Sequel Of The Hunter : The Guardians

Sequel Of The Hunter : The Guardians
BAB 74 : Kekacauan - Pertarungan (2).


__ADS_3

BOOM...!! BOOM...!!


BOOM...!! BOOM...!!


BOOM...!! BOOM...!!


Cukup banyak ledakan di langit. Pemandangan itu menjadi pusat pandangan semua mahluk hidup yang sedang bersembunyi. Ledakan berada di langit atas pusat kota. Terlihat 2 sosok orang tengah bertarung di langit. Setiap ledakan mampu membuat hembusan dorongan angin yang besar.


Semua Hunter yang ada di tengah kota terdiam melihat pertarungan hebat yang ada di langit. Karena selama ini tak ada sosok yang selama ini bisa bertarung sambil terbang dengan bebas di langit. Tetapi, mereka tak bisa diam saja, karena mereka harus melawan dan membunuh semua Monster yang ada.


.....


Sementara, di tempat lain, di waktu bersamaan, Reyhan dan Sean sedang terbang menuju ke pusat kota, karena tak hanya menampakan ledakan-ledakan di langit yang ada di atas pusat kota, tapi mereka berdua merasakan gelombang hembusan angin yang hebat di sana.


"Tak kusangka kalau mereka berdua bisa bertarung dan menimbulkan efek yang hebat." gumam Reyhan.


"Apa Hahn sudah muncul." Sean juga bergumam.


"Sean, ayo kita terbang lebih cepat." kata Reyhan, lalu ia langsung menambahkan kecepatan terbangnya.


Sean pun juga tak mau kalah. Dia juga segera masuk ke mode Petirnya, lalu ia melesat terbang menyusul Reyhan dengan kecepatan tinggi.


.....


Di tempat lain, terlihat Peter dan Queen baru saja mengalahkan Monster Anjing berkepala 2. Meski jaraknya jauh, mereka berdua dapat melihat ledakan-ledakan itu.


"Queen, aku merasa kalau Pusat Kota sedang tidak baik-baik saja." ucap Peter.


Queen menjawab. "Jadi, apa kita tetap di sini, atau tempat itu ?"

__ADS_1


Peter memandang Queen. "Ayo." setelah membalas, ia langsung melesat berlari dari tempatnya.


Queen pun juga langsung berlari, dia mengekori Peter. Mereka berdua berlari sangat cepat menuju pusat kota. Sesekali sambil berlari, mereka menebaskan senjata mereka ke Monster yang mencoba menghalangi jalan mereka.


.....


Di sisi lain, terlihat Budi, Henri, dan Julia telah membawa Albert ke tempat yang aman. Mungkin jaraknya hampir 500 meter dari tempat ledakan-ledakan langit itu, tempat dimana Fang Lin dan Hahn kini tengah bertarung habis-habisan.


"Mungkin sampai sini saja, aku akan pergi." ucap Budi, lalu ia berbalik.


Tap...!!


Tetapi, baru saja akan melangkah, ada tangan yang menyentuh salah satu pundaknya. Budi terdiam, tanpa menoleh, ia sudah tau siapa yang sudah menyentuh pundaknya.


"Tuan Henri, bisakah anda tak menghalangiku ?" ucap Budi.


"Kau akan kemana ?" bukannya menjawab, Henri malah bertanya balik.


"Aku justru lebih berhak tau kemana kau akan pergi." balas Henri datar.


Wusss....!!


Tubuh Henri pun terdorong kebelakang beberapa meter setelah tiba-tiba ada cahaya ungu keluar dari tubuh Budi dan mendorongnya. Braakk...!! Henri pun terjatuh terduduk. Julia yang tak jauh dari mereka berdua dan sedang menemani Albert juga terkejut melihat mantan suaminya begitu sangat berani dengan pemimpin Asosiasi Hunter.


