
Sudah satu Minggu ini Fadlan tidak bertemu dengan Rania. Putrinya Dokter Husna itu memang sengaja menghindarinya. Rania juga sibuk untuk mencari pekerjaan, ia sudah harus memikirkan bagaimana caranya ia bisa mengumpulkan uang untuk membayar semua hutangnya. Rania sadar uang 5 Milyar sangat sulit didapatkan dengan waktu tiga bulan, apalagi sekarang Rania sudah tinggal di kota A hampir dua Minggu lebih. Waktu tiga bulan itu semakin hari semakin mendekat.
Fadlan sudah merasa ada yang aneh dengan hidupnya akhir-akhir ini setelah Rania memutuskan untuk menjaga jarak dengannya, seperti ada sesuatu yang hilang, mungkin ia sudah merasa terbiasa diganggu oleh putrinya Dokter Husna itu, meskipun terkadang ia takut bahkan kesal.
Hari itu Fadlan sudah membawa mobilnya, ia berencana pergi ke luar kota untuk mengecek beberapa bisnisnya. Beberapa bisnis furniture nya memang berada di kota B dan C. Jika digabungkan dengan kota kelahiran dan kota tempat bisnisnya maka akan menjadi kota A B C.
Ketika hampir melewati gerbang utama, Fadlan dapat melihat Rania sedang berjalan sendirian, sudah membawa tas kecil, menggunakan celana hitam serta kemeja putih serta jilbab yang senada. Fadlan dapat menebak jika putrinya Dokter Husna itu sedang mencari pekerjaan. Sebenarnya Fadlan ingin menawarkan pekerjaan dibidang furniture, sayangnya Rania sedang menjaga jarak dengannya, hingga Fadlan tidak berani untuk mendekatinya.
Saat dalam perjalanan, tepatnya di lampu merah saat mobilnya berhenti, diam-diam Fadlan menatap kaca spion, menatap dirinya.
"Benarkah aku ini menggemaskan????"
Fadlan kepikiran apa yang dikatakan Rania kalau dirinya itu begitu menggemaskan dimatanya Rania.
Sementara dengan Rania, sudah satu Minggu ini ia kesana kemari untuk mencari pekerjaan, namun sayang tidak ada lowongan pekerjaan untuknya. Namun ia pantang menyerah tak mau kalah dengan keadaan, tidak mau sampai ia harus menjadi istrinya pak Beno, si rentenir tua.
Setelah seharian mencari pekerjaan, Rania merasa lelah hingga ia berjalan-jalan di wilayah pesantren, ia kini sudah duduk di kursi bambu tepi perkebunan.
"Ya Allah, tolong Hambamu ini, berikan Hambamu ini pekerjaan, setidaknya berikan cara bagaimana mengatasi masalah hutang, hamba tidak mau jadi istri ketiganya pak Beno itu." Batin Rania yang kini sudah menatap perkebunan yang luas itu.
Tiba-tiba si trio kwek-kwek datang, Hawa, Anum dan Silmi sambil membawa anak masing-masing. Mereka memang sering pergi ke tepi perkebunan dan duduk bersama di kursi bambu. Si trio kwek-kwek pun terdiam ketika melihat Rania duduk sendirian disana, terlebih mereka belum saling mengenal.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
Rania langsung berdiri, ia terkejut dengan kedatangan mereka, terlebih ia malu melihat penampilan mereka jika dibandingkan dengan penampilan dirinya.
"Siapa kau, sepertinya aku baru melihatmu." Ujar Anum.
"Aku Rania."
Rania sudah menunduk malu, tiba-tiba ia merasa kerdil melihat penampilan mereka yang jauh berbeda dengan penampilannya. Si trio kwek-kwek sudah menggunakan gamis syar'i beserta kerudungnya. Sementara penampilan dirinya sungguh jauh berbeda.
"Kau ini putrinya Dokter Husna kan, kita pernah bertemu di butiknya umi Anisa." Ujar Hawa. Rania pun mengangguk.
"Kau mengenalnya Wa?" Tanya Anum.
__ADS_1
"Hmmm, dia ini Rania putrinya Dokter Husna. Dia menjadi korban kejahilan Tante Ira. Tante Ira ngaku-ngaku jadi ustadzah Ulfi yang akan menjadi guru privat nya Rania." Tutur Hawa.
Akhirnya mereka pun berkenalan, usia mereka memang seumuran hanya beda beberapa tahun saja.
"Aku baru tau kalau Dokter Husna itu punya anak perempuan. Selama Dokter Husna bertugas disini, aku tidak pernah melihatmu." Ujar Silmi.
"Ini pertama kalinya aku datang kesini, sebelumnya aku tinggal di Jakarta."
"Wajahmu terlihat blasteran." Ujar Anum.
