
Hari itu, Rania sudah menunggu Fadlan di jembatan untuk menjelaskan semuanya, ia yakin Fadlan lewat kesitu untuk pergi ke kebun. Dan benar saja tidak lama kemudian Fadlan lewat bersama ustadz Soleh. Rania mencoba mendekati.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
Fadlan hanya diam dan menunduk, pikirannya masih semrawut harus percaya pada siapa.
"Mas Duda, aku ingin bicara." Pinta Rania sedikit memohon.
"Maaf, aku harus pergi ke kebun." Fadlan menolak untuk diajak bicara, meskipun hatinya sedikit berat.
"Mas Duda dengarkan aku dulu, demi Allah mas, aku tidak pernah ada niat untuk memanfaatkan mu, kumohon percaya padaku, pak Beno hanya memfitnah ku." Rania berusaha menjelaskan.
Fadlan hanya diam dan tak bicara apapun. Ia merasa bingung sendiri, ia mungkin bisa menerima jika Rania punya banyak hutang, lalu bagaimana dengan perjanjian Rania dengan pak Beno, terlebih Fadlan mendadak ragu dengan perasaan Rania. Ustadz Soleh pun hanya diam menunduk.
Kini Rania sudah menatap ustadz Soleh.
"Ustadz, bilang pada putramu, aku mencintainya tulus, aku tidak pernah memanfaatkannya sama sekali. Maaf kalau aku memang tidak pernah bercerita jika aku punya hutang pada pak Beno, minta maaf juga karena tidak cerita soal perjanjian dengan pak Beno. Tapi percayalah, aku sama sekali tidak mempermainkan mas Fadlan." Tutur Rania yang kini sudah mulai berkaca-kaca.
"Maaf Rania, aku pergi dulu, aku butuh waktu untuk menenangkan pikiran ku. Mudah-mudahan saja apa yang kau katakan itu benar biar aku bisa percaya padamu. Assalamualaikum." Pamit Fadlan yang kini sudah berjalan kembali menuju perkebunan.
Ustadz Soleh kini sudah menatap Rania yang sedang menyeka air matanya.
"Yang sabar ya Rania, jika kau memang benar tidak memanfaatkan putraku, pasti Allah akan menolongmu, anggap saja sekarang cintamu sedang di uji. Kita lihat seberapa kuat cinta kalian, dan seberapa kuat ambisi pak Beno. Berdo'a lah biar semuanya baik-baik saja. Assalamualaikum." Ujar ustadz Soleh yang kini ikut menyusul Fadlan ke kebun.
"Waalaikumussalam."
Rania sudah menatap aliran sungai yang terlihat deras itu, kembali air matanya jatuh. Harus kah ia menyerah dan melepaskan Fadlan, atau ia harus berjuang sekuat tenaga biar ujian cintanya itu berbuah manis.
Sementara dengan Fadlan yang kini sudah berada di perkebunan, tentunya yang lain pun sudah berada disana. Ada ustadz Usman, Riziq, Adam, Athar dan ustadz Rasyid.
Fadlan sudah berjongkok untuk mencabuti rumput-rumput liar yang nampak didekat sayuran yang baru tumbuh. Fadlan melamun dan tidak fokus dengan kerjaannya. Semua yang melihatnya merasa kasihan. Entah sakit hati atau patah hati, yang jelas Fadlan sedang dilema hingga ia salah mencabuti rumput, ia malah mencabuti bibit sayuran yang baru tumbuh, matanya menatap kosong hingga semua yang melihat pun langsung mengernyit.
__ADS_1
"Kak, itu putramu disuruh pulang saja, dia lagi dilema, lagi GEGANA, gelisah galau merana, pikirannya lagi acak-acakan, raganya ada di kebun tapi pikirannya ada di klinik, dia bukannya nyebutin rumput tapi malah nyabutin sayuran. Si Fadlan yang galau kita yang bangkrut. Buruan suruh dia istirahat, takutnya itu bibit sayuran yang baru tumbuh habis semua di babad si Fadlan." Tutur ustadz Usman.
Ustadz Soleh pun mendekati Fadlan yang sedang melamun namun tangannya aktif mencabuti sayuran.
"Fadlan."
"Hmm."
Fadlan pun menatap ustadz Soleh.
"Sebaiknya kau pulang, istirahatlah di rumah, sepertinya pikiranmu sedang kacau." Pinta ustadz Soleh. Fadlan pun terdiam kemudian ia mengernyit melihat hasil perbuatannya yang sudah mencabuti sayuran yang baru tumbuh.
