
Masih dengan ustadz Usman yang kini sudah membuat pengumuman di masjid. Ia sudah menggunakan speker masjid.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh. Pengumuman penting telah hilang Pipit putri bungsunya Fadlan, cucunya ustadz Soleh, cicitnya kiyai Husen, dan adiknya Zidan di wilayah pesantren, jika ada yang melihat atau menemukannya segera hubungi keluarga. Sekian terima kasih."
Setelah mengucapkan kembali salam, segera ustadz Usman pergi dari masjid dan kembali mencari Pipit.
Dokter Husna pun sudah terdiam mendengar pengumuman hilangnya Pipit. Rania pun ikut terkejut, ia baru ingat jika dirinya belum menghubungi Fadlan jika Pipit sedang bersamanya.
"Rania, kau dengar pengumuman tadi?, Apa kau tidak memberitahu mas Fadlan jika Pipit kau bawa kemari?" Tanya Dokter Husna.
Rania menggeleng.
"Aku lupa Bu, sebentar aku hubungi si mas Dudanya dulu."
Baru saja Rania mau menghubungi Fadlan, rupanya Fadlan sudah sampai lebih dulu ke klinik. Ada yang memberitahunya jika Pipit dibawa Rania ke klinik.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
Terlihat wajah Fadlan nampak kesal, ia menyangka kalau Rania sengaja membawa Pipit ke klinik, supaya dirinya mencari ke klinik. Rania sudah dapat menebak jika si Duda pemalu itu sedang kesal.
"Idiih wajahnya si mas Duda mendadak menyeramkan begitu. Sepertinya dia marah padaku." Batin Rania.
"Pipit ayo pulang." Pinta Fadlan yang kini sedang menahan emosi. Ia tidak mau marah-marah karena tidak akan menang melawan Rania.
"Mas Duda, apa kau marah padaku?" Tanya Rania.
"Menurut mu?."
"Maaf tadi aku lupa menghubungimu kalau Pipit ikut bersamaku. Aku baru sadar kalau kalian mencari Pipit saat ustadz Usman memberi pengumuman di masjid." Tutur Rania menjelaskan.
"Kau telah membuat keluargaku khawatir. Lain kali kalau urusan seperti ini jangan dibuat bercanda." Ujar Fadlan.
Rania langsung diam.
"Abi, bukan Tante Cantik yang membawaku, tapi aku sendiri yang minta ikut Tante cantik, jadi tante cantiknya jangan dimarahi." Pinta Pipit.
"Ayo sayang kita pulang." Ajak Fadlan.
"Abi minta maaf dulu pada Tante Rania." Pinta Pipit hingga kini Rania sudah tersenyum-senyum merasa ada yang membelanya.
"Yes yes yes. Kini si mas Duda itu merasa bersalah sendiri karena telah menyalahkan ku tanpa bertanya terlebih dahulu." Batin Rania.
Fadlan sudah menunduk, ia merasa bersalah karena telah menuduh Rania membawa Pipit dan menyembunyikan nya di klinik.
"Maaf." Ujar Fadlan.
__ADS_1
Rania pura-pura tidak dengar dan ingin menggoda Fadlan.
"Mas Duda bilang apa barusan?"
"Aku minta maaf."
"Kurang keras, aku gak dengar." Ujar Rania yang kini mulai gemas melihat Fadlan.
"Aku minta maaf karena telah menuduh mu menyembunyikan Pipit." Ujar Fadlan hingga Rania tersenyum.
"Maaf mu aku terima. Tapi aku tidak butuh kata maaf mu. Bukan kata maaf yang ingin aku dengar, tapi kata cinta yang ingin aku dengar dari mas Duda." Pinta Rania. Fadlan langsung mengernyit, sementara Pipit sudah tersenyum senyum.
"Ayo Abi katakan cinta pada Tante Rania." Bisik Pipit. Fadlan langsung menggeleng geleng. Merasa malu berkata seperti itu dihadapannya Pipit, apalagi disana ada Dokter Husna.
"Ayo Abi, jangan malu-malu." Pipit terus membujuk. Rania sudah tersenyum-senyum sendiri melihatnya.
"Mas Duda, mas Duda cukup katakan I LOVE YOU. Sudah itu saja cukup, gak perlu lebih." Ujar Rania. Fadlan sudah menunduk bingung.
"Ayo Abi, katakan saja. Nanti aku ajarin. I VE LO." Ujar Pipit. Fadlan langsung mengernyit.
"Pipit sayang bukan begitu cara mengejanya. Tapi I LO VE YOU." Rania mengingatkan.
"Pokoknya aku gak mau pulang kalau Abi belum mengatakan cinta sama Tante Rania." Pipit merajuk membuat Fadlan semakin bingung.
