
Hari ini Fadlan sudah pulang dari klinik, ia sudah tidak lagi di impus, soal pusing dan mual-mual sudah sedikit mendingan. Namun Fadlan mendadak banyak maunya yang membuat keluarganya lumayan dibuat bingung. Kadang Fadlan ingin makan buah salak yang rasanya manis asam asin. Kadang Fadlan ingin makan nasi kukus yang dibungkus dengan daun pandan, kadang pula si mantan Duda pemalu itu ingin duduk ditemani Fadil dan Fadli dipinggir sungai, seharian pul, hanya pulang saat mengerjakan shalat saja. Fadli dan Fadil dibuat geleng kepala, mereka seperti patung disuruh menemani Fadlan duduk dipinggir sungai sambil menatap aliran air. Kadang pula Fadlan ingin melihat Rania memakai baju porno si seksi menerawang dari pagi hingga sore, hingga kedua anaknya terpaksa diungsikan ke rumahnya ustadz Soleh. Rania tidak punya gejala apapun saat hamil, tidak pusing juga tidak mual, justru ia jadi nafsu makan, Rania santai menjalani masa kehamilannya, tidak seperti Fadlan yang merasakan ngidam yang aneh-aneh. Seperti kali ini si mantan Duda pemalu itu mengajak Rania pergi ke kebun.
"Ayo Ran, temani mas ke kebun, jangan lupa bawa blender untuk membuat jus." pinta Fadlan.
Rania pun menurut dan membawa satu buah blender dan satu buah gelas besar beserta sendoknya. Mereka berjalan berdua sambil bergandeng tangan, hari ini tidak ada drama pusing, sekarang lagi semangat ingin minum jus tomat yang langsung dipetik dari pohonnya.
Pipit sedang main di rumahnya Yura diantar Sarah. Zidan pun sedang berada di asrama bersama teman-temannya. Jadi Fadlan dan Rania berjalan berdua menuju perkebunan.
"Mas Suami, sekarang badannya sudah fit kan?"
"Alhamdulillah, lumayan fit, tapi kadang-kadang mendadak merasa lemas." jawab Fadlan.
"Vitamin yang dikasih ibu diminum semua ya mas biar fit nya pake pul. Biar nanti malam kita bisa saling meretakkan tulang-tulang kita. Sudah tiga hari lebih loh aku gak dicolek mas Suami gara-gara mas Suami di impus di klinik." tutur Rania. Fadlan sudah menunduk malu-malu, ia tau kalau istrinya itu memberi kode untuk mengerjakan proyek nanti malam.
Fadlan menghentikan langkahnya, lalu mengelus perut istrinya.
"Apa sudah berasa nendang-nendang?" tanya Fadlan penasaran. Rania malah tertawa kecil.
"Kehamilanku kan baru juga beberapa Minggu, jadi belum berasa nendang-nendang. Mungkin nendang-nendangnya pas liat om Usman saja." Rania malah tertawa diakhir kalimatnya.
Sesampainya di perkebunan, seperti biasa para ustadz sudah berkumpul di kebun, beraktivitas seperti biasa. Ustadz Usman dan ustadz Soleh sudah menatap kedatangan mereka.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
"Tumben sekali Fadlan dan Rania datang ke kebun bersamaan." ujar ustadz Soleh saat melihat anak menantunya datang.
"Aku curiga putra dan menantu mu itu mau bikin gara-gara di perkebunan. Tuh lihat saja menantu mu yang ajaib itu ke kebun bawa-bawa blender, dikira di kebun ada stop kontak kali." ujar ustadz Usman.
Ustadz Soleh sudah berjalan mendekati diikuti oleh ustadz Usman.
"Fadlan Rania, tumben sekali ke kebun, memangnya sudah tidak pusing dan mual lagi?" tanya ustadz Soleh.
"Sudah mendingan Bi, kita kesini mau nyari buah tomat, aku pengen makan buah tomat dan dibikin jus disini. Abi bantu cari tomatnya ya." ujar Fadlan. Tentu saja ustadz Soleh mengangguk, ia tau kalau Fadlan mengalami gejala ngidam.
"Man bantu aku cari buah tomat yang bagus, yang matang dan besar."
"Itu di keranjang sudah banyak tomat yang baru dipetik ustadz Rasyid dan ustadz Azam, cari saja disana."
"Gak Om, aku maunya bikin jus tomat, tapi tomatnya yang baru dipetik langsung dari pohonnya, terus langsung dimasukin ke blender." pinta Fadlan.
"Sebentar Abi Carikan."
Ustadz Soleh sudah berjalan menuju kebun tomat.
"Sebentar Bi, aku mau tomatnya yang sebelah warna merah, yang sebelahnya warna kuning dan sebelahnya lagi warna hijau." pinta Fadlan. Ustadz Usman dan ustadz Soleh sudah saling lirik.
