Si Duda Pemalu

Si Duda Pemalu
Formulir


__ADS_3

Ketika tau kalau keponakannya itu mencari seorang janda, Ustadz Usman langsung menyebarkan berita bahwa dicari perempuan berstatus janda untuk disandingkan dengan Fadlan. Bahkan ustadz Usman sudah memberikan sebuah formulir pendaftaran menjadi calon istri untuk Fadlan. Formulir pun sudah tersebar di seluruh pesantren dan sekitarnya. Beberapa perempuan berstatus janda sudah ikut mendaftar, siapa yang tidak menginginkan menjadi calon istrinya Fadlan, si Duda pemalu yang punya bisnis lumayan, apalagi Fadlan adalah cucu pertamanya kiyai Husen. Selain berkebun dan membantu ustadz Soleh mengurus pesantren, Fadlan juga mempunyai bisnis forniture dibeberapa kota, namun Fadlan lebih memilih hidup sederhana.


Ustadz Usman sudah berkeliling, tidak sengaja ia bertemu dengan si kembar Yudi dan Yuda, tentunya ustadz Usman pun hendak memberikan beberapa lembar formulir itu pada si kembar.


"Assalamualaikum."


"waalaikumussalam."


Ketika Ustadz Usman memberikan beberapa lembar formulir pada Yudi dan Yuda.


"Ini ada formulir jika kau punya saudara atau kenalan perempuan berstatus janda, boleh daftarkan padaku." Ujar ustadz Usman.


Yudi dan Yuda pun menerima lembaran itu.


"Ustadz Usman mau nikah lagi sama janda?" Tanya Yudi.


"Hei jangan sembarangan kalau bicara. Ini calon untuk keponakanku, si Fadlan."


"Kalau kita menemukan perempuan janda, terus dia suka pada mas Fadlan, begitu juga sebaliknya, nanti kita dapat hadiah gak?" Tanya Yuda penuh harap.


"Dasar mata duitan. Minta saja pada kak Soleh. Memangnya kalian punya kenalan perempuan berstatus janda?" Tanya balik ustadz Usman. Yudi dan Yuda pun terdiam lalu saling berbisik.


"Yud, perempuan berstatus janda yang kita kenal cuma Bu Erni sama Dokter Husna. Dokter Husna kan suaminya baru meninggal 8 bulan yang lalu." Bisik Yudi.


"Kau benar Yud, tapi jangan rekomendasikan Bu Erni, nanti kita diomelin ustadz Soleh, belum lagi dapat amukan dari si nona Bos, berabe urusannya. Gimana kalau kita rekomendasikan Dokter Husna, meskipun usianya sudah setengah abad, tapi Dokter Husna masih kelihatan cantik, apalagi putrinya hi hi hi." Yudi dan Yuda masih asik saling berbisik.


"Hei aku malah dikacangin. Pokonya kalau kalian punya kenalan dan dia berminat jadi istrinya si Fadlan, kasih formulirnya dan suruh ngisi, nanti kalian berikan padaku. Anggap aja keponakan ku itu sedang mengadakan audisi bin sayembara." Tutur ustadz Usman.


"Siap ustadz Usman."


Ustadz Usman pun pergi dari pos sekuriti dan bertemu dengan Dewi dan Syifa serta cucu-cucunya (Bilkis dan Zulfa).


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


Bilkis dan Zulfa langsung minta digendong oleh kakeknya.


"Aduh cucu-cucu Mbah pada darimana?"


Bilkis sudah digendong dibelakang sementara Zulfa digendong didepan.


"Abi itu kertas apa?" Tanya Syifa.


Ustadz Usman pun memberikan kertas itu pada Syifa dan juga Dewi.


"Jika kalian punya kenalan seorang janda, berikan formulirnya, si Fadlan mengadakan audisi untuk mencari calon istrinya." Tutur ustadz Usman. Syifa dan Dewi sudah menganga.

__ADS_1


"Wah, ko mendadak aku ingin mengaku jadi janda sih." Ujar Dewi sambil menatap formulir itu. Syifa dan ustadz Usman sudah mengernyit.


"Istighfar Wi."


"Ibu kalau bicara suka sembarangan deh, kalau ayah Muklis dengar, hatinya bisa terbelah jadi dua Bu." Ujar Syifa protes.


"Ingat umur Wi. Benar kata putrimu, kalau bang Muklis tau dia bisa ngamuk lalu memboikot beras di rumahmu. Nanti tiap hari kau bisa kelaparan."


Dewi sudah cemberut.


"Aku cuma bercanda doang besan."


...***...


Sementara dengan Yudi dan Yuda setelah mendapatkan formulir itu, ia langsung pergi ke klinik untuk menemui Dokter Husna.


Sesampainya di klinik, Yudi dan Yuda langsung menerobos masuk sambil mengucapkan salam.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


"Dokter Husna, kita ada per,,," belum juga mereka selesai bicara, Yudi dan Yuda sudah mundur beberapa langkah ketika melihat Rania memicingkan matanya sambil menggeram. Si kembar tau jika Rania sedang marah. Rania masih kesal pada si kembar karena dirinya dikerjain hingga tersesat di pemakaman.


