Si Duda Pemalu

Si Duda Pemalu
Bahagia


__ADS_3

Sejak kelahiran Hanin, rumah Fadlan semakin ramai, apalagi dengan Pipit yang mulai gemas dengan adik perempuannya. Zidan juga sudah mulai riques minta adik laki-laki pada Rania.


"Umi cantik, kapan adik bayi laki-lakinya launching?" tanya Zidan.


Rania malah tersenyum begitu juga dengan Fadlan.


"Sabar ya Zidan, umi cantik sama Abi pemalu lagi menjalankan puasa 40 hari. Nanti setelah semua itu terlewati, umi akan program ibu hamil lagi, tapi kata ibu, umi cantik harus ngasih jarak pas dengan kelahiran adik Hanin." tutur Rania.


"Ok umi, aku akan sabar menunggu, tapi untuk itu izinkan aku memanggil adik bayinya dengan nama HANIN Ronaldo Wati." pinta Zidan. Rania dan Fadlan sudah saling lirik.


"Gak boleh pake Ronaldo Wati, Hanin itu gak boleh jadi pemain bola," protes Pipit hingga Zidan langsung cemberut pasrah, kalau berdebat soal nama pasti Pipit menangis. Rania dan Fadlan hanya tertawa kecil melihat anak-anaknya.


Hampir setiap hari Dokter Husna mengunjungi cucunya sebelum ia bertugas di klinik, begitu juga dengan Sarah yang selalu menjaga cucu barunya. Mereka berdua sangat bahagia mempunyai Hanin.


Tiba-tiba ada Aisyah, Zahira dan Yura datang berkunjung ke rumahnya Rania dengan membawa bingkisan bayi.


Tok tok tok.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


Sarah sudah membuka pintu, ia tersenyum melihat kedatangan Aisyah dan Zahira.


"Ayo masuk." pinta Sarah.


Aisyah dan Zahira sudah memberikan bingkisan itu pada Rania.


"Terima kasih ya Tante Aisyah, Tante Ira."


Mereka berkumpul untuk melihat Hanin.


Yura sudah mendekati Pipit yang sedang asik menggoda Hanin.

__ADS_1


"Pipit, boleh aku mencium Dede Hanin?" tanya Yura.


"Jangan, ini adikku, kalau kau mau cium, cium saja perut umi mu, siapa tau ada bayinya." ujar Pipit melarang. Seketika itu pula Yura langsung menangis.


"Huaaaaaaa."


Semua terkejut melihat Yura menangis.


"Yura sayang kenapa?" tanya Zahira mencoba menenangkan.


"Aku mau cium Dede bayinya tapi gak boleh sama si Pipit." Yura mengadu. Zahira langsung menatap Pipit.


"BURUNG PIPIT PAKE JEPIT,,,,


PIPIT JANGAN PELIT." ujar Zahira.


"Pipit sayang, biarkan Yura mencium Hanin sekali saja, kasihan, mungkin sekarang Yura sedang merasa iri dan dengki," Rania mencoba membujuk.


"Sembarangan putriku dibilang iri dan dengki, itu sih namanya FIT pake NAH, alias fitnah." batin Zahira.


"Jangan lama-lama ya nyiumnya, takut kulit bayinya robek," ujar Pipit hingga Yura kembali menangis.


"Huaaaaaa."


"Ssssttth."


"Ira, sedari tadi putrimu nangis terus, sekali-kali disumpal dulu mulutnya," pinta Aisyah.


"Sembarangan kak Aisyah." gerutu Zahira.


"BURUNG PIPIT DAPAT BERBURU,,,


PIPIT JANGAN CEMBURU,,, ingat ya pit, bibir si Yura itu selembut sutra, jadi mana mungkin bisa merobek kulitnya si Hanin, untuk itu beri waktu 90 menit buat Yura untuk mencium adikmu." tutur Zahira hingga semuanya mengernyit.

__ADS_1


"Durasinya lama banget pake 90 menit segala, sudah kaya permainan sepak bola."


***


Tak terasa kini Hanin sudah menginjak usia dua bulan, Rania sedang menikmati menjadi ibu muda, menyusui, menina bobokan Hanin, mengganti popok dan memandikannya, tentunya dibantu oleh Fadlan.


"Mirip aku banget ya mas, padahal yang selalu dibuat KO itu aku, tapi bayinya lebih mirip denganku." ujar Rania.


"Tapi sepertinya Hanin pemalu seperti ku." ujar Fadlan.


"Aduh kalau sampai putriku pemalu seperti Abinya, itu sih namanya BA HA YA." batin Rania.


"Mas Suami sudah lama loh kita gak kencan di jembatan kesana yu mas," ajak Rania.


"Nanti Hanin gimana, gak mungkin kita bawa Hanin kesana."


Tiba-tiba datanglah Sarah dan Dokter Husna.


"Biar Hanin kami yang jaga saja." ujar Sarah.


"Ajaklah Rania jalan-jalan, perempuan yang baru melahirkan itu butuh liburan meskipun cuma sekedar keliling pesantren, jangan buat Rania tertekan atau bosan apalagi stres, ingat ya, baby blues itu nyata adanya." Dokter Husna mengingatkan. Akhirnya Rania dan Fadlan pergi berdua menuju jembatan. Sesampainya disana, mereka berdiri sambil berpegangan tangan.


"Makasih ya mas Suami, aku merasa menjadi perempuan paling beruntung. Aku bahagia dengan hidup kita sekarang." ujar Rania hingga Fadlan tersenyum.


"Aku juga bahagia bisa hidup bersamamu."


"Terima kasih ya Allah, engkau telah mempertemukan ku dengan si mantan Duda pemalu ini, meskipun pertemuan kami terjadi di pemakaman, tapi serasa dipertemukan di kayangan. Aku bahagia mendapatkan suami seperti mas Fadlan, meskipun pemalu tapi dia begitu menggemaskan. Rupanya kedatanganku kesini telah mempertemukan ku dengan jodoh. Mas Suami aku mencintaimu, aku suka sifat mu yang pemalu itu. Tidak apa-apa pemalu juga yang penting tidak malu-maluin." (Rania).


-


-


-

__ADS_1


TAMAT


__ADS_2