Sequel Of The Hunter : The Guardians

Sequel Of The Hunter : The Guardians
BAB 72 : Kekacauan - Tempat Pengungsian.


__ADS_3

Melihat 2 Monster berbadan besar mendekat, tak hanya itu, beberapa Monster biasa, yang mungkin anak buah mereka muncul mengekorinya. Peter dan Queen tak tinggal diam saja. Dengan bersamaan, mereka berlari cepat dan dengan senjata mereka berdua masing-masing. Mereka mendekati Monster High Goblin dan Monster Serigala.


Ketika beberapa langkah lagi, tanpa ragu-ragu Peter langsung menggunakan Time Stone-nya. Alhasil membuat telapak tangannya diselimuti cahaya hijau lalu ia arahkan ke arah kedua Monster itu dan anak buahnya. Peter pun membuat gerakan kedua Monster itu serta anak buahnya menjadi melambat.


Dengan ini Peter dan Queen memanfaatkan keadaan mereka. Tanpa rasa kasihan, Peter dan Queen membantai mereka itu hingga tubuh mereka terpotong-potong. Tak ada 1 menit, kedua Monster itu telah mati. Semua Hunter terbelalak tak percaya melihat aksi Peter dan Queen yang menurut mereka luar biasa dalam waktu singkat


"Kenapa kamu batu menggunakan Time Stone ? Kenapa tidak sedari tadi ketika kita melawan anak-anak buahnya ?" tanya Queen yang berdiri di dekatnya Peter


Peter menjawab. "Aku memang sengaja. Aku hanya ingin menunjukankan perbedaan ke Hunter-Hunter menyedihkan yang ada di belakangnya kita."


Lalu terdengar banyak suara langkah kaki berjalan mendekat. Suara itu rupanya berasal dari sekelompok goblin biasa yang mungkin berjumlah 50 berjalan ke arah mereka. Saat Peter akan menggunakan Time Stone-nya lagi, Queen menghalanginya.


"Giliranku, aku juga ingin pamer." ucap Queen, lalu ia mengarahkan telapak tangannya ke arah sekelompok Monster itu, lalu tanganya diselimuti cahaya kuning.


Tiba-tiba sekelompok Monster itu terdiam di tempat mereka berdiri. Beberapa saat kemudian, mereka menggerakkan tubuhnya untuk saling mendekati sesama rekan mereka terdekatnya. Hingga akhirnya, mereka saling menyerang, tak peduli yang mereka lawan adalah kawan sesama Monster.


Di sisi sekumpulan Hunter, mereka tak percaya apa yang mereka lihat. Semua Monster yang baru saja datang, bukannya datang menyerang mereka, tetapi mereka saling serang sesama kawannya. Sungguh aneh di mata sekumpulan Hunter itu.


"Kamu memanipulasi pikiran mereka untuk saling menyerang ?" tanya Peter.


Queen mengangguk kepalanya. "Ya, mereka akan saling menyerang hingga mereka mati."


"Kalau lawannya mati, bagaimana ?" tanya Peter kembali.


"Kalau lawannya mati, mereka akan mencari jenis Ras Monster untuk diserang hingga mati. Kalau tak ada, maka mereka akan menyerang diri mereka sendiri hingga mati juga." jawab Queen dengan santai.

__ADS_1


Peter menggeleng-gelengkan kepalanya. Dalam batinnya berkata. "Kejam juga."


"Ayo kita pergi dari sini." ajak Peter.


"Bagaimana dengan mereka ?" tanya Queen sambil menunjukkan ke satu arah dengan dagunya.


Peter menoleh apa yang ditunjukkan oleh Queen. Dia melihat sekumpulan Hunter yang masih saja diam tak beranjak pergi kemanapun. Peter memutar bola matanya, lalu ia menjawab. "Biarkan saja, sudah seharusnya para pejuang seperti mereka ini adalah sadar akan tujuan mereka menjadi Hunter. Bukankah lebih baik kita pergi mencari Monster lainnya."


