
Suasana Kota masih sama, semua Monster terus tanpa berhenti berbuat kekacauan di Kota. Terlihat seseorang berhenti tertawa, dia bukan lain Hahn, tiba-tiba ia merasakan hawa 5 kehidupan datang ke arahnya. Hahn memandang ke arah mereka yang kini sedang berlari sambil menggenggam senjata mereka masing-masing.
Hahn menyilang kedua lengan tangannya di depan dadanya. Lalu terlihat bola cahaya energi hitam di depannya Hahn. Di samping itu, kelima orang itu segera menyerang Hahn selagi sedang diam berdiri di tempatnya. Mereka berlima tak lain Arkhan, Andi, Hendi, Beni, dan Iwan. Mereka langsung mengambil tindakan untuk menyerang Hahn.
Mereka berlima marah karena melihat semua teman-temannya telah dikalahkan. Mereka pun sudah dekat beberapa meter dari Hahn. BOOM....!! Tiba-tiba bola energi hitam pada Hahn meledak. Dan itu membuat mereka berlima terpental mundur pukulan meter.
Dan benar saja, cukup membuat ledakan energi saja, mampu membuat mereka berlima mundur. Hahn masih berdiri tegak di tempatnya. Ia tersenyum dan memandang remeh ke arah depan. "Sudah tak ada lagi yang sebanding denganku. Akulah yang terkuat." gumamnya.
Tiba-tiba Hahn merasa sesuatu gejolak dari tubuhnya. "Jangan-jangan Kultivasiku akan naik." gumamnya sambil tersenyum, dan salah satu tangannya memegang dadanya.
Wusss....!!
Hahn melompat tinggi dan langsung terbang. Ia mencari puncak bangunan gedung yang paling tinggi. Karena Kultivasinya akan naik, maka ia harus berkulvasi di tempat yang tenang agar ia bisa menerobos ke tingkat yang selanjutnya dengan sempurna.
Ya, Kultivasinya akan menerobos ke Tingkat Martial Immortal God.
Setelah kepergian Hahn, Fang Lin segera untuk bangkit berdiri. Tentu saja, ia bisa menebak apa yang akan dilakukan Hahn, karena sesama seorang Kultivator, pastinya paham. Sebenarnya ia ingin mengejar, tapi energi Qi-nya sudah terkuras banyak.
Lalu pandangannya ke arah Reyhan yang berjalan ke arahnya sambil tertatih-tatih. "Bagaimana keadaanmu ?"
Reyhan menjawab. "Tidak baik."
Ternyata tak hanya Reyhan, Sean juga sedang berjalan mendekati mereka berdua. Tak lama kemudian, Peter juga mendekati mereka sambil memapah untuk membantu Queen berjalan.
"Sepetinya kalian tidak terlihat baik-baik saja." ucap Reyhan.
Peter hanya menghela nafasnya dan Queen, ia hanya diam memasang ekspresi datar di wajahnya.
__ADS_1
Kini mereka tengan berjumpul. Tak lama kemudian terlihat Arkhan, Budi dan keempat temannya datang ikut bergabung. Kondisi mereka terlihat berantakan.
"Sekarang apa ?" tanya Sean memulai.
"Kita tak bisa mengalahkannya. Dia jauh berbeda dengan kita." tambahnya.
"Aku bagaikan lalat baginya." ucap Budi bergumam.
Ya, apa yang dikatakan Sean memang benar. Hahn sangatlah kuat. Di sisi Reyhan, ia akui kalau Hahn sangatlah kuat, ia juga tak menyangka kalau seseorang Kultivator yang sudah di Tingkat tinggi sangatlah kuat dari orang-orang yang pernah ia hadapi sebelumnya.
"Kini dia sedang berkultivasi untuk menerobos ke Tingkat selanjutnya." kata Fang Lin.
Reyhan memandang ke arah Fang Lin. "Apa tidak ada cara agar bisa mengalahnya ?"
"Jujur saja, mengalahkan seorang Kultivator yang Tingkatnya diatasku, tidaklah mudah." jawab Fang Lin dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Mereka pun terduduk lemas di permukaan aspal. Menghadapi 1 orang saja, membuat mereka tak berdaya. Menurut Fang Lin, sebenarnya saat ini adalah kesempatan untuk mengganggu Hahn yang sedang berkultivasi.