"Tuh kan keponakan ku mulai rese, dia minta dicariin tomat warna warni. Jangan bilang setelah ketemu tomat model begituan si Fadlan minta yang bijinya warna hitam. KE SAL, ingin rasanya aku membabad semua pohon tomat kalau si Fadlan menyuruh mencari biji tomat yang warnanya lain dari yang lain." batin ustadz Usman.
"Mungkin yang dimaksud mas Suami itu tomat setengah matang." Rania ikut bicara.
"Iya om tau, maksudnya kau ingin tomat blesteran kan, yang sebelah kulitnya merah, yang setengah kulitnya hijau dan setengah kulitnya kuning."
"Satu lagi Om, aku ingin biji tomatnya yang berwarna ke oren-orenan dan ke pink-pinkan." tambah Fadlan. Ustadz Soleh dan ustadz Usman sudah saling lirik.
"Tuh kan bener, si Fadlan minta warna biji tomatnya yang lain dari yang lain. Ingin sekali rasanya aku sekarang lari ke klinik terus minta obat tidur pada Dokter Husna. Aku lebih baik tidur seharian ketimbang pusing ngadepin ngidamnya si Fadlan." (Ustadz Usman).
__ADS_1
Ustadz Usman sudah melirik kakaknya.
"Kak, sepertinya putramu minta digetok batu bata deh, nyari tomat wana pelangi mungkin sedikit gampang, tapi kalau nyari biji tomat yang ke oren-orenan dan ke pink-pinkan itu yang rada susah, sudah pasti kita harus membelah tomat itu dulu. Kalau tomat sudah dibelah itu artinya tomat gak bisa dijual. Kalau tomat gak bisa dijual itu artinya kita BANG pake KRUT, alias bangkrut, bukan gulung tikar lagi, tapi gulung selimut." bisik ustadz Usman sambil menggerutu. Ustadz Soleh hanya diam sambil menggaruk kepalanya.
"Kita coba cari saja Man, kasihan putraku."
Ustadz Usman dan ustadz Soleh langsung mencari tomat yang diriques Fadlan, dan terpaksa harus membelah tomat-tomat itu untuk mencari warna biji yang ke oren-orenan dan ke pink-pinkan. Awalnya mereka harus mencari tomat yang warnanya merah kuning hijau (pelangi).
Ustadz Soleh sudah berkeliling mencari, namun ia belum menemukan tomat tiga warna itu. Adanya warna merah dan kuning, ada pula yang warnanya hijau dan kuning. Fadlan dan Rania sudah duduk di atas tikar tempat beristirahat para petani perkebunan, sesekali Fadlan mengelus perut istrinya.
"Man, apa kau sudah menemukan tomat warna pelangi?" tanya ustadz Soleh.
"Belum kak, adanya tomat empat warna. Seperempat warna merah, seperempat warna kuning, seperempat warna hijau dan seperempatnya lagi warna hitam." tutur ustadz Usman hingga ustadz Soleh terdiam bingung.
"Ko ada warna hitamnya Man? Jenis tomat apa itu."
"Jenis tomat biasa, cuma yang warna hitamnya itu warna tomat busuk."
"Kalau busuk jangan diambil."
"Hadeuuuh, pasti setelah ketemu tomat model begituan, akan ada drama stop kontak. Si Rania mau buat jus tomat di kebun, dikira colokan kabel nya mau dimasukan ke lubang hidungku." batin ustadz Usman.
"Kak, sepertinya kita butuh bantuan deh. Suruh para ustadz buat nyari tomat pelangi." pinta ustadz Usman. Dan ustadz Soleh pun menyetujuinya. Ustadz Soleh sudah mengumpulkan Riziq, Ibra, Ustadz Rasyid, ustadz Azam, Athar, Yusuf, Fadil, Adam dan para petani perkebunan untuk mencari buah tomat yang seperti Fadlan maksud. Seketika itu pula mereka langsung mencari tomat yang dimaksud. Tidak membutuhkan waktu yang lama, mereka semua banyak menemukan tomat berwarna pelangi itu, namun bijinya bukan warna ke oren-orenan dan ke pink-pinkan. Banyak tomat yang dibelah-belah namun belum ada yang bijinya warna ke oren-orenan dan ke pink-pinkan.
Hampir dua karung tomat yang sudah dibelah namun belum menemukan warna biji yang dimaksud Fadlan.
"Hadeuuuh inimah benar-benar akan membuatku gulung selimut. Banyak tomat yang sudah dibelah, sudah dipastikan tidak bisa dijual ke pasar. Ya Allah, aku berdoa semoga sembilan bulan cepat berlalu biar si Rania segera melahirkan dan tidak akan ada drama ngidam lagi. Aamiin aamiin ya rabbal alamin." batin ustadz Usman.
Karena tidak menemukan warna biji tomat seperti itu akhirnya ustadz Usman menyarankan ide, biar tidak tambah rugi dengan tomat yang sudah dibelah-belah. Ustadz Usman sudah mengadakan miting dadakan pada para ustadz.
"Man, kau mau membohongi putra dan menantuku?" ujar ustadz Soleh.
