
Budi menahan serangan Albert yang datang padanya. Semua terkejut, mereka terkejut bukan karena Albert yang tiba-tiba datang menyerang, melainkan mereka terkejut pada Budi yang mampu bisa menahan serangan Albert dalam keadaan marah. Bahkan belum ada yang yang bisa menahan serangannya.
Ya, selain menjadi pemimpin Perusahaan Guild BROWN, ia juga seorang Hunter yang memiliki kekuatan serta kecepatan yang hebat. Tidak semua Hunter bisa menahan serangan Albert bila dalam keadaan marah, bahkan Henri saja pernah melawan Albert di masa lalu, kalau tidak serius melawan Albert maka habislah sudah.
Yang dimana saat itu Henri harus mengerahkan semuanya bila bertarung melawan Albert. Meski dipertarungannya Henri yang memenangkannya, tetap saja Henri tak bisa meremehkan Albert bisa dalam marah. Ya, dulu Albert marah karena Henri merendahkan Julia yang berselingkuh dengannya.
Saat ini Albert terus menekan pedang besarnya agar membuat Budi tertekan agar menyadari perbedaan. Di sisi Budi, ia menggunakan pedang katananya untuk menahan pedang dari lawannya ini. Albert sedikit menarik pedangnya, lalu ia memberikan tendangannya.
Budi yang tau hal itu, ia segera melompat mundur untuk menghindari tendangan dari Albert. Andi, Beni, Iwan, dan Hendi segera mendekati Budi, mereka berdiri di depan sahabatnya itu. Mereka telah menggenggam senjata mereka masing-masing, dan memandang Albert yang berdiri memandang tajam ke arah mereka belima.
"Kalian pergilah. Ini pertarunganku." ucap Budi.
"Maaf sekali kawanku. Kami takkan pergi meninggalkanmu begitu saja." jawab Andi dengan tegas.
"Mana mungkin kami membiarkan kawan kami bertarung sendirian." kata Hendi.
"Kami tau, di dalam hatimu yang terdalam, kamu sedang marah." kata Iwan.
"Jadi, biarkan kami membantumu." kata Beni.
Budi menghela nafasnya, saat ia akan menjawab, Albert lebih dulu bersuara. "Jadi ini Tim-mu ? Sungguh terlihat menyedihkan sekali." ucapnya sambil tersenyum. "Apakah Tim-mu ini sekumpulan orang-orang pengecut ?" tambahnya.
Budi dan keempat temannya tak menjawab, mereka memilih diam, dan memandang dingin ke arah Albert. Albert berkata lagi. "Aku penasaran, bagaimana jika kamu bertarung sendirian ? Pasti kamu tidak bukanlah apa-apa."
Bud melangkah maju melewati keempat temannya. Andi bersuara. "Budi..., jangan termakan dengan kata-katanya."
__ADS_1
Budi mengangkat tangan, menandakan menyuruh Andi untuk diam. Lalu ia menjawab. "Sebagai sebagai teman, aku minta kepada kalian berempat, jangan menghalangiku. Aku sendiri yang akan melawannya."
Keempat temannya menghela nafasnya. Rasa berat kalau mereka tak bisa membantu, itu pun karena permintaan dari Budi. Lalu mereka menyetujuinya. Andi kembali bersuara. "Jangan kalah, teman."
Budi menjawab. "Ada kemungkinan aku takkan menang melawannya. Akan tetapi, aku tak memiliki niat untuk kalah darinya." jawabnya tanpa berbalik badannya, kedua matanya terus memandang dingin ke arah Albert.
Albert terkekeh mendengarnya. "Apakah drama kalian telah selesai ? Lebih baik siapkan kata-kata terakhirmu, Budi."
Budi tak menjawabnya, ia hanya diam dan terus memandang dingin ke arah Albert. Keempat temannya, segera menjauhi Budi, mereka tak ingin menghalangi sahabatnya itu. Terkadang mereka masing-masing berfikir, kenapa Budi harus bertarung melawan Albert.
Apakah Budi masih tidak terima dan masih merasakan rasa sakit hati karena Julia yang telah menikah dengan Albert ? Apakah Budi masih memiliki perasaan pada mantan istrinya itu ? Lalu ucapan tadi kalau dirinya sudah tidak tertarik dengan Julia, apa itu hanyalah omong kosong ?
