
Monster Troll mengayunkan tangannya dengan telapak yang terbuka, ia menggunakan cakar tangannya untuk menyerang. Peter, Arkhan, dan Queen yang maju mendekat, mereka menghentikan gerakan mereka, seketika mereka langsung menyebar untuk menghindar, dan mereka bergerak ke segala arah.
Peter langsung berbalik dengan kecepatan miliknya, ia sudah siap dengan pedang katananya. Ia pun juga masuk ke Mode Petirnya. Monster Troll yang juga melayangkan kedua tangannya, tak ragu untuk maju menyerang Peter. Serangan Monster Troll tidak mengenai, melainkan salah satu tangannya berhasil ditebas oleh Peter.
Troll itu berteriak keras, mungkin karena kesakitan. Disisi Arkhan, ia maju dengan pedang katananya yang sudah diselimuti aura Sihir berwarna hijau. Tubuhnya juga diselimuti Angin yang cukup membuat sekitar merasakan hembusan angin. Arkhan gunakan itu agar gerakannya bisa bertambah cepat dan mengimbangi kecepatan Peter, Queen.
Ketika jaraknya sudah dekat dengan Monster Troll itu, mungkin ada 3 meter, Arkhan mengarahkan ujung pedangnya ke arah dada Monster Troll. Ujung pedangnya Arkhan pun muncul sesuatu yang runcing maju ke depan. Tepatnya akar pohon yang runcing tiba-tiba muncul dari ujung pedangnya, dan maju ke arah dada Monster Troll
"Maafkan aku Tuan Troll. Kami terpaksa mengakhiri ini agar jiwamu tenang." gumam Arkhan. Ya, karena jiwa Monster Troll itu telah dikendalikan oleh Sihir milik Hahn, Sang Dewa Iblis.
Maka Peter, Arkhan, dan Queen terpaksa membuat Monster Troll itu untuk tidur selama-lamanya. Sebenarnya Arkhan bisa saja menggunakan Soul Stone-nya, untuk membebaskan jiwa Monster Troll yang dikendalikan oleh Sihir Dewa Iblis. Tetapi demi keamanan semua Infinity Stone, ia tak melakukannya.
Apalagi disela-sela pertarungan, tak hanya Arkhan, tetapi juga Peter, dan Queen mengalihkan pandangan mereka ke arah Hahn, aura hitam yang dikeluar dari tubuhnya terasa berbahaya. Buktinya, terlihat Reyhan dan Sean masih saja merasa kesulitan disaat mereka sedang menggunakan full kekuatannya.
Bayangkan saja, bila salah satu dari mereka menggunakan Infinity Stone, Hahn pasti menyadari hal itu. Tak hanya merasa tertarik, pasti akan menimbulkann rasa keinginan untuk memiliki salah satu dari keenam Infinity Stone. Mungkin bisa saja semuanya.
Dan pastinya dengan mudahnya Hahn merampas Infinity Stone milik Arkhan, secara dari kekutatan, Arkhan adalah yang paling lemah diantara mereka berlima. Bila salah satu dari mereka telah dicuri, pasti menjadi masalah besar, dan tak mudah untuk merebutnya kembali.
JLEB...!!
Ujung akar runcing milik Arkhan menembus dada Monster Troll itu. Sang Monster itu berteriak keras, ia berontak, meski dadanya sudah tertusuk akar runcing hingga tembus ke belakang punggungnya. Disisi Queen, ia pun mendekat dengan cepat.
__ADS_1
Tongkat sabit di genggamannya, mengeluarkan aura berwarna merah seperti darah. Gadis setengah Vampir itu mengayunkan senjatanya ke arah leher Monster Troll. Slash....!! Dengan gerakan cepatnya, ia melawati Monster Troll itu.
Monster Troll itu pun tak bergerak. Perlahan Tubuhnya lemas seakan tak bertenaga. Akar runcing yang menembus dadanya pun Arkhan tarik kembali. Kepala Monster Troll itu pun terjatuh ke tanah, beberapa detik kemudian, tubuhnya pun ikut terjatuh ke tanah.
Di tempat Peter, Arkhan, dan Queen berdiri, nafas mereka saling memburu. Ya, mereka telah mengerahkan semua. Mereka pun ambruk terduduk di tanah. Tak apalah tenaga dan energi mana mereka berkurang banyak, setidaknya musuh sudah dikalahkan.
