
Masih dengan Rania yang kini sudah berjalan menuju masjid bersama Dokter Husna, Zahira, Yura serta Yudi dan Yuda. Dalam perjalanan Zahira sudah cemberut mengingat keinginan putrinya yang ingin punya ibu baru.
Sesampainya di masjid, rupanya rombongannya Fadlan belum sampai, sementara pak penghulu sudah datang dan sedang mengobrol bersama Ibra dan Athar.
Rania duduk bersama Dokter Husna ditemani si ratu narsis Zahira dan putrinya Yura.
"Ikh ko si mas Duda belum Dateng sih, harusnya dia dari subuh sudah sampai sini untuk membuktikan keseriusan nya padaku. Tapi tidak masalah sih, mungkin si Duda pemalu itu lagi dandan biar terlihat tampan hari ini." batin Rania.
Tidak lama kemudian rombongannya Fadlan datang dan langsung masuk ke masjid. Mata Fadlan langsung menatap Rania yang kini sudah tersenyum padanya. Fadlan langsung menunduk malu, ia akui hari ini si perempuan blasteran itu terlihat begitu cantik dan anggun dengan balutan baju pengantin yang nampak elegan.
"Cantik."
Rania sudah malu-malu melihat calon suaminya datang. Ustadz Soleh sudah mengajak putranya untuk duduk dihadapan penghulu dan walinya Rania.
Deg.
Deg.
Deg.
Fadlan tiba-tiba deg-degan ketika berhadapan dengan pak penghulu, ia mulai dilema kembali dengan nama ayahnya Rania yang menurutnya sangat sulit untuk diucapkan.
"Manfredo Roberto Nandor."
Fadlan mulai mengingat-ingat takutnya pas ijab Kabul ia salah sebut. Ustadz Usman yang melihat jika keponakannya itu kini pasti sedang deg-degan dan juga gerogi.
"Duh pasti ini keponakan ku lagi deg-degan gak karuan deh. Jangan-jangan dia masih belum hafal nama ayahnya si Rania."
Sebelum acara di mulai, Ustadz Usman pun mendekati Fadlan terlebih dahulu.
"Jangan gerogi, santai saja santai. Dan satu lagi jangan buat malu, apalagi mengheningkan cipta didepan penghulu." bisik ustadz Usman. Fadlan hanya mengangguk saja, padahal sedari tadi ia sudah berdo'a untuk kelancaran pernikahannya.
Pipit dan Zidan sudah tidak sabar ingin abinya segera sah bersama Rania.
Baru saja mau memulai acara, Fadlan sudah berkeringat. Grogi bercampur malu sudah datang tanpa diundang. Ustadz Usman sudah geleng-geleng kepala.
"Hadeuuuh keponakanku. Belum apa-apa sudah keringetan begitu, padahal kalau mau berkeringat itu nanti malam saja, jangan sekarang." batin ustadz Usman.
Ustadz Usman sudah berbisik pada Zidan.
"Zidan, Carikan kanebo untuk Abi mu, kalau tidak ada kanebo handuk pun jadi, kalau perlu kau cari bedcover, itu abimu sudah keringetan, butuh kain untuk ngelap."
"Gak ada kanebo, handuk maupun badcover. Pake sorban Mbah Usman saja." bisik Zidan.
"Sembarangan."
"Duh deg degan deh, itu si mas Duda udah keringetan begitu. Sabar ya mas Duda, untuk saat ini aku kasih tisu, nanti kalau sudah sah, aku lap pake tanganku sendiri." batin Rania.
Ketika melihat calon suaminya berkeringat, Rania langsung mengambil tisu yang sengaja ia bawa dan diberikannya pada Pipit.
"Pit, berikan pada abimu, buat ngelap keringat di dahinya." bisik Rania. Pipit mengangguk dan bergegas memberikan tisu itu pada Fadlan.
"terimakasih sayang."
__ADS_1
Pipit kembali duduk didekat Rania.
"Tisu gak akan cukup untuk menampung keringat keponakanku yang lagi gerogi plus malu itu. Kanebo oh kanebo, keponakanku membutuhkanmu." batin ustadz Usman.
Ketika Fadlan sudah menjabat tangan walinya Rania, ia sudah deg-degan gak karuan, sedari tadi ia sudah berdo'a untuk dilancarkan segala-galanya.
"Bismillahirrahmanirrahim."
. . . . . . . . . . . . . .
"Saya terima nikah dan kawinnya Husna Amalia binti....
Belum juga selesai, Ustadz Usman sudah mencubit keponakannya itu.
"Kenapa yang disebut nama Dokter Husna, kau mau menikahi ibunya apa menikahi anaknya." gerutu ustadz Usman. Fadlan sudah menunduk malu, sementara Rania sudah cemberut.
"Tenang Fadlan, jangan terlalu terburu-buru." ustadz Soleh mengingatkan.
"Coba diulang lagi." pinta pak penghulu.
