Si Duda Pemalu

Si Duda Pemalu
Menjaga jarak


__ADS_3

Keesokan harinya. Rania sudah menunggu Fadlan di jembatan arah menuju perkebunan. Rania ingin bicara serius dengan si Duda pemalu itu. Rania sudah meyakinkan hatinya untuk berhenti mengganggu Fadlan.


Dari kejauhan nampak Fadlan berjalan, namun kali ini sepertinya Fadlan bukan mau pergi ke perkebunan, ia sudah menggunakan baju Koko serta sarungnya. Ditangannya sudah ada tiga tangkai bunga lili. Rania yakin kalau si Duda pemalu itu hendak pergi ke makam istrinya.


Fadlan pun terlihat diam ketika melihat putrinya Dokter Husna, ada rasa takut, malu dan juga kesal. Rania sudah berdiri tidak jauh dihadapannya. Fadlan tau pasti Rania sedang menunggunya, terlebih ingin mengganggunya. Rania pun tersenyum ketika melihat Fadlan hendak melewatinya.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


Fadlan terus berjalan melewati Rania hingga Rania memanggilnya.


"Mas Fadlan tunggu." Ujar Rania.


Fadlan pun terdiam, tumben sekali Rania memanggil namanya, bukan lagi mas Duda. Fadlan menghentikan langkahnya lalu menatap Rania sekilas, kemudian menunduk.


"Mas Fadlan tidak usah takut lagi. Mulai sekarang aku tidak akan mengganggu mas Fadlan lagi." ujar Rania


Fadlan terdiam mendengarnya, serasa ada yang aneh dengan putrinya Dokter Husna kali ini.


"Maksudnya?"


"Maaf kalau selama ini mas Fadlan risih dengan sikapku yang selalu mengganggu dan menggoda mas Fadlan. Sekarang aku sadar kalau aku salah, aku tidak akan menggoda lagi, takut nantinya aku dikira memberi harapan palsu. Aku akan menjaga jarak."


Fadlan terdiam, ada yang aneh dengan hatinya ketika Rania berniat untuk tidak menggodanya lagi, seakan ada hati yang tidak rela meskipun selama ini saat putrinya Dokter Husna itu menggodanya, ia nampak kesal, malu dan takut.


"Yakin kau tidak mau menggangguku lagi?" Tanya Fadlan. Rania mengangguk pasti.


"Aku takut dikira PHP, aku juga takut kualat hingga jatuh cinta sama mas Fadlan."


"Kau takut jatuh cinta padaku?" Tanya Fadlan. Rania malah diam kebingungan.


"Hmmm, aku takut jatuh cinta sama mas Fadlan, karena aku tau mas Fadlan itu sukanya sama janda, bukan gadis perawan sepertiku. Aku juga mengundurkan diri untuk jadi calon istrinya mas Fadlan, maaf sebenarnya aku ikutan menjadi kandidat hanya karena ingin menggoda mas Fadlan, karena mas Fadlan begitu sangat menggemaskan, bukan berniat karena ingin menjadi istrinya mas Fadlan. Aku permisi dulu, sekali lagi maaf kalau selama ini selalu mengganggu mas Fadlan. Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


Rania pun pergi. Fadlan terus menatap kepergiannya. Perempuan yang selama ini sering mengganggunya itu kini berniat untuk menjaga jarak.


Setelah lama berdiam diri, kini Fadlan kembali melangkah, melanjutkan langkahnya menuju pemakaman, ia ingin berjiarah ke makam istrinya.


Sesampainya disana, ia sudah menaruh bunga lili diatas makam Amara. Entah kenapa Fadlan terus teringat dengan kata-kata Rania barusan, bahwa si gadis blasteran itu mau berhenti menggodanya. Ada hati yang tidak rela mendengar semua itu. Fadlan berada didekat makam istrinya, tapi pikirannya ada di klinik.


"Kak Fadlan."


Teriak Fadli diujung perkebunan. Ia sedari tadi mencari kakaknya. Ketika Fadlan tau kalau adiknya itu memanggilnya, ia pun segera meninggalkan pemakaman dan berjalan mendekati Fadli.

__ADS_1


"Ada apa?" Tanya Fadlan.


"Dicariin Abi, katanya hari ini ada acara ketemuan sama janda." Ujar Fadli mengingatkan.


Fadlan pun terdiam, ia baru ingat kalau hari ini ia akan bertemu dan berkenalan dengan para kandidat calon istrinya.


"Kak, sekiranya para janda gak ada yang nyantol, aku rekomendasikan Bu Erni ya." Goda Fadli. Seketika Fadlan langsung menggeram.


"He he he, bercanda doang."


Fadlan pun langsung pulang. Setelah sampai di rumahnya, rupanya sudah ada Fadil dan Adam, mereka berdua yang akan menemani Fadlan ke restoran.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


"Sudah ngapelin uminya si Pipit nya?" Tanya Fadil. Fadlan langsung mengerucutkan bibirnya.


