Sequel Of The Hunter : The Guardians

Sequel Of The Hunter : The Guardians
BAB 59 : Tak Sabar Menunggu.


__ADS_3

Setelah sekian banyaknya Monster yang telah Budi dan keempat temannya bunuh, kini mereka berlima berhadapan Bos Dungeon yang tiba-tiba muncul. Bos Dungeon itu Monster Phoenix, dia terbang sambil mengibaskan sayapnya, dan seketika datanglah hujan Api datang ke arah Budi dan keempat temannya. Tak hanya itu, Monster Phoenix itu juga bisa menyemburkan Api dari mulutnya.


Budi dan keempat temannya hanya bisa bertahan. Serangan mereka tak sampai jangkauan, karena lawannya mereka kali ini selalu terbang di langit. Setiap mereka memberi serangan, Monster Phoenix itu selalu menghindar dengan meninggikan jarak terbangnya.


Melihat keempat temannya mengumpat ke burung Phoenix itu, Budi memenjam kedua matanya. Kedua tangannya menggenggam gagang pedangnya dengan erat. Perlahan Ia menarik nafasnya, dan dengan perlahan juga ia mengeluarkan melalui mulutnya. Ia tak hanya melakukan itu sekali, ia melakukan 2 kali. Lalu ia bergumam. "Aku takkan menahan diri."


DEG..!!


Tiba-tiba jantungnya berdetak cepat. Budi bergumam lagi. "Aku akan melebihi batasanku." bersamaan Pedang katanannya tiba-tiba diselimuti cahaya berwarna ungu.


Andi, Iwan, Beni, dan Hendi yang sedang mengumpat ke burung Phoenix itu pun terhenti, mereka menoleh kepalanya ke arah Budi yang berdiri 10 meter dari jarak mereka. Mereka segera menghindar, karena mereka pernah melihat serangan Budi yang kali ini saat latihan melawan Reyhan.


Yang dimana Budi menggunakan Power Stone untuk menyerang lawannya. Terlihat dari posisi Budi seperti itu, mereka sudah menebak apa yang akan terjadi, lebih baik mereka berempat menghindar dari Budi. Di sisi Budi, ia memutarkan pedangnya dan langsung menancapkannya ke tanah, lalu ia menekan pedangnya.


Dan benar saja, tiba-tiba seluruh permukaan tanah dalam diameter 100 meter, retak. Diretakannya itu becahaya ungu. Budi langsung menarik kembali pedangnya dan seketika ia arahkan pedangnya ke arah Monster Phoenix yang sedang terbang di langit. Bersamaan, seluruh tanah di sekitar Budi terangkat.


Pecahan tanah yang berterbangan pun langsung bergerak cepat ke arah Monster Phoenix itu. Tak ada satu saja, melainkan banyak. Banyak sekali pecahan tanah dari yang kecil hingga yang besar melayang terbang cepat ke arah Monster Phoenix itu, seakan sedang hujan tanah datang menyerang targetnya.

__ADS_1


Dan benar saja, arah terbang Monster Phoenix itu tak beraturan. Dia terbang kesana-kemari untuk menghindari serangan yang datang padanya. Dia benar-benar kesulitan, bahkan ia mau kenaikan jarak terbangnya ke atas, tetap saja serangan Budi terus datang padanya. DUGH...!! Mulailah salah satu sayapnya kena.


DUGH...!! Kini badannya yang kena pecahan tanah yang berukuran besar. Setelah, kini seluruh badanya kena serangan. Di sisi Budi, ia terus menggunakan Power Stone-nya agar bisa menggerakkan tanah di sekelilingnya agar menjadi alat serangannya. Woosssss...!!


Tiba-tiba muncul bola Api yang sangat besar, sedangkan Monster Phoenix itu berada di dalamnya. Bola Api itu seolah adalah melindungi Monster itu dari serangan Budi. Semua membeku melihatnya, mereka tak menyangka akan melihat Bola Api besar di langit, terlebih Monster Phoenix itu ada di dalamnya.


Bahkan suasana menjadi panas. Dan semakin panas. Bola Api itu semakin besar. Dan semakin besar, besarnya mungkin berdiamer 200 meter. Budi saja terhenti, ia berlutut, tak hanya energi mananya terkuras banyak, tetapi ia juga tak bisa menahan rasa panas di tempatnya. Bahkan keempat temannya juga merasakan hal itu.


Bola Api itu malah terlihat seperti matahari. Ketika Budi dan keempat temannya berusaha tetap bertahan, tiba-tiba sebuah Bola aneh berwarna hitam kebiruan muncul di dekat Bola Api Sang Phoenix. Bola aneh itu sangat kecil. Dengan perlahan Bola Api itu mengecil. Seakan-akan Bola Api itu diserap oleh Bola aneh itu.


Terus mengecil, dan pada akhirnya menghilang. Tinggallah Monster Phoenix itu yang kini terheran-heran, karena tiba-tiba salah satu skillnya menghilang. Sedangkan Budi dan keempat temannya pun berdiri, mereka juga tak kalah heran dengan Bola aneh itu yang masih melayang di udara.


Budi menoleh dan terbelalak melihat sosok yang sangat tak asing baginya. "Senior Reyhan !!"


Yang datang rupanya Reyhan. Lalu ia mengarahkan tangannya ke arah Bola aneh yang masih terbang di langit. Lalu Bola itu datang ke arahnya. Budi terbelalak melihat Bola Hitam kebiruan itu kini sudah berada di telapak tangannya Reyhan.


"Senior, ini...." ucap Budi menggantung.

__ADS_1


Reyhan mengangguk kepalanya. "Ya, ini adalah salah satu dari kekuatan Space Stone-ku." lalu pandangan kembali ke arah Monster Phoenix yang kini mendarat tak jauh darinya.


Reyhan bersuara. "Aku sangat kagum dengan jenis Bos Dungeon yang kalian hadapi sekarang ini." bersamaan Bola hitam kebiruan miliknya pun menghilang dari telapak tanganya.


"Tapi sekarang bukannya untuk kagum, Senior." balas Budi yang berdiri di sampingnya Reyhan.


Reyhan tersenyum dingin dan tatapannya terus ke arah Monster Phoenix. "Aku penasaran, apa Monster ini memiliki akal atau tidak. Kalau dari penampilannya, seharusnya Monster ini memiliki akal. Kalau tidak, dia pasti Monster cacad."


"Sangat lama sekali menunggu di markas. Dari kalian semua, belum ada yang kembali. Jadi aku memutuskan menyusul kalian." tambahnya.


Ya, di markas, Reyhan memiliki rencana, di samping itu, ia sudah tak sabar menunggu, jadi ia memutuskan menyusul. Dari markas, ia membuka Portalnya, karena Space Stone-nya merasakan ada salah satu Infinity Stone sedang digunakan. Jadi ia langsung bisa datang ke Dungeon tempat keberadaan Budi dan keempat temannya.


Tanpa menoleh, Reyhan berkata. "Budi, apa kamu masih bisa menggunakan Power Stone-mu ?"


Budi menjawab. "Masih, tapi kondisiku saat ini, tak bisa menggunakannya lebih dari 5 menit. Aku tadi terlalu banyak mengerahkan energi manaku untuk menggunakan Power Stone-ku."


"Tak masalah, itu cukup bagiku. Aku akan menghabisi ayam terbang itu dengan cepat." jawab Reyhan dengan yakin, pandangannya terus ke arah Monster Phoenix yang juga sedang menatapnya.

__ADS_1


______________________


Jangan Lupa Like.


__ADS_2