
Hari demi hari Rania mulai gelisah. Bayangan Fadlan seolah tidak mau pergi dari pikirannya, bahkan Rania mulai terbiasa dan mulai menyadari jika dirinya mulai menaruh hati pada si Duda pemalu itu.
"Duh kenapa pake jatuh cinta segala sih sama si mas Duda. Aku kan gak mau merasakan yang namanya sakit hati, sudah jelas itu si Duda pemalu ngincer nya janda bukan gadis perawan. Sudah pasti aku ditolak mentah-mentah, dan gak pake negosiasi lagi," gerutu Rania.
Rania sudah kebingungan sendiri, kenapa ia bisa sampai jatuh cinta pada Fadlan yang statusnya Duda beranak dua, padahal di Jakarta banyak lelaki yang menyukainya hanya saja Rania tidak menggubris nya.
"Kenapa harus si mas Duda sih yang hadir dalam hatiku. Emangnya gak ada lelaki lain. Jangan-jangan si mas Duda main dukun nih hingga aku jadi klepek-klepek begini" Rania masih belum terima jika dirinya menyukai Fadlan.
"Duuuh ini pasti gara-gara aku sering menggodanya, makanya jadi kualat begini."
Dokter Husna yang melihat gelagat putrinya itu merasa heran.
"Kau kenapa Rania?"
"Bu, tolongin aku deh, yang dikatakan ibu memang benar dan sudah terjadi. Sekarang aku jatuh cinta sama si Duda pemalu itu. Siang selalu terbayang, dan malam selalu terbawa mimpi. Kasih aku obat biar gak jadi naksir si mas Duda nya. Aku gak terima nih kalau aku suka padanya. Pasti aku di pelet deh," tutur Rania.
Dokter Husna sudah tersenyum senyum.
"Nah kan kejadian juga sekarang kau jatuh cinta sama mas Fadlan. Kalau sudah jatuh cinta kenapa rasa itu harus dibuang, biarkan saja tumbuh, yang perlu dilakukan itu, buat mas Fadlan juga menyukaimu," ujar Dokter Husna.
"Ikh ibu, ibu jangan pura-pura lupa deh, ibu kan tau sendiri kalau si mas Duda itu ngincer nya janda, bukan gadis perawan sepertiku. Aku gak mau sakit hati Bu, kata orang sakit hati itu rasanya pedih, bagaikan hati yang tersayat-sayat. Kan ngeri Bu. Apalagi sering aku nonton berita katanya ada beberapa orang yang memilih mengakhiri hidupnya gara-gara cintanya ditolak. Duh serem ngebayangin ya juga." Tutur Rania.
"Pikiranmu terlalu kejauhan."
"Kali ini aku harus menemui Mas Duda biar semuanya jelas." Ujar Rania penuh tekad.
"Kau ingin mengatakan cinta pada mas Fadlan?"
Rania langsung mengernyit.
"Idiih ibu, bukan nyatain cinta, tapi protes."
***
Siang itu, Rania sudah menunggu Fadlan lewat, biasanya Fadlan sering melewati jalan itu untuk pulang ke rumahnya. Setelah 30 menit menunggu, akhirnya Fadlan muncul bersama ustadz Soleh dan ustadz Usman.
Mereka berjalan santai sambil mengobrol. Dari kejauhan Rania sudah memanggilnya. Fadlan sudah mematung ditempat, merasa takut jika Rania datang menemuinya, takut kena marah lagi.
"MAS DUDA."
"Fadlan, sepertinya bahaya sedang mengancam mu. Itu putrinya Dokter Husna datang kemari, kelihatan dari mukanya sih dia sedang emosi. Siap-siap kena bantai putrinya Dokter Husna." Ujar ustadz Usman.
"Sabar ya putraku, akhir-akhir ini kau sedang diberi ujian. Jangan sedih dan takut. Allah menyayangi mu." Ujar ustadz Soleh.
"MAS DUDAAAA."
Panggil Rania sambil berteriak. Melihat Rania mendekati Fadlan dengan emosi. Akhirnya ustadz Usman dan ustadz Soleh berpindah posisi.
__ADS_1
"Demi keamanan dan kenyamanan, kita nontonnya di pinggir jalan saja biar gak kecipratan emosinya si Rania." Ujar ustadz Usman yang langsung menarik tangannya ustadz Soleh untuk sedikit menjauh dan duduk di pinggir jalan memperhatikan mereka.
