Si Duda Pemalu

Si Duda Pemalu
Pulang


__ADS_3

Masih dengan ustadz Soleh dan ustadz Usman di Jakarta. Setelah selesai makan, ustadz Usman pun bersiap untuk pulang ke kota A, rumah pak Beno sudah sepi hanya menyisakan para pelayan yang kini sedang membereskan ruangan itu yang kini nampak hancur akibat pergulatan tadi.


"Ayo kak kita pulang."


Mereka berdua sudah berjalan keluar namun tiba-tiba ustadz Usman mendengar suara anak kecil tertawa.


"He he."


Ustadz Usman sudah mengernyit lalu menyapu pandangan mencari sumber suara.


"Kak kau mendengar suara anak kecil tertawa gak?"


"Tidak dengar."


"Ko aku seperti mendengar suara anak kecil tertawa sih, padahal rumah ini nampak sepi, jangan-jangan rumah ini ada hantunya ya. Tapi ko aku tidak asing sama suara itu ya, mirip suara anaknya si Selebor." ujar ustadz Usman.


"Gak usah aneh-aneh, rombongan Fadil sudah pulang duluan."


"He he."


Kembali ustadz Usman mendengar suara anak kecil tertawa.


"Om ustadz"


Ustadz Usman langsung berbalik dan mengernyit ketika melihat Yura sedang duduk manis di singgasana pengantin.


"Diiih, apa aku gak salah lihat, itu anaknya si Selebor ko masih disini."


Ustadz Soleh pun ikut terkejut.


"Man, apa si Yura ketinggalan?"


"Bisa jadi. Itu si Ira kebangetan ya pake banget dan gak nanggung-nanggung, anaknya ditinggalin di rumahnya pak Beno. Jangan-jangan si Ira sengaja ninggalin anaknya biar di Yura ada yang nyulik." ujar ustadz Usman.


Ustadz Soleh dan ustadz Usman pun mendekati.


"Yura sedang apa kau disini?, kenapa kau masih disini?"


"He he."


"Jangan ha ha he he saja, kalau ditanya itu jawab, apa kau ditinggalkan umi mu disini?" tanya ustadz Usman. Yura hanya mengangguk ngangguk.


"Astaghfirullah alazim si Zahira benar-benar KE BA NGE TAN."


"Ayo pulang."


Yura malah menggeleng ketika ustadz Soleh mengajaknya pulang. Ustadz Soleh dan ustadz Usman sudah saling lirik.


"Hei Yura ayo kita pulang, umi mu sudah pulang duluan."


Kembali Yura menggeleng.


"Dengerin ya Yura, disini banyak orang jahat, nanti kalau kau diculik bagaimana. Takutnya nanti kau dijual ke luar negri."


"Aku mau pulang, tapi sebelum pulang mau jalan-jalan dulu ke Monas." pinta Yura.


"Idiiiih kau dikasih hati minta usus ya. Gereget deh" Ustadz Usman sudah gereget pake banget.


Tidak lama kemudian hapenya ustadz Usman berbunyi, dilihatnya Yusuf menghubunginya.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


"Maaf ustadz Usman, apa ustadz Usman masih di Jakarta?. Yura ketinggalan di rumahnya pak Beno." Yusuf sudah kalang kabut khawatir.


"Kebangetan ya kalian si Yura ditinggalkan."


"Maaf ustadz."


"Om ustadz, apa Om ustadz melihat si Yura putriku yang cantik jelita?" tanya Zahira.


"Si Yura mau dinikahi pak Beno." ujar ustadz Usman yang masih gereget pada Zahira, bisa-bisanya ia melupakan putrinya.


"Maaf om ustadz, tadi terjadi kekhilafan antara diriku dan kak Yusuf."


"MOMMY."


Yura sudah berteriak. Semua yang di mobil Fadil merasa lega mendengar suara Yura, itu artinya kini Yura bersama dengan ustadz Usman dan ustadz Soleh.


"Alhamdulillah."

__ADS_1


Tadinya jika ustadz Usman dan ustadz Soleh tidak bersama Yura, rombongan Fadil akan putar balik untuk mencari Yura di rumahnya pak Beno. Dan akhirnya Yura digendong ustadz Usman untuk pulang, baru saja beberapa langkah, ustadz Usman sudah mengernyit melihat tas besar milik Fadlan.


"Astaghfirullah. Kak putramu ikut kebangetan deh, mentang-mentang berhasil menyelamatkan putrinya Dokter Husna, ia lupa sama uang lima Milyar nya."


Ustadz Soleh pun ikut terkejut dan langsung mengambil tas yang berisikan uang lima Milyar itu.


"Untung itu uang belum digondol kucing."


***


Masih dengan Fadlan yang kini sudah sampai di kota A bersama Rania dan juga Dokter Husna. Ketika sampai di gerbang utama, rupanya banyak orang berkumpul. Fadlan pun mengernyit karena sebagian yang berkumpul itu keluarganya. Sarah, Nisa, Aisyah, Hawa, Syifa, Pipit, Zidan dan yang lainnya.


