Si Duda Pemalu

Si Duda Pemalu
Dihukum


__ADS_3

Masih dengan Fadlan dan Rania yang kini sudah berdiri di lapangan. Ustadz Usman sudah menghukum mereka berdiri di lapangan. Fadlan sudah berdiri sambil memberi jarak pada Rania. Mereka berdua sudah menjewer telinga masing-masing, bahkan satu kaki mereka harus di angkat.


"Jangan ada yang berani kabur ya. Berani-beraninya berduaan di kebun." Gerutu ustadz Usman.


"Kita kan gak berduaan om Usman. Kan banyak pekerja di kebun. Lagian bukan aku yang mendekati Rania." Protes Fadlan.


"Hei putrinya Dokter Husna, kenapa kau mendekati keponakanku?"


"Keponakan ustadz sangat menggemaskan." Ujar Rania. Ustadz Usman sudah mengernyit, sementara Fadlan sudah menunduk malu.


"Kau bilang keponakanku menggemaskan?, Menggemaskannya dilihat dari mananya?. Ngomong jarang, hobby nya nunduk kaya padi berisi. Kelebihan nya cuma satu, dia pemalu doang." ujar ustadz Usman yang kini sudah duduk dipinggir lapangan sambil memperhatikan mereka. Melayangkan sebuah protes pada Rania yang menyebutkan jika keponakan itu begitu menggemaskan.


Fadlan sudah mengerucutkan bibirnya, sementara Rania sudah tertawa-tawa.


Ketika 30 menit telah berlalu.


"Om, sudah belum dihukumnya?, Aku malu kalau ketahuan anak-anak (Zidan dan Pipit), kakiku juga sudah mulai kesemutan." Ujar Fadlan sedikit memohon.


"Nanti 30 menit lagi." (Ustadz Usman).


"Kurang, sebaiknya 60 menit lagi." (Rania).


Fadlan sudah mengernyit, begitu juga dengan ustadz Usman, mereka berdua merasa heran mendengar Rania meminta tambahan durasi 60 menit lagi.


"Keajaiban putrinya Dokter Husna, dia minta tambahan durasi 60 menit lagi, si muka blasteran ini begitu sangat menikmati hukuman. Sungguh A JA IB." (ustadz Usman).


"!!!!!!!!!!!!!!" (Fadlan).


Tiba-tiba saja Zidan dan Pipit lewat dan heran melihat Abinya berdiri di lapangan bersama Rania. Mereka berdua pun menghampiri.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


Hal yang ditakutkan Fadlan pun terjadi. Zidan dan Pipit mengetahui jika dirinya sedang dihukum. Fadlan sudah menunduk malu.


"Abi ngapain berdiri di lapangan bareng Tante cantik?" Tanya Pipit.


"Abi kalian sedang dihukum." Jawab ustadz Usman.


"Kita berdua bukan sedang dihukum, tapi kita berdua sedang kencan." Bisik Rania sambil mengedip-ngedipkan matanya. Fadlan kembali menunduk, ada malu dan juga kesal disertai takut.


"Abi, aku temani ya." Ujar Pipit sambil gelendotan pada Abinya. Sementara Zidan ikut duduk dengan ustadz Usman.


"Mbah, itu Abi sama Tante Rania kenapa dihukum, mereka pacaran ya?" Tanya Zidan sambil berbisik.


"Sssttthhh, gak boleh yang namanya pacaran, mereka tidak pacaran. Putrinya Dokter Husna itu masih gadis, dan Abi mu nyarinya janda." Bisik ustadz Usman. Zidan hanya mengangguk-angguk.


"Oh iya aku lupa kalau Abi inceran nya janda."


Pipit kini sudah berada di gendongan Fadlan. Sudah berasa pegal lama berdiri, kini nambah beban berat badan putrinya. Rania sudah menunduk menahan tawanya, merasa lucu melihatnya.

__ADS_1


Stth ssttth sstth.


