
Budi pun melompat maju, seluruh tubuhnya pun terselimuti cahaya ungu, begitu juga pedangnya. Budi dan Monster Yeti semakin mendekat. Hingga akhirnya Monster Yeti melayangkan salah satu tangannya untuk menyerang Budi.
Sedangkan Budi, ia melayang pedangnya ke arah Monster Yeti yang juga menyerangnya.
Slasshh....!!
Sambil melesat cepat ke arah Monster Yeti, Budi menyerang Monster Yeti menggunakan pedangnya dengan gerakan miring atau diagonal. Kini Budi dan Monster Yeti itu saling berdiri membelakangi. Budi mengibaskan pedangnya ke samping.
Tiba-tiba Monster Yeti itu terjatuh. Terlihat cairan merah keluar dari perutnya dengan mengalir dan mewarnai putih salju di dekatnya menjadi merah. Budi membalikan tubuhnya, dan mendekati Monster itu. Tubuhnya masih diselimuti cahaya ungu.
Ya, dirinya menggunakan Power Stone-nya untuk melipat-lipatkan kekuatan untuk menyerang dan menambah kecepatan. Ia pun menyudahinya, cahaya ungu yang menyelimuti tubuhnya pun menghilang.
Setelah berdiri di sampingnya, Budi memandang Monster itu yang kini hanya diam. Meski bisa ditebak kalau Monster ini masih bernafas dan menandakan kalau dirinya masih hidup. Mungkin Monster Yeti ini akan mendekati sakaratul maut.
Budi memang sengaja tidak langsung membunuhnya. Ia berjongkok di dekat Monster itu, lalu ia bertanya.
"Apa kamu bisa diajak berbicara ?"
Sebelumnya Reyhan memberitahu kepadanya dan keempat temannya, bila bertemu Bos Monster, dan berhasil mengalahkannya, alangkah baiknya tidak dibunuh terlebih dahulu. Dan mengajaknya berbicara.
Bila menjawab, tahan dia, dan tidak menjawab atau terlihat tidak berakal, bunuh dia. Itulah pesan Reyhan padanya. Monster Yeti itu hanya berdiam, tetapi ia menoleh kepalanya dan memandang tajam ke arah Budi. Bukannya menjawab, Monster itu hanya menggeram.
Budi menghela nafasnya. Lalu ia mengarahkan pedangnya ke leher Monster Yeti itu. "Baiklah, sepertinya aku harus mengakhiri hidupmu." setelah mengatakan itu, Pedangnya bercahaya ungu.
__ADS_1
Slashh..!!
Kepala Monster Yeti itu seketika mati setelah terpisah dari tubuhnya. Budi tak menggerakkan pedangnya, tetapi itu efek dari cahaya ungu yang menyelimuti pedangnya, dan seketika membuat kepala Monster Yeti itu terpisah dari tubuhnya.
Lalu terdengar beberapa langkah kaki mendekatinya. Budi menoleh kepalanya, ia melihat keempat temannya berjalan mendekatinya. Kini mereka berkumpul di dekat maya Monster Yeti itu.
Andi bersuara. "Bagaimana ?"
Budi menggeleng-gelengkan kepalanya. "Dia tak berakal. Ketika aku bertanya, dia hanya menggeram layaknya hewan yang sedang marah."
Semua mengangguk-angguk kepalanya, mereka paham. Berarti, Dungeon yang mereka masuki, tidak ada petunjuk. Tiba-tiba tanah terasa sedikit bergetar layaknya gempa bumi. Hanya 3 detik saja, kejadian itu pun terhenti. Budi dan keempat temannya paham hal itu, dan mereka tidak akan terkejut.
Karena itu sudah hal biasa terjadi, bila Bos Monster Di dalam Dungeon telah dikalahkan, maka Dungeon itu akan mengalami gempa atau tanah bergetar dalam beberapa detik saja. Setelahnya kepada mereda, dan memiliki waktu 1 atau 2 jam lebih untuk segera meninggalkan Dungeon.
"Lebih baik kita pergi dari sini. Sambil menunggu keempat Senior kita, kita berjalan santai saja." Andi memberi saran.
Yang lainnya pun mengangguk setuju. Lalu mereka berlima pun pergi meninggalkan tempat itu. Dan membiarkan Mayat Monster Yeti itu begitu saja yang sudah akan lenyap dan akan meninggalkan inti Monsternya. Budi dan keempat temannya mengambaikan hal itu.