"Yud, itu putrinya Dokter Husna tiba-tiba terlihat menakutkan, sepertinya dia marah pada kita gara-gara kita kerjain kemarin." Bisik Yudi.


"Sepertinya begitu Yud."


"Santai mba Rania santai dulu. Kita kesini ada perlu sama Dokter Husna."


"Rania kenapa kau bersikap seperti itu pada mereka." Ujar Dokter Husna sedikit tidak suka.


"Mereka ini yang mengerjai ku kemarin Bu, mereka yang membuat aku tersesat di pemakaman yang ada di ujung perkebunan." Gerutu Rania mengadu. Dokter Husna sudah mengernyit lalu menatap Yudi dan Yuda hingga si kembar itu langsung cengengesan malu.


"Maaf kemarin kita cuma bercanda doang. Mba Rania jangan marah, tapi kalau mba Rania ingin marah, mba Rania marahnya sama ustadz Usman saja, biar dia yang mewakilkan kami." Tutur Yudi.


"Yang dikatakan Yudi itu benar. Kalau mau marah sama ustadz Usman saja, insyaallah kita ikhlas." Sambung Yuda.


Rania dan Dokter Husna sudah saling mengernyit.


"Terus kalian kesini mau ngapain, pasti mau ngerjain orang lagi ya." Tuduh Rania.


"Idih mba Rania suka suudzon aja deh. Ingat ya mba Rania orang yang suka suudzon itu tidurnya susah merem loh." Ucap Yuda.


"Maaf ya pak Yudi sama pak Yuda ini ada perlu apa datang kemari?, Apa kalian sedang sakit?" Tanya Dokter Husna.


"Alhamdulillah kita sehat, cuma dompet doang yang lagi meriang minta dikasih Paracetamol cap dolar."

__ADS_1


"Begini Dok, tadi ketemu ustadz Usman, dia ngasih formulir pendaftaran untuk menjadi istrinya mas Fadlan, nah kebetulan mas Fadlan itu lagi nyari perempuan berstatus janda, ya siapa tau saja Dokter Husna berminat." Tutur Yuda. Dokter Husna sudah mengernyit, sementara Rania sudah tersenyum senyum penuh arti.


"Rupanya si Duda pemalu itu lagi nyari calon istri, nyarinya yang janda pula. Hi hi hi, lucu kali ya kalau aku berbuat sesuatu." Batin Rania yang kini mulai cekikikan tak bersuara.


"Maaf ya pak Yudi, pak Yuda, saya tidak berminat mendaftar jadi calon istrinya mas Fadlan, lagi pula usia saya ini sudah 51 tahun, saya sudah tidak ingin menikah lagi, saya pantasnya jadi ibunya mas Fadlan, bukan istrinya. Jadi lebih baik pak Yuda dan pak Yudi pergi dari sini dan cari kandidat yang lain." Tutur Dokter Husna mengusir secara halus, sebenarnya ia sedikit kesal, bisa-bisanya si kembar ingin menjodohkan nya dengan Fadlan.


Yudi dan Yuda pun pasrah pulang.


"Ya sudah kita pulang, assalamualaikum." Pamit si kembar dengan kecewanya.


"Gagal kita dapet hadiah dari ustadz Soleh Yud."


"Iya, mungkin belum rejekinya."


Diam-diam Rania mengejar mereka.


"Tunggu bapak-bapak rese."


Yudi dan Yuda menghentikan langkahnya lalu menatap Rania penuh tanda tanya.


"Panggil Om saja mba, jangan bapak, kesannya kita tua banget ya, padahal kan belum tua-tua banget." Protes Yudi.


"Idiih menolak tua."


"Ada apa mba Rania memanggil kita?" Tanya Yuda.


"Aku mau menuntut balas pada kalian karena kalian sudah berani mengerjai ku." Rania menakut-nakuti. Yudi dan Yuda sudah saling lirik


"Mba Rania cantik-cantik ko pendendam sih. Jangan jadi pendendam loh, nanti cepat tua."


"Gak, becanda doang. Aku minta formulirnya satu." Pinta Rania.


"Mba Rania seorang janda?"


"Eh sembarangan. Aku masih disegel."


"Buat apa formulirnya?" Tanya Yuda sedikit heran. Rania malah tersenyum senyum.


"Ada deh, jangan pada kepo ya, ini urusan perempuan, yang laki-laki mah mingkem saja" Ujar Rania. Yudi pun memberikan satu kertas formulir itu.


"Terima kasih."


Rania langsung berjalan kembali menuju klinik.


"Mba, kalau sudah diisi nanti kasih kita ya." Teriak Yudi.


"Ok."

__ADS_1


"Itu kira-kira mba Rania mau ngapain ya sama formulir itu?"


"Aku yakin dia mau ngasih formulir itu untuk ibunya. Aku yakin tadi itu Dokter Husna menolak karena dia malu. Perempuan kan sering malu-malu meong." Tutur Yuda.


__ADS_2