Kembali Rania memberi kode. Fadlan melirik dengan sedikit kesal.


"Apa?"


"I LOVE YOU."


Kembali Fadlan menunduk, Pipit sudah cengengesan melihat Abinya digoda perempuan.


"Ayo Abi dijawab, LOVE LOVE LOVE gitu." Pinta Pipit.


"Ssssttthh."


Fadlan memberi kode biar putrinya itu tidak menatap ke arahnya Rania.


"Abi, Tante Rania cantik ya." Bisik Pipit.


Fadlan hanya diam saja sambil menunduk, tak bisa dibohongi kalau dirinya juga mengakui kecantikan putrinya Dokter Husna itu, apalagi wajah Rania yang blasteran Indonesia-Jerman.


"Mas Duda, aku sedang les privat sama ustadzah Ulfi, sebenarnya sih aku mau diajarin agama sama mas Duda langsung. Mas Duda mau gak?" Tanya Rania.


Mendengar Rania mau belajar agama bersama Ustadzah Ulfi, Fadlan nampak senang.


"Aku ikut senang jika kau mau belajar. Disini, santri putri dibimbing oleh Ustadzah, kalau santri putra baru dibimbing oleh ustadz. Dan sebaiknya kau dibimbing oleh Ustadzah Ulfi." Ujar Fadlan.


Rania hanya diam sambil mengangguk.


"Sekarang kalian boleh pulang, tapi ingat ya, jangan berduaan lagi, nanti kalian aku tangkap ke KUA." Ujar ustadz Usman.


Ketika hendak meninggalkan lapangan, Rania pun melirik Fadlan dan Pipit.


"Pipit sayang, mau gak tukar posisi sama Tante. Tante Rania kakinya kesemutan." Ujar Rania. Pipit hanya diam tidak mengerti, ia melirik Fadlan.


"Apa maksudmu tukar posisi?" Tanya Fadlan.


"Pipit yang jalan, aku yang digendong sama mas Duda." Pinta Rania yang kini sudah tertawa-tawa. Fadlan langsung menganga, dan seketika itu pula ia berlari kabur sambil menggendong putrinya, dan melupakan Zidan yang sedang duduk bersama ustadz Usman.


"Assalamualaikum."


KABUR.


KABUR.


KABUR.


"Waalaikumussalam."


Rania sudah menahan tawanya melihat Fadlan berlari sambil menggendong Pipit.


...***...

__ADS_1


Ketika Rania pulang ke klinik, ia pun sudah duduk dihadapannya Dokter Husna. Dokter Husna pun tersenyum.


"Sudah selesai belajar sama ustadzah Ulfi nya?"


"Sudah dari tadi Bu."


"Ko pulangnya lama, emang darimana dulu?"


"Habis dihukum ustadz Usman. Aku disuruh berdiri sama mas Duda di lapangan, gara-gara aku menemui si Duda pemalu itu di kebun. Aku kan cuma ingin tau mas Duda yang lagi berkebun." Tutur Rania.


Dokter Husna sudah mengernyit, ia sudah kesal pada putrinya itu.


"Ibu kan sudah sering bilang padamu, jangan ganggu mas Fadlan, apalagi sampai menggodanya. Dengarkan ibu, Rania, mas Fadlan itu sedang mencari istri sekaligus ibu untuk anak-anaknya, jika kau terus menggodanya, nanti mas Fadlan bisa menyukaimu beneran, kalau kau juga suka sih gak apa-apa, tapi jika kau hanya main-main saja, itu namanya kau mempermainkan mas Fadlan, dan bukan hanya mas Fadlan, nanti kau juga akan memberi harapan palsu untuk anak-anaknya." Tutur Dokter Husna.


Rania pun terdiam, Rania teringat jika almarhum istrinya Fadlan sudah meninggal lima tahun yang lalu saat melahirkan Pipit.