Sebenarnya memang mereka sungguh-sungguh mengabaikan semua inti Monster begitu saja. Lagi pula, mereka sudah tidak berkerja untuk Perusahaan Guild atau yang lainnya. Karena juga, Reyhan yang menggaji mereka, bahkan sangat jauh lebih besar dari gaji mereka dari Perusahaan Guild.
.....
Tak lama kemudian, rombongan Budi dan rombongan Reyhan pun bertemu, pada akhirnya mereka berkumpul. Mereka saling berbicara setelah menyapa tentang kabar pencapaian. Di sini, Budi menceritakan kalau dirinya dan keempat temannya telah mengalahkan Bos Monster yang merupakan Monster Yeti.
__ADS_1
Reyhan pun bertanya tentang Bos Monster Yeti itu. Budi menjelaskan, kalau Monster yang ia dan teman-temannya kalahkan tidak berakal, jadi Budi membunuhnya. Setelah berbicara, mereka pun berjalan mendekati Pintu atai Portal untuk keluar dari Dungeon.
Sebenarnya Reyhan bisa saja langsung membuka Portalnya, tetapi tak ia lakukan. Karena mereka ingin bersantai dalam berjalan kaki sambil berbicara. Lagi pula, Reyhan merasakan ada sesuatu di luar Portal. Tak hanya Reyhan saja, semua Juniornya juga merasakannya.
Reyhan dan kedelapan Juniornya terdiam setelah mereka keluar dari Portal. Mereka memandang ke arah depan. Ya, di depan mereka kini ada banyak sekali orang-orang atau tepatnya ada banyak sekali Hunter yang berdiri 10 meter di depan mereka bersembilan. Jumlah mereka mungkin ada 400 lebih.
Reyhan tak menyesal tak membuka Portalnya ketika dirinya dan semua Juniornya di dalam Dungeon. Karena dengan ini, ia jadi tau sisi buruk para Hunter yang telah terobsesi akan kekuatan, terutama para atasan atau pimpinan mereka.
Reyhan, Sean, Peter, dan Queen memandang dingin ke arah semua Hunter yang ada di depannya. Mereka menduga, kalau di Dunia ini memang sudah canggih, jadi sudah sepatutnya mereka akan selalu diawasi kemana pun mereka pergi, terutama masuk ke dalam Portal.
Sedangkan di sisi Budi dan keempat temannya hanya bisa pasrah saja, dan memandang dingin ke arah semua Hunter. Mereka tak menduga akan hal ini. Apalagi anggota Hunter dari Perusahaan Guild SILVER serta pimpinannya juga ada disana.
Dari lambang di pakaian mereka sudah bisa dtebak, ada 4 rombongan Perusahaan Guild terbesar yang ada di bawah pimpinan Asosiasi Hunter. Pertama rombongan Perusahaan Guild SILVER. Kedua, rombongan Perusahaan Guild RED. Ketiga, Perusahaan Guild GREEN.
Dan yang terakhir, Perusahaan Guild BROWN, sekaligus salah satu Perusahaan yang paling dibenci oleh Budi. Dan saat ini Budi mengeras rahangnya karena marah. Ya, 2 orang yang paling ia benci berada di kerumunan Hunter itu, karena ke-2 orang itu berdiri paling depan.
Setelah sekian lama, akhirnya Budi bertemu dengan mereka berdua. Mereka berdua yang tak lain sepasang suami istri, tepatnya mantan istrinya dan suami barunya yang merupakan pemimpin Perusahaan Guild BROWN. Ia terus memandang dingin ke arah mereka berdua yang kini juga sedang memandanginya.
Lalu, salah satu dari semua Hunter itu, terlihat seorang yang tak asing di mata mereka bersembilan. Ya, dia tak lain Henri yang merupakan pemimpin Asosiasi Hunter, ke-4 Perusahaan Guild yang ada di sini adalah dibawah pimpinannya.
Pastinya datangnya semua rombongan yang ada di sini atas perintahnya Henri. Henri pun berjalan mendekat, dan kini berdiri 2 meter di depan mereka. Ia pun berkata. "Kalian pasti tak menyangka bukan ? Kenapa bisa ada banyak sekali orang disini ?"
Henri menoleh kepalanya dan memandang dingin ke arah Budi dan keempat temannya. "Aku tak menyangka, kalau Tim Elang Hitam dari Perusahaan Guild SILVER masih hidup." tambahnya.
__ADS_1
______________________
Jangan Lupa Like.