
Keesokan harinya. Pagi-pagi sekali Fadlan sudah rapih, sekitar pukul 04:10. Fadlan tersenyum melihat Rania yang masih tertidur, dimaklumi saja Rania baru tidur dua jam yang lalu setelah mereka menjalankan episode kedua sampai episode ke-10 untuk mencari pahala.
Fadlan mendekati lalu mengelus kepala istrinya.
"Ran bangun, sebentar lagi azan subuh." Fadlan mencoba membangunkan.
Masih terdengar dengkuran halus dari sang istri yang nampak begitu kelelahan setelah berperang semalam.
"Ran bangun." Kembali Fadlan membangunkan.
Rania menggeliat namun matanya masih terpejam.
"Aku masih ngantuk, badanku juga berasa remuk sampai ke tulang-tulang," ujar Rania yang tidak mau bangun.
Fadlan hanya tersenyum, merasa lucu sendiri pada istrinya itu. Semalam Rania sendiri yang seolah menantangnya untuk mencari pahala yang tertunda, giliran tantangannya disambut Fadlan, malah ia sendiri yang kewalahan.
"Sayang bangun. Malam pengantin memang bisa dipending, tapi shalat subuh ya gak bisa dipending."
Rania pun mengerjap-ngerjapkan matanya dan mencoba untuk bangun.
"Mas Suami, sepertinya aku terkena 5L deh. Lemah, letih, lesu, lelah dan lunglai. Badanku berasa remuk," ujar Rania.
Fadlan tersenyum sambil kembali mengusap pipinya Rania.
"Maaf ya, mas membuatmu tidak berdaya seperti ini. Ayo bersihkan dulu badanmu, mas sudah siapkan air hangat, biar badanmu lebih enakan." Fadlan mencoba membujuk. Rania mengangguk pasrah.
"Tapi gendong aku ya."
Mode manja Rania keluar. Fadlan dengan sigap, melilitkan selimut pada tubuh istrinya lalu menggendongnya menuju kamar mandi.
"Mas Suami jangan ngintip ya, kata ibu persediaan obat mata sudah habis, aku gak mau mas Suami sampai bintitan."
Fadlan hanya tersenyum.
"Mas berangkat ke masjid dulu ya. Jangan lupa setelah mandi, bangunkan Pipit untuk shalat subuh," ujar Fadlan yang kini langsung pergi ke masjid.
"Si mas Suami yang pemalu, semalem mendadak mengerikan."
***
Pagi-pagi sekali Rania sudah mendandani Pipit karena putrinya itu akan pergi ke sekolah santri. Tugas Sarah sekarang sudah diserahkan pada Rania untuk mengantarkan putrinya ke sekolah.
"Pipit sudah cantik, ayo kita berangkat," ujar Rania.
Pipit malah menyentuh perutnya Rania.
__ADS_1
"Apa disini sudah ada bayinya?" Pertanyaan Pipit membuat Rania tersenyum-senyum.
"Do'akan saja ya, semoga umi cantik segera hamil. Dan untuk Pipit, kalau pengen segera punya adik, Pipit harus tidur lebih cepat dari biasanya. Habis shalat isya Pipit langsung tidur," ujar Rania memberi kode.
Pipit hanya diam tidak mengerti.
"Jadi kalau mau punya adik bayi, Pipit harus tidur lebih cepat ya."
"Hmmm, itu salah satu syarat utamanya. Pipit harus tidur lebih cepat, biar umi cantik sama Abi pemalu, aman." ujar Rania sambil menahan tawanya.
Pipit pun mengangguk ngangguk meskipun tidak mengerti.
Mereka pun bersiap untuk pergi ke sekolah, Fadlan pagi-pagi sekali sudah pergi bersama ustadz Soleh. Diluar bertemu dengan Sarah yang sedang menyapu halaman rumah.
"Assalamualaikum, pagi umi mertua." Sapa Rania.
Sarah pun tersenyum.
"Waalaikumussalam. Mau berangkat ke sekolah?"
"Iya."
Sebelum pergi, Rania dan Pipit mencium tangannya Sarah sambil berpamitan. Kembali Rania dan Pipit melanjutkan langkahnya, tak sengaja ditengah jalan bertemu dengan Fadli.
Fadli tersenyum melihat Pipit dan Rania.
"Assalamualaikum kakak ipar."
"Waalaikumussalam adik ipar."