"Kau sudah mengerti kan Rania. Jangan mengganggu mas Fadlan. Kalau kau mendekatinya hanya untuk main-main, nanti kau bisa menghalangi wanita lain yang ingin dekat dengannya. Kau hanya akan membuat mas Fadlan kecewa. Sebelum mas Fadlan menyukaimu, sebaiknya jangan ganggu mas Fadlan, kecuali kau benar-benar menyukainya, nanti ibu dukung." Ujar Dokter Husna kembali.


Rania mulai terdiam dan berpikir.


"Ibu benar ya, kalau aku terus menggoda mas Duda, takutnya lama-lama dia suka padaku, sementara aku tidak punya perasaan apapun, aku hanya merasa gemas padanya. Aku ini belum pernah jatuh cinta, belum pernah tau rasanya jatuh cinta. Selama ini aku tidak pernah memikirkan cinta, aku selalu memikirkan bagaimana caranya berbisnis hingga menghasilkan keuntungan." Tutur Rania.


Dokter Husna pun tersenyum.


"Kalau kau tidak suka dengan mas Fadlan, sebaiknya jauhi dia, jangan berikan dia harapan palsu. Tapi jika kau beneran suka dengannya, ibu dukung kau untuk maju, tapi ingat, tidak boleh melampaui batas, apalagi bersikap genit padanya." Tutur Dokter Husna.


Rania pun tersenyum sambil mengangguk.


"Aku tidak akan mendekati dan mengganggu mas Duda lagi, apalagi sampai menggodanya. Aku takut dibilang memberi harapan palsu, aku juga takut kualat hingga jauh cinta pada si Duda pemalu yang ngincer janda itu. Kalau aku jatuh cinta padanya sudah pasti aku akan patah hati karena dia maunya sama janda, bukan gadis perawan sepertiku."


Kembali Dokter Husna tersenyum sambil mengelus tangannya Rania.


"Sekarang kau pokus saja dulu tentang masalahmu. Waktu tiga bulan itu tidak akan berasa Rania. Kau sudah satu Minggu lebih tinggal disini. Ada rencana apa kedepannya?" Tanya Dokter Husna yang kini mau membahas tentang hutangnya Rania pada pak Beno.


Rania pun terdiam, ia juga bingung sendiri. Sementara penghasilan tidak punya, pekerjaan juga tidak punya, lalu bagaimana ia bisa melunasi hutangnya.


"Aku bingung Bu, meskipun sekarang aku kerja, belum tentu aku bisa mengumpulkan uang 5 M dalam waktu tiga bulan." Tutur Rania.


"Ibu punya tabungan 700 juta lebih, kau bisa pakai untuk membayar hutang, nanti kurangnya ibu akan pinjam pada ustadz Usman, siapa tau beliau mau membantu."


"Nggak Bu, aku tidak mau membuat ibu ikut terseret dalam masalahku. Kita juga tidak punya jaminan jika meminjam uang sebanyak itu. Aku tidak mau membuat ibu pusing dengan masalahku. Biarkan aku yang menyelesaikan semuanya Bu, ibu cukup mendoakan aku saja Bu, biar masalahku cepat selesai." Tutur Rania.


"Setiap malam ibu selalu berdoa biar semua urusanmu itu dipermudah. Jadikan semua ini pelajaran. Jangan pernah sekali-kali lagi kau meminjam uang pada rentenir. Riba, sayang. Carilah uang yang halal, dan kelola uang yang halal, insyaallah hidupmu akan berkah."


Rania pun tersenyum.


"Aku nyesel loh Bu, kenapa gak dari dulu aku tinggal disini. Aku ini benar-benar Islam KTP Bu, aku sama sekali tidak mengerti agama, selama ini aku terlalu jauh dengan Allah." Ujar Rania sambil menunduk.


Dokter Husna kembali mengelus tangan Rania.


"Seharusnya ibu yang minta maaf Ran, selama ini ibu tidak bisa membimbing mu."

__ADS_1


"Sekarang aku ingin berubah Bu, aku ingin dekat dengan Allah."


__ADS_2