
Ada sebagian yang orang yang menjadikan kegagalannya di masa lalu sebagai cambuk untuk meraih kesuksesan di masa depan. tapi ada sebagian lagi yang menjadikan kegagalan di masa lalu itu seperti belenggu yang mengikatnya untuk terus merasakan kegagalan itu, dan menjadikan orang tersebut tidak berani untuk melangkah.
Mungkin Kiran saat ini sedang berada diantara dua fase ini dimana ada rasa takut untuk melangkah tapi jika memikirkan Kelima anak-anak nya iya harus bisa meyakinkan anak anaknya..
Ki...sudah boleh kan aku dekat dengan kamu.. status mu kini sudah jelas .. status ku apa lagi... mau kan.. apa kamu maunya kita langsung nikah aja selesai masa Iddah nanti....????
" boleh aku minta waktu untuk menjawab semuanya setelah masa Iddah ku selesai... tapi untuk kamu datang ke sini atau apapun itu kamu boleh melakukannya " mendengar penuturan Kiran sudah cukup membuat hatinya bahagia setidaknya Kiran mau memikirkan lamarannya meskipun harus menunggu lama ( akh.. dua bulan mah ngga lama.. terlebih yang di tunggu adalah sesuatu yang baik.. pasti waktu tidak akan terasa lama..)
Setelah mendengar jawaban yang Kiran berikan hakiki melangkah lebih dekat dengan Kiran menggenggam tangan kiran dan mengecup punggung tangan Kiran sembari mengucap " terima kasih sudah mau memikirkan lamaran ku... ku harap jawabannya sesuai yang aku dan anak anak harapkan" sontak saja Kiran melebarkan matanya saat iya mendengar kata anak anak apa coba maksudnya.
" apa maksud kamu Ki..!!! anak-anak yang mana ?? siapa?? "
" SEMUANYA " Kiran sampai terbatuk mendengar jawaban hakiki
flashback on
tak lama setela Aya mengambil kantong plastik indoApril hakiki mengikuti Aya dan ikut duduk di antara anak nya dan anak Kiran.. kemudian hakiki pun mulai menanyakan pendapat anak anak nya
" Raka ,Randi ,Ara , Aya , Caca kalo misalnya kita jadi satu keluarga mau ngga..? " ucap hakiki pelan agar kita yang masih berada di dapur tidak mendengarkan. semua anak saling pandang satu sama lain dan setelah Raka menganggukkan wajahnya mereka pun kompak menjawab
" mau.. om.. " ucap Ara
" mau yah.. Bu Kiran baik dan sayang sama Aya dan Caca.."
" ok tapi rahasiakan ini dari ibu kiran dulu ya.." dan mereka semua serempak mengangguk menyetujui.
flashback off
" iya semuanya... kalo kamu ngga percaya tanya aja... bahkan Raka yang paling antusias menyatukan kita berdua sayang..." ucap hakiki ya meski kata sayang yang di ucapkan hakiki di ucapkan setengah berbisik pada kiran. bisikan hakiki sontak saja membuat Kiran meremang meksi tak terlihat karena terhalang hijab.
__ADS_1
" ya sudah Ki aku pulang ya.. besok aku kesini lagi pagi pagi ya mau sarapan bareng calon istri..." plak... kiran memukul tangan hakiki saat mendengar kata calon istri dri mulut hakiki yang di tujukan untuknya.
" ayo Aya Caca kita pulang dulu... ayah belum mandi udah gerah..." aya yang masih menonton televisi pun melihat ke arah ayahnya kemudian beranjak dari duduknya.
" tapi Caca tidur yah...." ucap Aya sambil menunjuk ke arah Caca yang memang sudah tertidur bersama Ara. hakiki berjalan ke arah Caca untuk mengangkat anaknya yang sudah tertidur.
" haki udah biarin aja ngga usah di ajak pulang biar aja malam ini Caca tidur di sini, kalo mau angkat dan pindahkan saja ke kamarku biar tidur disana bareng Ara."
" tapi Ki nanti kamu kesempitan tidur bertiga..." hakiki merasa tidak enak jika meninggalkan Caca di sini.
" yah Aya juga mau bobo di sini aja ya bareng Bu Kiran..ya.. ayah pulang aja sendiri, besok Bawain aja pakaian Aya dan Caca... boleh yah .." hakiki hanya menatap Kiran seolah meminta pendapat nya tapi Kiran hanya mengangguk membolehkan Aya dan Caca tidur di sini.