"Sekarang, sisanya, kita serahkan semuanya kepada kedua Senior kita." ucap Peter.
Arkhan dan Queen mengangguk kepalanya. Apa yang bisa lakukan saat ini adalah menonton aksi Reyhan dan Sean melawan orang yang mengaku dirinya sebagai Dewa Iblis. Hanya mereka berdua yang kuat diantara mereka berlima.
Mereka bertiga memandang langit yang terdapat 3 cahaya bergerak cepat dan saling beradu. Ketiga cahaya itu tak lain Reyhan, dan Sean yang sedang melawan Hahn. Saar sedang memandang ke arah langit, lalu terdengar banyak suara langkah kaki mendekat ke arah mereka. Peter, Arkhan, dan Queen menoleh.
Sebenarnya tanpa menoleh, mereka sudah bisa menebak siapa yang mendekati mereka. Namun, mereka memilih menoleh karena ingin tau wajah-wajah dari para sekumpulan Hunter mendekati mereka. Dan pastinya mereka semua memiliki tujuan karena berani mendekat disaat yang kurang tepat.
Orang berpakaian formal, ia berdehem, lalu ia bersuara. "Sebelumnya kenalkan, namaku Henri, aku adalah pemimpin dari Asosiasi Hunter."
Peter, Arkhan, dan Queen saling memandang. Lalu mereka bertiga memandang pemimpin Asosiasi Hunter yang bernama Henri itu. Peter menjawab. "Baiklah Tuan Henri, jadi apa maumu ? Sampai-sampai kamu mendekat disaat pertarungan kedua Senior kami belum selesai."
Henri memandang ke arah langit. Ya, ia juga melihat 3 cahaya saling bergerak cepat, saling beradu dilangit, dan menimbulkan suara pertarungan. Henri mengangguk-angguk kepalanya, ia paham dan ia menduga kalau 2 orang laki-laki yang sedang bertarung dengan laki-laki berjubah hitam adalah Senior mereka bertiga.
Pandangan Henri kembali beralih ke arah mereka bertiga. Ia pun berkata. "Aku datang pada kalian, karena ada hal yang ingin saya sampaikan."
__ADS_1
"Maaf sekali Tuan Henri. Sepertinya anda datang diwaktu yang kurang tepat." bukan Peter atau Queen yang menjawab, Arkhan 'lah yang menjawab.
Pandangan Henri fokus ke arah Arkhan, ia pun membalas. "Benar juga. Saya akui, saya salah karena tak melihat sekitar, benar-benar tidak tidak tepat. Tapi mau bagaimana lagi ? Karena tidak mudah bagi kami yang ingin menemui kalian."
"Dan kalian tak memiliki hubungan dengan pihak manapun, jadi sangat sulit untuk kami yang ingin menghubungi kalian." tambahnya.
"Baiklah, kami sudah di depan kalian. Jadi kalian ingin apa ?" tanya Peter.
Wajah Henri sedikit memasang ekspresi serius. "Saya ingin mengektrut kalian berlima untuk bergabung dengan Asosiasi Hunter yang saya pimpin."
Suasana terasa menjadi hening. Hanya terdengar suara pertarungan di langit. Peter, Arkhan, dan Queen saling memandang. Lalu pandangan mereka kembali beralih ke arah Henri. Henri kembali membuka suara. "Kalian tenang saja, bila kalian bergabung dengan kami, kalian akan mendapat kehidupan yang mudah. Tak hanya itu, derajat kalian akan lebih tinggi dari siapapun."
"Kalian juga akan dihormati oleh semua orang. Kalian tak perlu langsung turun ke lapang, kecuali bila keadaan sangat-sangat darurat." tambahnya.
Peter pun menjawab. "Aku paham maksudmu. Aku memawakili kami berlima, menolak ajakanmu itu."
"Tunggu dulu !! Atau begini saja, lebih baik kita menunggu kedua Senior kalian. Jadi kalian bisa mendiskusikan tentang apa yang sudah aku tawarkan." jawab Henri. Baginya sungguh aneh bila tak ada yang tergiur dengan tawarannya.
Peter, Arkhan, dan Queen memandang dingin ke arah Henri. Arkhan berkata. "Kamu kira, saat ini Senior kami tidak kesulitan ?"
______________________
__ADS_1
Jangan Lupa Like.