Fadlan menghentikan mobilnya didekat pos sekuriti. Fadlan turun ketika melihat Pipit dan Zidan ada disana. Rania dan Dokter Husna pun ikut turun.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


"Maaf, ini ada apa ya rame-rame begini?" Tanya Fadlan.


Sarah langsung mendekati putranya, ia merasa khawatir dengan Fadlan, apalagi Fadlan nampak lebam-lebam.


"Fadlan kau baik-baik saja?, Semua orang sedang mengkhawatirkan mu, Abi mu dan om mu (ustadz Usman) juga hilang. Kata Yudi dan Yuda kalian sedang balapan mobil. Kita semua khawatir dengan kalian." Tutur Sarah yang tidak tau seperti apa kejadiannya. Karena begitu terburu-buru akhirnya Fadil lupa untuk memberitahu.


Tiba-tiba semua nampak mengernyit melihat Rania turun dari mobil Fadlan, Rania masih menggunakan pakaian pengantin hingga semua heran dan bertanya-tanya. Namun Pipit sigap berlari mendekati Rania dan segera memeluknya.


"Tante cantik."


Rania pun tersenyum dan membalas pelukannya Pipit.


"Kak Fadlan habis kawin lari sama si Rania?" Tanya Syifa yang kini mulai kepo.


"Fadlan, apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Sarah.


"Ceritanya panjang Umi, nanti saja di rumah aku ceritanya. Aku baru saja pulang pergi ke Jakarta." Jawab Fadlan.


"Jadi kak Fadlan kawin larinya ke Jakarta?" Tanya Syifa


"Syifa jangan suka sembarangan kalau bicara." Pinta Aisyah.


"Ikh tante Aisyah, itu namanya bukan sembarang, tapi aku sedang mengeluarkan mode kepo."


"Abi dan Om mu kemana?" Tanya Sarah.


Akhirnya mereka pun bubar dari pos sekuriti.


Rania sudah pulang ke rumahnya bersama Dokter Husna. Begitu pun Fadlan yang pulang ke rumahnya. Aisyah, Sarah, Nisa, Fadli, Syifa, Hawa, Zidan dan Pipit sudah berkumpul untuk mendengarkan ceritanya Fadlan, tentunya Fadlan langsung bercerita.


"--------------------------------" (Fadlan).


Fadlan sudah bercerita panjang dan lebar, dan akhirnya semua mengerti kenapa sampai Rania pulang menggunakan pakaian pengantin. Sarah sudah tersenyum, merasa senang karena putranya itu menyelamatkan Rania, itu artinya Fadlan sangat menyukai Rania.


"Umi bangga padamu."


"Hawa, kak Fadlan mau ngucapin terima kasih karena AL sudah datang membantu." Ujar Fadlan.


"Itu sudah menjadi kewajibannya kak."


"Tapi dari mana AL tau masalah ini?" Tanya Sarah.


"Abinya Hawa yang meminta AL untuk menyelidiki masalah ini. Kami merasa ada suatu kejanggalan dalam kejadian kebakaran di cafe nya Rania. AL langsung sigap menyelidikinya, dan dugaannya memang benar jika pak Beno memang sengaja membakar cafe itu untuk membuat Rania bangkrut." Tutur Aisyah.


"Apapun yang terjadi kita jadikan pelajaran saja, yang penting semuanya selamat."


Tidak lama kemudian datanglah rombongan Fadil. Zahira dan Yusuf sudah menunggu kedatangannya Yura di rumahnya Fadlan. Setelah lama yang ditunggu-tunggu pun datang. Yura langsung berlari mendekati Zahira.


"Duuh sayang maafin Mommy umi ya, Mommy khilaf" ujar Zahira. Yusuf pun sudah memeluk putrinya.


"Abi juga minta maaf ya Yura."


"Mommy tadinya aku mau jalan-jalan dulu ke Monas, eh gak boleh sama om Ustadz. Om ustadz sentimen ya." Yura mengadu. Ustadz Usman langsung mengernyit.


Ustadz Usman pun melirik Fadlan.


"Fadlan, mentang-mentang kau sudah berhasil menolong Rania, kau sampai lupa sama uang 5 Milyar mu yang ketinggalan. KE BA NGE TAN."


Fadlan sudah menunduk malu. Ustadz Soleh sudah memberikan tas itu.


"Simpan uangnya. Nanti jika keputusan di pengadilan Rania tetap harus membayar hutangnya, kau bisa gunakan uang ini. Hutang tetap harus dibayar."


"Sepertinya jika pak Beno dinyatakan bersalah, aku yakin dia akan dimintai uang ganti rugi. Mungkin hutangnya Rania bisa diringankan." ujar Riziq

__ADS_1


"Terus apa rencana mu sekarang Fadlan?, sekarang besar kemungkinan Rania terbebas dari perjanjian itu. Soal hutangnya, dan kerugian cafe nya yang kebakaran itu akan diselesaikan oleh pihak pengadilan. Kau simpan saja dulu uang mu, nanti kalau dibutuhkan kau bisa menggunakannya." Tutur ustadz Soleh.


