
"Lihatlah, ada mantan Hunter SILVER dihadapan kita." ucap salah satu Hunter BROWN.
Kini di salah satu Dungeon, tanpa sengaja Budi dan keempat temannya bertemu dengan 10 Hunter dari Perusahaan Guild BROWN. Awalnya Budi dan keempat temannya lebih dulu masuk ke dalam Portal yang tak jauh di dekat pusat Kota. Sudah banyak sekali Monster yang mereka kalahkan.
Setelah 1 jam lebih mereka di dalam Dungeon, tiba-tiba ada 10 Hunter datang. Tentu saja, ke-10 Hunter itu terheran, bagaimana bisa Tim Elang Hitam bisa ada di dalam Dungeon incaran mereka ? Apakah para Tentara yang berjaga Portal tak melihat mereka ?
Jawabannya, Ya. Karena Budi menggunakan Power Stone miliknya agar dirinya dan keempat temannya bisa bergerak masuk ke dalam Portal dengan cepat. Parahnya para Tentara yang berjaga, mereka sedang lengah, karena sedang sibuk menonton Tv di pos penjaga, sehingga para Tentara yang berjaga tidak menyadari kedatangan mereka.
Selama mereka berempat di dalam Dungeon, mereka sudah mengalahkan lebih dari 60 Monster. Dan kini mereka harus berhadapan 10 Hunter dari Perusahaan Guild BROWN yang datang. Mereka berempat ingin sekali pergi dari tempat mereka berdiri, tetapi mereka urungkan, karena mereka ingin tau apa yang dilakukan ke-10 Hunter itu yang ada di depan mereka.
"Sungguh, kami berterimakasih, karena kalian telah membunuh Monster dan meninggalkan semua intinya." ucap salah satu Hunter dari ke-10 Hunter tersebut.
Ya. Budi, Andi, Iwan, Beni, dan Hendi membunuh semua Monster yang ada, tetapi mereka mengabaikan semua inti Monster. Karena mereka sudah tidak tertarik dengan itu. Mereka lebih tertarik dengan koin-koin emas pemberian Reyhan kepada mereka.
Karena bila dibandingkan dengan gaji mereka sebagai Hunter sewaktu masih terikat dengan Perusahaan Guild SILVER, 20 kali lipat lebih banyak. Tentu saja, siapa yang tidak tertarik ? Hanya orang bodoh yang menolaknya.
Budi dan keempat temannya masih diam saja dan memandang ke-10 Hunter itu. Tiba-tiba Andi bersuara. "Jadi, itu saja. Baiklah, kalau begitu kami pergi." ucapnya mewakili semua keempat temannya.
Iwan pun juga berkata. "Kalau kalian masih ingin di Dungeon ini, jangan mengganggu urusan kegiatan kami."
Beni juga ikut berkata. "Kalau kalian ingin inti Monster yang kami tinggalkan, ambil saja. Karena kami sudah tidak tertarik. Karena tujuan kami bukan hanya memburu Monster saja."
Mereka berlima pun membalikjan badan. Mereka melangkah meninggalkan ke-10 Hunter itu, tak peduli tatapan mereka kepada mereka. Ketika jarak mereka sudah lebih dari 20 meter..., Dor...!! Sebuah peluru yang ditembakkan dari salah satu ke-10 Hunter tersebut.
__ADS_1
Targetnya adalah tanah yang ada di dekat ijakan salah satu kaki Budi. Tim Elang Hitam pun bersamaan menghentikan langkah mereka. Mereka pun membalikkan tubuhnya dan memandang tajam ke arah ke-10 Hunter itu. Kecuali Budi, ia tetap berdiri diam membelakangi mereka.
Salah satu dari ke-10 Hunter itu berkata. "Jangan kira kami akan melepaskan kalian." ucapnya sambil menodongkan pistolnya ke arah mereka berlima. Dialah yang tadi melepaskan 1 pelurunya.
Andi bersuara. "Apa mau kalian ? Bukankah kalian sudah enak ? Tinggal mengambil inti Monster yang tergeletak berserakan nantinya."
Hunter yang masih menodongkan pistolnya tersenyum mengejek. "Aku penasaran, kenapa kalian bisa tidak tertarik dengan inti Monster lagi ? Bukankah berarti kalian telah mendapat sesuatu yang lebih menarik dari inti Monster ?"
