Si Duda Pemalu

Si Duda Pemalu
Kecewa


__ADS_3

Masih dengan Fadlan yang kini berdiri di jembatan untuk menunggu kedatangan Rania, ia ingin mendengar penjelasannya kenapa pak Beno mengatakan jika dirinya adalah calon suaminya Rania.


Fadlan sudah tidak sabar menunggu Rania, namun nyatanya yang datang menemuinya malah Pak Beno.


"Kau pasti ingin bertanya tanya tentang siapa diriku kan!" Ujar Pak Beno yang kini mendekati Fadlan.


"Siapa bapak sebenarnya, kenapa bapak mengaku sebagai calon suaminya Rania?"


Fadlan masih penasaran, alasan apa pak Beno sampai berkata seperti itu.


Pak Beno sudah tersenyum sinis.


"Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya adalah calon suaminya Rania dari Jakarta. Kau pasti ingin tau bagaimana ceritanya saya bisa jadi calon suaminya Rania. Baiklah jika kau ingin mendengar penjelasannya." Tutur pak Beno.


Akhirnya pak Beno menceritakan semuanya, namun ia malah mengarang cerita dan menyudutkan Rania.


"Rania itu mempunyai hutang pada saya sebanyak 5 Milyar."


Mendengar itu Fadlan terkejut, namun ia tak begitu saja percaya pada pak Beno.


"Untuk apa Rania mempunyai hutang sebanyak itu?"


"Jadi dia tidak pernah bercerita tentang dirinya yang terlilit hutang?" Tiba-tiba pak Beno tertawa.


"Dengarkan saya Fadlan. Rania itu meminjam uang pada saya saat ia di Jakarta untuk mengembangkan bisnis cafe nya, ia membangun sebuah cafe mewah di Jakarta, namun sayang, baru-baru ini cafe nya kebakaran. Rania sudah tidak bisa membayar hutangnya. Jatuh temponya satu Minggu lagi, kami sudah buat perjanjian hitam diatas putih, jika dia tidak bisa membayar hutangnya maka dia akan saya jadikan istri ketiga." Tutur pak Beno.

__ADS_1


Mendengar itu Fadlan terkejut. Ia tak menyangka jika Rania mempunyai hutang sebanyak itu, Fadlan juga terkejut karena Rania akan dijadikan istri ketiga.


"Bapak tidak bisa memaksa Rania untuk dijadikan istri ketiga. Rania juga punya pilihan sendiri." Ujar Fadlan.


Tiba-tiba pak Beno tertawa sinis.


"Fadlan,,, Fadlan, aku tau kau ini pria lugu, namun kau jangan bodoh, apalagi mau dibodohi si Rania. Si Rania hanya memanfaatkan mu, dia tidak mencintai mu, dia pura-pura mencintaimu, dia juga pura-pura merubah penampilan nya hanya untuk mencari simpati darimu, dia hanya pura-pura Fadlan. Dia mendekatimu untuk memanfaatkan mu agar dia bisa jadi istrimu, dan dia mau kau membayari semua hutangnya padaku, setelah hutangnya selesai, kau akan ditinggikan nya. Rania tau meskipun kau hidup sederhana tapi kau punya banyak bisnis, apalagi kau ini cucu pertamanya pemilik pesantren, perkebunan keluarga kalian begitu sangat luas, Rania mengincar hartamu. Dia memanfaatkan mu. Kau pikir saja, usiamu itu jauh diatas usianya Rania, apalagi kau ini seorang Duda beranak dua. Rania pasti berpikir ribuan kali untuk mencintaimu, apalagi menjadi istrimu." Tutur pak Beno sengaja memperkeruh suasana.


Fadlan hanya bisa diam, pikirannya mulai kacau. Jika yang dikatakan pak Beno benar, sudah pasti ia marah dan kecewa terhadap Rania. Namun ia ingin mendengar penjelasannya langsung dari Rania meskipun dalam hatinya ia sudah sedikit marah, mungkin Fadlan sudah mulai terpengaruh oleh ucapannya pak Beno.


"Ingat ya Fadlan, kau hanya dimanfaatkan." Ujar pak Beno sambil berlalu pergi.


Hati Fadlan mulai gelisah dan bertanya-tanya, benarkah dengan semua yang dikatakan oleh pak Beno tentang Rania.


"Assalamualaikum mas Duda."


