
"Apa sudah selesai ?" tanya Queen dengan lantang disaat ia sedang melawan Monster-Monster bersama yang lainnya.
"Tinggal satu lagi." jawab Peter yang sedang memegang dan menahan Gauntlet bersama Sean.
"Cih, apa sesulit itu hanya untuk memasang setiap satu batu ke sarung tangan ?" gumam Queen yang kesal.
Karena banyak sekali Monster yang terus berdatangan. Dari Rank E hingga Rank S.
"Aku pun juga heran, kenapa bisa terliha sulit dsn tidak semudah di film yang pernah kutonton." sahut Arkhan yang berada di dekat Gadis stengah Vampir itu dan ia baru saja membunuh Monster Rank B.
Dan membuat mereka semakin heran, hampir semua Monster datang ke arah mereka dari segala arah. Queen, Arkhan, Budi, dan keempat temannya melingkari dan berjaga jarak dengan Reyhan, Sean, dan Peter yang berada di tengah-tengah mereka.
Mereka bertujuh terus bertarung dan membunuh Monster yang terus berdatangan. Mungkin karena serangan Hahn sebelumnya membuat mereka sedikit kelelahan, hingga kini mereka mulai terdesak.
"Kita terkepung, benar-benar seperti fim zombie." ucap Iwan di sela-sela kegiatannya bertarung dan membunuh setiap Monster yang mendekat.
"Fokuslah, jangan sampai lengah !!" ucap Budi yang baru saja membunuh Monster Rank A.
Merea terus berusaha agar rencana bisa berhasil. Reyhan bisa saja membuat pelindung agar para Monster tidak bisa mendekat. Tapi, karena efek penyatuan Infinity Stone ke Gauntletnya, ia tak bisa melakukan itu.
.....
Di sisi Fang Lin, ia juga berusaha untuk meladeni Hahn agar terus fokus padanya. Ia dan Hahn bertarung di langit. Kini kondisi Fang Lin benar-benar kacau, pakaiannya banyak sekali robekan. Luka ada di mana-mana. Dan ada noda darah hampir di semua bagian tubuhnya.
"Aku tak menyangka kau masih bisa bertahan, Fang Lin." ucap Hahn yang berdiam melayang dan memandang Fang Lin yang ada dihadapannya beberapa meter.
Fang Lin tak menjawab, ia hanya diam saja sambil memandang dingin ke arah Hahn. Hanya saja nafasnya naik turun. Hahn kembali bersuara. "Aku mulai heran, kau sudah kacau, tapi kenapa kamu bisa bertahan ? Apa yang membuatmu terus bertahan ?"
__ADS_1
Fang Lin masih tak menjawab. Hahn sedikit memiringkan kepalanya. Lalu ia menyadarinya. Ya, ia menyadari akan keberadaan kekuatan yang luar biasa sebelumnya semakin besar. Hahn langsung menoleh kepalanya dan memandang ke orang-orang kenalan Fang Lin.
Fang Lin terbelalak melihat Hahn mengalihkan pandangannya ke arah Reyhan dan yang lainnya. Dengan sisa tenaga dan energi Qi-nya, Fang Lin melesat terbang mendekati Hahn dan langsung melayangkan pedangnya. Slaaasshh...!!
Hahn menghindar, akan tetapi sebuah goresan kecil berhasil berhasil mengenai pipi kanan di wajahnya Hahn. Hahn tersenyum menyeringai, sedari awal kekacauan, ia belum terluka. Dan ini adalah luka yang diberikan oleh Fang Lin.
Hahn pun segera meraih pakaiannya Fang Lin. BUGH..!! BUGH..!! BUGH..!! BUGH..!! BUGH..!! BUGH..!! Tangan satunya memukul perutnya Fang Lin. Hahn terus memukulnya. Fang Lin pun memuncratkan darah darah dari mulutnya. Beberapa tetes darah mengenaik wajahnya Hahn.
Hahn menghentikan pukulannya. Tangan kirinya masih mencengkram pakaian Fang Lin. Hahn tersenyum dan terkekeh. "Lihatlah dirimu. Betapa kacaunya dirimu yan segitu ingin menghentikanku."