"Ayah ku dari Jerman."
"Di Jerman kau kenal mas Faris gak?, Soalnya suamiku itu banyak kenalan orang Jepang sama orang Jerman." Tanya Silmi.
"Suamimu itu cuma sultan, bukan seleb. Gak semua orang mengenalinya, kecuali kalau si Rania ini salah satu mantannya si Faris yang mantan mata keranjang sama hidung belang." Gerutu Anum hingga Silmi langsung cemberut.
"Ikh Anum Zahara deh."
Hawa sudah tertawa-tawa.
"Semoga kau betah ya tinggal disini, tapi jangan kaget, orang-orang disini pada ajaib semua, tapi berani jamin mereka semua orang baik." Tutur Hawa. Rania pun mengangguk tersenyum.
"Apa kau baru berhijab?" Tanya Anum. Rania pun mengangguk.
"Aku masih belajar."
"Tidak apa-apa, pelan-pelan saja, insyaallah kalau kau Istiqomah, nanti kau bisa berpenampilan seperti kami." Ujar Silmi. Rania pun mengangguk tersenyum.
"Terima kasih ya, sudah mau berteman denganku."
Rania merasa senang jika dirinya kini punya teman di kota A, di Jakarta pun ia tidak punya teman, ia hanya punya beberapa karyawan yang memperlakukannya sebagai bos, bukan memperlakukan nya sebagai teman. Terkadang Rania merasa kesepian, tak punya teman, tak punya pasangan serta jauh dari keluarganya.
Pulang dari tepi perkebunan, Rania sudah masuk ke kamar Dokter Husna lalu membuka lemari milik ibunya itu, Rania mulai mencari-cari baju gamis yang ingin di cobanya. Rania sangat menyukai penampilan Hawa, Anum dan Silmi.
Dokter Husna yang melihat pun langsung mengernyit.
"Kau sedang apa Rania?" Tanya Dokter Husna.
__ADS_1
"Maaf Bu, aku gak izin dulu, aku mau nyobain baju gamis, siapa tau cocok."
Dokter Husna langsung tersenyum, merasa senang jika putrinya mau menggunakan gamis. Dokter Husna mendekatinya dan membantunya memilihkan gamis untuk putrinya.
"Sepertinya ini cocok."
Dokter Husna pun memberikan satu gamis berwarna mint dan meminta Rania untuk mencobanya. Seketika itu Rania langsung mencobanya, ia menatap dirinya dicermin ketika sudah menggunakan gamis.
"Aku cantik ya Bu." Ujar Rania hingga Dokter Husna tersenyum-senyum.
"Anak ibu paling cantik."
Rania sudah berputar-putar menatap dirinya di cermin. Tiba-tiba ia terdiam dan merasa kurang nyaman.
"Kenapa?" Tanya Dokter Husna.
"Berasa gak nyaman Bu, mungkin belum terbiasa. Nanti saja pakai gamisnya, aku berasa kurang nyaman." Ujar Rania langsung membuka gamisnya kembali.
"Kau belum terbiasa, nanti lama-lama juga akan terbiasa dan akan merasa nyaman sendiri." Bujuk Dokter Husna.
"Maaf ya Bu, sepertinya aku belum siap berpenampilan syar'i seperti yang lain."
Dokter Husna hanya tersenyum, ia tidak akan memaksa Rania, membiarkan Rania merubah penampilan nya sendiri, ia yakin kalau putrinya itu mempunyai keinginan untuk berubah, mungkin belum saatnya, atau Rania butuh pelan-pelan untuk berubah.
"Tidak apa-apa kalau kau belum siap pake gamis. Tapi ibu mohon kau jangan pake clana jeans ketat lagi. Pakailah Rok."
Dokter Husna memberikan beberapa rok untuk Rania.
"Setidaknya jika kau menggunakan rok, itu tidak akan membuat lekuk tubuhmu terlihat. Pakailah." Pinta Dokter Husna.
Rania pun tersenyum lalu menggunakan rok milik ibunya. Rania sudah tersenyum, ia merasa sedikit lebih nyaman menggunakan nya.
"Ini sedikit lebih baik Rania, atasan kemaja, dan bawahnya rok, lekuk tubuhmu tidak terlihat, setelah lama-lama terbiasa, ibu yakin kau pasti nanti mulai menyukai gamis." Ujar Dokter Husna. Rania pun tersenyum.
"Terima kasih Bu."
"Celana jeans milikmu semuanya ibu sita ya, jangan protes. Nanti sore kau harus les lagi dengan Ustadzah Ulfi."
__ADS_1
Rania pasrah mengangguk.
"Ibu ingin yang terbaik untukmu. Tidak mau lagi sampai kau salah jalan."