Si Duda Pemalu

Si Duda Pemalu
Makan malam


__ADS_3

Masih dengan Rania, setelah Zidan pergi dari klinik, Rania pun langsung pergi ke butiknya Anisa untuk membeli baju yang akan dipakainya nanti malam.


Rania sudah berjalan menuju butik sambil tersenyum-senyum, ia merasa bahagia bukan main karena nanti malam akan makan malam romantis bersama Fadlan.


"Tidak kusangka akhirnya si mas Duda ngajakin kencan juga." Batin Rania.


Rania pun berpapasan dengan Zahira dan Yura, namun Rania tidak memperhatikan hingga ia terus berjalan dan masih tersenyum-senyum. Tentunya melihat Rania seperti itu, Zahira dan Yura langsung mengernyit.


"Mommy umi, itu Tante Rania kenapa senyum-senyum sendiri begitu?" Tanya Yura.


"Mungkin kalau kata si Ali mah dia sedang berproses menjadi gila." Jawab Zahira. Yura malah cekikikan.


"Tante Rania gila?"


"Sepertinya begitu, mungkin putrinya Dokter Husna itu gila gara-gara merasa cemburu pada mommy, soalnya kan mommy perempuan paling cantik disini, dan kau (Yura) perempuan paling cantik kedua setelah mommy umi." Tutur Zahira. Lagi-lagi Yura malah tertawa.


"Kasihan sekali si Rania, gara-gara iri dengan kecantikan ku, dia jadi kurang waras begitu, padahal ibunya adalah seorang Dokter, harusnya Dokter Husna bisa mengobati putrinya." Batin Zahira.


Rania masih berjalan sambil tersenyum hingga melewati pos sekuriti, tentunya Yudi dan Yuda ikut mengernyit melihatnya.


"Yud, Itu mba Rania kenapa senyum-senyum sendiri?."


"Entahlah, mungkin Dokter Husna salah ngasih obat."


Rania pun kini sudah sampai di butik. Ia langsung masuk setelah mengucapkan salam. Dilihatnya butik nampak ramai pengunjung. Anisa langsung menghampirinya.


"Eh ada putrinya Dokter Husna, mau nyari apa?" Tanya Anisa.


"Aku butuh satu meja, nanti ditaruh lilin sama bunga mawar, biar tambah romantis." Jawab Rania yang tidak pokus dengan pertanyaan Anisa. Anisa yang mendengar pun langsung terdiam mengernyit, kemudian ia tersenyum.


"Maaf Rania, ini butik bukan restoran."


Ketika Rania sadar, ia langsung tersenyum malu.


"Duuh maaf Tante Anisa, pikiranku sedang tidak pokus. Aku kesini mau nyari gamis yang cantik untukku." Ujar Rania. Anisa pun tersenyum lalu memilihkan beberapa baju gamis keluaran terbaru.


"Hadeuuuh otaku isinya makan malam romantis terus, aku jadi gak pokus sama semuanya." Batin Rania.


Rania mengambil satu baju gamis yang menurutnya paling cocok.


"Sepertinya yang ini bagus, aku pilih yang ini saja." Ujar Rania.


"Tidak mau beli yang lainnya lagi?."


"Ini saja cukup."


Setelah membayar baju itu, Rania pun pulang sambil membawa satu paper bag. Ia sudah tidak sabar ingin segera berkencan dengan si Duda pemalu.


***


Malam pun tiba. Pipit sudah menunggu didepan rumah, sudah rapih menggunakan gamis baru berwarna pink. Fadlan dan Zidan belum pulang dari masjid mengerjakan shalat isya.


"Duuh Abi mana sih, ko belum datang juga."


Ketika Fadlan, Zidan dan ustadz Soleh datang, Pipit langsung berlari mendekati mereka.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


Pipit segera mencium tangannya Fadlan dan Zidan, begitu juga mencium tangan ustadz Soleh. Fadlan sudah tersenyum melihat Pipit sudah berdandan cantik tidak seperti biasanya, mungkin ia berdandan rapih karena malam ini akan diajak makan malam.


"Duh putri Abi sudah cantik."

__ADS_1


"Pipit mau kemana?" Tanya ustadz Soleh.


"Mau kan malam sama Abi dan kak Zidan di restoran." Jawab Pipit.


