Si Duda Pemalu

Si Duda Pemalu
Hilang


__ADS_3

Malam itu Rania memberi pesan pada Fadlan, kebetulan Fadlan sudah beristirahat di rumahnya. Pipit dan Zidan pun sudah tidur. Rania ingin menyapa sekaligus menggoda si Duda.


:Assalamualaikum mas Duda pemalu.: (Rania).


Fadlan sudah membuka pesan itu, namun ia mendadak malu dan takut untuk membalasnya, hingga ia menjawab salamnya diam-diam.


Kembali Rania memberikan pesan.


:Kapan kita kencan?: (Rania).


Kali ini Fadlan membalasnya.


:Kita tidak akan kencan: (Fadlan).


:Aku tidak mau tau, pokoknya kita harus kencan. Kali ini aku maksa ya mas Duda: (Rania).


Fadlan sudah mengernyit namun bibirnya tersenyum.


:Mas Duda, I LOVE YOU: (Rania).


Fadlan sudah tersenyum, baru kali ini ada perempuan yang menyukainya seperti Rania yang suka maksa.


:Balas dong mas Duda. Ketik I LOVE YOU TO. Kalau mas Duda gak bisa balas karena malu, suruh ustadz Soleh untuk membalasnya, atau kalau perlu suruh saja jarinya ustadz Usman yang mengetik i love you to: (Rania).


Fadlan malah membalasnya dengan emot tidur hingga Rania membalasnya.


:Jadi mas Duda sudah tidur ya, kalau begitu aku temani dari sini ya: (Rania).


Lama sekali Rania menunggu pesan balasan dari si Duda pemalu itu. Setelah 30 menit menunggu tiba-tiba ada nada pesan berbunyi.


Tring Tring Tring.


Rania tersenyum dan langsung membuka pesan itu dengan semangat 45, tiba-tiba ia terkejut, rupanya itu pesan bukan dari Fadlan melainkan dari pak Beno si rentenir tua.


DEG.


DEG.


DEG.


Rania sudah deg-degan gak karuan. Ada rasa takut saat ia membuka pesan itu.


:Apa kabar Rania cantik. Kau tidak melupakan kewajiban mu kan untuk membayar hutang, waktumu tinggal sebentar lagi. Jadi sudah kau siapkan uangnya, atau kau sudah siapkan mental mu untuk jadi istri ketiga ku: (Pak Beno).


Rania tidak membalasnya, ia tiba-tiba merasa ketakutan. Bukannya ia tidak mau membayar hutang, hanya saja ia belum mempunyai uang. Ia sudah kesana sini mencari pekerjaan, namun hasilnya nihil. Rania juga takut jika dirinya tidak membayar hutang, ia akan dipaksa dinikahi pak Beno, lalu bagaimana dengan perasaan nya terhadap Fadlan. Rania dibuat kebingungan sendiri.


"Ya Allah, tolong Hambamu ini."


***


Keesokan harinya, saat Rania sedang lari pagi. Ia sudah duduk melamun ditepi perkebunan. Sekarang hatinya mulai bingung dan gelisah. Waktu yang ditentukan sudah hampir tiba. Matanya sudah berkaca kaca, jika ia terpaksa harus menikah dengan pak Beno, Rania tidak mau sampai melupakan si Duda pemalu itu.


Dari kejauhan Zidan dan Pipit sedang berjalan berdua pulang menuju rumahnya. Zidan sudah berjalan didepan, sementara Pipit berjalan dibelakang. Dari sepanjang perjalanan, Zidan sudah banyak bercerita ini dan itu, tentunya berbicara tentang sepak bola kesukaannya, Pipit mulai malas mendengarnya. Ketika Pipit melihat ada Rania sedang duduk sendirian ditepi perkebunan, ia tersenyum dan langsung pergi berbelok mendekati Rania tanpa sepengetahuan Zidan.


"Ada Tante cantik."


Zidan terus saja berbicara sambil berjalan, ia tidak tau kalau adiknya berbelok arah.

__ADS_1


"Tante cantik."


Panggil Pipit.


Mendengar suara Pipit, segera Rania menyeka air matanya dan tersenyum menatap Pipit.


"Pipit ko ada disini?"


"Tadi habis pergi sama kak Zidan."


Rania tersenyum dan mengajak Pipit duduk berdua. Mereka duduk sambil menatap jauh ke arah perkebunan.


"Anak ini manis juga, sepertinya sangat menyenangkan jika aku jadi ibu sambungnya." Batin Rania.


Mereka pun asik mengobrol dan bercanda, dan lupa kalau Pipit tidak izin menemui Rania.


"Sudah siang, Tante Rania harus pulang, mau bantu ibu di klinik. Pipit pulang ya, nanti Tante Rania anterin." Ujar Rania. Pipit malah menggelengkan. Rania langsung mengernyit heran.


"Kenapa?"


"Aku mau bersama Tante Rania. Aku mau ikut ke klinik." Pinta Pipit.


"Nanti Abinya Pipit nyariin loh."


"Abi sedang ada urusan sama Mbah Soleh, ada tamu di rumahnya Mbah Soleh. Kak Zidan juga terlalu sibuk dengan sepak bolanya. Hari ini nenek Sarah juga ada pengajian, jadi aku mau ikut Tante Rania saja ke klinik." Tutur Pipit.