Queen setuju apa yang dikatakan Peter barusan. Mereka berdua pun segera pergi meninggalkan tempat itu dengan cepat, tak peduli tatapan sekumpulan Hunter yang terkejut lagi melihat kepergian mereka berdua.


.....


Sementara Di tempat lain dengan waktu bersamaan, terlihat 2 tubuh Monster berbadan besar tergeletak tak bernyawa di aspal. Kedua Monster adalah Minotaur dan Orc. Di dekat jasad mereka masing-masing, terlihat Reyhan dan Sean yang berdiri dengan tenang.


Sean yang berdiri di samping jasad Monster Orc menjawab. "Ya, jadi setelah ini kita kemana ?" tanyanya sambil mengelap noda darah yang menempel di tangan logam kirinya dengan kain.


Reyhan menjawab. "Entahlah. Yang jelas, kita tak tau kapan ini akan terus berlanjut hingga Hahn muncul dengan sendirinya."


"Karena dengan kekalahan Hahn, semua ini akan berakhir." tambahnya.


"Tapi kalau membuat dia kalah saja, sepertinya tidak cukup. Dia memang harus mati." ucap Sean.


"Ya, aku juga menginginkan hal itu. Tapi mau bagaimana pun, urusan itu ada pada Fang Lin, karena dia yang lebih mengenal dengan Hahn, dan juga mereka berdua memiliki urusan yang belum selesai." balas Reyhan.


"Ayo, kita harus bergerak cepat. Jangan biarkan semua Monster-Monster ini terus membuat kekacauan." kata Reyhan, Sean mengangguk setuju.

__ADS_1


Mereka berdua pun berlari cepat meninggalkan tempat pertempuran tadi. Sesekali ada Monster biasa datang menghalangi, tapi dengan mudah oleh Reyhan ataupun Sean bisae mengalahkannya dalam sekejap.


.....


Sementara Di Tempat Lain, di bagian selatan, dan letaknya sedikit jauh dari pusat Kota, terlihat banyak sekali orang-orang tengah berlarian memasuki sebuah terowongan. Yang dimana terowongan itu adalah jalan menuju tempat yang sudah dibuat sejak beberapa tahun yang lalu.


Tempat itu adalah tempat pengungsian bila suatu hari nanti akan terjadi bencana besar, seperti hal yang saat ini terjadi, munculnya par Monster. Tempat itu milik Negara atas dan sudah diresmikan oleh pemimpin Negera. Ukurannya sangatlah Luas, bisa dikatakan ukurannya hampir 100 hektar.


Tempatnya ini hanya ada 1 di setiap Kota. Sebenarnya tidak hanya 1, melainkan akan dibuat lagi lebih banyak disetiap Kota kecilnya, namun bencana besar yang saat ini terjadi lebih datang dulu. Jadi untuk orang-orang yang tak bisa sampai ke selatan, dengan terpaksa mereka harus cari tempat aman sendiri.


Banyak sekali setiap Monster terus berkeliaran dan menyerang kesana kemari. Dan terlihatlah 5 orang yang sedang berusaha melindungi warga-warga yang sedang melarikan diri ke tempat yang aman apa adanya. Mereka berlima ialah Arkhan, Andi, Hendi, Iwan, dan Beni.


Ketika saat sedang melakukan kegiatan melindungi para warga mengungsi, tiba-tiba terlihat sekilas cahaya merah secepat kilat melewati tempat itu dilangit.


"Kamu melihatnya, Senior ?" tanya Andi.


Arkhan mengangguk kepalanya. "Ya, aku melihatnya. Dan mungkin sedang menuju ke Pusat Kota."


"Aku harap, ini cepat berakhir." kata Beni. Iwan mengangguk setuju.


Hendi membalas. "Ya, aku sudah sangat merindukan keadaan Bumi kita yang damai seperti dulu."


______________________


Jangan Lupa Like.

__ADS_1


__ADS_2