"Saya terima nikah dan kawinnya Rania Atalia Nandor binti Manfredo Roberto Mandor dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." ujar Fadlan.
Semua langsung mengernyit ketika Fadlan salah sebut nama ayahnya Rania. Kembali ustadz Usman mencubit Fadlan.
"Manfredo Roberto Nandor, bukan Mandor, dikira bapaknya si Rania tukang kuli." ustadz Usman sudah gereget. Rania pun sudah cemberut sedari tadi.
"Inget ya Nandor bukan mandor, bukan pula tandur, itu mah petani nanem padi. Ingat ya sekali lagi kau salah, ambyaaar nantinya." ustadz Usman mengingatkan.
Fadlan sudah menggaruk tengkuknya sendiri, rasa malunya memang tak hilang-hilang. Zidan mendekati dan memberikan beberapa permen jahe.
Melihat permen jahe, Fadlan langsung bergidik ngeri.
"Pelan-pelan saja Fadlan." Ustadz Soleh mencoba menenangkan.
"Duuh mas Duda, plis deh jangan buat aku gemeeezzz bercampur kezzel, nanti bisa-bisa aku banting ustadz Usman." batin Rania.
"MAS DUDA SEMANGAT."
Rania berteriak memberi semangat hingga Fadlan pun tersenyum.
"Sekali lagi ya mas Fadlan, usahakan ya kali ini gak boleh salah." ujar pak penghulu.
Fadlan kini menatap Abinya.
"Bi, aku ingin minum dulu." pinta Fadlan.
Baru saja ustadz Soleh mau meminta air minum pada Sarah, ustadz Usman sudah berteriak lebih dulu.
"GALON MANA GALON, KEPONAKAN KU INGIN MINUM."
Seketika Fadil langsung memberikan sebuah minuman dalam botol pada kakak sepupunya itu.
"Diminum sampai habis biar rasa malunya hilang." Fadil pun kembali ke tempat semula.
__ADS_1
Semua orang sudah berdoa untuk kelancaran pernikahanya Fadlan. Ustadz Soleh pun mendadak cemas pada putranya, karena kalau kali ini salah lagi maka bahaya sudah menghampiri.
"Ayo diulang."
"Bismillahirrahmanirrahim."
"Saya terima nikah dan kawinnya Rania Atalia Nandor binti Manfredo Roberto Nandor dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Fadlan mengucapkan nya tanpa koma.
"Bagaimana sah???"
Kini bukan lagi ustadz Usman yang berteriak, tapi semua yang menyaksikan langsung berteriak berbarengan karena merasa gembira akhirnya si Duda pemalu telah sah menikahi Rania.
"SAAAAAAAAAAAAAAAAAAH."
"Alhamdulillah."
Ustadz Soleh dan ustadz Usman sudah berpelukan, tak kuasa menahan gembira. Rania pun sudah tersenyum bahagia kini ia sudah resmi dihalalkan oleh si Duda pemalu.
"MAS SUAMI."
Fadlan sudah tersenyum-senyum ketika melihat Pipit sudah memeluk ibu barunya.
"Alhamdulillah terima kasih ya Allah."
Pipit dan Zidan kini mendekati dan langsung memeluk Fadlan.
"Abi selamat ya."
Kini Fadlan sudah memeluk ustadz Soleh. Ustadz Soleh sudah menitipkan air matanya, tak disangka putranya yang menduda selama lima tahun kini telah resmi menikahi seorang gadis.
"Selamat ya Fadlan. Abi ikut bahagia."
"Terima kasih Bi."
Tak lupa Sarah pun memeluk putranya.
"Selamat ya putraku. Bimbing Rania menjadi istri Sholehah."
Tak lupa Rania pun kini sudah memeluk Dokter Husna, air matanya terus mengalir, tak menyangka jika kedatangannya ke kota A ternyata mempertemukan nya dengan jodoh.
"Jadilah istri yang Sholehah. Jangan panggil lagi Fadlan dengan sebutan mas Duda, karena dia sekarang adalah suamimu." ujar Dokter Husna.
"Iya Bu, aku akan berusaha untuk menjadi istri yang baik. Aku pun sudah punya sebutan kesayangan untuk mas Fadlan, yaitu mas Suami."
Kini Rania sudah mendekati Fadlan, ia pun mencium tangan suaminya itu. Ketika Rania sudah menundukan wajahnya untuk mengisyaratkan Fadlan agar mau mencium keningnya, namun Fadlan sudah menunduk malu karena disana masih banyak orang.
"Mas suami, ayo cium kening ku biar kaya disinetron-sinetron yang kalau habis menikah kening istrinya dicium." ujar Rania.
"Aku malu."
"Hadeeuuuh."
"Ya sudah kalau mas suami malu, biar aku saja yang cium."
__ADS_1
CUP.
Satu kecupan mendarat di keningnya Fadlan hingga si mantan Duda pemalu itu lagi memerah pipinya.