Si Duda Pemalu

Si Duda Pemalu
Pencarian berakhir


__ADS_3

Masih dengan Fadlan yang kini sedang berbaring di kamarnya, ia tiba-tiba tersenyum-senyum mengingat kejadian dirinya yang jatuh ke sungai. Tentunya si Duda pemalu itu teringat dengan kata-kata Rania yang mengatakan jika mungkin Rania menyukainya.


Pipit dan Zidan sudah mengintip dari balik pintu, merasa heran jika Abinya sedang tersenyum-senyum sendirian.


"Abi kenapa ya?, Ko senyum-senyum begitu." Bisik Pipit.


"Sssttthhh, jangan bersuara, nanti kita ketahuan ngintip," ujar Zidan. Pipit mengangguk patuh.


Tiba-tiba Pipit menarik Zidan menjauhi kamarnya Fadlan.


"Ada apa?"


"Aku mau bicara sesuatu sama kak Zidan. Sepertinya Abi sedang memikirkan Tante cantik deh. Dulu Tante Rania pernah ngajakin Abi untuk kencan," ujar Pipit.


"Benarkah?"


Pipit mengangguk-angguk. Zidan pun merasa senang jika Abinya bisa menikah dengan Rania.


"Abi sama Tante Rania mau kencan ya?"


"Iya, mau kencan romantis katanya. Tapi kencan itu apa?" tanya Pipit.


"Kencan itu makan berdua."


"Makan apa?"


Pipit mulai kepo hingga Zidan menjawabnya dengan asal, karena ia sudah tidak sabar ingin mengintip lagi.


"Makan nasi."


Jawab Zidan yang kini kembali mendekati pintu kamar Abinya.


"Oh jadi kencan itu makan nasi berdua," ujar Pipit. Pipit juga membiarkan kakaknya untuk mengintip Abinya, ia berharap Zidan akan bintitan biar nanti di bawa ke klinik. Kalau pergi ke klinik pasti bisa bertemu dengan Rania.


"Mudah mudahan kak Zidan bintitan biar nanti di bawa Abi ke klinik, kan nantinya bisa ketemu Tante Rania," batin Pipit.


Tiba-tiba ada yang menggedor-gedor pintu depan.


BRUGH BRUGH BRUGH BRUGH.


Pipit terkejut begitu juga dengan Fadlan yang berada di kamar, ia langsung keluar kamar, namun ketika membuka pintu, Zidan langsung terjatuh karena ia sedang menyender di pintu ketika mengintip.


"Aawww."


"Zidan kau sedang apa?" tanya Fadlan.


Pipit segera mendekati Fadlan.


"Abi ada orang jahat didepan," ujar Pipit. Fadlan pun terdiam. Ia juga dapat mendengar suara orang teriak-teriak didepan rumahnya.

__ADS_1


"Buka pintunya, keluar kau Fadlan bin Soleh. Aku ingin bicara denganmu" teriak seorang lelaki didepan rumah dengan nada emosi.


"Abi aku takut," ujar Pipit yang kini memeluk Fadlan.


"Pipit tunggu disini ya sama kak Zidan, Abi mau lihat dulu kedepan," pinta Fadlan.


"Jangan Bi, kalau itu orang jahat bagaimana, kita hubungi Mbah Soleh atau Mbah Usman saja, takutnya orang itu bawa senjata tajam," ujar Zidan.


"Kalian tentang saja, mudah-mudahan itu bukan orang jahat. Kalian tunggu di kamar ya, ingat ya jangan keluar dulu," pinta Fadlan.


Pipit pun mengangguk-angguk dan bersembunyi bersama Zidan di kamarnya Fadlan.


Ketika Fadlan membuka pintu, ia terkejut ada seorang lelaki seusianya sedang berdiri berkacak pinggang dan menatapnya penuh permusuhan seolah ada bara api dimatanya.


"Mas ini siapa?, ada apa ya mas, teriak-teriak didepan rumah saya?" tanya Fadlan.


Si lelaki itu malah menggeram.


"Jadi kau yang bernama Fadlan, lelaki yang sedang mencari janda?"


Ragu-ragu Fadlan mengangguk.


"Aku adalah perwakilan dari para suami yang istri-istrinya mengaku janda," ujar lelaki itu kembali.


Fadlan langsung mengernyit, ia tidak tau maksud kedatangan lelaki itu.


"Maaf, sebenarnya mas datang kesini ada perlu apa ya?" Fadlan masih bertanya.


"Memangnya apa salah saya?"


"Kau yang membuat istriku jadi gila dan durhaka terhadap suaminya. Istriku sengaja mengaku janda hanya karena dia ingin menjadi istrimu. Kau sedang mencari janda untuk dijadikan istrimu kan?. Aku juga perwakilan dari para suami yang istrinya tiba-tiba mengaku janda hanya untuk mendapatkan mu." Gerutu lelaki itu.


Fadlan terkejut, rupanya karena ia ingin mencari janda, banyak para istri yang mengaku-ngaku jadi janda.


"Ya Allah ampuni Hambamu ini, secara tidak langsung hambalah yang menyebabkan para istri durhaka terhadap suaminya." Batin Fadlan.


