Si Duda Pemalu

Si Duda Pemalu
Mimpi


__ADS_3

Keesokan harinya. Rania sudah mengerucutkan bibirnya saat ia baru bangun tidur. Merasa kesal bahkan merasa di permainan ketika dirinya semalam bermimpi digodain oleh Fadlan si Duda pemalu.


"Ikh kesel deh. Aku kan sudah punya niat yang kuat buat gak mengganggu dan menggoda si mas Duda, kenapa aku malah bermimpi si mas Duda itu menggodaku. Bukankah itu akan membuat pertahanan ku jadi goyah, tau gak sih kalau si mas Duda itu bagiku begitu sangat menggemaskan, jadi tolong bantu aku biar menjaga jarak dengannya, bantu aku biar si mas Duda itu terlihat menyebalkan di mataku. Harus menyebalkan, bukan tambah menggemaskan. Awas saja ya, ketemu denganku, aku akan buat perhitungan." Gerutu Rania.


Dokter Husna yang mendengar jika putrinya marah-marah pun langsung membuka pintu kamar Rania, takut putrinya itu kenapa-kenapa.


"Kau kenapa Rania, kau sedang marah-marah pada siapa?" Tanya Dokter Husna sambil mengedarkan pandangan mencari sesuatu. Kembali Rania mengerucutkan bibirnya.


"Itu si mas Duda nya rese Bu. Aku kan sudah bilang kemarin kalau aku sudah tidak akan mengganggu dan menggodanya lagi, eh dia malah datang ke mimpiku semalam, bahkan si mas Duda sudah berani menggodaku. Bukannya jadi menyebalkan tapi dia malah tambah menggemaskan." Tutur Rania kesal.


Dokter Husna malah mengernyit.


"Itu kan cuma mimpi, lalu kenapa kau marah-marah."


"Tentu saja aku marah, itu si mas Duda menggodaku dalam mimpi, nanti kalau aku berubah pikiran gimana, kan aku mau berhenti menggodanya. Nanti pertahanan ku bisa goyah Bu." Gerutu Rania.


"Kau ini marah-marah pada siapa?, Pada mimpimu atau pada mas Fadlan?" Tanya Dokter Husna heran.


"Ya tentu saja aku marah pada si mas Duda pemalu itu. Pokoknya kalau hari ini aku bertemu dengannya, aku akan buat perhitungan. Berani-beraninya dia menggodaku didalam mimpi." Gerutu Rania yang kini langsung pergi menuju kamar mandi. Dokter Husna kembali mengernyit, merasa heran dengan putrinya kali ini.


...***...


Siang itu Rania berencana untuk memprotes pada Fadlan karena si Duda pemalu itu berani menggodanya didalam mimpinya semalam. Rania sudah berjalan untuk mencari si Duda pemalu itu. Dari kejauhan ia dapat melihat Fadlan berjalan seorang diri.


"Nah itu orangnya nongol."


Rania pun mendekatinya, ia menghentak-hentakan kakinya penuh emosi. Fadlan yang melihatnya pun merasa heran.


"ASSALAMUALAIKUM."


"Waalaikumussalam."


Rania sudah menggeram kesal.


"Hei mas Duda, aku mau protes, bisa-bisanya mas Duda menggodaku semalam." Gerutu Rania. Fadlan terdiam kebingungan, ia tidak mengerti kenapa putrinya Dokter Husna itu tiba-tiba datang dan marah-marah padanya bahkan menuduh menggodanya.


"Kapan aku memggodamu?" Tanya Fadlan.


"Semalam"


Kembali Fadlan terdiam dan mulai mengingat-ingat kejadian semalam, takutnya ia memang tidak sengaja menggoda Rania.


"Perasaan semalam aku tidak kemana-mana, bagaimana mungkin aku bisa menggoda putrinya Dokter Husna." Batin Fadlan.


"Aku tidak menggoda mu, bahkan bertemu dengan mu semalam pun tidak." Jawab Fadlan.


"Mas Duda gara-gara mimisan kemarin jadi amnesia ya, jelas-jelas semalam mas Duda menggodaku. Aku kan kemarin sudah bilang jika aku ingin berhenti untuk mengganggu dan menggoda mas Duda, tapi kenapa semalam tiba-tiba mas Duda menggodaku. Aku kan takut nanti pertahanan ku goyah, mas Duda tau gak sih, mas Duda bagiku itu sangat-sangat MENG GE MAS KAN. Jadi perlu pertahanan yang kuat untuk menjauhi mas Duda. Tolong buat mas Duda terlihat menyebalkan di mataku." Gerutu Rania dengan marahnya.


Fadlan sudah menggaruk kepalanya, ia bingung sendiri bagaimana harus menghadapi putrinya Dokter Husna ini.


"Apa aku menggemaskan???"

__ADS_1


"Tapi kapan dan dimana aku menggodamu?" Tanya Fadlan heran.


"Semalam, didalam mimpiku." Jawab Rania hingga Fadlan mengernyit, kemudian ia tersenyum menahan tawanya.


Fadlan sudah merasa kesal namun ia juga merasa lucu jika putrinya Dokter Husna itu marah-marah karena semalam digodanya didalam mimpi.


"Jadi, aku menggodamu dalam mimpi?"


"Hmmm, dan mas Duda harus minta maaf padaku." Gerutu Rania. Kali ini Fadlan mengernyit.


"Harus minta maaf?"


"Hmmm."


"Tapi saat kau sering menggodaku, kau tidak pernah minta maaf, kenapa sekarang aku harus minta maaf, kan digodanya cuma dalam mimpi saja." Kali ini Fadlan yang protes.


