Si Duda Pemalu

Si Duda Pemalu
Muntah-muntah


__ADS_3

Beberapa Minggu kemudian. Pagi-pagi sekali saat bangun tidur Rania sudah kehilangan suaminya. Biasanya Fadlan sudah duluan mandi lalu membangunkannya, namun kali ini suaminya tidak ada disebelahnya, tidak ada pula untuk membangunkannya.


"Si mas Suami kemana?, Pagi-pagi buta seperti ini sudah menghilang ditelan ayam berkokok."


Rania bangun lalu mencari Fadlan.


"Mas Suami, apa mas sudah berangkat ke masjid?" ujar Rania sedikit berteriak.


Tidak ada jawaban, namun Rania dapat mendengar suara orang muntah-muntah di kamar mandi.


"Ini siapa yang pagi-pagi sudah berdendang ria di kamar mandi?"


Rania berjalan mendekati kamar mandi, saat membuka pintu, ia terkejut melihat suaminya sedang berjongkok sambil muntah-muntah.


"Mas Suami kenapa? Mas keracunan apa muntaber?" tanya Rania cemas.


"O O O O O." (Fadlan).


"Perut mas mual, kepala mas juga pusing," jawab Fadlan.


"Wah sepertinya itu gejala penyakit jantung. Sebentar aku panggil ambulance dulu ya,"


Rania hendak menelpon ambulance untuk datang ke rumahnya, namun Fadlan segera melarangnya.


"Jangan Ran, antar mas ke klinik saja," pinta Fadlan.


"Oh iya biar mas diperiksa ibu saja di klinik. Sebaiknya mas shalat subuh di rumah dulu, setelah itu kita pergi ke klinik, aku juga mau mandi dulu, Dede bayinya juga sudah berontak pengen dimandiin." ujar Rania sambil mengelus perutnya.


Akhirnya setelah shalat subuh di rumah, Fadlan diajak ke klinik. Sebelum berangkat ke klinik, Rania menitipkan Pipit pada Sarah.


"Maaf umi mertua, aku titip Pipit dulu, si mas Suami muntah-muntah dan pusing, takutnya dia muntaber, aku mau bawa dia ke klinik." ujar Rania.


Tentu saja Sarah khawatir mendengar itu.


"Umi ikut mengantar ke klinik, sekalian nanti Umi antarkan Pipit ke sekolah. Abi mertuamu belum pulang dari masjid, biar nanti suruh menyusul saja ke klinik." tutur Sarah.


Akhirnya mereka berempat pergi ke klinik. Rania sudah membawa mobilnya Fadlan. Di jalan sempat bertemu dengan para ustadz yang baru pulang dari masjid. Rania sudah membunyikan klakson mobil.


Tiiid... Tidddd.


Ustadz Soleh merasa heran melihat anak menantunya pagi-pagi sudah pergi membawa mobil. Ustadz Soleh kembali merasa heran melihat istrinya juga ada di mobil itu.


"Mau pada kemana mereka pagi-pagi seperti ini?"

__ADS_1


"Kak, itu mereka mau kemana pagi-pagi udah bawa mobil begitu. Kak Sarah juga ikut, jangan-jangan mereka mau ke Jakarta ada hal yang emergency," ujar ustadz Usman yang kini juga ikut khawatir. Mendengar ucapan adiknya, ustadz Soleh tambah dibuat khawatir serta panik.


"Man, segera kau bawa mobil, kita susul mereka. Buruan Man."


Saat itu juga ustadz Usman berlari ke rumahnya untuk membawa mobil. Tidak lama kemudian ia datang kembali menemui ustadz Soleh dengan membawa mobilnya.


"Ayo kak naik."


Seketika itu pula ustadz Soleh langsung naik mobil.


"Langsung Gas Man, takutnya mobil si Fadlan gak ke kejar," pinta ustadz Soleh.


"Siap kak, nanti aku nyetirnya pake tenaga dalam."


Ketika para ustadz juga berjalan pulang dari masjid, ustadz Usman langsung menghentikan mobilnya.


Ckiiiiiit (suara rek diinjek).


"Kenapa berhenti Man?" tanya ustadz Soleh yang sudah tidak sabar untuk mengejar mobil putranya.


"Kita ajak para ustadz, siapa tau tenaga mereka di butuhkan."


Ustadz Usman sudah membuka kaca mobilnya.


Riziq, Ibra, ustadz Rasyid, Athar, Fadil, Adam dan ustadz Azam sudah satu persatu naik kedalam mobil.


"Ayo buruan naiknya, takutnya kita kehilangan jejak si Fadlan." pinta ustadz Usman yang tidak sabar.


