
Masih dengan si pengantin baru yang sebelumnya terjadi drama berdarah. Rania sudah merasa bersalah telah menginjak kaki suaminya hingga terluka.
"Sebentar ya mas, aku ambilkan obat merah dulu untuk mengobati kakinya." ujar Rania yang kini hendak pergi mengambil kotak obat yang ada di ruang tengah. Seketika Fadlan langsung melarang.
"Jangan, biar mas saja yang ambil, takutnya ada Zidan diluar, dia bisa pingsan melihatmu memakai baju seperti itu."
Rania langsung menatap penampilannya sendiri.
"Iya, aku sudah seperti aktris pemain film porno." ujar Rania malu.
Namun Rania tidak mau Fadlan keluar dengan kaki yang masih sakit, akhirnya ia menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya baru ia pergi keluar untuk mengambil kotak obat.
Ketika berhasil mengambil kotak obat, tidak disangka Zidan keluar lagi dari kamarnya, ia heran melihat Rania menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Umi kenapa pake selimut begitu?" tanya Zidan. Rania langsung nyengir.
"Malam ini umi cantik kedinginan. Kau sendiri kenapa jam segini belum tidur?"
"Haus umi, mau ngambil minum."
Rania pun mengangguk ngangguk.
"Habis minum langsung tidur ya, soalnya ini sudah malam."
"Iya Mi."
"Kuharap si Zidan menurut untuk tidur, karena kalau setengah jam lagi dia belum tidur, takutnya mode khilaf ku keluar, kalau aku sudah dalam mode khilaf, pasti sekarang juga aku lari ke klinik terus ngambil obat tidur." Batin Rania.
Setelah mengambil kotak obat, Rania kembali ke kamar dan mengobati kakinya Fadlan. Setelah mengobatinya Rania menaruh obat merah itu dimeja.
"Mas suami, jngan ngadu sama Abi dan umi mertua ya, takutnya aku di skorsing jadi menantu." pinta Rania. Fadlan mengangguk tersenyum.
"Sebagai permintaan maaf, aku siap dihukum disini." Rania sudah menepuk tempat tidurnya. Fadlan yang melihat pun tersenyum malu.
"Ayo mas suami, segera kita mulai nyari pahalanya, nanti takut kesiangan. Nanti kalau kita kesiangan, takutnya si Pipit gedor-gedor pintu minta masuk" Rania sudah memberi kode. Kembali Fadlan tersenyum malu. Mereka sudah saling berhadapan. Fadlan sudah membacakan doa terlebih dahulu sebelum mereka melakukan hubungan suami istri.
"Duh ko aku jadi ikutan deg-degan begini sih, jangan-jangan apa yang terjadi dengan mas Suami sekarang nyetrum binti Nular padaku." batin Rania.
Setelah membacakan do'a, Fadlan kembali menunduk, ia benar-benar gerogi dan salah tingkah, apalagi rasa malunya terus menempel. Rania sudah mengerucutkan bibirnya.
"Diiih si mas Suami kebiasaan deh, malah mau ngajakin aku mengheningkan cipta. Kayanya kata-kata Tante Aisyah harus dipake deh, gak apa-apa katanya kalau aku menggoda lebih dulu."
__ADS_1
Karena tidak mau ada drama mengheningkan cipta, akhirnya Rania berusaha untuk menggoda Fadlan, ia kini mendekat pada Fadlan dan duduk di pangkuannya, tak lupa tangannya dikalungkan pada si mantan Duda pemalu itu. Melihat itu Fadlan semakin deg-degan, apalagi saat Rania mengecup kilat bibirnya.
Cup.
Bukan lelaki namanya kalau tidak ada respon diperlakukan seperti itu, tentunya Fadlan langsung bereaksi, ia meskipun pemalu tapi dia lelaki normal. Seketika Fadlan langsung membalikan posisi hingga berhasil menguasai istrinya.
"Benar kata Tante Aisyah, meskipun punya penyakit pemalu, tapi kalau mas Suami disuguhkan pemandangan yang menyilaukan mata, sudah pasti rasa malunya minggat tanpa pamit dan nafsunya datang tak dijemput pulang tak diantar." Batin Rania.
Ketika Fadlan menguasai posisi, Rania mencoba mengingatkan.
"Mas Suami, aku tau mas Suami itu mau buka puasa setelah lima tahun, tapi ingat ya mas, aku ini masih perawan, jadi mainnya jangan gerasak gerusuk." pinta Rania. Fadlan pun tersenyum.