"Yes yes yes, ayo Pipit, semakin kau merajuk, semakin mas Duda tidak bisa berkutik. Ayo merajuk lagi, kalau perlu ajak kakakmu si Zidan kesini, biar kalian merajuk berjamaah." Batin Rania.
"I LOVE YOU."
Ujar Fadlan sambil menunduk malu. Rania sudah tersenyum-senyum sendiri, meskipun Fadlan mengatakannya karena terpaksa, tapi Rania tetap senang mendengarnya.
"I LOVE YOU TO mas Duda."
Rania kembali tersenyum-senyum. Pipit merasa senang hingga ia langsung berjingkrak jingkrak. Sementara di pojokan Dokter Husna sudah menggelengkan kepalanya, ia merasa heran jika putrinya itu akhir-akhir ini hobby maksa.
"Bu, mas Duda barusan nembak aku." Ujar Rania tersenyum, namun Fadlan langsung mengernyit.
"Maaf Rania, sepertinya aku harus segera membawa Pipit, semua keluargaku sedang mencarinya. Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
Fadlan langsung kabur sambil menggendong Pipit, ia segera pergi dari klinik dengan sedikit berlari. Rania yang melihatnya pun langsung tertawa-tawa.
"Ikh mas Duda gemeeezzz banget sih."
Fadlan sudah ngos-ngosan berlari sambil menggendong Pipit. Ustadz Soleh dan ustadz Usman pun langsung berlari mendekati.
"Assalamualaikum."
__ADS_1
"Waalaikumussalam."
"Pipit ketemu dimana?, Apa dia diculik?. Sepertinya kau habis bertarung dengan para penculik itu ya, hingga kau ngos ngosan seperti itu?" Tanya ustadz Usman.
Fadlan belum menjawab, ia masih mengatur nafasnya.
"Abi habis mengatakan cinta pada Tante Rania." Ujar Pipit. Mendengar itu Fadlan langsung membungkam mulutnya Pipit.
"Pipit bohong." Ujar Fadlan malu, dan tidak boleh ada yang tau jika tadi ia mau tidak mau mengatakan cinta pada Rania.
Ustadz Soleh sudah tersenyum, begitu juga dengan ustadz Usman.
"Cieeee ada yang habis nembak perempuan. Berdarah gak tuh?. Jadilah lelaki sejati, datangi orang tuanya, terus halalkan, kalau cuma mengatakan cinta doang mah si Zidan juga bisa." Tutur ustadz Usman sedikit menggerutu.
Fadlan sudah menunduk.
"Fadlan kau benar-benar menyukai putrinya Dokter Husna itu?" Tanya ustadz Soleh.
Fadlan tiba-tiba langsung kabur membawa Pipit meninggalkan mereka, bingung harus menjawab apa.
"Cieeee yang malu-malu meong, ditanya malah langsung kabur." Ujar ustadz Usman.
"Putraku sedang merasa malu Man."
"Segera halalkan Kak. Nanti takutnya ada yang nikung di sepertiga sore. Bahaya itu. Para janda sedang mengincarnya."
Ketika Fadlan sampai ke rumahnya, ia segera mendudukkan Pipit di sofa lalu menatapnya.
"Kalau mau kemana mana, atau mau pergi dengan orang lain, sebaiknya Pipit izin dulu ya, sama Abi atau sama kak Zidan." Pinta Fadlan. Pipit pun mengangguk-angguk.
"Maaf ya Abi, tadi aku pergi gak izin dulu. Tadi waktu jalan sama kak Zidan, dia bicara terus soal bola, aku kan gak suka, eh aku tiba-tiba melihat Tante Rania sedang duduk sendirian di tepi perkebunan, jadi aku mendekatinya. Tante Rania kayanya lagi sedih deh." Tutur Pipit.
"Lagi sedih?"
"Hhmmm, lagi sedih. Tapi gak tau kenapa." Ujar Pipit.
Fadlan pun terdiam. Apa benar perempuan ceria seperti Rania bisa sedih juga, Fadlan mulai berpikir aneh, ia lupa kalau Rania itu cuma perempuan biasa yang bisa jadi punya masalah.
Tiba-tiba Pipit mendekati Fadlan.
"Abi, aku suka dengan Tante Rania, aku mau Tante Rania jadi ibu ku, juga jadi istrinya Abi. Jadi uminya Pipit dan uminya kak Zidan. Tante Rania itu baik, orangnya juga cantik. Abi mau kan menikahi Tante Rania?" Tanya Pipit.
Fadlan terdiam dan mulai menunduk, ia pun masih bingung dengan perasaannya itu.
"Sebaiknya Pipit istirahat dulu ya, nanti masalah ini kita bicarakan nanti."
Fadlan pun hendak pergi ke kamar mandi, namun Pipit memanggilnya.
__ADS_1
"Abi, aku sayang Abi." Ujar Pipit hingga Fadlan tersenyum.