Sequel Of The Hunter : The Guardians

Sequel Of The Hunter : The Guardians
BAB 76 : Kekacauan - Pertarungan (4).


__ADS_3

Semua Monster masih saja terus mengacau keadaan Kota dan sekitarnya. Terlebih hampir setiap menit selalu ada Monster keluar dari Portal mereka. Sebagian kecil dari emua Hunter yang sudah membunuh Monster-Monster, mulai merasakan putus asa, karena Monster terus saja bermunculan.


Peter dan Queen yang sedang dalam perjalanan ke Kota pusat. Mereka terus fokus dengan tujuan mereka dan mengabaikan keberadaan semua Hunter yang sedang berupaya membunuh semua Monster yang ada. Begitu juga dengan Arkhan dan keempat temannya Budi yang sedang menyusul Peter dan Queen.


BOOM....!! Ketika 100 meter lagi akan sampai di pusat kota, sejenak Peter dan Queen terhenti karena tiba-tiba sebuah ledakan kuat di langit muncul. Queen berkata. "Apa mereka berhasil mengalahkannya ?"


Peter menjawab. "Kita akan tau kalau sampai di lokasi. Ayo, kita sudah akan sampai, dan membantu Senior-Senior kita !!"


Peter dan Queen melanjutkan perjalanannya ke pusat kota, yang bukan lain tempat pertarungan ketiga Senior mereka melawan Hahn.


.....


Sebuah ledakan energi di langit tadi, membuat hembusan angin yang cukup besar. Reyhan, Fang Lin, dan Sean terdorong kuat hingga terjatuh ke permukaan aspal hingga retak. Banyak sekali gedung-gedung hancur akibat pertarungan mereka. Di sisi Hahn, ia masih melayang di langit dengan keadaan yang masih baik-baik saja tanpa luka sedikit pun.


Reyhan bangkit dan berdiri. Ia memegang bahunya terasa sakit. "Aku tak menyangka, kalau aku bertemu musuh yang sangat kuat melebihi saudara tiriku." gumamnya. Dan anehnya, kenapa kemampuan regenerasinya tidak bereaksi.


Sean yang juga sudah berdiri di tempatnya sambil memegang dada kirinya. Ia mendongak dan memandang Hahn yang masih melayang di langit. Ia bergumam. "Dalam mode Petirku saja masih belum cukup mengimbanginya."


"Sebenarnya, seberapa kuat dia ?" tambahnya. Sama seperti Reyhan, Sean bingung bukan main, karena salah satu kemampuan regenerasi juga tak bereaksi.


Dan untuk Fang Lin, ia kini sedang berlutut dengan salah satu lututnya sebagai tumpuannya di tempatnya. Ia mensodang dan memandang Hahn. Ia bergumam. "Hahn, sebenarnya aku sangat kagum dengan pecampaianmu yang sekarang.


"Tapi aku juga kecewa karena dirimu telah salah mengambil jalan." tambahnya, lalu ia berdiri dan ia menggenggam ganggang pedangnya dengan erat.

__ADS_1


Tanpa ada rencana, dengan bersamaan Reyhan, Sean, dan Fang Lin melompat dan terbang ke arah yang sama dari tempat mereka masing-masing. Di sisi Hahn, ia tersenyum karena ketiga lawannya masih bisa untuk maju. "Ayo, jangan berhenti bermain denganku !! Buatlah aku puas !!" ucapnya dengan lantang.


Setelah mengatakan itu, tubuh Hahn diselimuti cahaya energi merah kehitaman. Jika dilihat, penampilannya seakan berada di dalam api yang membara. Reyhan, Sean, dan Fang Lin sudah mendekat dalam beberapa meter lagi di depannya Hahn. BOOM....!! Woosssss....!! Sebuah ledakan energi lagi keluar dari Hahn.


Reyhan, Sean, dan Fang Lin lagi-lagi harus terpental dan terdorong jatuh kembali ke permukaan aspal dan membuatnya tak hanya retak tapi juga berlubang. Mereka bertiga jatuh dan tergeletak tak jauh tempat mereka masing-masing. Mereka bertiga meringis kesakitan di seluruh tubuhnya.


"Hahahahahahaha....!!" Hahn yang sedari tadi masih melayang di tempatnya, tertawa keras. Di benar-benar terlihat sudah sangat gila.


Dengan perlahan, Hahn turun ke bawah. Kini ia berdiri di permukaan aspal. Hahn berdiri 50 meter dari tempat ketiga lawannya yang ada di depannya. Tiba-tiba seseorang datang padanya, orang itu tak lain ialah Budi. Tapi dengan mudahnya Hahn langsung menangkap dan mencengkram lehernya Budi.