Fadlan sempat menatap wajah istrinya yang cantik, apalagi melihat warna mata Rania yang berbeda dari yang lain menjadi daya tarik tersendiri baginya. Tanpa berbasa-basi, Fadlan mendekatkan diri dan mencium istrinya. Tentunya Rania pasrah.
Malam ini mereka menjalankan kewajibannya sebagai sepasang suami istri, mencari banyak pahala dimalam pengantin.
Setelah selesai mengadakan drama malam pengantin, Fadlan tersenyum ketika melihat Rania malu-malu sambil menutupi tubuhnya dengan selimut. Fadlan kembali tersenyum ketika melihat ada bercak darah di seprei nya.
Rania sudah menutup wajahnya dengan kedua tangannya, ia merasa malu dengan kejadian barusan, apalagi mengingat ia menjambak-jambak rambutnya Fadlan.
"Kenapa?" tanya Fadlan yang tau kalau istrinya sedang malu.
"Aku malu mas."
Pagi-pagi sekali ketika Fadlan hendak bangun untuk bersiap membersihkan diri dan melaksanakan shalat subuh, ia pun menggeliat, namun saat mau bangun ia menyadari jika kini Rania sedang memeluknya, lengkap dengan kakinya yang juga ikut melingkar ke tubuhnya. Perlahan Fadlan mencoba untuk melepaskan pelukannya Rania agar ia bisa pergi ke kamar mandi, namun nyatanya Rania malah mengeratkan pelukannya hingga Fadlan langsung melotot, ada sesuatu yang terjadi.
Deg deg deg.
Fadlan menatap istrinya yang masih terlelap sambil memeluknya. Ia terus memandangi istrinya sambil tersenyum, memandangi kecantikan wajah blasteran itu. Semalam ia menyentuh Rania dengan hati-hati karena ia tau istrinya itu masih perawan, apalagi Rania sudah memperingatkan nya agar tidak gerasak gerusuk. Perlahan Fadlan mendekati kemudian ia mencium dengan lembut hingga istrinya itu terbangun.
"Mas Suami sudah bangun."
Rania hendak bangun namun Fadlan menahannya.
"Apa mas?"
Malu-malu Fadlan berbisik.
"~~~~~" (Fadlan).
Rania sudah tersenyum malu ketika mendengar arti bisikan dari si mantan Duda pemalu itu.
__ADS_1
"Cieee ada yang minta nambah setelah lima tahun berpuasa."
***
Ketika Fadlan dan Zidan pulang dari masjid setelah mengerjakan shalat subuh, Fadlan langsung mencari keberadaan istrinya, dilihatnya Rania sedang menyiapkan sarapan untuk suami dan putra putrinya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
Zidan sudah masuk kamarnya, sementara Pipit masih berdandan di kamarnya. Rania tersenyum melihat kedatangan suaminya, ia mencium tangannya Fadlan, lalu mendekatkan keningnya, tentunya Fadlan mengerti dan langsung mencium keningnya Rania.
"Paspor nya mana mas?" tanya Rania.
Malu-malu Fadlan membisikan kata cinta.
"I LOVE YOU Rania."
"I love you to mas Suami.... Tapi nyium nya jangan cuma di kening doang, disini juga perlu." Rania mengetuk bibirnya hingga Fadlan menunduk malu.
"Takut anak-anak lihat."
"Anak-anak masih di kamar, cuma sebentar doang ko gak lama, durasinya 30 menit sepertinya cukup." ujar Rania hingga Fadlan langsung menganga.
"Astaghfirullah."
Rania sedikit berlari menuju kamar Zidan dan kamarnya Pipit, ia mengunci pintu dua kamar itu dari luar.
"Maafin Umi ya, cuma sebentar doang."
Rania merasa gemas melihat reaksi suaminya. Tak pikir panjang ia langsung memeluk pinggangnya Fadlan. Sambil celingak-celinguk Fadlan akhirnya mencium Rania, namun ketika mendengar suara pintu digedor gedor dari kedua pintu kamar anaknya.
BRUG BRUGH BRUGH.
"Abi buka pintunya." teriak Pipit.
"Bi, pintunya gak bisa dibuka." teriak Zidan.
Mereka berdua langsung melepaskan diri. Rania berlari dan membuka kedua pintu kamar anak-anaknya.
"Umi cantik ko pintunya gak bisa dibuka sih?"
__ADS_1
"Mungkin itu faktor alam sayang, ayo kita sarapan, umi sudah masak nasi goreng sama telor ceplok segi tiga."
Rania juga mengajak Zidan untuk sarapan, akhirnya mereka berempat pun sarapan bersama, itu pertama kalinya mereka sarapan bareng.