
Hari demi hari terlewati sudah. Kini usia pernikahan Fadlan dan Rania sudah menginjak empat bulan. Untuk menyegerakan Pipit punya adik, hampir setiap malam Rania menantang suaminya adu proyek, namun nyatanya selalu dia yang KO. Hampir empat bulan ini Rania aktif membeli baju porno di online shop, sudah tidak terhitung lagi jumlah lingerie didalam lemarinya, semua warna ada. Rania ingin tampil berbeda di setiap malamnya, tentunya Fadlan selalu tergoda melihat istrinya yang blasteran itu.
"Kadang suka aneh dengan si mas Suami, ngomong jarang, menggoda apalagi, dia bisanya cuma menunduk malu doang, namun ketika digoda, eh nafsunya semangat 45, melihatku pake baju porno saja si mas Suami matanya langsung ijo hingga ujung-ujungnya tulang-belulangku pada retak." batin Rania.
Hari ini Fadlan sedang asik menyisir rambut istrinya yang basah. Rania sedang bermanja-manja pada suaminya.
"Mas Suami suka gak dengan rambutku yang panjang?" tanya Rania.
"Suka."
"Mas tau gak kenapa rambutku bisa cepat panjang dari biasanya?"
"Nggak."
"Itu karena tiap pagi rambutku selalu basah (keramas)." ujar Rania, namun kali ini Fadlan kurang faham.
"Mas Suami tau gak kenapa rambutku bisa basah tiap pagi." Pertanyaan Rania membuat Fadlan menunduk malu. Fadlan tau kenapa Rambut Rania bisa basah tiap pagi, jawabannya karena tiap malam mereka selalu mengerjakan proyek. Jika ada yang tanya proyek apa, maka jawabannya adalah proyek untuk membuat Pipit menjadi seorang kakak.
"Hahah si mas Suami menunduk malu, mungkin dia sadar bahwa basahnya rambutku itu ada hubungannya dengan dirinya. Dan anehnya suamiku yang pemalu ini selalu berhasil membuat tulang-tulang ku pada retak. Mungkin ini salah satu kelebihannya, selain pemalu dia juga jago di atas ranjang." batin Rania.
Setelah selesai merapihkan rambut istrinya kini Fadlan mulai mengepang rambut itu, karena itu permintaan Rania.
"Yang bagus ya kepangan nya."
Tiba-tiba datanglah Pipit masuk kamar.
"Abi aku juga mau dikepang," pinta Pipit yang kini sudah duduk di sebelah Rania.
"Sini Abi kepang rambutnya."
Sebenarnya Rania ingin tertawa melihat suaminya yang tiba-tiba jadi tukang salon dadakan. Mungkin kali ini istri dan putrinya Fadlan sedang dalam mode manja.
Setelah selesai mengepang rambut anak dan istrinya, Fadlan pun tersenyum.
"Sekarang pake lagi ya kerudungnya," pinta Fadlan karena hari ini mereka bertiga akan pergi jalan-jalan ke kebun. Sudah beberapa kali Rania, Pipit dan Zidan diajak keluar kota untuk melihat bisnis furniture nya, sekalian untuk jalan-jalan (liburan).
Mereka sudah jalan bertiga menuju perkebunan, selain ke kebun, mereka juga akan pergi ke makamnya Amara untuk berjiarah. Zidan tidak ikut, karena ia masih ada tugas di asrama.
Ketika sampai di kebun, para ustadz sudah menjalankan aktivitas seperti biasa dihari libur, yaitu bercocok sayuran. Baru juga sampai ke kebun, tiba-tiba Fadlan pingsan, tentunya itu membuat Rania dan Pipit terkejut, terlebih juga para ustadz yang ikut terkejut.
"Astaghfirullah mas Suami kenapa?" Rania mencoba membangunkan begitu juga dengan Pipit.
"Mas Suami bangun. Mas aku belum siap jadi janda. Kalau mas Suami pernah jadi Duda pemalu, maka nanti aku akan jadi si Janda tidak tau malu. Gaaaak, aku gak mau punya istilah seperti itu." ujar Rania sambil mencoba membangunkan Fadlan. Pipit malah sudah menangis.
Para ustadz sudah berlari mendekati, terutama ustadz Soleh yang begitu cemas melihat putranya pingsan.