Braakk...!! Hahn menghantamkannya ke aspal dengan keras bukan main. Meski masih memiliki kecil pada kesadarannya, akan tetapi tindakannya Hahn berhasil membuat Budi langsung tak berdaya. "Lemah." Hahn bergumam, ia pun melempar Budi sembarang arah.


Setelah melempar Budi, tiba-tiba ada 2 sosok mendekatinya dan menyerangnya. Dengan mudahnya, masing-masing dari kedua tangan Hahn menangkap 2 jenis senjata yang berbeda. Tangan kirinya menangkap bilah sabit dan tangan kanannya menangkap bila pedang katana.


Peter dan Queen segera menarik tubuh mereka untuk mundur. Peter yang akan maju dan melayangkan Pedangnya untuk menyerang. Dengan mudahnya Hahn menghindarinya. Peter dengan terus mengayunkan pedangnya, akan tetapi semua serangannya terus dihindari Hahn dengan mudah.


Hahn melihat celah. Tang...!! Bila pedangnya Peter berhasil ia tangkap dan ia tahan. BUGH..!! Dada Peter terkena pukulan dari salah satu tangannya Hahn. BUGH..!! Sebuah tendangan keras di perutnya Peter hingga ia terpental mundur begitu jauh dan juga membuatnya sedikit memuncratkan darah dari mulutnya.


Tang...!! Lagi dan lagi salah tangannya Hahn berhasil menangkap dan menahan bilah sabit dari Queen. Hahn tersenyum melihat Gadis setengah Vampir itu. "Astaga, kamu sangat cantik sekali. Tapi sayang sekali, kamu berada di pihak yang sama dengan musuhku."


Plak...!! Sebuah tamparan di salah satu pipinya Queen. Gadis setengah Vampir itu terkejut, karena dirinya tak menyangka kalau Hahn bisa menamparnya dengan mudah. Selama ini, tak pernah ada lawannya yang bisa seperti Hahn. Parahnya, tamparan itu berhasil membuatnya terjatuh.


Di sini Queen menyadari sesuatu. Dalam benaknya, ia bertanya-tanya. "Kenapa regenerasi milikku tidak bereaksi ?"

__ADS_1


Queen pun memiliki rencana untuk menggigit dan menghisap darah Hahn, mungkin dengan itu, regenerasinya bisa bereaksi. Saat ia akan bangkit berdiri untuk melakukan aksinya, tiba-tiba sebuah cengkraman di rambut panjangnya dan membuatnya terkejut dan kesakitan di kepalanya.


"Aarrgghhh..!!" Queen berteriak kesakitan.


Hahn menjambaknya dan membuat Queen berdiri dengan paksa. "Kau pasti heran. Karena kemampuan regenerasimu dan yang lainnya tidak bereaksi." ucapnya dengan senyuman di bibirnya.


Sambil menahan rasa sakit di kepalanya karena rambut indahnya dijambak, Queen menoleh dan memandang Hahn dengan tatapan terkejut. Hahn berkata lagi. "Kuberitahu penyebabnya, karena luka kalian disebabkan olehku yang merupakan seorang Kultivator yang terkuat."


"Kultivasiku yang berada di Tingkat Martial God, ketika aku melukai kalian, itu akan mempengaruhi regenerasi kalian agar tidak bisa bereaksi." tambahnya


"Aku tak paham apa yang kau bicarakan." Queen menjawab dengan lirih sambil menahan rasa sakit kepalanya, dan kedua tangannya berusaha melepaskan tangannya Hahn agar berhenti menjambaknya.


"Yah, karena kamu tidak terlahir di Dunia Kultivator, jadi kau tidak tau apapun hal ini." balas Hahn.


Tangan kanannya masih menjambak rambutnya Queen, telapak tangan kirinya menyentuh perut Gadis setengah Vampir ini. Lalu Hahn bergumam. "Telapak Maut." dengan bersamaan ia melepas jambakannya.


BOOM...!! Wuusss....!! Tubuh Queen terdorong ke belakang setelah menerima salah satu serangan kuat milik Hahn. Ia terus terdorong hingga tarusan meter menjauhi tempat pertarungan.


Hahn melihat ke arah depan sambil tersenyum. Sudah ada 6 orang yang telah datang padanya, tapi meraka bukanlah tandingannya. "Hahahahahaha...." ia tertawa lantang sambil merentangkan kedua tangannya dan mendongak ke arah langit.


______________________


Jangan Lupa Like.

__ADS_1


__ADS_2