"Ini sebenarnya ada apa?" tanya Riziq.


"Ssssttth, untuk saat ini jangan ada pertanyaan dulu, lebih baik kita fokus kedepan." ujar ustadz Usman.


Ustadz Usman pun kembali menjalankan mobilnya dengan kencangnya. Namun saat mau melewati klinik, ia kembali menginjak remnya.


CKIIIIT.


"Man kenapa berhenti, buruan kejar mobil si Fadlan." Kali ini ustadz Soleh benar-benar tidak sabar.


"Itu mobil di Fadlan parkir didepan klinik." ujar ustadz Usman hingga ustadz Soleh terdiam mengernyit.


Yang duduk dibelakang sudah pada saling lirik.


"Ini sebenarnya kita mau kemana sih?." ujar Adam. Kali ini giliran ustadz Soleh dan ustadz Usman yang saling lirik, bingung harus menjawab apa, sebelumnya ustadz Soleh mengira jika Fadlan akan pergi ke Jakarta, rupanya cuma ke klinik.

__ADS_1


"Sebelumnya kita minta maaf yang sebesar-besarnya. Kita pikir tadi si Fadlan mau ke Jakarta karena ada masalah, rupanya si Fadlan dan Rania pergi ke klinik." tutur ustadz Soleh yang merasa malu karena sudah membuat para ustadz naik mobil.


"Yah pakde, kak Fadlan cuma mau pergi ketemu mertuanya saja pake diikuti" protes Fadil.


"Tapi Abi lihat kak Sarah juga ikut mobil itu, takutnya ada sesuatu yang terjadi."


"Kalau bude Sarah ikut juga kenapa dikhawatirkan, mungkin bude Sarah ingin ketemu besannya." jawab Fadil kembali.


"Man, aku turun dulu, kau antar para ustadz ini ke rumahnya masing-masing. Aku takut terjadi apa-apa dengan Rania, diakan lagi hamil." Ustadz Soleh pun turun dari mobil dan bergegas masuk ke klinik.


"Aku juga merasa khawatir dengan keponakan ku. Kita lihat sebentar ke klinik, habis itu kalian ku antar sampai depan kamar masing-masing." ujar ustadz Usman.


Akhirnya mereka semua turun dari mobil untuk melihat keadaan Rania dan juga Fadlan.


Ustadz Soleh nampak terkejut ketika melihat putranya sekarang sedang di impus.


"Fadlan kau kenapa?"


"Tidak apa-apa Bi, cuma pusing."


"Si mas Suami tadi pagi perutnya mual, dia muntah-muntah disertai pusing. Takutnya kena muntaber," ujar Rania.


Para ustadz pun terkejut melihat keadaan Fadlan yang sudah di impus.


"Fadlan kenapa?"


Rania pun sudah menjelaskan pada mereka semua. Semuanya langsung mendoakan untuk kesembuhan Fadlan.


"Kasihan sekali keponakan ku. Harusnya yang mual, muntah-muntah disertai pusing itu si Rania, itu kan gejala orang hamil. Mungkin ini salah satu keanehan pasangan Fadlan dan Rania." batin ustadz Usman.


"Dokter, sekarang keadaannya Fadlan bagaimana?" tanya ustadz Soleh.


"Alhamdulillah sekarang sedikit lebih baik, muntahnya sudah mulai jarang. Tubuhnya sekarang lemah karena kurang masukan, maklum saja semua makanan yang dikonsumsi sudah keluar karena muntah yang terus-menerus. Untuk saat ini sebaiknya Fadlan harus banyak makan biar tenaganya pulih lagi." tutur Dokter Husna.


"Tuh dengar Fadlan, katanya kau harus banyak makan. Mumpung om mu ini bawa mobil, coba kau katakan kau ingin makan apa sekarang. Mau nasi uduk, nasi kuning, nasi goreng, pecel lele, nasi Padang, bakso, mie ayam, mie goreng, soto Betawi atau dodol Garut?" tanya ustadz Usman sambil memberikan pilihan makanan.


"Aku mau rujak mangga muda." jawab Fadlan.


Semua sudah saling lirik.


"Mangga muda?????"


"Terjadi keanehan lagi, si Rania yang hamil, si Fadlan yang ngidam. Sabar ya keponakan ku. Setelah menikahi Rania, kau benar-benar diuji kesabaran. Coba kita lihat, apa si Fadlan bisa mengalahkan kesabarannya si Yusuf saat menghadapi istrinya yang Amazing itu." batin ustadz Usman.

__ADS_1


__ADS_2