
Hari demi hari, bulan demi bulan terlewati sudah, kini usia kandungan Rania sudah menginjak sembilan bulan. Rania menjalani masa kehamilannya dengan santai, semangat, ceria dan menyenangkan. Rania bahkan sangat menikmati masa kehamilannya, karena ia tak mengalami ngidam, mual atau pusing seperti yang ibu hamil biasanya rasakan. Rania terbebas dari semua itu karena yang merasakan gejala semua itu adalah suaminya si mantan Duda pemalu.
Siang itu Fadlan nampak lemas hingga ia bersandar di sofa. Fadlan terlihat sedikit kurus karena ia tidak punya nafsu makan selama ia masih ngidam, padahal usia kandungan istrinya sudah hamil tua. Mungkin saat hari pertama Rania hamil hingga nanti melahirkan Fadlan lah yang merasakan ngidamnya. Rania mendekatinya sambil membawa minuman jeruk.
"Diminum dulu mas."
Rania menaruh minuman itu di atas meja, dan ia kini duduk disebelah suaminya.
"Duh kasihan nya si mas Suami, baru hamil anak pertama saja mas Suami sudah KO begini, padahal rencananya dalam dekat ini, setelah aku melahirkan, aku mau bikin program ibu hamil lagi, cita-citaku kan mau punya anak lima, tujuh sama Pipit dan Zidan. Sabar ya mas Suami, mungkin ini sebuah karma untuk mas Suami karena mas Suami selalu membuatku KO di malam hari." batin Rania.
Fadlan pun memeluk istrinya, sesekali ia mengelus perut Rania yang sudah membuncit itu. Rania hanya tersenyum, apalagi saat si mantan Duda pemalu itu mendekatkan diri padanya, menciumnya lembut, namun tangannya masih mengelus perut.
Terdengar Pipit membuka pintu rumah. Fadlan seketika langsung mundur.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
Pipit berlari mendekati, ia langsung mengelus perut Rania dan menempelkan telinganya, ingin mendengar suara adik bayinya.
"Umi cantik, kayanya Dede bayinya pengen ketemu Pipit deh."
"Masa sih?"
"Hmmm."
Fadlan dan Rania hanya tersenyum lalu mengajak Pipit untuk duduk bareng. Rania berdiri untuk pergi ke kamar mandi namun Fadlan mengernyit melihat rok gamis istrinya itu terlihat basah.
"Rania, rok mu basah, kau tidak ngompol kan?"
"Nggak, mana mungkin aku ngompol, di kira aku Pipit." jawab Rania.
Rania pun memeriksa rok gamisnya, dan benar sedikit basah. Rania juga merasakan keanehan.
"Mas Suami, jangan-jangan ini air ketuban ya," tebak Rania. Fadlan pun bangun dari duduknya, ia langsung mengangkat rok istrinya untuk memeriksa.
"Iya Ran sepertinya begitu, baunya sedikit berbeda. Mas hubungi umi Sarah sama ibu dulu ya." ujar Fadlan yang kini langsung menghubungi Sarah dan Dokter Husna. Dan seketika itu pula Sarah dan Dokter Husna datang sambil tergesa, cemas dengan kehamilan Rania.
Dokter Husna langsung memeriksa putrinya.
"Sepertinya Rania mau melahirkan. Air ketubannya sudah pecah." ujar Dokter Husna. Sarah sudah merasa cemas sendiri mendengarnya.
"Ran, apa kau tidak merasakan mulas atau kesakitan?" tanya Dokter Husna yang merasa heran karena putrinya itu hanya santai dan tidak merasakan sesuatu.
"Aku tidak merasakan apa-apa."
__ADS_1
"Sebaiknya Rania segera dibawa ke rumah sakit." pinta Dokter Husna.
"Ade bayinya mau keluar ya Umi cantik?" tanya Pipit sambil mengelus perut Rania.
"Sepertinya begitu sayang, adek bayinya sudah tidak sabar ingin ketemu Pipit."
"Aku hubungi si Abi (ustadz Soleh) dulu, dia tadi pergi ke kebun bersama ustadz Usman."
Sarah langsung menghubungi suaminya. Dan seketika itu juga ustadz Soleh bergegas pulang diikuti para ustadz. Jangan minta disebutin siapa saja yang mengikutinya, soalnya banyak wk wwk.
Dokter Husna kembali memeriksa keadaan Rania karena merasa heran meskipun air ketubannya pecah Rania masih santai dan tidak merasakan apa-apa.
"Apa Rania dan bayinya baik-baik saja?" tanya Sarah.
"Ibu dan bayinya baik-baik saja, hanya sedikit heran saja Rania tidak merasakan apa-apa."