" ya sudah.. ayah pulang dulu ya.. besok ayah bawain pakaian kalian... jangan nakal jangan ngerepotin Bu Kiran ya.. assalamualaikum.." Aya Randi dan Raka mencium tangan hakiki yang hendak pulang. hakiki berjalan diiringi Kiran di belakangnya.
" Ki aku pulang ya.. maaf Aya dan Caca mau tidur di sini .. apa kamu aja yang ikut aku pulang.... " setelah mengucapkan itu hakiki menjerit pelan karena cubitan Kiran di perutnya.
" kamu udah berani cubit cubit sekarang ya.. ya sudah nanti aku mau cari tukang.."
" tukang??? buat apa??? buat bangun kamar lagi di rumah ku ..." kiran semakin bingung dengan apa yang hakiki sampaikan..
" kalo kita nikah nanti aku mau kamu tinggal di sana jadi kita harus punya kamar empat, buat Raka sama Randi, aya , Ara sama Caca satu lagi buat kita ...." blusss wajah Kiran memerah karena ucapan hakiki barusan.
" terserah... udah sana pulang... aku ngantuk.....??? " kiran mendorong hakiki menuju mobilnya karena jika tidak hakiki pasti ngegombal terus.
jika hakiki dan Kiran sudah mulai merajut hubungan mereka meski masih di batasi status masa Iddah Kiran. sedangkan regi yang sedang bergelut dengan pemikirannya semua yang Wili ucapkan tentang Rara.
" assalamualaikum mas... kamu udah pulang.. ?? aku tadi abis kontrol kandungan ... maaf aku ngga izin sama kamu.. " regi berusaha bersikap biasa pada Rara, iya ingin mencari tahu dulu kebenarannya.
" gimana kandungan nya sehat... sekarang dede nya udah berapa bulan.."
__ADS_1
" tanpa ragu Rara menjawab delapan... eh bukan enam mau tujuh tujuh bulan.." regi mulai merasakan gemuruh di dadanya tapi iya berusaha sekuat tenaga untuk bisa mengorek informasi terlebih dahulu.
" jadi dedenya lahir masih tiga bulan lagi dong..." regi berusaha menjebak Rara dengan pertanyaan nya dan itu berhasil.
" bulan depan mas kata dok...." Rara tidak melanjutkan ucapannya tapi lebih memilih menundukkan wajahnya.
" Ra besok kita pergi ya... sebelum kita ngurusin nikah resmi.. ada yang mau aku kenalkan sama kamu..." Rara menatap regi dan langsung memeluk erat regi namun bru saja sebentar Bu Desi sudah memanggil regi
" sudah malam biarkan Rara tidur...kamu masuk ke kamar kamu nak.." Bu Kiran lagi lagi tidak membiarkan Rara untuk tidur dengan regi setelah mengucapkan semuanya Bu Desi menarik tangan Rara menuju kamar yang kemarin mereka tempati.
Regi langsung berjalan tanpa melihat ke arah Rara lagi dan Rara sungguh kecewa kenapa regi tidak mau berusaha menentang perintah ibunya.
" mas... Dede nya mau bobo sama ayahnya... boleh ya... kemaren kan sudah bobo sama neneknya... sekarang mau bobo Sam ayahnya.." Rara melangkah maju namun terhenti karena ucapan regi
" kamu boleh masuk kamar ini jika kita sudah sah di mata hukum dan agama.." usai mengucapkan itu semua regi melanjutkan langkahnya menuju kamar dan mengunci pintu nya agar Rara tidak bisa masuk
π± " yu gimana pa Dwi bisa di ajak ketemuan..?? aa ngg bisa bersandiwara semuanya baik baik aja..."
π±bisa A nanti besok jam mkan siang di restoran jalan Hayam Wuruk ya... ayu juga udah janjian sama temen ayu, jadi pa Dwi ngga bisa bohong untuk nutupin kebusukan mba Rara a.."
π±" ok makasih ya,
βοΈβοΈβοΈ bonus buat Rara juga udah on the way ya... kita lihat nanti akan seperti apa Rara pada akhirnya.
pantengin terus ya ceritanya biar R-kha ππ lebih semangat lagi UP nya
Jangan lupa like dan tinggalkan jejak ya biar R-kha ππ lebih semangat lagi
love you moreeeee πππΉ
__ADS_1