"Tentu saja berbeda. Mas Duda hanya menganggap godaanku itu cuma angin lalu, berbeda dengan ku, bagiku godaan mas Duda seperti angin surga, meskipun menggodanya hanya dalam mimpi." Rania masih saja menggerutu hingga Fadlan sudah heran dan hilang akal untuk membela diri.


Dari kejauhan nampak ustadz Soleh dan ustadz Usman datang, mereka heran melihat Rania marah-marah pada Fadlan.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


"Ada apa ini, kenapa Rania marah-marah?" Tanya ustadz Soleh sambil menatap putranya. Fadlan sudah diam kebingungan, ia tidak tau harus menjelaskan seperti apa. Rania seolah-olah membab* buta memprotes dan memarahinya.


"Kalian belum jera ya setelah aku hukum kemarin di lapangan, masih saja berduaan di jalan." Ujar ustadz Usman.


Rania sudah menunjuk Fadlan.


"Ini nih putranya ustadz Soleh, dia berani menggodaku semalam. Jadinya aku kan kesel."


Kembali ustadz Soleh menatap putranya.


"Fadlan, kau menggoda Rania?"


Seketika Fadlan langsung menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak menggoda Rania Bi."


Kali ini ustadz Soleh menatap Rania.


"Kau tidak sedang memfitnah putraku kan?" Tanya ustadz Soleh.


"Tentu saja tidak ustadz."


"Memangnya keponakanku ini kapan menggodamu?" Tanya ustadz Usman.


"Semalam, dia menggodaku lewat mimpi." Jawab Rania kesal. Seketika itu pula ustadz Soleh dan ustadz Usman sudah saling lirik.


"Dalam mimpi?"

__ADS_1


"Hmmmm."


Ustadz Soleh sudah menunduk menahan tawanya, sementara ustadz Usman sudah menatap Fadlan.


"Hei Fadlan, berani sekali kau menggoda si Rania didalam mimpinya. Kalau kau merasa lelaki sejati, kau menggoda si Rania nya jangan didalam mimpi, kalau berani langsung goda dia di dunia nyata, kalau perlu goda dia dihadapannya Dokter Husna. Beraninya cuma di alam mimpi doang." Gerutu ustadz Usman. Ustadz Soleh sudah menepuk kesal pada adiknya itu.


"Sembarangan kau menyuruh putraku untuk menggoda perempuan yang bukan mahromnya." Ustadz Soleh ikut menggerutu.


"Aku kesel pada putramu ini, berani menggoda perempuan cuma di alam mimpi doang."


Fadlan sudah menggaruk tengkuknya, mendadak ia seperti orang bodoh.


"Rania, itu kan cuma mimpi, kenapa kau harus marah-marah?" Tanya ustadz Soleh.


"Maaf ustadz Soleh, dari kemarin aku sudah berniat untuk tidak lagi mengganggu dan menggoda mas Duda, takut nanti aku dikira mempermainkannya, bagiku menjaga jarak dengannya membutuhkan nyali yang besar dan semangat 45 yang membara. Tapi tiba-tiba semalam dia datang dalam mimpiku dan menggodaku. Bagiku, godaan si mas Duda itu seperti angin surga, aku takut pertahanan ku goyah untuk menjaga jarak dengannya, karena bagiku mas Duda ini begitu sangat, sangat, sangat MENGGEMASKAN." tutur Rania.


Fadlan sudah menunduk, ia merasa malu sendiri. Ustadz Soleh sedari tadi sudah menahan tawanya, sementara ustadz Usman sudah mengernyit.


"Darimana menggemaskannya?, Si Fadlan kelebihannya cuma pemalu doang." Batin ustadz Usman memprotes.


"Ustadz Soleh, sebaiknya ustadz marahi saja putranya ini, karena dia berani genit padaku." Pinta Rania yang masih diselimuti rasa kesal. Ustadz Soleh sudah mengangguk-angguk.


"Sampai rumah aku akan memarahinya, kau tidak perlu khawatir." Ujar ustadz Soleh. Fadlan sudah mengernyit.


"Aku juga akan mencubit keponakan ku dari ujung rambut hingga ujung kaki. Berani sekali dia menggodamu di alam mimpi, gak takut di suntik Dokter Husna" Ustadz Usman ikut-ikutan.


"Nah kalau begini kan aku senang mendengarnya." Ujar Rania.


"Sebaiknya kau pulang ya, tapi ingat jangan pulang dulu ke rumah, langsung ke klinik saja, langsung minta periksa pada ibumu, takutnya kau sedang meriang." Ujar ustadz Usman.


Sebelum pergi, Rania sempat melirik Fadlan yang kini sudah menunduk bingung, kali ini Fadlan benar-benar seperti orang bodoh yang tidak bisa membela diri menghadapi putrinya Dokter Husna.


"Awas ya kalau mas Duda berani menggodaku lagi, aku akan membuat perhitungan. ASSALAMUALAIKUM." pamit Rania sambil menghentakkan kakinya kesal.


"Waalaikumussalam."


"Rania jangan lupa langsung pergi ke klinik." Teriak ustadz Usman.


Setelah kepergian Rania, ustadz Soleh dan ustadz Usman menatap Fadlan.


"BUAHA HA HA."


Mereka berdua menertawakan Fadlan, hingga si Duda pemalu itu cemberut kesal.


"Kalian berdua rese, assalamualaikum."


Dengan kesalnya Fadlan pergi.


"Waalaikumussalam."


"Si Fadlan jadi korban kekacauan mimpinya si Rania. Untung si Rania cuma mimpi digoda si Fadlan, jadi dia cuma marah-marah doang, coba kalau si Rania mimpi dihamilin si Fadlan, sudah pasti si Fadlan digeret ke KUA, untuk dimintai pertanggungjawaban. Si Rania digoda di alam mimpi, tapi protesnya nembus dunia nyata."

__ADS_1


__ADS_2