Tiba-tiba Sarah terdiam melihat Fadlan meringis sambil memegang perutnya.
"Kau kenapa Fadlan?"
"Gak tau Mi, perutku berasa mulas." Seketika itu pula Fadlan berlari ke kamar mandi.
Ustadz Soleh dan rombongan datang.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
"Menantuku yang mau lahiran mau naik dimana," protes ustadz Soleh. Semua sudah saling lirik.
"Si Fadlan kan punya mobil, suruh dia bawa sendiri. Kalau perlu suruh si Rania nyetir biar lahirannya lancar," ujar ustadz Usman.
"Man kau yang nyetir mobilnya si Fadlan, aku yakin putraku itu gak akan fokus nyetir mobil saat istrinya meringis kesakitan."
"Meringis bagaimana, itu gak lihat dari tadi si Rania lagi senyam senyum, yang meringis itu putramu, tuh lihat di Fadlan lagi megangin perutnya." jawab ustadz Usman.
Mereka berdua pun langsung turun menghampiri.
"Ayo naik mobil, biar kak Soleh yang nyetir," pinta ustadz Usman pada Rania, Fadlan, Sarah dan Dokter Husna.
"Fadlan, kenapa kau meringis begitu?" tanya ustadz Soleh.
"Mules Bi."
"Kalau mules sana ke kamar mandi."
__ADS_1
Fadlan malah menggeleng.
"Tadi udah ke kamar mandi, tapi ini mulesnya rada beda, bukan mules ke kamar mandi." ujar Fadlan. Ustadz Soleh sudah mengernyit heran.
Akhirnya mereka semua naik mobil. Ustadz Soleh sudah membawa mobil Fadlan dan ustadz Usman membawa mobil ustadz Soleh yang isinya para ustadz.
Dua mobil itu melaju keluar pesantren, saat melewati gerbang. Ustadz Soleh sempat berhenti lalu memerintahkan Yudi untuk mengajak Zidan menyusul.
"Yud, takut Zidan nyariin, bilangin uminya mau ke rumah sakit, nanti kau temani suruh nyusul." pinta ustadz Soleh.
"Siap ustadz Soleh."
"Hei kembar Siam. Kalau ada istriku atau si Aisyah suruh nyusul ke rumah sakit." pinta ustadz Usman.
"Siap ustadz Usman."
Kembali dua mobil itu melanjutkan perjalanan. Ustadz Soleh sudah merasa heran sendiri melihat Fadlan sepanjang perjalanan meringis kesakitan, perutnya terasa mulas, sementara Rania terlihat begitu santai.
Sesampainya di rumah sakit. Seorang perawat sigap membawa brankar dorong. Dokter Husna dan Sarah sudah membantu Rania untuk naik. Kini Rania sudah berbaring di brankar dorong. Saat mau masuk, Fadlan tidak kuat untuk berjalan.
"Ayo Fadlan, kita antar istrimu ke ruang persalinan." ajak ustadz Soleh.
"Aduh Abi, aku gak kuat jalan, perutku sakit." Fadlan masih saja meringis.
"Panggil lagi perawat, suruh bawa brankar dorong satu lagi, bilangin, suami istri mau melahirkan." ustadz Usman kembali bicara hingga satu cubitan mendarat ditangannya.
"Mingkem Man."
"Tidak usah panggil perawat, biar aku saja yang jalan, dan mas Suami yang didorong." ujar Rania yang kini sudah turun dari brankar. Semua sudah saling lirik.
"Kau yakin Rania? Air ketuban mu sudah keluar, kau harus segera masuk." ujar Dokter Husna khawatir.
"Santai Bu santai, aku masih kuat untuk jalan, itu mas Suami kasihan. Aku gak mau jadi istri durhaka."
Dan akhirnya meskipun ada drama sedikit, Fadlan kini sudah di dorong menuju kedalam dan Rania berjalan santai masuk.
"Aneh bin ajaib, begitulah keponakanku." (Ustadz Usman).
Fadil sudah mendaftar hingga Rania sigap dibawa ke ruang persalinan. Semua orang yang ada di rumah sakit merasa heran karena Rania yang mau melahirkan tapi berjalan, sementara Fadlan sudah didorong.
Ustadz Usman sempat berbisik pada kakaknya.
"Kalau si Rania dibawa ke ruang persalinan, maka sebaiknya putramu dibawa ke ruang operasi biar sifat pemalu nya sembuh."
Ustadz Soleh sudah menyipitkan matanya.
__ADS_1
"Kau saja yang ke ruang operasi, suruh Dokter untuk mengoperasikan otakmu biar gak bergeser"