"Astaghfirullah alazim. Maaf Bi, aku tidak sadar merusak dan mencabuti sayuran." Ujar Fadlan.
"Sebaiknya kau pulang istirahat. Tenangkan dulu hati dan pikiranmu."
Fadlan mengangguk.
"Iya Bi aku pulang, sekali lagi maaf sudah merusak sayuran, tapi sebelum pulang ke rumah, aku mau ke makamnya Amara dulu." Pinta Fadlan. Ustadz Soleh hanya mengiyakan.
"Kak, si Fadlan harusnya di suruh pulang ke rumah bukannya pulang ke pemakaman, nanti di pemakaman dia melamun lagi, masih untung cuma kesurupan, kalau dia nyabutin nisan di semua makam bagaimana?" Ujar ustadz Usman.
"Pikiranmu terlalu jauh Man."
Fadlan sudah menatap makam istrinya, kembali ia melihat ada bunga lili segar diatas makam istrinya. Fadlan yakin itu dari Rania. Fadlan masih bingung menghadapi semua, kalau ia masih mempertahankan Rania, lalu bagaimana dengan hutangnya Rania, sudah jelas Rania dan pak Beno mengadakan perjanjian hitam diatas putih.
"Ya Allah, hamba harus bagaimana menghadapi semua ini. Jika hamba berjodoh dengan Rania, selesaikan lah masalah kami, tapi jika dia bukan jodohku, maka jauhkan lah kami. Mungkin ini tandanya aku harus kembali setia pada Amara."
Kembali Fadlan menatap bunga lili yang ia yakini bunga itu dari Rania. Fadlan dibuat bingung sendiri, kali ini ia tidak bisa berpikir jernih, hingga setiap kali Rania menghubunginya, ia hanya bisa diam dan menghindar.
Ustadz Soleh masih menatap putranya dari jauh, ia merasa prihatin melihatnya. Baru saja Fadlan menyukai perempuan, tapi malah dapat masalah seperti ini.
"Kak, kau tidak ingin melakukan sesuatu untuk putramu?" Tanya ustadz Usman.
__ADS_1
"Fadlan sudah dewasa, aku yakin dia pasti bisa menyelesaikan semuanya." Jawab ustadz Soleh.
"Duh keponakanku, kasihan sekali dirimu, giliran ditaksir perawan kau malah jadi dilema begini, jangan-jangan kau akan kembali mengincar janda." Batin ustadz Usman.
***
Ketika Fadlan pulang ke rumahnya, ia terdiam melihat putri bungsunya sedang terisak. Zidan pun terus berusaha menenangkan adiknya. Pipit terus mengingat Rania, ia begitu menyukai Rania dan sangat mendukung jika putrinya Dokter Husna itu jadi ibu sambungnya.
"Jangan nangis terus ya, cup cup cup."
Zidan sudah mengelus-elus kepalanya Pipit.
"Apa kau berantem sama si Yura?" Tanya Zidan. Pipit hanya menggeleng.
"Aku sedih kak, aku rindu Tante Rania, sudah beberapa hari ini aku tidak melihatnya. Aku mau Tante Rania jadi ibu kita, aku mau Tante Rania menikah sama Abi." Tutur Pipit sambil terisak.
Zidan pun ikut sedih mendengarnya, ia langsung memeluk dan mengelus kepalanya Pipit.
"Yang sabar ya, mudah-mudahan Abi sama Tante Rania baik-baik saja dan segera menikah."
Fadlan yang melihat pun langsung berkaca-kaca. Putra putrinya sangat berharap jika ia akan menikahi Rania.
Saat Pipit dan Zidan melihat Fadlan berdiri diambang pintu, Mereka pun langsung menatapnya dengan tatapan sedih.
"Abi."
Fadlan hanya tersenyum lalu mendekati mereka dan ikut duduk. Pipit dan Zidan langsung memeluknya.
"Abi baik-baik saja kan?"
"Abi baik-baik saja."
Fadlan berusaha tegar dihadapan anak-anaknya.
__ADS_1
"Bi, aku rindu Tante Rania. Kapan Abi akan melamar Tante Rania?" Tanya Pipit yang membuat Fadlan diam menunduk bingung. Sekali lagi Fadlan hanya tersenyum namun matanya sudah berkaca-kaca.
"Abi ingin istirahat dulu ya, cape habis dari kebun." Ujar Fadlan. Padahal Fadlan habis dari pemakaman, dia di kebun hanya melamun sambil mencabuti sayuran.