
Hidup lah dengan baik karena kebaikan yang kita tanam akan kembali pada kita begitu pun sebaliknya, awali sesuatu dengan yang baik karena akan ada keberkahan di dalam nya.. tapi jika kita memulai dengan sesuatu yang tidak baik maka pada akhirnya keburukan jug yang akan kita dapat.
regi yang baru saja sampai bersama ayu dan dwi di rumah sakit berjalan menuju ruang tunggu dimana ibunya dan Rara sedang menunggu kehadirannya.
" yu kamu temani pa Dwi dulu... jangan biarkan dia pergi ... begitu aku masuk ke ruang pemeriksaan baru kamu ajak dia masuk juga... kamu ngerti yu... "
" iya a.."
" dan untuk anda pa Dwi saya mohon kerjasamanya... jangan sampai saya melakukan apa yang tidak saya lakukan...." Dwi hanya mengangguk karena iya pun sama penasaran karena jika usia kandungan Rara delapan bulan berarti itu adalah anaknya tapi jika usia kandungan Rara masuk tujuh bulan maka itu anak regi ( kalo saya biasa menghitung usia kandungan masuk tujuh bulan itu enam bulan lebih menuju ke tujuh ya...)
Regi dengan mantap menuju tempat Bu Desi dan Rara, Rara yang melihat regi ada di sana merasa sangat bahagia. Rara berpikir regi menyusul nya dan Bu Desi untuk menemani pemerikasaan Bu Desi. tapi belum saja regi sampai padanya panggilan perawat membuat rona kebahagiaan di wajah Rara hilang berganti dengan wajah bingung karena merasa tidak mendaftar tetapi kenapa dirinya yang di panggil.
" nyonya Rara..." perawat mengulangi panggilannya untuk Rara.
Bu Desi pun berdiri dari duduknya dan menggandeng tangan Rara dan di ikuti regi di belakang nya, agar tidak menimbulkan kecurigaan pada Rara, regi menggandeng tangan rara dan benar saja Rara begitu bahagia di apit oleh regi dan Bu Desi yang menurutnya sudah mulai menerima kehadirannya sebagai menantu.
Regi Rara dan Bu Desi memasuki poli kandungan, meski tadi Rara sempat berhenti sejenak di ambang pintu poli kandungan tapi regi berusaha menampilkan senyumnya agar Rara tidak berpikir macam macam
" selamat siang nyonya ... Rara..." sapa dokter kandungan itu
" siang dok... maaf kami datang kemari ingin melakukan USG 4D untuk melihat kondisi janin dan usia kandungan sert perkiraan tanggal lahir.. Karen istri saya aga pelupa... saji saya harus memastikan agar bisa menjadi suami siaga untuk anak istri saya .."
dokter hanya mengangguk karena sebelumnya Bu Desi sudah menceritakan kecurigaan nya terhadap kandungan Rara.
Walau sebenarnya ada jalan yang lebih akurat yaitu Tes DNA namun tes itu akan aman di lakukan setelah anak itu lahir... tapi Bu Desi sungguh tidak rela menunggu selama itu di tambah cerita ayu tentang kebenaran Dwi dan Rara.
__ADS_1
" baik nyonya Rara mari " dokter menyuruh Rara untuk merebahkan tubuhnya diatas ranjang pemeriksaan dan suster pendamping sudah mulai membuka perut Rara yang sudah membulat sempurna lalu di oleskan gel agar alat untuk USG bisa bergerak bebas.
Disaat yang bersamaan ayu memasuki ruangan itu bersama Dwi tapi Rara tidak mengetahui kehadiran Dwi karena terlalu kalut dengan pemikiran nya.
" baik... wah... dedenya sehat... pertumbuhannya bagus sudah sempurna kaki tangan wajah semuanya sudah sempurna, usia kandungan nya saat ini tiga puluh tiga Minggu atau delapan bulan lebih satu Minggu .. perkiraan lahir kurang lebih satu bulan dari sekarang... " wajah Rara memucat dari saat dokter menempelkan alat tersebut di perut nya dan kini wajahnya seolah tanpa ada darah disana begitu pias melihat wajah regi dan Bu Desi yang menatapnya marah di tambah wajah Dwi yang juga menatap tidak percaya dengan apa yang dia lihat dari tadi.
Andai regi tidak menemuinya maka Dwi tidak akan mengetahui ada anak yang hampir saja tidak dia ketahui keberadaan nya hanya karena keegoisan Rara.