Budi pun berbalik dan memandang rendah ke arah Henri. "Jangan keras kepala, Tuan Henri. Ahh.., bukan. Henri, bisakah kamu berperilaku sewajarnya saja ? Perlu 'ku tegaskan, aku sudah bukan lagi bagian dari Perusahaan Guild manapun yang terikat dengan Asosiasi Hunter milikmu. Jadi apa yang akan kulakukan, kamu tidak ada hubungannya."


Henri yang mendengar ucapan Budi menjadi marah. Dia berdiri, ia memandang tajam ke arah Budi. "Tentu aku ada hubungannya !! Memang kau sudah tak terikat pihak manapun. Tapi, apa yang kamu lakukan terhadap semua Monster yang ada di dalam Portal, aku harus mengetahuinya."


Budi mengangkat alis sebelahnya. Ia tersenyum remeh. "Kau berbicara seakan-akan semua Monster yang berasal dari Portal adalah milikmu ? Kau ini pura-pura bodoh atau memang bodoh beneran ?"

__ADS_1


Henri melotot, ia menunjuk jari telunjuknya ke arah Budi. "Kau..."


Budi memotongnya. "Pikirkan secara logika. Seharusnya kamu tau dasarnya, Henri. Semua Asosiasi Hunter yang ada di setiap Negara, itu ada karena munculnya Portal-Portalnya para Monster. Dan juga Asosiasi Hunter bisa berdiri karena atas izin dari pemimpin Negara."


"Pemimpin Negara memberikan izin ke orang-orang hebat, salah satunya kamu untuk mendirikan Asosiasi Hunter, karena percaya kalau kalian bisa mengatasi semua kekacauan ini." tambahnya.


Henri terdiam, tapi ia memberikan tatapan benci terhadap Budi.


Budi bersuara lagi. "Jadi semua Monster yang keluar dari Portal mereka, bukan berarti punya milikmu. Ingat Henri, di Negara ini tidak ada aturan untuk melarang penduduknya untuk membela diri bila tiba-tiba menghadapi Monster. Bahkan seorang pemimpin Negara pasti tau hal ini."


Budi pun berbalik dan meninggalkan mereka bertiga. Namun baru beberapa langkah, Budi terhenti, dan berkata. "Henri, kamu bisa menjadi pemimpin Asosiasi Hunter hanya karena beruntung. Coba kamu bayangkan, bila semua kekacauan ini berakhir dan kembali damai sebelum fenomena ini muncul."


Lalu Budi melanjutkan langkah kakinya. Dan dia langsung melompat tinggi meninggalkan tempat itu. Sementara Henri, ia masih berdiam diri. Ia mengepal kedua tangannya dengan kuat-kuat. Isi pikirannya saat ini ialah, tentang ucapan Budi barusan, bila keadaan Dunia kembali damai.


Di sisi Julia, ia masih menemani suaminya yang masih tak sadarkan diri. Ia juga terdiam mendengar ucapan Budi yang merupakan mantan suaminya yang begitu berani melawan Henri. Ia juga tak menyangka kalau Budi bisa memiliki nyali untuk menghadapi segala apapun. Karena setahu yang ia kenal, Budi tidak seperti itu.


.....


BUGH..!! BUGH..!! BUGH..!!


BUGH..!! BUGH..!! BUGH..!!


Terlihat 2 pria tengah terbang di langit sambil bertarung. Fang Lin dan Hahn saling beradu tinju. Di tengah-tengah pertarungan, ekspresi wajah Fang Lin seperti tidak baik, sedangkan Hahn, ia hanya memperlihatkan senyuman seringainya.


Woosssss...!! Fang Lin melancarkan serangan energinya dalam bentuk Bola Merah Api.


BOOM....!!! Serangannya pun meledak setelah terkena Hahn. Akan tetapi Fang Lin dibuat terbelalak melihat Hahn masih baik-baik saja.


"Apa hanya segini saja kekuatanmu, Fang Lin." ucap Hahn sambil tersenyum.

__ADS_1


______________________


Jangan Lupa Like.


__ADS_2