Si Duda Pemalu

Si Duda Pemalu
Dilema


__ADS_3

Hari yang dinantikan pun telah tiba. Rania sudah berdandan cantik dengan gaun pengantin rancangan Anisa. Tentunya Elina yang mendandaninya. Rania sudah berputar-putar didepan cermin, hingga Dokter Husna ikut tersenyum bersama Elina.


"Belum puas bercermin ya, hampir 30 menit lebih kau menatap diri. Kau tetap putri ibu yang paling cantik." ujar Dokter Husna.


Rania sudah tersenyum-senyum.


"Kalau si mas Duda bilang aku cantik doang, segera gered dia ke klinik ya Bu, takutnya matanya Rabun. Harusnya kan dia bilang aku cantik pake banget."


"Fadlan pasti bilang kau cantik banget, ibu berani jamin."


Tiba-tiba Zahira mengetuk pintu. Kali ini Zahira akan ada dipihak mempelai perempuan bersama Yura, secara Dokter Husna tidak mempunyai saudara, hanya beberapa saudara ayahnya Rania dari Jerman sudah berada di depan rumahnya Rania bersama Yudi dan Yuda untuk menyaksikan pernikahan Rania.


Tok tok tok.


"Rania, selesai belum dandannya?, mau lama atau tidak, tetap cantikan aku, seperti biasa ya, belajar ikhlas dan sabar." ujar Zahira.


Semuanya sudah mengernyit.


"Kum tu the mat, KUMAT."


"Buruan kita ke masjid, takutnya rombongan si Fadlan sudah menunggu."


"Aku sudah menghubungi mas Duda, katanya dia masih di rumah, jadi santai saja Tante."


Yura sudah duduk sambil cemberut hingga semua merasa heran karena biasanya Yura selalu terlihat ceria.


"Ira putrimu itu kenapa, ko cemberut begitu, pantas saja cuaca mendadak mendung begini, jangan sampai si Yura menangis, takutnya langit mendadak hujan." ujar Elina.


Zahira pun mendekati putrinya.


"Yura sayang, kenapa ko bibirnya melengkung ke bawah begitu?"


"Mommy, aku mau punya ibu baru kaya si Pipit, nanti aku kalah saing sama si Pipit." Yura merajuk hingga Zahira yang mendengar pun langsung menganga.


Rania, Dokter Husna dan Elina sudah menunduk menahan tawanya.


"Yura sayang, jangan ngomong seperti itu ya, nanti Mommy umi bisa nangis kejejeran."


Ngomong-ngomong soal Yudi dan Yuda mereka sudah bengong melihat saudara-saudara Rania dari Jerman yang nantinya akan menjadi wali nikah Rania yang semua saudaranya itu sudah menjadi muslim.

__ADS_1


"Yud, kalau mereka ini aku percaya sebagai saudaranya mba Rania, mukanya Jerman semua, tidak seperti pak Beno yang ngaku-ngaku blasteran dari Jerman." bisik Yudi.


"Iya Yud, kulitnya putih semua, mendadak kita paling item jika berkumpul dengan mereka ya. MIN pake DER, alias minder."


***


Sementara dengan Fadlan yang kini sedang mengancingkan jas pengantinnya sambil menghafal ijab Kabul, ia sudah garuk kepala sendiri merasa khawatir dan cemas sedari tadi seperti sedikit sulit menghafal. Bukan sulit menghafal bacaan ijab Kabul nya, tapi sulit menghafal nama ayahnya Rania. Jadi Fadlan sedang menghafal nama calon mertuanya.


"Manfredo Roberto Mondor. Manfredi Roberto Mendor, Manfredo Roberto Nandir."


Fadlan merasa pusing menyebutkan nama ayahnya Rania yang keturunan Jerman itu. Pipit dan Zidan yang menemani Abinya di kamar pun sudah heran melihat Fadlan yang kini sedang kumat kamit menghafal nama calon mertua sambil mengancingkan baju yang hampir setahun tidak kunjung selesai.


"Kak, aku gereget deh sama Abi. Abi kebiasaan deh kalau ngancingin baju lamanya bukan main, belum lagi lihat mulutnya yang komat kamit gak jelas, bisa-bisa nanti kita terlambat." bisik Pipit.


"Sttthh. Pipit, sepertinya Abi sedang menghafalkan sesuatu, mungkin sedang menghafal bacaan ijab Kabul, atau Abi sedang berperang dengan hatinya biar rasa malunya itu diumpetin dulu saat menghadapi penghulu nanti." jawab Zidan sambil berbisik.