Lalu salah satu Huter yang berdiri di sampingnya juga ikut bersuara. "Bisakah kalian memberitahu kepada kami ? Apa yang membuat kalian sudah tidak tertarik dengan inti Monster ?"
Hunter di belakangnya, maju melangkah dan berdiri besampingan dengan temannya yang masih menodongkan pistolnya. "Dan pastinya, itu jauh lebih berharga dari inti Monster. Bukankah bergitu ?"
Budi yang masih berdiri membelakangi keempat temannya masih diam. Andi, Hendi, Iwan, dan Beni tak manjawab pertanyaan dari rombongan Hunter itu. Mereka hanya memandang datar.
Salah satu Hunter lagi dari Perusahaan Guild BROWN berkata. "Aku pernah mendengar, kalau kalian, Tim Elang Hitam telah bergabung dengan Tim Misterius itu. Bukankah itu benar ?" tanyanya.
Lalu ia berkata lagi. "Apakah kalian bisa mempromosikan kami untuk ikut bergabung ?"
Tim Elang Hitam masih saja tak menjawab, dan tetap memandang datar ke arah mereka. Mereka, tepatnya ke-10 Hunter itu, merasa geram, mereka marah karena tak mendapat jawaban. Lalu Hunter yang masih menodongkan pistolnya memerintahkan ke-9 Hunter lainnya untuk mengangkat senjata mereka masing-masing.
Dari apa yang dilihat oleh Tim Elang Hitam, maka Hunter itu adalah ketua Tim. Kebanyakan dari mereka, senjatanya adalah senapan, yang hanya menggunakan pedang hanya ada 3 Hunter saja. Mereka pun melangkah maju mendekati Tim Elang Hitam.
Salah satu dari mereka berkata. "Mungkin dengan kalahnua kalian, kami bisa menjadi bagian dari Tim Misterius itu."
__ADS_1
Ketika jarak mereka 10 meter, tiba-tiba langkah mereka terhenti karena melihat tubuh dari kelima anggota Tim Elang Hitam itu diselimuti cahaya ungu. Ya, Budi menggunakan Power Stone-nya untuk dirinya dan keempat temannya.
Budi berbalik dan memandang dingin ke arah ke-10 Hunter itu. Ia pun berkata. "Apa kalian sudah bosan hidup ?"
Ke-10 Hunter itu mulai merasakan tubuh mereka gemetaran. Masing-masing dari mereka, merasa keringat dingin di punggung mereka. Akan tetapi, namanya demi harga diri, mereka mengabaikan hal itu. Salah satu dari mereka pun berlari, dia akan menyerang dengan pedang besar miliknya.
Wusss...!!
Tang...!!
Pandangan ke-10 Hunter itu terbelalak. Mereka terkejut bukan main melihat Budi sudah ada di depan temannya. Budi juga menggunakan pedang katananya untuk menahan serangan pedang besar milik teman mereka.
DUGH...!!
Budi memberikan sebuah tendangan yang keras ke tubuh Hunter itu hingga membuatnya terdorong ke belakang dan melewati rombongan teman-temannya. Ke-9 Hunter terdiam membeku melihat temannya terjatuh tergeletak tak berdaya di tanah. Mereka kembali menoleh ke arah Budi yang berdiri di dekat mereka.
Tiba-tiba cahaya yang menyelimuti Andi, Beni, Iwan, dan Hendi menghilang. Tetapi tidak untuk Budi, cahaya yang menyelimutinya semakin besar. Cahaya ungu itu seperti Api yang menyala-nyala. Sesuai harapan, ke-9 Hunter yang tersisa terduduk lemas di tanah. Mereka gemetaran ketakutan.
Ya, Budi memberi peringatan kepada mereka agar bertindak berlebihan yang hanya karena terlalu terobesi atau serakah. Budi pun menyudahinya, ia menghilang cahaya ungunya. Dia pun berbalik dan berjalan mendekati keempat temannya.
"Ayo kita pergi." ajaknya kepada keempat temannya.
Andi, Beni, Iwan, dan Hendi tersenyum tipis dan mengangguk kepalanya. Mereka pun meninggalkan ke-10 Hunter itu. Mereka berlima melanjutkan perjalanannya untuk mencari Monster lainnya, mereka berharap setelah ini, langsung menemukan keberadaan Bos Monster.
__ADS_1
______________________
Jangan Lupa Like.