Ketika Rania sudah mendekat, ustadz Usman langsung berteriak.
"Siap rolling action."
Mendadak Fadlan tidak bisa bergerak ketika Rania sudah dihadapannya, bahkan Rania sudah menatap Fadlan dari ujung kaki hingga ujung rambut, tentunya ditatap seperti itu Fadlan merasa malu dan jadi salah tingkah hingga akhirnya ia pasrah menunduk.
Rania sudah menyipitkan matanya menatap Fadlan.
"Masa sih aku jatuh cinta sama si Duda pemalu ini???"
Kini Rania sudah berputar sambil menatap Fadlan dari ujung rambut hingga ujung kaki. Kembali Rania mengernyit.
"Apa benar aku jatuh cinta sama dia?, Tapi masa sih?. Si mas Duda ini wajahnya gak ganteng-ganteng amat, usianya juga cukup jauh denganku, 12 tahun. Badannya pun gak bagus-bagus amat, tapi kenapa dia selalu terbayang-bayang terus. Kalau aku melihatnya pasti aku suka senyum-senyum gak jelas. Masa iya sih aku jatuh cinta sama si mas Duda?." Batin Rania. Ditatap seperti itu Fadlan semakin menunduk malu.
"Kenapa kau menatapku seperti itu Rania?" Tanya Fadlan.
Kini Rania sudah berdiri dihadapannya Fadlan sambil berkacak pinggang.
"Aku ingin bicara serius, apa yang mas Duda lakukan padaku?, Kenapa akhir akhir ini aku selalu merindukan mas Duda, wajahnya mas Duda selalu terbayang-bayang. Mas Duda harus bertanggung jawab." Ujar Rania.
Fadlan langsung terdiam. Rania memintanya untuk bertanggung jawab, memangnya apa yang telah diperbuatnya.
"Kenapa kau minta pertanggung jawaban ku, memangnya apa yang aku lakukan?"
Fadlan langsung terdiam, ia hampir tidak percaya jika putrinya Dokter Husna itu jatuh cinta padanya, apalagi menuduhnya memakai jampi-jampi. Ustadz Usman dan ustadz Soleh sudah saling lirik sambil tersenyum.
"Nah kan putrinya Dokter Husna mulai kumat." ( ustadz Usman).
"Kau jatuh cinta padaku?" Tanya Fadlan.
"Iya, aku jatuh cinta padamu, siang malam wajahnya mas Duda selalu terbayang. Aku selalu senyum-senyum sendiri kalau melihat mas Duda. Sehari saja tidak bertemu rasanya aku sudah rindu berat, berat pake banget. Pokoknya mas Duda harus bertanggung jawab." Gerutu Rania.
"Tanggung jawab????."
"Kenapa aku harus tanggung jawab, emangnya apa salahku?. Aku kan tidak menyuruhmu jatuh cinta padaku" ujar Fadlan.
"Mas Duda memang tidak menyuruhku untuk jatuh cinta, tapi dengan sikap mas Duda yang pemalu itu telah berhasil menghipnotis ku dan membuatku jatuh cinta. Mas Duda bagiku sangat menggemaskan, sekarang aku minta mas Duda untuk bertanggung jawab." Tutur Rania.
Fadlan sudah menggaruk kepalanya bingung. Satu sisi, ia merasa senang jika Rania menyukainya, namun di satu sisi ia merasa bingung, ia harus bertanggung jawab seperti apa.
"Keajaiban terjadi lagi pada putrinya Dokter Husna ini, dia minta pertanggung jawaban pada keponakan ku karena telah berhasil membuatnya jatuh cinta. Jatuh cinta seolah mendadak jadi perbuatan terlarang hingga harus dimintai pertanggungjawaban." (Ustadz Usman).
"Yang sabar ya putraku, sepertinya kau sedang diuji kesabaran melalui putrinya Dokter Husna." (Ustadz Soleh).
"?????????????????" (Fadlan).
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan?" Tanya Fadlan. Rania sudah menyipitkan matanya sambil mendekati Fadlan, tentu saja Fadlan mundur karena mau menjaga jarak.
