dari Dunia Lain dan kelima Hunter Dunia D-22. Terlihat Budi dan keempat sahabatnya sedang tak diam saja. Melainkan mereka berlatih tanpa pembimbing. Mereka berfikir, menunggu para Senior pergi, lebih baik menunggu sambil latihan, meski hari sudah malam. Sedangkan Lisa sudah tidur di kamar yanga da di dalam markas.
Di taman belakang markas, terlihat Budi, dan keempat sahabatnya sedang melakukan latihan. Yang dimana Budi melawan keempat sahabatnya. Mereka tak menggunakan senjata, dan Budi sendiri, ia tak menggunakan kekuatan Power Stone-nya.
Setelah 1 jam Kemudian, latihan mereka pun menghentikan latihan mereka. Keempat sahabatnya Budi terduduk di tanah. Nafas mereka saling memburu, begitu juga dengan Budi. Mereka berlima sama-sama duduk di tanah. Mereka saling memandang lalu tertawa kecil.
"Entah kenapa aku ingin sekali menonjok wajah tampanmu itu." kata Andi.
"Ya, aku juga ingin membuatmu tak berdaya tetapi, hasilnya kenapa bisa imbang ? Padahal kita berempat, sedangkan dia hanya sendirian." kata Beni. Hendi dan Iwan mengangguk kepalanya.
Budi terkekeh mendengarnya. Lalu ia bersuara. "Bukankah Senior Sean pernah bilang. Kalau hanya pandai tenik bela diri itu tidak akan cukup, tetapi gunakanlah akal kita."
Andi, Beni, Hendi dan Iwan bertarung melawan Budi. Yang seharusnya berempat lebih unggul, tetapi kenapa bisa imbang bertarung sama 1 orang saja. Penyebabnya, di awal pertarungan, Budi menghindar dan bertahan, sedangkan Andi dan ketiga lainnya terus melancarkan serangannya.
Karena mereka berempat kebanyakan gerak, jadi Budi memanfaatkan hal itu. Ia terus menghindar, dan bertahan, sampai membuat keempat sahabatnya kelelahan, meski ujung-ujungnya hasil pertarungan mereka imbang.
"Ngomong-ngomong, kelima Senior kita sedang apa ya ?" tanya Hendi.
"Yang jelas, mereka pasti sedang Gila-Gilanya membasmi para Monster." jawab Iwan.
"Apa mereka akan membawa inti Monster nantinya setelah selesai ?" tanya Andi.
Budi menggeleng-gelengkan kepalanya. "Sepertinya, mereka takkan membawanya. Karena mereka tak tertarik dengan inti Monster."
Iwan berkomentar. "Padahal dengan kekuatan mereka, pasti dengan mudahnya mereka bisa menghabisi para Monster yang ada di dalam Dungeon. Seharusnya mereka tertarik dengan inti Monster, dan mereka pasti akan mendapatkan banyak uang."
"Ya, semua Hunter pasti mereka berfikir seperti itu." jawab Beni.
Budi bersuara. "Bukankah sudah jelas 'kan. Mereka hanya tertarik menghancurkan D-Danger. Dan mereka juga bukan Hunter seperti kita, yang pasti mereka memiliki tujuan yang berbeda dengan para Hunter di Dunia ini."
__ADS_1
"Kalau misalkan D-Danger benar-benar hilang, bagaimana nanti kedepannya ?" tanya Hendi.
"Yang jelas, Dunia ini akan damai seperti dulu. Lagi pula, aku tidak terlalu tertarik menjadi seorang Hunter. Aku menjadi Hunter juga terpaksa." jawan Budi.
"Mulai sekarang aku harus kuat karena juga terpaksa agar aku bisa sepenuhnya mengendalikan Power Stone yang ada di dalam tubuhku." tambahnya.
"Ya, tidak hanya kau saja, aku juga seperti itu." kata Andi.
"Apabila D-Danger benar-benar hilang, apakah semua Asosiasi Hunter dan semua Perusahaan Guild yang ada di Dunia ini akan tetap ada ?" tanya Iwan.
Budi menjawab. "Sudah jelas 'kan. Pasti mereka akan juga ikut bubar secara D-Danger sudah tidak ada. Tidak ada Portal-Portal lagi. Kalau pun mereka tetap berdiri, siapa juga yang minta ?"
"Benar juga." sahut keempat sahabatnya bersamaan.