"Mbah Soleh gak diajak?"


"Kali ini Mbah Soleh gak diajak, nanti saja makan barengnya kalau makan siang." Ujar Pipit hingga ustadz Soleh tertawa.


Pipit langsung menarik Fadlan masuk rumah untuk berganti pakaian. Pipit sudah memilihkan baju untuk Abinya itu.


"Yang ini bagus Bi."


Pipit memberikan sebuah kemeja bernuansa Koko dan celana bahan berwarna hitam. Awalnya Fadlan ingin protes namun ia hanya bisa menurut pasrah.


Zidan dan Pipit sudah menunggu di ruang tamu. Setelah Fadlan selesai berpakaian, ia langsung menemui putra putrinya.


"Cieee si Abi ganteng pake pisan." Goda Zidan.


"Ayo berangkat."


Fadlan tidak tau jika putra putrinya itu mengundang Rania untuk ikut makan malam.


Ketika hendak naik mobil, ustadz Usman melihat mereka bertiga sudah rapih.


"Mau pergi kondangan kemana?" Tanya ustadz Usman.


"Kita mau makan malam romantis di restoran." Jawab Pipit sambil membuka pintu mobil.


"Mbah Usman gak diajak?"


"NGGAK."


Pipit dan Zidan kompak menjawab.


"Kompak banget"


Sesampainya di restoran, mereka bertiga langsung memilih tempat. Seketika seorang pelayan langsung menghampiri dan memberikan buku menu pada Fadlan.


"Kalian mau pesen apa?" Tanya Fadlan pada Pipit dan Zidan.


"Tunggu sebentar Bi, jangan pesan dulu, kita lagi nunggu seseorang." Ujar Zidan. Fadlan langsung mengernyit, sementara Pipit sudah tersenyum.


"Nunggu seseorang?, Siapa?" Tanya Fadlan.


"Assalamualaikum."


Tiba-tiba Rania datang.


Fadlan terkejut dengan kedatangan putrinya Dokter Husna itu, terlebih terkejut melihat penampilan baru Rania yang kini terlihat begitu cantik dengan gamis syar'i beserta kerudungnya yang baru dibelinya di butik Anisa, warnanya pun begitu cocok dengan warna kulitnya yang putih bersih.


"Wa, waalaikumussalam."


Fadlan hampir tidak percaya jika perempuan yang ada dihadapannya itu adalah Rania. Rania sudah tersenyum anggun.


Pipit turun dari kursi dan menarik Rania untuk ikut duduk.


"Ayo Tante, duduk." Pinta Pipit.


Fadlan masih bengong melihat Rania yang begitu nampak anggun dan mempesona dengan penampilannya itu. Zidan langsung berdehem ketika melihat Fadlan yang sedari tadi terkesima melihat penampilan Rania.


"Ekhem, kayanya ada yang perlu kaca mata item nih biar matanya gak pokus lihat yang cantik." Sindir Zidan.


Mendengar itu Fadlan langsung menunduk. Rania pun sudah ikut duduk.

__ADS_1


"Terima kasih ya mas Fadlan, sudah mengundangku untuk makan malam." Ujar Rania, yang kini nada bicaranya sudah begitu lembut dan mendayu, tak mau lagi genit-genit, apalagi sampai marah-marah.


Fadlan pun mengangguk, padahal ia tidak tau sama sekali jika putra putrinya itu mengundang Rania. Jujur saja kali ini Fadlan bukan hanya malu, tapi mendadak ia merasa gerogi. Hari ini Rania mendadak lain dari yang lain.


Fadlan sudah memesankan mereka makanan. Ia berasa salah tingkah sendiri, malu bercampur gerogi hingga tiba-tiba ia berkeringat di keningnya. Zidan yang melihat pun langsung menunduk menahan tawanya.


"Cieee si Abi merasa gerogi makan malam sama perempuan, kayanya berasa muda lagi dia." Batin Zidan.


"Pipit, Abi mendadak keringetan, buruan cari kanebo." Bisik Zidan. Pipit malah cekikikan tak bersuara.


Rania sudah tersenyum, ia dapat merasakan jika si Duda pemalu itu lagi gerogi.


"Cieee si mas Duda lagi gerogi tuh, pasti dia terpesona melihat penampilan ku seperti ini." Batin Rania.