"Aku bawa Adam sekarang, jika kak Fadlan ingin tanya-tanya soal janda, tanyakan saja pada si Adam, sepertinya dia sudah khatam dan berpengalaman soal janda. Si Adam kan dapetin janda juga." Tutur Fadil. Adam hanya tersenyum saja.


Akhirnya mereka bertiga pergi ke restoran biasa, kali ini mereka akan menemui Fatia janda berusia 30 tahun. Saat baru masuk ke restoran, Fadlan sudah menunduk karena di restoran itu banyak para ABG yang lagi ngumpul makan, mendadak rasa malu Fadlan muncul. Karena ia jalan menunduk, tidak sengaja ia menabrak pelayan yang membawa minuman, seketika minuman pun tumpah.


"Astaghfirullah alazim maaf."


Fadlan sudah malu sendiri.


"Maaf mba, nanti uang gantinya kami urus." Ucap Adam yang sudah mengajak Fadlan dan Fadil mencari Fatia.


Mereka pun bertemu di restoran itu. Fatia nampak cantik.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


Fatia tersenyum lalu mengajak bersalaman. Namun ketiga laki-laki yang bukan ABG lagi langsung mengatupkan tangannya. Mereka pun duduk di meja yang sama. Fadlan langsung menyapu pandangan, takutnya ada Rania yang mengintainya seperti kejadian dulu. Namun kali ini putrinya Dokter Husna benar-benar tidak ada.


"Kalau boleh tau mas Fadlan ini sudah punya berapa anak?" Tanya Fatia.


"Dua. Satu laki-laki, satunya perempuan. Zidan dan Pipit."


Fatia pun melirik Adam dan Fadil, mereka berdua pun ikut menjawab.


"Aku punya tiga anak." (Adam).


"Aku punya dua anak." (Fadil).

__ADS_1


Fatia langsung tertawa kecil.


"Rupanya kalian sudah bapak-bapak semua ya."


"Kalau boleh tau, mba Fatia ini sudah punya anak belum, dan kenapa sampai pisah dengan mantan suaminya?" Tanya Fadil.


"Aku belum punya anak. Suamiku meninggal satu Minggu yang lalu." Jawab Fatia.


Fadlan, Fadil dan Adam langsung menganga.


Tidak menyangka jika perempuan yang ada dihadapan mereka baru ditinggal suaminya.


"Kita turut berduka cita ya mba Fatia. Tapi kalau baru seminggu mah masa idahnya belum selesai dong mba." Ujar Adam.


"Aku harap sih mas Fadlan mau sabar menunggu hingga masa idahnya selesai." Pinta Fatia.


Fadlan sudah melirik Fadil dan Adam.


"Masih anget jadi jandanya, baru satu Minggu." Bisik Fadil.


"Berasa ada yang aneh, pendaftara menjadi calon istrinya kak Fadlan itu baru satu Minggu kemarin, itu artinya suami mba Fatia baru sehari meninggal, mba Fatia nya langsung daftar jadi calon istrinya kak Fadlan. Sungguh TER LA LU." ujar Adam sambil berbisik.


"Atau besar kemungkinan, ketika suaminya masih hidup, mba Fatia nya sudah ikut mendaftar, sepertinya ia sudah begitu yakin jika suaminya mau meninggal." Kembali Fadil berbisik. Fadlan hanya diam kebingungan.


"Mba Fatia, kalau boleh tau itu suaminya meninggal kenapa ya?" Adam ikut kepo.


Tiba-tiba Fatia langsung bersedih, matanya mulai berkaca-kaca. Hingga membuat Adam menyesal telah bertanya seperti itu hingga perempuan yang ada dihadapannya itu bersedih mengingat mantan suaminya.


"Gak usah dijawab mba, maaf kalau aku membuat mba sedih." Ujar Adam.


"Suamiku meninggal karena bunuh diri." Jawab Fatia sambil menyeka air matanya, hingga Fadlan, Fadil dan Adam kembali terkejut bahkan sudah menganga.


"Inalillahi."


"Kalau boleh tau kenapa sampai bunuh diri." Kali ini Fadil yang kepo.


"Suamiku bunuh diri karena aku selalu memintanya untuk mengajaknya main di ranjang hingga belasan kali dalam satu hari." Jawab Fatia malu-malu. Tadi menangis sekarang menunduk malu.


Kembali mereka terkejut sambil menganga. Fadlan malah tiba-tiba merasa takut mendengarnya.


"Ngeri banget minta belasan kali dalam sehari." (Fadlan).


"Perempuan ini amazing. Nafsunya begitu besar hingga suaminya ketakutan dan akhirnya memilih mengakhiri hidupnya." (Adam).


"Kalau si S Ese M omOK alias si semok Syifa meminta belasan kali dalam sehari, aku tidak akan bunuh diri, justru aku jabanin." (Fadil).

__ADS_1


Fadlan langsung memberi kode pada Fadil dan Adam jika dirinya menolak Fatia, baginya Fatia begitu mengerikan.


Fatia pun akhirnya ditolak. Hari itu Fadlan sudah berkenalan dengan 4 orang perempuan yang berstatus janda, namun semuanya di TO LAK dengan alasan masing-masing.


__ADS_2