Mereka pun berdiri. Mereka berjalan meninggalkan taman belakang markas. Karena sudah malam, mereka memilih untuk tidur dan beristirahat, tetapi mereka juga tak lupa membersihkan dirinya sebelum melakukannya agar tubuh mereka nyaman.
Lagi pula, menunggu kelima Senior mereka yang belum pulang, belum tentu kapan akan pulang ke markas. Yang pasti mereka bisa menebak, kalau Reyhan dan yang lainnya sangatlah hebat, pasti tidak hanya mengatasi 1 Portal saja untuk malam ini.
.....
Sedangkan kelima orang yang telah membunuh pasukan sosok Titan itu, berdiri tenang di tempat mereka berkumpul sekarang. Gerakan dia lambat, karena mungkin ukuran tubuhnya sehingga, ia sangat lambat sekali dalam berjalan, tetapi setiap langkahnya, cukup membuat tanah disekitarnya bergetar.
Tetapi, ada yang membuat Reyhan dan keempat Juniornya terheran-heran. Karena ada 1 sosok Golem di belakang Titan itu. Golem yang tercipta dari batu, dan ukurannya sama tingginya dengan Sang Titan. Bahkan ke-10 Hunter juga dibuat terkejut.
"Hei hei hei...!! Kenapa bisa ada 2 Bos di Dungeon ini ?!?!"
"Sebenarnya kita benar-benar masuk ke Dungeon Rank C atau bukan sih ?"
Sang ketua Tim melirik salah satu anggotanya. "Kamu 'kan yang memberitahu tentang Portal ini padaku. Jadi, apa kamu bermaksud membuat kita bunuh diri bersama-sama ?"
__ADS_1
Anggotanya yang ditanya, menjawab. "Sungguh, aku tidak tau apapun !! Bukankah kalau Dungeon ini berada di Tingkat lebih dari Rank C, seharusnya kita bisa merasakan tekanannya."
Ketua Tim dan anggota lainnya pun berfikir. Mereka pun juga merasakan tekanan di Dungeon sejak awal masuk, biasa-biasa saja. Lalu wakil ketua bersuara. "Kalau dibilang kesalahan, sepertinya itu tidak mungkin. Kemungkinan Monster-Monster di semua Dungeon saling berhubungan, seakan mereka saling membantu."
Salah satu anggota bersuara. "Lebih baik kita pergi dari sini, dari pada harus mati konyol tidak jelas." semua anggota laki-laki mengangguk kepalanya.
"Tak ada yang boleh keluar dari sini." ucap sang ketua Tim sambil menunjukkan bom apinya. "Jika ada yang berani, kubakar kalian semua." tambahnya.
Seketika ke-6 anggota laki-lakinya terdiam tak ada yang berani pergi. Wakil ketua dan 2 anggota perempuannya sudah paham kenapa ketua Tim mereka begitu, karena marah terhadap ke-6 anggota laki-lakinya yang selalu bertindak semaunya. Lagi pula, ketua Tim tidak akan pergi begitu saja, karena ia penasaran dengan aksi kelima orang asing itu.
.....
Disisi Reyhan dan keempat Juniornya.
"Sepertinya, ini tidak berakhir dengan cepat." ucap Reyhan, lalu ia mengeluarkan 2 pedangnya yang langsung terselimuti Api Biru, bedanya pedang yang ia genggam di tangan kanannya menghadap belakang.
Sean dan Peter menggenggam senjata mereka masing-masing dengan erat. Mereka sama-sama masih di dalam mode Petir mereka.
"Aku harap pedang yang kupegang ini tidak mengamuk." ucap Peter.
Sean yang berdiri di samping kiri Peter bersuara. "Nona Sinta sudah memberi pedang itu padamu, dan dia percaya kalau kamu pasti bisa mengendalikannya. Jadi jangan ragu."
Peter tersebut dan mengangguk kepalanya. Queen yang berdiri di samping kanan Peter berkata. "Aku penasaran sekali dengan bibi Sinta. Soalnya sadari kecil aku belum pernah melihatnya."
"Bahkan Bundaku saja memberi namaku nama depan bibi Sinta yang sudah ia anggap sebagai kakaknya." tambahnya.
"Kau akan bertemu dengannya setelah masalah D-Danger kelar." jawab Sean.
Dan Arkhan, dia berada di belakang mereka berempa. Karena ia baru saja menciptakan Naga yang cukup besar dengan panjang 50 meter. Naga ciptaannya terbuatan dari Sihir Elemen Kayunya. Posisinya kini berdiri berada di kepala Naga Kayunya.
__ADS_1
______________________
Jangan Lupa Like.