"Iya Bi, untuk rencananya, balik lagi ke awal, aku akan melamar Rania." Ujar Fadlan hingga semua tersenyum mendengarnya.


"Alhamdulillah."


Fadlan berniat melamar Rania besok malam setelah shalat isya.


***


Sementara dengan Rania yang sekarang sudah memeluk Dokter Husna dengan bahagianya, awalnya ia tidak menyangka sama sekali jika si Duda pemalu itu akan menyusulnya ke Jakarta dan berniat membayar semua hutangnya pada pak Beno.


"Alhamdulillah ya Bu, aku bisa terbebas dari pak Beno." Ujar Rania.


Dokter Husna sudah tersenyum sambil mengelus kepala putrinya itu.


"Bersyukurlah, Allah telah menyelesaikan semua masalahmu. Terus sekarang rencana kedepannya gimana?" Tanya Dokter Husna.


"Si Duda pemalu itu mau melamar ku, besok malam."


"Alhamdulillah."


Sebelum tidur, Rania sudah tersenyum-senyum sendiri di kamarnya, tak menyangka jika perasaannya akan seindah ini, tak menyangka jika ia akan jatuh hati pada pria dewasa yang statusnya duda beranak dua. Rania sudah tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila.


"Duuh si mas Duda mulai terbayang-bayang nih. Kalau sudah teringat dia pasti terasa menggemaskan. Aku ko tiba-tiba rindu ya, padahal hari ini sudah bertemu. Kalau sekarang aku telepon dia ganggu gak ya." Ujar Rania yang kini sudah menatap jam dinding yang sudah menunjukan pukul 23:45.


Rania tidak bisa mengendalikan diri hingga ia pun menghubungi Fadlan.


Dret dret dret.


Hapenya Fadlan sudah bergetar diatas tempat tidurnya. Fadlan langsung tersenyum, namun dadanya tidak bisa diajak kompromi, melihat ada panggilan dari Rania, dada Fadlan mulai berdebar hebat, kata Rania sudah seperti ada konser Agnes Mo.


Perlahan Fadlan menerima telpon itu.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam. Hallo mas Duda, mas Duda sudah tidur belum?." Tanya Rania.


"Belum."


"Cieee ada yang belum tidur jam segini pasti lagi mikirin putrinya Dokter Husna ya?" Tebak Rania hingga Fadlan langsung tersenyum menunduk.


Tebakan Rania memang benar jika sedari tadi Fadlan terus memikirkan Rania, siang terbayang bayang, dan malam terbawa mimpi.


"Mas Duda, kenapa diam saja."


"Kau belum tidur?" Fadlan bertanya balik.


"Belum, sedari tadi aku inget mas Duda terus, mungkin aku rindu he he. Tapi sekali lagi terima kasih ya mas sudah menolongku dari jeratan pak Beno. Aku tidak menyangka jika kebakaran itu adalah perbuatannya."


"Bersyukurlah kau masih diberi kesempatan untuk lepas dari pak Beno."


"Hmmm, tapi aku lebih bersyukur lagi karena aku bisa mengenal mas Duda. Mungkin hutangku itu adalah sebuah jalan agar kita dipertemukan, karena gara-gara terlilit hutang akhirnya aku bisa datang kesini nyari ibu, dan akhirnya bertemu mas Duda." Tutur Rania.


"Takdir, mungkin itu semua sudah takdir."


"Mas Duda benar."


"Bisa tidak jika setelah kita menikah nanti, jangan panggil aku dengan sebutan mas Duda, panggil dengan ungkapan lain atau apalah, yang penting jangan mas Duda, soalnya kalau kita sudah menikah nanti, aku sudah tidak menjadi Duda lagi " tutur Fadlan.


"Baiklah, nanti kalau kita sudah resmi menjadi suami istri, aku akan panggil mas suami." Ujar Rania hingga Fadlan yang mendengar pun langsung mengernyit.


"Jangan mas suami, cukup mas Fadlan saja. Dan juga kau harus siap jika Pipit dan Zidan akan memanggilmu umi."


"Bisa tidak jika anak-anak memanggilku kakak."


Fadlan kembali mengernyit mendengarnya. Rania tertawa.


"Bercanda doang mas, mana mungkin aku minta anak-anak panggil kakak."


Setelah lama mengobrol ngobrol, Rania pun izin pamit karena sudah ngantuk.


"Mas, aku tidur duluan ya, ngantuk."


"Hmm."


"Tapi sebelum telponnya ditutup, aku ingin dengar kata i love you dulu dari mas Duda." Pinta Rania penuh harap.


Fadlan langsung menunduk menahan malu. Ia memberanikan untuk mengatakan cinta pada Rania.


"Rania I LOVE YOU."

__ADS_1


Setelah mengucapkan itu, Fadlan segera mematikan telponnya dengan tergesa, kini ia sedang merasa malu. Pipinya sudah memerah namun dadanya sudah dar der dor gak karuan, mode malu nya keluar.


__ADS_2