"Tapi nanti kak Zidan nyariin Pipit."


"Mereka gak akan nyariin, kak Zidan juga sibuk sama pertandingan sepak bola nya, ayo Tante kita ke klinik." Ajak Pipit sambil menarik-narik tangannya Rania. Rania pun pasrah dan mengajak Pipit ke klinik. Awalnya Rania ingin menghubungi Fadlan jika Pipit sedang bersamanya, namun sesampainya di klinik, Rania lupa untuk menghubungi Fadlan.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


Fadlan terdiam karena Zidan pulang sendirian, karena waktu pergi ia bersama dengan Pipit.


"Zidan Pipit nya mana?"


"Pipit ada dibelakang."


Namun saat Zidan menengok ke belakang, ia pun mengernyit karena adiknya itu tidak ada.


"Kemana si Pipit???"


"Zidan Pipit mana?" Fadlan kembali bertanya.


"Tadi dia berjalan dibelakang, tapi ko sekarang dia gak ada."


Semua langsung mengernyit heran.


"Apa maksudnya si Pipit gak ada. Sekarang juga kau cari adikmu itu, suruh pulang." Pinta Fadlan. Zidan pun mengangguk dan langsung balik lagi mencari Pipit.


"Pasti deh si Pipit tadi di jalan ketemu cs nya si Yura, makanya dia diam-diam ikut si Yura pergi. Awas saja kalau dia pergi bersama si Yura gak bilang-bilang, akan ku cubit giginya yang sering sakit itu." Batin Zidan menggerutu.


Fadlan, ustadz Usman, ustadz Soleh dan Riziq masih mengobrol dan membicarakan sesuatu. Mereka terdiam melihat Zidan datang sambil tergesa. Fadlan tiba-tiba merasa khawatir.


"Zidan, mana adikmu?"

__ADS_1


"Maaf Abi, aku sudah mencari Pipit, tapi dia tidak ada. Apa mungkin si pipit ada yang nyulik ya?" Ujar Zidan.


Semua nampak terkejut, apalagi dengan Fadlan yang sudah khawatir dan takut terjadi apa-apa dengan putri bungsunya itu.


"Hilang bagaimana, bukankah Abi menyuruh mu untuk menjaga adikmu." Fadlan mulai menggerutu.


"Coba kau ceritakan bagaimana Pipit bisa hilang?" Tanya ustadz Soleh. Zidan mulai mengingat ngingat.


"Sebaiknya, sekarang kita cari Pipit saja." Ujar Riziq.


Akhirnya mereka berpencar mencari Pipit. Hati Fadlan sudah diselimuti kegelisahan yang nyata.


Ustadz Usman sudah berjalan menuju masjid besar pesantren, ia ingin mengumumkan kalau Pipit hilang, namun belum juga sampai di masjid, ia sudah bertemu dengan Zahira dan Aisyah.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


"Om ustadz mau kemana, mukanya serius pake banget, sudah seperti orang yang mau nagih hutang." Ujar Zahira.


"Ada apa kak, sepertinya ada sesuatu yang genting." Ujar Aisyah. Ustadz Usman langsung menjawabnya dengan pantun.


"BURUNG PIPIT, BURUNG KUTILANG,,,,,


SI PIPIT HILANG." ujar ustadz Usman.


Aisyah dan Zahira pun terkejut.


"BURUNG PIPIT, BURUNG KUTILANG HINGGAP DI CELANA.


Si Pipit hilang dimana?" Tanya Zahira.


"Pipit hilang????"


"Sepertinya dia diculik." Ujar ustadz Usman.


Zahira sudah menganga.


"Terulang kembali kejadian penghinaan untukku. Kenapa harus Pipit bocah baru netes yang harus diculik, kenapa bukan aku saja yang diculik, bukankah aku lebih cantik mempesona dibandingkan dengan si Pipit yang cantiknya belum kelihatan. Apa jangan-jangan Pipit diculik karena mau dijual ke luar negeri." Tutur Zahira.


"Husss, jangan sembarangan kau bicara." Ujar Aisyah.


"Emangnya si Pipit beneran diculik?"


"Belum tau juga sih. Tadi katanya jalan berdua sama si Zidan, pas dilihat kebelakang si pipit nya gak ada."


"Wah kalau ceritanya seperti itu sih pasti si Pipit diculik makhluk halus, siapa tau dia diculik Wewe gombel." Ujar Zahira.


"Ira, kalau bicara jangan suka sembarangan." Gerutu Aisyah.


"Ya siapa tau saja kak itu kan si Fadlan lagi nyari janda, takutnya ada Wewe gombel yang mau daftar, dia menggunakan Pipit untuk pendekatan." ujar Zahira.


"Aisyah, sekarang juga kau lari ke warungnya Bi Ratna, beli mama lem*n buat mencuci otak adik iparmu ini, sepertinya dia sedang kumat." ujar ustadz Usman.


"Ikh om ustadz kalau bicara suka sembarangan deh."


"Ssssttthh. Aku mau ke masjid dulu, mau buat pengumuman. Aisyah, bilang pada menantumu (AL) untuk membantu mencari keberadaan si Pipit."

__ADS_1


__ADS_2