"Si Fadlan kenapa?"
"Gak tau Abi mertua, tiba-tiba si mas Suami pingsan begitu saja." jawab Rania.
Mereka semua sudah membantu Fadlan.
"Kak, sepertinya putramu ini terkena angin jongkok deh," ujar ustadz Usman. Hingga semua yang mendengar pun langsung mengernyit.
"Sembarang kalau bicara." gerutu ustadz Soleh.
"Ya kalau tidak terkena angin jongkok lalu kenapa putramu ini tiba-tiba pingsan di kebun, apa dia terkena hama perkebunan?"
"Jangan banyak bicara, ayo bantu aku untuk membawa Fadlan ke klinik."
Dan akhirnya Fadlan dibawa ke klinik, ia dibopong oleh ustadz Soleh dan ustadz Usman diikuti oleh Rania dan Pipit. Ustad yang lain kembali melakukan aktivitasnya di kebun.
Sesampainya di klinik, Dokter Husna langsung sigap menangani menantunya.
"Rania, apa sebelumnya suamimu merasa pusing atau merasakan gejala sebelumnya?" tanya Dokter Husna.
"Kayanya nggak deh Bu, mas Suami baik-baik saja sebelum berangkat ke kebun, bahkan mas Suami sempat mengepang rambutku dan juga rambutnya Pipit."
__ADS_1
"Duuh keponakan ku ada kemajuan sekarang, dia sudah berani main kepang mengepang." batin ustadz Usman.
Dokter Husna merasa aneh karena Fadlan sama sekali tidak demam, suhu badannya normal, tekanan darah pun juga normal.
"Sepertinya Fadlan hanya kecapean," ujar Dokter Husna.
"Duh jangan-jangan si mas Suami kecapean gara-gara tiap malam lembur mengerjakan proyek." (Rania).
Dokter Husna sudah mencoba berbagai cara agar menantunya itu cepat sadar, mengoleskan minyak kayu putih pun sudah, namun Fadlan belum juga bangun.
"Duh kasihan nya keponakan ku. Kayanya dia ketebak angin hingga sekarang ia langsung koma." (Ustadz Usman).
"Mas Suami bangun dong."
"Coba Rania kau lakukan sesuatu, biasanya kau selalu melakukan apa untuk membangunkan suamimu yang tidur." ucap ustadz Usman. Rania mulai berpikir.
"Kalau membangunkan si mas Suami yang lagi ketiduran biasanya aku akan berputar-putar dihadapan nya sambil memakai baju porno (lingerie si seksi menerawang). Tapi mana mungkin aku sekarang berputar-putar memakai baju itu disini, bisa-bisa ustadz Usman dan Abi mertua juga ikut pingsan."
"Dokter Husna, itu keponakan ku kalau gak bangun-bangun perlu tindakan operasi gak sih?" tanya ustadz Usman.
"Man mingkem," pinta ustadz Soleh.
Rania sudah nampak khawatir pada si mantan Duda pemalu itu. Karena tak kunjung sadar, akhirnya Dokter Husna berbisik pada putrinya.
"Rania, ibu tanya, apa bulan ini kau sudah kedatangan tamu bulanan?"
Rania terdiam dan mulai mengingat-ingat.
"Kayanya belum deh Bu."
Dokter Husna sudah tersenyum lalu bergegas memeriksa Rania. Dokter Husna sudah menarik gorden untuk memisahkan ranjang Fadlan dan ranjang yang satunya yang akan dijadikan tempat Rania di periksa.
Setelah diperiksa, Dokter Husna langsung tersenyum.
"Rania, sepertinya kau sedang hamil." ujar Dokter Husna.
Rania nampak antusias mendengarnya, begitu juga dengan Pipit.
Dokter Husna kembali membuka gorden.
"Sepertinya Rania sedang hamil." ujar Dokter Husna memberitahu. Mendengar itu ustadz Soleh dan ustadz Usman nampak senang.
"Alhamdulillah."
"Rania, untuk lebih akurat nya lagi, sekarang kau gunakan alat tes kehamilan ya. Kalau garisnya ada dua berarti kau beneran hamil." ujar Dokter Husna yang kini sudah memberikan alat tes kehamilan.