Fang Lin tak menjawab dan tak bergerak, akan tetapi nafasnya masih terdengar di indra pendengarannya Hahn. Wussss...!! Hahn membawa Fang Lin terbang turun dengan kecepatan tinggi. DUAR...!!
Fang Lin terbanting hingga membuat aspal disekitarnya berlubang dan retak. Ia tak sadarkan diri. Hahn menarik tangannya, lalu pandangannya ke arah orang-orang kenalan Fang Lin yang kini beberapa dari mereka sedang melawan Monster.
Jarak mereka mungkin ada 50 meter. Dengan perlahan, Hahn berjalan ke arah mereka. Ia masih sangat penasaran dengan batilu-batu yang berbeda warga disetiap batunya di Gauntlet. Kehadiran Hahn, membuat semua Monster menghentikan kegiatan mereka.
Mereka hanya bisa menghalangi keberadaan Infinity Stone dari Hahn, karena saat ini hanya mereka yang harus menghalangi Hahn, karena juga Fang Lin sudah kalah tak berdaya dan tak sadarkan diri. Mereka bertujuh berusaha untuk tetap tenang, meski sudah tau kalau mereka bukanlah tandingannya Hahn.
Queen tersenyum. "Kau ingin tau ? Tapi sayabgnya kami memiliki hak untuk tidak menjawab pertanyaanmu."
"Aku sangat penasaran apa yang sedang kalian lakukan." ucap Hahn. Lalu ia tersenyum. "Tapi karena tak ada yang memberi tahuku, tak masalah."
"Sudah selesai." ucap Reyhan secara tiba-tiba dan membuat ketujuh juniornya menoleh ke belakangnya dan sedikit bernafas lega.
Mereka segera membuka jalan untuk Reyhan yang maju ke arah sosok yang menyebutkan diri Dewa Iblis. Hahn mengerut dahinya melihat tangan kanannya Reyhan memakai Gauntlet emas. Disini, Hahn menyadari asal kekuatan hebat itu dari keenam batu yang melekat di Gauntlet itu.
"Tak kusangka kalian memiliki kartu AS." ucap Hahn.
__ADS_1
"Tapi, takkan kubiarkan. Aku kurebut kekuatan milik kalian." tambahnya.
Tiba-tiba Hahn tak bisa bergerak saat ia akan melesat ke arah Reyhan. Ia terbelalak tak percaya kalau dirinya tak bisa bergerak. Tubuhnya diselimuti cahaya hijau. Hahn menoleh dan menatap ke arah Reyhan yang sedang mengarahkan tangan kanannya kepadanya.
Hahn bergumam. "Kekuatan apa ini ?"
Di sisi Reyhan, ia menahan rasa sakit yang amat luar biasa di tangan kanannya. Gauntlet yang dipakai tangan kanannya membuat tangannya sakit bukan main. Tangan kirinya memegang lengan kanannya, agar ia bisa menahan tangan kanannya.
Dalam batinnya bekata. "Ini sakit sekali." Saat ini Reyhan mengendalikan Time Stone agar Hahn tak bisa bergerak dari tempatnya. Karena saat ini ia harus menjentikkan jarinya sesuai arahan Peter dan Arkhan sebelumnya.
Tapi Reyhan tak bisa melakukannya, karena saat ini Time Stone sedang menghentikan gerakan Hahn. Jadi ia tak bisa melakukan jentikan jari di saat salah satu Infinity Stones digunakan.
"Kalian tahanlah, dia !!!" ucap Reyhan berteriak kesakitan.
Dengan bergegas, kesembilan juniornya mendekati Hahn. Mereka pun mencengkram tubuh Hahn. Dan saat itu juga cahaya hijau yang menyelimuti Hahn menghilang, Hahn pun mendapatkan alih kembali tubuhnya. Semua orang menahan Hahn agar tidak mendekati Reyhan.
Hahn berteriak. "Menyingkirlah dariku...!!"
Wusss....!! Setelah berteriak, sebuah dorongan energi membuat Sean dan semuanya terpental menjauhi Hahn. Hahn pun melesat ke arah Reyhan.
Reyhan meringis kesakitan karena rasa sakit pada tangan kanannya. Sambil menahan rasa sakit yang amat luar biasa, ia memandang tajam ke arah Hahn, dan bergumam. "Berakhirlah sudah."
Ctak !!
______________________
Jangan Lupa Like.
__ADS_1