Entahlah, mereka tak bisa menebak isi pikiran Budi yang mungkin masih sakit hati karena Julia telah meninggalkanya dan Putrinya. Sedangkan semua orang yang melihat, memilih diam, dan menonton saja. Mereka anggap saja sebagai hiburan. Dan Henri pun memilih diam saja tak memihak manapun.
Albert melesat mau begitu cepat ke arah Budi. Tang...!! Budi menahan lagi serangan pedang besar milik Albert dengan pedang katananya.
Albert melayangkan pukulannya ke arah wajah Budi. Dan Budi melesat untuk mundur sambil menunduk. Albert bersuara. "Mungkin ini kedua kalinya kau bisa menahan seranganku. Tapi setelah ini, tidak akan bisa..!!" ucapnya, lalu melesat maju dengan cepat ke arah Budi.
Budi melompat salto ke udara, ia melewati Albert yang datang padanya. Albert yang tak tinggal diam, ia melepaskan pedang besarnya, lalu ia menggunakan elemen Tanahnya. Ya, Albert adalah salah satu Hunter yang Beruntung, yang dimana ia bisa mengendalikan elemen Tanah di sekitarnya.
Banyak sekali duri-duri yang muncul di permukaan tanah, itulah kekuatan Albert dalam mengendalikan elemen Tanahnya. Budi yang melihat itu, ia segera mengayunkan pedangnya yang langsung terselimuti Api, ia menyerang semua duri-duri itu.
Di sisi Johan dan Julia, tekejut melihat Budi yang juga bisa mengendalikan elemen. Apa lagi elemen yang dikendalikan adalah elemen Api, lebih terkejutnya, dengan alaminy Budi mampu mengeluarkan Api tanpa alat pendukung apapun sebagai sumber Apinya untuk dimanipulasikan.
Albert melesat maju setelah mengambil kembali pedang besarnya. Ia datang ke arah Budi yang baru saja mendaratkan kakinya di tanah. Ia melayangkan pedangnya dengan gerakan miring/diagonal. Budi pun segera menggunakan pedangnya lagi untuk menahan serangan lawannya.
__ADS_1
Tetapi kali ini ia dibuat sedikit terdorong mundur belasan meter. Serangan Albert barusan benar-benar lebih kuat dari sebelumnya. Budi mengimbangi tubuhnya agar terjatuh, ia juga menancapkan ujung pedangnya ke tanah agar ia terhenti dan bertahan.
Albert lagi-lagi melesat maju dan menyerangnya dengan gerakan horisontal. Tang...!! Budi berhasil menahan serangannya, tetapi ia lagi-lagi ia terdorong mundur beberapa meter saja.
Albert yang baru saja menyerangnya, tersenyum mengejek. "Kau benar-benar hebat, bisa menahan semua seranganku."
"Tetapi kali ini tidak." tambahnya, lalu ia melompat maju ke arah Budi.
Budi segera mengambil langkah ke samping menghindari serangan vertikal dari pedangnya Albert. Lalu ia melayangkan pedang katananya dengan gerakan miring/diagonal ke arah lawannya. Albert yang langsung tau serangan Budi, ia melompat salto untuk menghindarinya.
DUGH...!!
Budi terpental mundur setelah ada hantaman yang tiba-tiba menghantam dadanya. Ya, Albert menggunakan elemen Tanahnya untuk membuat dinding dan menghantam Budi, ketika ia melompat barusan.
Budi kini berlutut sambil mengatur nafasnya. Ia bergumam dalam hatinya. "Serangan semakin kuat saja. Hahahaha.., aku benar-benar terlihat menyedihkan."
Semua orang yang menonton pertarungan Budi dan Albert, nafas mereka seakan sesak. Seakan mereka dibuat tegang. Dan mereka menyangka kalau pertarungan kedua laki-laki itu benar-benar seperti imbang, meski terlihat jelas kalau Albert lebih unggul.
Albert tak menyerang lagi. Ia menancapkan ujung pedang besarnya ke tanah. Ia berdiri sambil melipatkan kedua tangannya di depan dadanya. "Kau benar-benar membuatku terkejut, Budi. Kau masih bisa bertahan dari semua seranganku."
Budi pun berdiri. Ia memenjamkan kedua matanya. Albert tersenyum melihatnya. "Apa kau sudah menyerah ? Kalau begit...." ucapnya menggantung ketika melihat cahaya ungu menyelimuti tubuhnya Budi.
______________________
Jangan Lupa Like.
__ADS_1