"Saya minta maaf ya mas, saya tidak tau kalau kejadiannya akan seperti ini. Sekali lagi saya minta maaf. Soal pencarian calon istri, akan saya tutup. Saya juga tidak mau sampai mendengar ada seorang istri mengaku-ngaku jadi janda, tidak mau mendengar ada seorang istri yang durhaka terhadap suaminya," tutur Fadlan.


Tiba-tiba ustadz Soleh dan Sarah datang setelah mendengar keributan di rumah putranya.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


"Ada apa ini Fadlan?, Abi dengar ada keributan di rumahmu," ujar ustadz Soleh.


Ustadz Soleh pun menatap lelaki itu.


"Siapa kau?"

__ADS_1


"Saya warga kampung sebelah. Saya datang kesini mau memprotes atas pencarian calon istri untuk mas Fadlan yang katanya kini sedang mencari janda untuk dijadikan istri. Saya protes karena istri saya dan para istri-istri yang lain, mereka mengaku janda dan mendaftarkan diri menjadi calon istrinya mas Fadlan," tutur si lelaki itu dengan nada penuh emosi.


Ustadz Soleh pun terkejut mendengarnya begitu juga dengan Sarah. Sebelumnya ustadz Soleh dan ustadz Usman sudah tau jika banyak kandidat yang mengaku-ngaku jadi janda, mereka berdua sudah mengeliminasi perempuan yang mengaku janda itu, namun mereka pikir sudah selesai, namun rupanya masih banyak yang mengaku janda padahal masih punya suami.


Ustadz Soleh sudah menatap Fadlan.


"Bagaimana ini Fadlan?"


"Aku sudah putuskan untuk mengakhiri pencarian calon istri untukku, aku tidak mau membuat para istri menjadi durhaka terhadap suaminya. Jika Allah masih memberiku jodoh, pasti kami akan dipertemukan. Tidak perlu mengadakan pencarian seperti ini," tutur Fadlan. Ustadz Soleh pun mengangguk.


"Saya beserta keluarga, minta maaf atas kekacauan ini. Kami tidak tau jika kejadiannya akan seperti ini," ujar ustadz Soleh.


Si lelaki itu pun akhirnya pulang, ia merasa lega jika kini Fadlan sudah tidak mengadakan pencarian calon istri lagi.


Sarah sudah mengelus pundaknya Fadlan.


"Yang sabar ya, umi yakin, kau pasti akan mendapatkan jodoh yang baik sesuai yang kau inginkan," ujar Sarah.


Fadlan pun tersenyum dan mengangguk.


"Bilang juga sama Om Usman dan Fadil, kalau pencarian calon istriku sudah selesai. Tidak perlu memaksaku lagi untuk segera menikah, dan jangan terus memperkenalkan ku dengan perempuan janda, takutnya perempuan itu masih punya suami. Dan hanya mengaku-ngaku saja menjadi janda," tutur Fadlan.


"Abi akan beritahu om mu itu, Fadil juga."


"Terima kasih Bi."


"Ya sudah, Abi sama Umi pulang dulu, jangan menyerah, Abi yakin suatu saat, jodohmu pasti akan datang."


"Aamiin."


Ustadz Soleh dan Sarah pun pulang ke rumahnya. Fadlan sudah menghembuskan nafasnya dengan kasar. Tidak menyangka jika mencari kandidat yang statusnya janda akan merugikan banyak orang. Dengan lunglai ia masuk ke dalam rumahnya, ia teringat dengan Zidan dan Pipit yang bersembunyi didalam kamarnya. Saat Fadlan membuka pintu kamarnya, ia langsung menganga melihat kelakuan kedua anaknya. Pipit sudah menggunakan kerudung Rania yang ia temukan terjatuh di kebun. Zidan sedang berjingkrak jingkrak sambil menggunakan sepatu Rania yang sebelah kanan, sepatu yang pernah menghantam wajahnya hingga berakhir harus di impus di klinik.


Fadlan sudah menggeram, apalagi melihat Pipit yang berlenggak-lenggok didepan cermin sambil membenarkan kerudungnya.


"Kalian sedang apa?" Gerutu Fadlan. Tentunya Pipit dan Zidan langsung nyengir.


"Abi, ini kerudung siapa?, Ini seperti bukan kerudung umi Amara, ini mirip kerudungnya Tante Cantik," ujar Pipit yang kini kembali bercermin.


"Abi, ini sepatu siapa, ko cuma sebelah, A'a ini sepatu Cinderella?, Abi nyuri dimana?" Tanya Zidan yang masih berjingkrak jingkrak menggunakan sepatu itu. Fadlan langsung mengernyit.


"Kalian berdua sini, Abi mau bicara."


Akhirnya Zidan sudah duduk didepannya Fadlan, sementara Pipit duduk di pangkuannya Fadlan.


"Dengerin Abi ya. Kalian berdua harus ikhlas, harus bisa sabar jika ingin punya ibu baru, nyari ibu yang baik, yang tulus, yang sayang itu sedikit susah, jadi butuh kesabaran untuk mencarinya. Jadi mulai sekarang jangan terus merengek minta ibu baru, do'akan saja biar Abi segera dipertemukan dengan jodoh yang baik dan sayang sama kalian," tutur Fadlan.


"Kenapa harus dicari lagi, kan sudah ada." Ujar Zidan. Fadlan langsung mengernyit.


"Siapa?"

__ADS_1


"Tante cantik," jawab Pipit.


Seketika itu pula Fadlan langsung melotot ketakutan.


__ADS_2