
Masih dihari yang sama. Seperti biasa acara resepsi diadakan di plataran pesantren. Fadlan dan Rania sudah duduk di singgasana pengantin. Fadlan sudah menunduk menahan malu ketika banyak tamu berdatangan, terutama banyak para ibu-ibu yang kondangan dan menatap kedua mempelai.
Melihat suaminya yang terus menunduk, Rania mulai gemas.
"Mas Suami, jangan nunduk terus, perasaan mas Suami gak pake kalung yang bandulnya batu bata deh. Nanti kalau pas ada perempuan baru mas Suami boleh nunduk, kalau perlu tengkurep sekalian, soalnya aku orangnya rada cemburuan." ujar Rania.
Fadlan hanya tersenyum, padahal sedari tadi ia merasa geli sendiri mendengar Rania memanggilnya dengan mas Suami. Berasa ada yang aneh mendengarnya, namun ia tak bisa memprotes, sudah pasti istrinya itu akan mengeluarkan sejuta kata untuk memprotesnya balik.
Ustadz Soleh dan Sarah sudah mendekati putra dan menantunya itu untuk berpoto sebagai kenangan, tak lupa juga mengajak Pipit dan juga Zidan.
"Ayo Abi mertua, sama umi mertua kita Poto bareng biar jadi kenangan terindah." ujar Rania yang kini juga memanggil Dokter Husna untuk ikutan dipoto.
Melihat Pipit berpoto dengan keluarganya, tiba-tiba Yura menangis.
"Huaaaaaa."
Semua yang ada disana ikut terkejut, terlebih Zahira yang kini mencoba menenangkan putrinya.
"Yura sayang kenapa menangis?, Yura dipelototin om ustadz ya." tuduh Zahira.
Mendengar itu ustadz Usman langsung mengernyit.
"Eh selebor, suka sembarangan kalau ngomong."
"Yura kenapa sayang?" kali ini Yusuf yang bertanya.
"Si Pipit punya ibu baru aku gak punya." jawab Yura sambil sesegukan. Yusuf yang mendengar pun langsung menganga, terlebih Zahira.
"Kak Yusuf, demi menyenangkan hatiku, kumohon kak Yusuf pura-pura gak ngerti ya sama ucapannya putri kita." ujar Zahira.
Yusuf sudah mengangguk tersenyum.
"Lama-lama aku nangis kejejeran inamah. Oh Yura sayang plis jangan ngomong itu lagi. Kata-kata itu bagaikan bola api yang ditendang ke kepala mommy. Panas sekali." batin Zahira.
"Tuh Suf denger gak keinginan si Yura, dia pengen punya ibu baru, mumpung dapet lampu ijo dari putrimu, manfaatkan kesempatan yang ada." ujar ustadz Usman sengaja menggoda Zahira yang kini sudah terlihat menggeram kesal.
"Om ustadz, kalau aku lagi cemburu, mendadak keringatku berasa kaya lahar panas, jangan sampai om ustadz kecipratan panasnya ya." ujar Zahira kesal.
__ADS_1
"Bercanda doang Ira."
Fadil dan Fadli sudah ikut berpoto, termasuk juga Adam. Semua keluarga nampak bahagia melihat si Duda pemalu kini sudah hijrah status. Setelah sekian lama menduda akhirnya dapat jodoh juga, beruntungnya ia dapat gadis perawan. Tak lupa juga Syakir datang bersama Juwita. Fadil sangat senang dengan kedatangan sahabatnya itu.
"Fadil bagaimana keadaannya si Beky?" tanya Syakir hingga Fadil langsung mengernyit.
"Kenapa kau lebih mengkhawatirkan si Beky daripada diriku. Sahabat durjana." ujar Fadil yang kini langsung merangkul Syakir.
Ustadz Usman sudah khawatir melihat sikap keponakannya yang sedari tadi menunduk terus.
"Kasihan sekali si Rania, pasti malam ini dia akan diajak duet mengheningkan cinta oleh si mas Suami. Aku harus berbuat sesuatu nih." batin ustadz Usman.
Ketika para undangan satu persatu meninggalkan acara yang kini hanya menyisakan penghuni pesantren yang kalau diabsen sudah pasti BE JI BUN. Sarah, Ustadz Soleh, ustadz Usman, Nisa, Fadli, Fadil, Syifa, Silmi, Faris, Aisyah, Riziq, Hawa, AL, Adam, Cahaya, Anum, Athar, Anisa, Ibra, Zahira, Yusuf, ustadz Azam, ustadzah Ulfi, ustadz Rasyid, ustadzah Yasmin, Yudi, Yuda, Dewi dan penghuni yang lainnya.
Ustadz Usman sudah bicara menggunakan mik untuk mengumumkan sesuatu.
