Sequel Of The Hunter : The Guardians

Sequel Of The Hunter : The Guardians
BAB 43 : Menyelesaikan Urusan.


__ADS_3

"Aku tak menyangka, kalau Tim Elang Hitam dari Perusahaan Guild SILVER masih hidup." ucap Henri setelah menoleh dan memandang Tim Elang Hitam yang selama ini telah dinyatakan hilang, mereka tak lain Budi, Andi, Hendi, Beni, dan Iwan.


"Sekarang mereka adalah bagian dari Tim-ku."


Henri menoleh kembali, dan memandang ke Reyhan yang telah mengatakan kalau Tim Elang Hitam adalah bagian dari Tim-nya.


Henri tersenyum remeh. "Atas dasar apa kamu mengakui mereka adalah bagian dari Tim-mu ?"


Reyhan memandang datar ke arah Henri, lalu ia membalas. "Bisakah kamu bicara langsung ke intinya saja ?"


"Bukankah kamu sudah menyadarinya, Tuan. Aku menginginkan kamu dan Tim-mu masuk ke Asosiasi Hunterku." jawab Henri.


"Aku menginginkan Tim-mu langsung di bawah naunganku. Karena aku tak ingin kamu masuk ke Perusahaan Guild yang ada dibawah naunganku." tambahnya.


Meski Henri adalah pemimpin Asosiasi Hunter, sekaligus atasan semua Perusahaan Guild, tetapi ia menginginkan kelima orang asing ini berada langsung di bawah naungannya. Ia tak ingin mereka bergabung dengan Perusahaan Guild. Karena Henri ingin bisa memimpin kelima orang itu secara langsung tanpa harus berurusan dengan yang lainnya.


Karena bila kelima orang hebat ini masuk ke salah satu Perusahaan Guild, bisa saja pemimpin dari Perusahaan Guild menghianatinya. Dan tentu saja ia tak ingin hal itu. Selagi mereka berlima masih di Kota ini, maka Henri harus melakukan sesuatu, apapun itu agar kelima orang itu masuk ke pihak manapun.


Di sisi para pemimpin Perusahaan Guild, hanya bisa diam, meski dalam hati mereka menginginkan kelima orang hebat itu bergabung dengan Perusahaan Guild milik mereka. Karena dengan mereka bergabung, Perusahaan Guild mereka akan semakin maju dan kuat.


Reyhan menghela nafasnya. Ia berkata. "Entah kenapa aku jadi sangat kesal sekali padamu." ucapnya sambil memandang tajam ke arah Henri.


Sean, Peter, dan Queen memilih diam. Mereka percaya dan menyerahkan keputusan ke Senior mereka. Begitu juga dengan Budi, Andi, Beni, Hendi, dan Iwan, mereka berlima memilih diam mengikuti semua seniornya, meski banyak sekali pandangan remeh dari semua Hunter yang ada di depan mereka.


Bukannya takut dengan tatapan tajam dari Reyhan, Henri hanya tersenyum melihatnya. Lalu ia membalas. "Kamu marah padaku ? Maka, seranglah aku."

__ADS_1


"Tetapi, kamu akan mendapatkan akibatnya." tambahnya dengan memberi ancaman.


Reyhan tersenyum menyeringai.


Tiba-tiba muncullah cahaya dari langit yang cukup menyilaukan. Semua orang di sana mendongak untuk melihat, tetapi karena sangat silau, mereka menutup mata mereka. Kecuali Sean, Peter, dan Queen yang tak mendongak, karena mereka sudah tau.


Beberapa saat kemudian, cahaya di langit menghilang. Semua orang di sana, membuka matanya, seketika mereka terbelalak melihat ribuan pedang sedang melayang di langit. Ribuan pedang itu melayang dalam posisi mengarah ke bawah.


Di sisi Henri, ia membeku melihat itu. Ia pun kembali mengalihkan pandangannya ke arah Reyhan yang sedang memandangnya sambik tersenyum menyeringai. Reyhan berkata. "Aku tidak takut dengan segala ancaman yang datang padaku."


Reyhan lalu menoleh dan melihat kedelapan Juniornya. "Apa kalian takut ?"


"Tentu saja tidak !!" sahut mereka bersamaan.


Reyhan kembali menoleh memandang Henri, dengan senyumannya. "Dengarkan aku dengan baik."