"Mas Duda harus bertanggung jawab. Buat aku tidak jadi jatuh cinta denganmu, buatlah mas Duda terlihat menyebalkan di mataku. Karena kalau sampai aku jatuh cinta denganmu hingga perasaan ku yang paling dalam, itu bahaya bagiku. Aku tau mas Duda ini sukanya sama janda, dan tidak suka dengan gadis perawan sepertiku. Itu artinya besar kemungkinan aku akan patah hati karena cintaku akan bertepuk sebelah tangan, apalagi bertepuk sebelah kaki. Apa mas Duda belum pernah merasakan yang namanya patah hati?. Kata orang patah hati itu sakit banget rasanya. Bagaimana kalau saat aku patah hati, aku jadi gila dan gak waras, atau bahkan yang lebih parahnya lagi aku bunuh diri gara-gara patah hati. Awas saja kalau aku sampai patah hati dan bunuh diri, arwahku akan gentayangan menuntut balas pada mas Duda" Tutur Rania sambil menggerutu.
Fadlan mendadak takut mendengarnya.
"Kau benar Rania, yang namanya patah hati itu berjuta rasa sakitnya. Gadis sepertimu gak akan kuat. Berat, berat banget pokoknya." Teriak ustadz Usman.
"Tuh ustadz Usman saja tau." Ujar Rania. Fadlan kembali kebingungan.
"Man, jangan membuat suasana tambah panas. Disini yang posisinya terpojok itu putraku." Gerutu ustadz Soleh.
Ustadz Usman hanya tertawa-tawa, ia merasa gemas dengan Rania dan keponakannya.
"Bagaimana aku harus bertanggung jawab padamu Rania?" Tanya Fadlan yang masih bingung.
"Tadi kan aku bilang, mas Duda harus bisa membuatku melupakan mas Duda, biar aku gak patah hati." Jawab Rania.
"Rania, kenapa kau harus melupakan putraku, bukankah jatuh cinta itu adalah anugrah." Ujar ustadz Soleh.
"Iya aku tau ustadz Soleh kalau jatuh cinta itu adalah anugrah, tapi kan kita tau sendiri kalau putranya ustadz Soleh ini ngincer nya janda bukan gadis perawan sepertiku. Aku tidak mau cintaku bertepuk sebelah tangan, lebih baik cintanya dilupakan saja, untuk itu aku butuh bantuan. Aku tidak mau sampai bunuh diri gara-gara patah hati" Tutur Rania.
"Kenapa kau repot-repot harus melupakan Fadlan, bukankah ada cara yang lebih gampang biar kau tidak patah hati, kau cukup buat putraku jatuh cinta padamu. Kalau Fadlan juga menyukaimu, tentunya cintamu tidak akan bertepuk sebelah tangan, apalagi bertepuk sebelah kaki." Tutur ustadz Soleh.
Rania pun terdiam.
"Sepertinya yang dikatakan ustadz Soleh itu ada benarnya, kenapa aku harus repot-repot melupakan mas Duda, kenapa aku tidak buat dia jatuh cinta padaku saja." Batin Rania.
"Baiklah ustadz Soleh, aku izin menyukai putramu. Aku juga izin untuk membuat mas Duda jatuh hati padaku," ujar Rania.
"Aku izinkan. Tapi harus ingat, harus ada batasan, jangan terlalu berlebihan."
"Aku juga izinkan kau untuk membuat keponakan ku jatuh hati, yang penting bukan jatuh tersungkur." Ujar ustadz Usman.
Rania mengangguk dan langsung menatap Fadlan yang lagi malu-malu kucing.
"Dengar ya mas Duda, mulai sekarang aku akan kembali mengganggumu dan menggodamu. Jadi siap-siap saja sebentar lagi kau akan jatuh cinta padaku. Assalamualaikum." Pamit Rania.
"Waalaikumussalam."
Baru saja Rania berjalan beberapa langkah, ia menghentikan langkahnya lalu kembali menatap Fadlan.
"Mas Duda.... I LOVE YOU." ujar Rania yang kini kembali berjalan tanpa ekspresi.
Fadlan sudah benar-benar menunduk malu, ia sudah menggaruk tengkuknya lalu menatap ustadz Soleh dan ustadz Usman yang kini sedang tersenyum-senyum.
"Cieeee si Duda pemalu ada yang naksir. Lumayan tuh si Rania perempuan blasteran. Kalau kau jadi menikah dengannya, kau cukup membawa seperangkat alat operasi sebagai mas kawinnya." Tutur ustadz Usman.
__ADS_1