"Sekarang pergilah ke toilet."
Rania pun menurut ia masuk ke toilet yang ada di klinik.
Dokter Husna sudah menunggu didepan pintu bersama Pipit. Ustadz Usman dan ustadz Soleh pun sangat berharap jika Rania benar-benar hamil.
Ceklek.
Pintu terbuka. Dokter Husna sudah mendekati begitu juga dengan ustadz Usman dan ustadz Soleh.
"Ada berapa garisnya, satu apa dua?" tanya Dokter Husna.
"Gak ada garisnya Bu," jawab Rania sambil memperlihatkan alat tes kehamilan itu. Dokter Husna mengernyit merasa heran ketika melihat alat itu tidak ada garis merahnya.
"Ko aneh."
Kini ustadz Usman sudah berbisik pada kakaknya.
"Apa yang terjadi dengan menantu mu? Kalau tidak hamil pasti garis merahnya ada satu, kalau hamil pasti garis merahnya ada dua. Ini kenapa gak ada garisnya, jangan-jangan menantumu masih perawan."
Ustadz Soleh sudah memicingkan matanya.
__ADS_1
"Mingkem Man."
"Ok."
Dokter Husna sudah merasa heran sendiri, tidak mungkin alat tes nya rusak, namun tiba-tiba ia mengernyit kembali ketika melihat alat tes itu nampak kering.
"Ini alat nya dicelupkan ke ur*n mu gak?" tanya dokter Husna. Rania menggeleng.
"Ya nggak lah Bu, aku kan gak jorok."
Lagi-lagi Dokter Husna mengernyit.
"Lalu sedari tadi kau di kamar mandi ngapain?"
"Ngeliatin alat ini doang."
Dokter Husna sudah menggeram, lalu menarik Rania masuk kembali ke toilet, kali ini ia yang menemaninya dan menjelaskan cara pakai alat itu. Sementara Ustadz Usman dan ustadz Soleh sudah saling lirik.
"Kelakuan menantumu kak." bisik ustadz Usman.
Setelah 10 menit di toilet, akhirnya Rania dan Dokter Husna keluar. Mereka berdua sudah tersenyum.
"Aku hamil," ujar Rania sambil mengelus perutnya. Dokter Husna sudah tersenyum-senyum sedari tadi karena ia akan mendapatkan cucu dari Rania.
"Alhamdulillah."
Pipit sudah berjingkrak-jingkrak.
"Horeee aku mau punya adik bayi."
"Selamat ya kak, kau akan punya cucu baru, itu artinya kau semakin tua." ujar ustadz Usman.
Rania sudah mendekati Fadlan yang masih belum sadar juga.
"Mas Suami bangun." Rania sudah mengelus-elus tangan suaminya, berharap Fadlan segera sadar dan mendengar jika dirinya kini tengah hamil.
Tidak lama kemudian Fadlan sadar, ia terheran karena dirinya kini berada di klinik, padahal sebelumnya ia berada di kebun.
"Alhamdulillah si Fadlan sadar."
"Ran, kenapa mas ada disini?" tanya Fadlan masih belum mengerti.
"Mas tadi pingsan di kebun."
Fadlan nampak terkejut mendengarnya.
"Mas pingsan???"
"Mas, aku punya berita gembira yang akan membuat jantungnya mas Suami berpindah posisi. Aku hamil mas," ujar Rania.
Fadlan yang mendengar pun langsung tersenyum.
"Alhamdulillah."
"Abi, aku mau jadi kakak," Pipit begitu antusias.
"Selamat ya Rania, Fadlan." ujar Ustadz Soleh.
"Terima kasih Bi."
Ustadz Usman kembali berbisik.
"Keanehan terjadi lagi kak, si Rania yang hamil tapi si Fadlan yang pingsan. Dulu pas malam pengantin, si Rania yang perawan tapi di Fadlan yang berdarah. Menantumu benar-benar A JA IB. Kecurigaan ku semakin menjadi, aku yakin menantu mu itu bukan hanya blasteran Indonesia-Jerman, tapi menantumu juga adalah blasteran antara manusia dan dedemit. Maklum saja, si Fadlan menemukan nya di pemakaman."
Ustadz Soleh kembali menggeram.
"Mingkem Man."
__ADS_1