"Se-sebenarnya siapa kalian ?" terbata-bata Henri bertanya karena rasa gelisahnya.


"Bukan urusanmu." jawab Reyhan dingin.


Kini semuanya diluar dugaan Henri. Seharusnya dirinya ingat kalau sekelompok asing ini memiliki kekuatan yang tidak biasa, terutama Reyhan. Henri ia membawa ratusan pasukan, karena dalam seketika Reyhan bisa memunculkan beribu-ribuan pedang yang siap menyerang pasukannya.


Lalu Reyhan mengarahkan tangan kanannya ke sampingnya, seketika muncullah Portal di dektanya. Semua Hunter yang terdiri dari para pemimpin, hingga pasukannya terkejut melihat apa yang dilakukan oleh Reyhan. Reyhan segera menyuruh Sean, Peter, dan Queen untuk segera masuk ke dalam.


Kini tinggallah Reyhan, Budi, Andi, Hendi, Iwan, Beni, dan Beni yang ada di tempat itu. Reyhan memandang ke arah mereka berlima. "Kalian ingin ikut denganku atau kembali ke sekelompok orang-orang menyedihkan ini ?"

__ADS_1


Semua Hunter yang ada di tempat itu ngin sekali menghajar Reyhan habis-habisan. Tetapi itu takkan bisa, karena Reyhan memiliki kekuatan yang sangat jauh lebih kuat dari mereka. Apalagi masih ada ribuan Pedang yang masih melayang di langit dan mengarah ke mereka. Budi dan keempat temannya saling memandang. Mereka mengangguk kepalanya. Lalu memandang Reyhan.


Sebagai berwakilan, Budi pun bersuara. "Kami akan ikut denganmu Senior, tetapi bolehkan kami menyelesaikan urusan kami dengam mereka semua yang ada di sini ?"


Reyhan tersenyum. "Tentu saja boleh. Aku dan yang lainnya akan menunggu kalian di markas. Aku berpesan pada kalian, lepaskan semuanya, jangan ditahan." ucapnya, mengabaikan Henri yang masih diam berdiri di depannya.


Budi dan keempat temannya tersenyum san menganggukkan kepalanya. Reyhan pun masuk ke dalam Portal menginggalkan Budi dan yang lainnya. Setelah Reyhan masuk, seketika Portal itu lenyap. Begitu juga dengan ribuan pedang yang melayang di langit, ikut menghilang begitu saja.


Kini tinggallah Budi dan keempat temannya yang berdiri di depan ratusan Hunter. Semua terasa hening, lalu beberapa lama terlihat seorang pria dewasa berjalan mendekati Henri yang masih berdiam berdiri di depan Budi dan keempat temannya.


"Jadi selama ini kalian bersama mereka ?" tanya Johan, yang tak lain pemimpin Perusahaan Guild SILVER.


Budi dan yang lainnya tak menjawab. Johan kembali bersuara. "Apa kalian bergitu dekat dengan orang-orang tadi ?"


"Ya, bisa dikatakan kami cukup dekat mereka. Karena mereka sebelumnya menyelamatkan yang telah kami." jawab Budi dengan tatapan dingin ke arah Johan.


Di sisi Johan, ia merasa tidak nyaman dengan tatapan Budi. Tak hanya Budi, tetapi Andi, Hendi, Beni, dan Iwan juga memandang dingin padanya. Johan berbicara. "Bisakah kalian tidak memandangiku seperti itu ? Ingatlah, aku masih atasan kalian."


Johan berkata lagi. "Karena kalian dekat dengan kelima orang asing itu, aku memerintahkan kalian untuk mengajak mereka untuk masuk ke Perusahaan Guild SILVER."


Budi terkekeh mendengarnya. Lalu ia kembali memandang dingin ke Johan. "Maaf sekali, Tuan Johan. Kami berlima memutuskan untuk keluar dari Perusahaan Guild-mu."


Sejenak Johan terdiam, ia memandang tajam ke arah Budi. Ketika akan menjawab, tiba-tiba Henri berbicara padanya. "Johan, apa aku tidak salah dengar ?"


Jujur saja, Henri merasa kesal, karena ia merasa diabaikan. Dan ia semakin kesal, karena mendengar ucapan salah satu bawahannya, yang tak lain Johan yang rupanya juga menginginkan kelima orang hebat asing tadi.

__ADS_1


______________________


Jangan Lupa Like.


__ADS_2