"Pengumuman untuk para penghuni pesantren terutama di luar lingkungan asrama santri. Untuk malam ini dan seminggu kedepan, demi keamanan dan kenyamanan pengantin baru yang pemalu ini, sehabis shalat isya kita akan mengadakan imigrasi dari Bumi ke Bulan agar sang pengantin baru tidak terganggu aktifitasnya. Sehabis isya akan kubagikan tiket menuju bulan." tutur ustadz Usman.
"Kakakku sedang kumat." bisik Aisyah pada Riziq.
"Sudah tidak aneh." balas Riziq.
"Ira, untukmu dan Yusuf aku sudah sediakan tempat spesial lain dari yang lain. Kau dan Yusuf akan ku kirim ke planet Pluto, biar kalian berdua aman tidak ada yang mengganggu. Alien saja pasti kabur melihatmu." tutur ustadz Usman. Zahira malah cemberut.
"Om ustadz sentimen deh ikh."
Mendengar ocehan adiknya itu, Ustadz Soleh sudah mencubit lengan adiknya.
"Man, bicara apa kau ini, jangan membuat kegilaan yang membuat orang geleng kepala." gerutu ustadz Soleh.
"Ssstth, kak Soleh, kau tidak lupa sesuatu kan jika putramu itu punya penyakit pemalu stadium tiga. Mendengar suara tikus saja nanti dikiranya pasti ada yang ngintip, jadi ketika para penghuni pesantren pergi semua, mereka bebas ngapain saja di bumi. Anggap saja satu Minggu kedepan Bumi sudah dibooking si Fadlan sama si Rania. Nanti seminggu kedepan kita ngontrak dulu di bulan." tutur ustadz Usman.
"Kak Soleh, segera panggil Dokter Husna, sepertinya kak Usman mulai kumat." Aisyah kini tertawa.
"Hei Aisyah, aku hanya ingin menyelamatkan keponakan kita yang pemalu itu."
"Emangnya kita ke bulannya mau naik apa?"
__ADS_1
"Tentu saja naik si Beky." jawab ustadz Usman yang kini berhasil membuat Fadil mengernyit kan keningnya.
"Idiiiiiih."
"Si Fadlan nikah, mendadak kita jadi astronot semua."
Mendengar perdebatan mereka, Rania langsung tersenyum sambil menatap Fadlan.
"Mas Suami, seneng deh melihat mereka. Saking perhatiannya pada kita, dan tidak mau mengganggu bulan madu kita, mereka bela-belain mau ngontrak di bulan. Untuk menghargai perhatian mereka, kumohon nanti malam mas Suami jangan mengheningkan cipta ya. Lebih aktif lagi ya mas. Jangan buat pengorbanan mereka jadi sia-sia." ujar Rania menahan tawanya. Fadlan hanya tersenyum malu.
Sebenarnya Rania sudah khawatir takut nanti malam Fadlan hanya diam merasa malu hingga akhirnya melewatkan malam pertama dengan mengheningkan cipta.
Ustadz Usman sudah menarik tangannya Fadlan sedikit menjauh dari Rania.
"Kenapa Om?"
"Mau ngasih tips biar nanti malam gak malu, canggung dan gerogi." ujar ustadz Usman.
"Caranya Om?" tanya Fadlan dengan antusias nya.
"Tidur. Nyampe kamar kau langsung tidur, pasti ketika kau tidur kau tidak akan merasa malu, canggung apalagi gerogi."
Fadlan hanya mengernyit mendengar ucapan om nya itu.
"Itu sih namanya bunuh diri. Nanti bisa-bisa Rania marah padaku karena ditinggal tidur."
Ustadz Usman malah tertawa, sebenarnya ia hanya menggoda Fadlan saja. Ustadz Usman pun membisikan sesuatu pada keponakannya itu.
"✓✓✓✓✓✓✓✓✓" (Ustadz Usman).
Fadlan mengangguk, namun pipinya sudah memerah. Setelah bicara pada Fadlan, kini ustadz Usman mendekati Rania.
"Cuma mengingatkan saja Rania. Untuk nanti malam hati-hati ya, ada yang mau buka puasa setelah lima tahun." ustadz Usman kini langsung pergi.
Setelah kakaknya itu pergi, barulah Aisyah mendekati Rania.
"Tenang Rania, jangan takut jika nanti malam Fadlan akan mengajakmu mengheningkan cipta. Jika suamimu lelaki pemalu yang sangat parah, kau tidak perlu cemas, karena ketika dia melihat aurat istrinya, sudah pasti rasa malunya minggat dan hasratnya datang tak dijemput pulang tak diantar. Tidak masalah jika nanti malam kau menggodanya lebih dulu, biarkan dia bereaksi dengan sendirinya." tutur Aisyah yang kini langsung pergi.
__ADS_1
Rania sudah menggaruk kepalanya.