"Waalaikumussalam."


Fadlan menatap Rania yang kini sedang menunduk. Fadlan mulai merasa marah serta kecewa.


"Mas Duda aku mau menjelaskan sesuatu."


"Sebelum kau menjelaskan sesuatu, aku ingin bertanya terlebih dahulu." Ujar Fadlan.


"Apa yang ingin mas Duda tanyakan?"

__ADS_1


"Apa benar kau punya hutang pada pak Beno?" Tanya Fadlan yang kini sudah menatap Rania. Rania hanya bisa diam menunduk, kemudian ia mengangguk membenarkan. Fadlan sudah kecewa bukan main, ia kecewa bukan karena Rania mempunyai hutang, namun Fadlan kecewa jika Rania tidak mencintainya, Rania hanya mau memanfaatkannya saja. Fadlan sudah termakan omongannya pak Beno.


"Jadi benar kau mempunyai hutang 5 M pada pak Beno, dan jika kau tidak bisa melunasinya maka ia akan menjadikanmu istri ketiganya?" Tanya Fadlan kembali. Rania kembali menjawabnya dengan menganggukkan kepalanya.


Fadlan sudah menunduk, ia benar-benar kecewa.


"Apa kau mendekatiku hanya untuk memanfaatkan ku agar aku bisa melunasi semua hutangmu, nanti setelah hutangmu lunas kau akan meninggalkan ku? Meninggalkan anak-anakku?" Tanya Fadlan sambil menahan emosi. Rania yang mendengar pun langsung mengernyit.


"Maksud mas Duda?"


"Kau hanya memanfaatkan ku Rania, kau mendekatiku, menggodaku lalu membuatku jatuh hati padamu, setelah itu kau berniat menguras hartaku agar kau bisa melunasi hutang mu, setelah itu kau pergi meninggalkan ku." Kali ini Fadlan berkata dengan nada kecewa, tentu mendengar itu Rania terkejut.


"Kenapa mas Duda bicara seperti itu. Aku tidak pernah memanfaatkan mu. Aku mencintaimu dengan tulus. Maaf sebelumnya kalau aku tidak jujur sebelumnya kalau aku terlilit hutang pada rentenir. Yang dikatakan pak Beno memang benar jika aku punya hutang 5 milyar, dan jika aku tidak bisa melunasinya dalam waktu tiga bulan maka pak Beno akan menjadikanku istri ketiganya, baru hutangnya dianggap lunas. Tapi demi Allah aku tidak pernah ada niat untuk mempermainkan mu, apalagi memanfaatkan mu untuk melunasi semua hutangku. Itu bohong mas Duda, kau sudah terhasut oleh ucapannya pak Beno." Tutur Rania menjelaskan. Fadlan hanya diam menunduk, ia benar-benar terhasut oleh ucapannya pak Beno, ia bingung harus percaya pada siapa, semuanya terlalu mendadak untuk ia ketahui.


"Maaf Rania, sepertinya aku butuh sendiri." Ujar Fadlan yang kini hendak pergi, namun Rania mencoba menghalanginya.


"Dengarkan penjelasan ku dulu mas Duda. Demi Allah percayalah aku tidak memanfaatkan mu. Aku tulus mencintaimu, aku juga tulus mencintai putra putrimu." Ujar Rania.


"Aku butuh sendiri Rania, biarkan aku pergi, kita bicarakan masalah ini nanti. Assalamualaikum." Fadlan pamit meninggalkan Rania.


"Waalaikumussalam."


Rania menangis seketika itu pula. Iya tidak menyangka jika kejadiannya akan seperti ini, ia pun tidak menyangka jika pak Beno akan datang dan merusak semuanya, padahal sebelum pak Beno datang kemari, dua sejoli itu sedang berbahagia karena akan melangsungkan lamaran nanti malam. Namun kejadiannya malah seperti ini, Rania ragu jika nanti malam Fadlan akan datang untuk melamarnya. Si Duda pemalu itu sudah termakan fitnahnya pak Beno.


"Maafkan aku mas Duda, maaf kalau sebelumnya aku tidak jujur padamu tentang hutangku pada pak Beno, tapi jujur, aku tidak mempermainkan mu, apalagi mempermainkan perasaan mu. Andai saja aku jujur dari awal, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Ya Allah berilah Hambamu ini pertolongan"

__ADS_1


__ADS_2