Semua memandang Peter dengan perasaan ragu. Karena Hahn sangatlah kuat, terlebih Reyhan dan Sean yang terkuat saja sudah kalah, bahkan Fang Lin juga kalah. Peter berkata. "Dengan menggunakan kekuatan dari keenam Infinity Stone."
Semua terdiam mendengar ucapan Peter. Mereka terbelalak bersamaan. Reyhan bersuara. "Apa kamu tidak berfikir untuk lebih jauh ? Jika kita menggunakan Infinity Stone itu sangatlah beresiko. Pasti Hahn akan langsung menyadarinya dan pastinya ia akan merebutnya dari kita."
Semua mengangguk setuju dengan kata-katanya Reyhan. Bayangkan saja Hahn sudah sangatlah kuat. Dia pasti bisa merasakan keberadaan kekuatan asing yang hebat dari Infinity Stone. Pasti dia akan sangat tertarik dan merebutnya.
Tapi tidak dengan Arkhan. "Aku setuju dengan Peter, dengan sekali jentikan, semua kekacauan ini pasti diatasi." ucapnya yang setuju apa yang Peter usulkan.
"Bisakah kau jelaskan pada kita semua, kenapa kau setuju dengan Peter ?" bukan Reyhan, melainkan Sean yang bertanya. Karena ia tau, Peter dan Arkhan cukup baik mengerti tentang Infinity Stone.
__ADS_1
Arkhan pun mulai bercerita tentang salah satu film yang memiliki kaitannya dengan Infinity Stone sebelumnya. Begitu juga dengan Peter, ia membantu Arkhan untuk menjelaskan cara penggunaannya. Mendengar semuanya, Reyhan, Sean, dan Queen teringat pesan Tuan Edgar
"Aku harap, kalian tidak menggabungkan kekuatan dari ke-6 Infinity Stones untuk upaya terakhir kalian."
"Sesuai dengan apa yang kalian pikirkan. Jangan pernah melakukannya, karena ada konsekuensinya."
Itulah pesan Tuan Edgar sebelum Reyhan dan keempat Juniornya berangkat ke Dunia D-22.
"Tapi, resikonya tidak biasa, mendapatkan luka parah saja itu sudah bersyukur. Karena resiko terbesarnya bisa kehilangan nyawa." ucap Arkhan. Dan Peter mengangguk kepalanya.
Semua terdiam setelah mendengar penjelasan Arkhan dan Peter. Tapi tidak untuk Reyhan, ia mengeluarkan sebuah sarung tangan yang terbuat dar emas dari ruang harta miliknya, lalu ia tunjukan kepada Arkhan dan Budi.
"Aku memiliki sarung tangan jenis ini. Apa kita bisa menggunakannya ?" tanya Reyhan tentang salah satu sarung tangan emas miliknya.
Arkhan mengangguk kepalanya. Peter bersuara. "Ya, kita tinggal mengukir tempat untuk meletakan keenam Infinity Stonenya."
.....
Sementara Di tempat lain, di sebuah atap bangunan gedung yang sangat tinggi. Jika dari tempat itu bisa melihat pemandangan Kota yang sedang dilanda kekacauan. Dan juga terlihat Hahn sedang duduk bersila di atap bangunan gedung itu. Ia tengah melakukan berkultivasi.
Boomm....!!
Suara ledakan di dalam dirinya, hingga membuat hembusan angin yang kuat di sekelilingnya. Hahn membuka kedua matanya. Ia tersenyum menyeringai.
Lalu Hahn bangkit berdiri. "Kultivasiku sudah di Tingkat Martial Immortal God. Hahahaha...." ucapnya sambil tertawa lantang sambil merentangkan kedua tangannya dan mendongak ke arah langit.
Belum ada 1 menit tertawa puas, tiba-tiba ia merasakan kekuatan asing yang sangat-sangat kuat bukan main. Hahn bergumam. "Kekuatan macam apa ini ?"
__ADS_1
______________________
Jangan Lupa Like.