"Mas Fadlan kenapa melihatku seperti itu, apa aku terlihat aneh dengan penampilanku ini?" Tanya Rania. Fadlan langsung menggeleng.


"Kau terlihat begitu cantik." Fadlan keceplosan hingga ia langsung membungkam mulutnya sendiri. Jangan tanya bagaimana reaksinya Rania, ia sudah merasa terbang ke awang-awang dan menembus lapisan langit, hatinya berbunga-bunga hingga senyum dibibirnya merekah.


"Abi lagi memuji apa menggoda?" Tanya Zidan.


"Sssttthhh, makanannya datang."


Pesanan pun sudah ditaruh semua diatas meja, mereka pun berdoa terlebih dahulu. Pipit merasa senang bukan main, ia merasa punya keluarga yang lengkap meskipun Rania belum resmi menjadi ibunya.


"Meskipun kencan romantisnya ditemani anak-anak tapi aku merasa bahagia, anggap saja Pipit itu sebagai bunga, dan Zidan sebagai lilin, mereka jadi pelengkap keromantisan kami." Batin Rania.


Sambil makan, Fadlan sudah memegangi dadanya sendiri.


"Kenapa aku deg-degan begini????"


"Besok kalau aku ketemu si Yura, aku mau pamer akh kalau sebentar lagi aku mau punya ibu baru, pasti si Yura merasa iri dan cemburu hingga ia merajuk pada om Yusuf dan meminta ibu baru" Batin Pipit.


Fadlan masih juga gerogi hingga ia tidak sadar malah memakan cabe, hingga bibirnya langsung kepanasan. Fadlan langsung merasa kepedesan, semua langsung terkejut melihatnya.


"Abi kenapa????"


"Pedes."


Fadlan sudah mengipas-ngipas mulutnya. Seketika Zidan langsung memberikan satu gelas air putih. Barulah setelah minum, Fadlan merasa lebih baik. Rania sudah tersenyum-senyum, ingin tertawa namun ditahannya.


"Pasti deh si mas Duda makin gerogi melihatku, hingga ia tidak sadar makan cabe. Duh baru juga aku mengeluarkan pesona yang kupinjam dari ibu saja, si mas Duda sudah salah makan cabe, gimana kalau aku pinjam pesonanya Tante Zahira yang narsisnya kebangetan, bisa-bisa itu piring sama sendok ya ditelan sama si mas Duda. Hi hi hi." Batin Rania.


Rania pun memanggil salah satu pelayan restoran itu dan memberikan hapenya.


"Tolong potoin kita ya, biar jadi kenang-kenangan." Pinta Rania.


Akhirnya pelayan itu pun memotret mereka yang kini sedang makan berempat. Pipit dan Zidan sudah bergaya, sementara Fadlan sudah diam malu-malu. Mereka sudah seperti keluarga kecil bahagia.


"Ingin rasanya aku memberi pengumuman pada seluruh dunia, kalau saat ini aku sedang kencan bersama si mas Duda dan anak-anaknya." Batin Rania.


Setelah makan malam selesai, mereka pun pulang, kini Rania sudah ikut mobilnya Fadlan. Diperjalanan Fadlan dan Rania mendadak mengheningkan cipta, sementara Pipit dan Zidan sudah tertidur di kursi belakang.


"Duh anak-anak pengertian pake banget ya, dalam situasi seperti ini mereka tidur. Mudah-mudahan gak ada setan yang jadi pihak ketiga." Batin Rania.


"Makasih ya mas Duda, sudah mengajaku makan malam, aku seneng banget deh mas, meskipun tidak ada lilin sama bunga, tapi aku merasakan ada cinta dan kasih sayang hingga tercipta makan malam romantis." Ujar Rania. Fadlan pun tersenyum.


"Aku juga terima kasih, kau sudah membuat anak-anak bahagia." Ujar Fadlan.


"Apa mas Fadlan juga bahagia?" tanya Rania.


Fadlan hanya diam menunduk, ia hanya menjawabnya lewat senyuman.


Sesampainya di depan rumahnya Dokter Husna, Rania pun turun dari mobil.

__ADS_1


"Sekali lagi terima kasih ya mas Duda sudah mengajaku kencan."


"Kencan???"


__ADS_2