"Ssssttth, ini demi kabaikan kita semua. Biar yang menanggung dosanya si selebor saja."
Para ustadz pun sudah setuju dengan ide itu. Mereka semua sudah menaruh beberapa tomat yang warnanya merah kuning hijau, namun tidak tau ada biji yang warnanya ke oren-orenan dan ke pink-pinkan. Ustadz Soleh sudah memberikannya pada Rania.
"Ini tomatnya, tinggal di blender." ujar ustadz Soleh.
Rania dan Fadlan sudah menatap tomat-tomat yang belum dibelah.
"Ko tomatnya gak dibelah, emang bijinya sudah jelas warna ke oren-orenan dan ke pink-pinkan?" tanya Rania.
"Ssssttth Rania binti Manfredo Roberto Nandor, langsung diblender saja tomatnya, kasihan loh kalau dibelah dulu, nanti kita dikira sadis mutilasi tomat. Lagian kalau dibelah kasian loh nanti auratnya kelihatan. Langsung diblender saja ya." pinta ustadz Usman sambil membujuk.
Akhirnya Rania dan Fadlan setuju.
"Aku blender dulu ya mas Suami. Sabar dulu ya."
Saat Rania mau memblender tomat, ia langsung terdiam.
"Eh stop kontaknya dimana?" tanya Rania.
"Tuh stop kontaknya di rumah si Dewi besanku." ujar Ustadz Usman sedikit kesal, karena ia yakin sebentar lagi akan ada drama kolosal stop kontak.
"Mas Suami gak ada stop kontaknya, gimana dong?"
Fadlan langsung menatap ustadz Soleh. Ustadz Soleh yang mengerti pun langsung menatap ustadz Usman. Dan ustadz Usman yang mengerti pun langsung mengernyit.
__ADS_1
"Gak usah yang aneh-aneh deh kak. Rumah si Fadlan ke kebun itu jaraknya sekitar 700 meter. Aku gak punya stop kontak yang kabelnya 700 meter." ujar ustadz Usman.
"Beli dulu Man kabel 700 meter beserta stop kontaknya." pinta ustadz Usman.
"Hadeuuuh."
Mau tidak mau ustadz Usman pergi untuk membeli stop kontak yang kabelnya 700 meter.
Dengan dibantu si kembar, ustadz Usman segera mendapatkan stop kontak dengan kabel 700 meter. Segera ia kembali ke kebun dan memberikan pada Rania.
"Buruan colokin biar selesai drama jus tomatnya."
Saat Rania sudah mencolokkan blender itu namun blender nya tidak menyala.
"Ko gak nyala?"
"Man apa kabelnya sudah kau pasang di rumahnya di Fadlan?"
Ustadz Usman langsung menepuk jidatnya.
"Astaghfirullah alazim aku lupa."
Seketika itu pula ustadz Usman berlari menuju rumahnya Fadlan. Mencolokkan kabel nya ke stop kontak yang ada di rumahnya Fadlan, segera ia kembali lagi ke kebun.
Rania sudah memblender tomat itu hingga menjadi sebuah jus, namun Rania tidak memberi gula, karena itu permintaan Fadlan. Fadlan sudah tersenyum ketika Rania memberikan satu gelas jus tomat pelangi.
"Diminum mas Suami."
"Terima kasih."
Saat Fadlan ingin meminumnya, tiba-tiba Fadil berkata.
"Bukannya kata orang jus tomat itu baiknya diminum sebelum tidur."
Fadlan terdiam mendengar itu.
"Benarkah?"
"Si Fadil bikin gara-gara."
Fadlan tidak jadi meminumnya.
"Abi, aku minumnya nanti saja pas mau tidur. Ini jusnya buat Abi saja, Abi yang minum ya, aku akan membuat jus nya nanti malam saja." Fadlan memberikan jus tomat itu pada Ustadz Soleh yang kini sudah menganga. Melihat jus tomat setengah matang disertai tidak diberi gula, sudah pasti rasanya nano-nano. Ustadz Soleh sudah menelan ludahnya secara kasar. Ustadz Usman sudah menunduk menahan tawanya.
"Ayo diminum kak, itu jus spesial loh. Bikinnya pake perjuangan dan pengorbanan yang tak terhingga." ujar ustadz Usman sambil menahan tawanya.
Mau tidak mau ustadz Soleh pun meminumnya, namun baru sampai ke mulutnya, matanya sudah melotot merasakan rasa aneh jus itu.
"Kalau kau merasa mual, muntahkan saja kak." pinta ustadz Usman yang merasa kasihan pada kakaknya. Ustadz Soleh pun langsung menyemburkan nya.
BUUUUURRR.
Jus yang ada di mulutnya ustadz Soleh sudah disemburkan nya, dan tidak sengaja tumpah semua ke wajah ustadz Usman yang kini berada dihadapannya.
"KAK SOLEEEEEEEEH."
ustadz Usman sudah menggeram.
__ADS_1