Tanpa banyak bicara regi melangkah keluar di susul Bu Desi dan ayu hingga di ruangan itu hanya tinggal Rara dan pa Dwi. lelehan air mata Rara mengalir deras dirinya telah hancur... kebohongan yang selama ini iya tutupi untuk menyelamatkan kandungan nya kini sudah terbongkar. ayah yang iya inginkan untuk anaknya sudah mengetahui jika ini bukan anaknya.
Dokter dan suster yang melihat kondisi yang kurang baik langsung menyelesaikan pemeriksaan dan menutup perut Rara.. Dwi membantu Rara turun dari ranjang pemeriksaan. menuntunnya untuk duduk di kursi depan dokter kandungan.
" baik Bu saya buatkan resep dulu ya... ini hanya vitamin dan penambah darah usahakan jangan stres karena stress pada trimester ketiga sangat mempengaruhi janin dan bisa menyebabkan kelahiran prematur. Rara dan Dwi hanya mengangguk tanpa berkata sepatah pun.Karen dirasa sudah selesai Dwi menuntun Rara menuju ke luar ruang pemeriksaan... mereka berjalan berdampingan tanpa ada yang berbicara sepatah katapun.
" Ra kita balik ke kota B??? " sungguh Dwi bingung karena Rara hanya diam terlebih regi yang pergi entah kemana.
" antar aku ke rumah suamiku...!!" Dwi hanya diam dan mulai melajukan mobilnya mengikuti arahan Rara menuju rumah regi
D sebuah pantai yang indah meski siang ini matahari bersinar terik tidak menyurutkan langkah kiran hakiki dan anak-anaknya menyusuri pantai .. mereka tampak seperti keluarga bahagia... anak anak yang saling berkejaran mengejar dan di kejar ombak sedangkan Kiran dan hakiki hanya duduk beralaskan tikar yang di bawa Kiran dari rumah di bawah pohon yang lumayan membuat mereka terlindung dari teriknya matahari.
" Ki.. bagaimana kondisi kesehatan mu... masih sering kambuh??? meski hakiki tau kata dokter bahwa tum or otak yang di derita Kiran adalah tum or jinak namun tetap saja hakiki selalu mengkhawatirkan kondisi kesehatan Kiran.
" Alhamdulillah ... aku sudah sehat.. kamu ngga usah khawatir ok... yang perlu kamu khawatirkan adalah bagaimana nanti kamu menghidupi kelima anak kamu nanti..." bluss kini giliran hakiki yang memerah wajahnya ... karena ucapan Kiran jelas menunjukan bahwa iya telah memberikan lampu hijau padanya.
" kamu tenang aja ... aku akan sangat bekerja keras.. terutama bekerja keras untuk menambah agar anak kita menjadi enam.." ucap haki sambil berdiri dan berlari meninggalkannya Kiran menuju anak anaknya.
__ADS_1
Kiran hanya geleng-geleng melihat hakiki yang selalu saja membuatnya tersenyum meski kadang rayuannya tidak tau tempat. tapi Kiran cukup bersyukur hakiki mau menerima dirinya dan anak anaknya...
' Ya Allah jika memang lelaki ini adalah yang terbaik untuk saya dan anak-anak saya mudah kan lah jalan kamu untuk bersama.. jangan biarkan kesedihan menghampiri kami...'
Raka berjalan ke arah ibunya dan duduk di samping ibunya...
" Bu apa nanti ibu akan menikah dengan om hakiki..?? "
" kenapa... apa Raka tidak setuju ibu nikah lagi... apa Raka lebih bahagia jika kita hidup berempat saja...??" Raka menggeleng lalu menggenggam tangan ibunya ..
" Bu... Raka dan adik adik bahagia jika ibu juga bahagia... yang penting kita sama sama...Raka ngga mau ibu sedih seperti saat bersama ayah regi... " Raka memeluk ibunya erat.
" eh .. tumben mau peluk peluk ibu...!!" Raka mengerucutkan bibirnya.
" udah ibu sana gih temenin calon suami ibu..."
✍️✍️✍️✍️ihhh Raka pengertian banget...
hai hai hai... selamat pagi dan semangat pagi .. semoga kalian semua sehat selalu dan selalu bahagia aamiin...
pantengin terus ya ceritanya biar R-kha 😘😘 lebih semangat lagi UP nya
Jangan lupa like dan tinggalkan jejak ya biar R-kha 😘😘 lebih semangat lagi
love you moreeeee 😍😍🌹
__ADS_1