"Tapi Abi kaya dilema gitu kak. Apa mungkin Abi dilema ngancingin baju ya." tebak Pipit yang kini sudah terlihat cantik dengan gaun yang dibelinya dari Anisa, Zidan pun terlihat rapi dan manis dengan setelan jas yang sama seperti Fadlan.


"MANFREDO ROBERTO NANDOR."


Fadlan membaca nama ayahnya Rania yang ia tulis di telapak tangannya agar mudah untuk menghafal, namun sayang ia sangat merasa susah sekali menyebutnya.


Pipit sudah turun dari ranjangnya Fadlan dan langsung menghampiri Abinya untuk membantu mengancingkan bajunya karena Pipit sudah tidak sabar.


"Aku bantu ya Bi."


Fadlan pun tersenyum lalu mengelus kepalanya Pipit.


"Doain Abi ya Pit."


Tidak lama kemudian ustadz Soleh mengetuk lalu membuka pintu.


"Sudah siap belum?, semua orang sudah menunggu."


Fadlan mengangguk pasrah padahal dia sedang dilema dengan nama ayahnya Rania. Akhirnya Fadlan keluar menemui keluarganya yang kini sudah berkumpul didepan rumahnya.


"Cieeeee, yang mau jadi manten, senyum dong jangan Gegana begitu." goda Fadil yang melihat jika Fadlan sedang dilema.


"Hei keponakanku, awas saja ya kau ngajakin penghulu duet mengheningkan cipta, nanti kubawa kabur si Rania." ujar ustadz Usman hingga Fadlan menunduk cemberut. Nisa pun sudah mencubit pinggang suaminya itu.

__ADS_1


"Fadlan, sepertinya kau sedang kepikiran sesuatu, apa kau memikirkan tentang ijab Kabul atau hutangnya Rania?" tanya ustadz Soleh.


"Jangan-jangan kak Fadlan lupa bacaan ijab Kabul." ujar Fadli.


Semua orang sudah menatap Fadlan.


"Aku belum hafal nama ayahnya Rania." ujar Fadlan malu. Semua orang sudah menganga, merasa heran dengan Fadlan yang belum hafal nama calon mertuanya.


"Apa maksudnya belum hafal nama calon mertua, kebangetan. Aku saja hafal nama-nama santri ku yang jumlahnya mencapai lebih dari ratusan itu." ujar ustadz Usman.


"Memangnya nama ayahnya Rania siapa?" tanya Sarah.


Fadlan langsung menatap telapak tangannya yang tertulis nama ayahnya Rania.


"Namanya Manfredo Roberto Nandor."


Semua orang sudah menganga kembali setelah mendengar nama itu.


"Pantesan si Rania amazing begitu, rupanya nama ayahnya lebih AMA pake ZING, amazing." (Ustadz Usman).


"Manfredo Robot mandor." (Fadli).


"Si Manfredo, si Roberto sama si Nandor." (Fadil).


"Baru kali ini aku dengar ada calon pengantin laki-laki yang dilema gara-gara nama calon mertuanya, biasanya dilema gara-gara bacaan ijab kabul atau gara-gara dilema malam pertama. Sungguh luar biasa keponakan ku ini." ujar ustadz Usman hingga ustadz Soleh sudah menepuk pundak adiknya itu.


"Man kali ini kau mingkem, si Fadlan nanti tambah dilema."


"Tenang saja Fadlan, berdoalah mudah-mudahan semuanya lancar." ujar Aisyah.


Semua orang sudah menyemangati Fadlan, biar si Duda pemalu itu tumbuh kembali rasa percaya dirinya. Fadlan sudah tersenyum.


"Ayo berangkat." ajak Sarah.


Keluarga Fadlan pun sudah berjalan menuju masjid besar. Aisyah sudah menggandeng Riziq, Cahaya sudah menggandeng Adam, Hawa menggandeng AL, Silmi pun menggandeng Faris, Syifa menggandeng Fadil, Nisa menggandeng ustadz Usman, Sarah menggandeng ustadz Soleh. Semua sudah saling bergandengan termasuk kiyai Husen dan Umi Salamah yang meskipun keduanya sudah menggunakan tongkat, karena usia mereka sudah lanjut. Anak-anak pun sudah berjalan lebih dulu, ada Pipit, Ali yang menggendong Azka, Jihan, Jinan, Bilkis, Zulfa dan Fahmi.


Zidan sudah menggandeng Fadlan yang kini tangannya sudah terasa dingin dan berkeringat.


"Duuuh si Abi belum apa-apa sudah keringetan begini, belum lagi saat reaksi berhadapan dengan penghulu, aku yakin malunya bukan double update lagi tapi triple update. Untung aku selalu sedia permen jahe dikantong bajuku. Jadi kurasa Aamaaan." Batin Zidan.

__ADS_1


__ADS_2