"Pipit mau berangkat sekolah ya. Oh iya kakak ipar, aku cuma mau ngasih tau saja. Tadi pagi ketemu kak Fadlan, dia nampak lesu banget, mukanya pucat. Aku cuma menyarankan agar sebelum sesuatu di mulai, pergilah kakak ipar ke klinik untuk memberi obat agar tubuh kak Fadlan fit sepanjang malam." tutur Fadli yang memang sengaja ingin menggoda kak iparnya, tadi pagi ia sudah bertemu dengan Fadlan, ia juga menggoda Fadlan habis-habisan, hingga ujung-ujungnya ia dijewer ustadz Soleh.
"Duh adik ipar kalau soal itu tidak perlu diingatkan. Kakakmu itu tidak butuh obat untuk memperkuat tubuhnya, yang ia butuhkan itu obat penawar rasa malu." ujar Rania hingga Fadli langsung tertawa-tawa.
"Untuk penyakit yang satu itu sedikit susah untuk mengobatinya, karena rasa malu kak Fadlan sudah mendarah daging. Sedikit besarnya itu disebabkan umi yang waktu hamil tidak sengaja menginjak pohon putri malu."
Ketika Fadli ingat kalau dirinya ada perlu dengan Fadil dan Adam, akhirnya ia pamit pergi.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
Setelah kepergian Fadli, Rania langsung menatap Pipit.
"Pit, Om mu rada gila ya."
__ADS_1
"Iya kata Abi, nenek Sarah waktu hamil suka muntah kalau lihat Mbah Usman."
Kali ini Rania tertawa-tawa. Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Sesampainya di depan kelas, Rania bertemu dengan Zahira yang mengantarkan Yura ke sekolah.
Mereka saling sapa sambil mengucapkan salam. Kali ini Yura sudah tidak merajuk lagi.
Pipit mendekati sahabatnya itu. Sementara Rania mengobrol dulu bersama Zahira dan juga Syifa yang kebetulan mengantarkan si gemoy Bilkis.
"Yura, apa kau masih merajuk pengen ibu baru?" tanya Pipit. Yura menggeleng.
"Nggak, aku gak mau punya ibu baru. Kata Mommy, ibu tiri itu kadang ada yang jahat, aku takut direbus." ujar Yura sambil bergidik ngeri.
"Tapi kan gak semua ibu tiri begitu. Umi cantik baik ko, dia sayang padaku, bahkan sebentar lagi dia mau ngasih adik bayi. Aku mau punya adik bayi." ujar Pipit yang bicaranya seolah pamer.
Mendengar itu Yura langsung merengut, ia langsung menghampiri Zahira yang sedang ngobrol bersama Rania dan Syifa. Zahira nampak heran melihat putrinya merenggut gak jelas.
"Yura sayang, kenapa bibirnya melengkung kesamping begitu?" tanya Zahira heran.
"Mommy, si Pipit mau punya adik bayi. Aku juga mau punya." Yura merajuk. Zahira sudah menganga. Mendengar putrinya ingin punya adik bayi, itu artinya ia harus hamil, kalau sudah hamil, sudah pasti ada drama kolosal melahirkan, dan jika ada drama melahirkan sudah pasti drama pisang Ambon mengiang-ngiang dikepalanya.
Zahira langsung menatap Rania.
"Eh Rania binti Manfredo Roberto Nandor, memangnya kau sedang hamil?" tanya Zahira.
Rania langsung mengangguk-angguk, ia ingin menggoda Zahira karena ia tau Yura sedang merajuk ingin punya adik. Zahira langsung menunduk dan memutar otaknya.
"Hebat juga si Fadlan, belum juga dua Minggu mereka menikah, si Rania perutnya langsung ada isinya. Jadi kepo, si Fadlan berguru dimana?" batin Zahira.
"Usia kandunganmu sudah berapa Minggu?" tanya Zahira yang kini mulai kepo.
"Kayanya tiga Minggu deh."
Zahira sudah menganga, sementara Rania sudah menahan tawanya, merasa lucu melihat reaksinya perempuan narsis, mungkin ini balasan Rania untuk Zahira yang suka mengerjainya.
"Si Rania hamil tiga Minggu, padahal menikahnya baru dua Minggu, itu yang satu minggunya lagi dapat dari mana?" Otak Zahira perpikir keras.
"Rania kau tidak tekdung duluan kan?"
"Tidak."
"Ko bisa kau menikah baru dua Minggu, tapi hamilnya sudah tiga Minggu." ujar Zahira heran.
"Tante Ira, itu namanya keajaiban." jawab Rania sambil menahan tawanya.
"Seumur-umur, baru denger ada keajaiban seperti itu."
__ADS_1