
Masih dengan Fadlan yang berlari kabur dari Rania. Fadlan sudah berlari sekencang mungkin menuju rumahnya, tiba-tiba ia tidak sengaja menabrak Abinya sendiri (ustadz Soleh) yang sedang berjalan pulang ketika habis dari kebun.
"Astaghfirullah alazim Fadlan, kenapa kau lari-lari begitu?" Ujar ustadz Soleh heran.
"Maaf Abi, aku tidak sengaja." Fadlan mencoba mengatur nafasnya.
Ustadz Soleh merasa heran melihat putranya yang seperti ketakutan, bahkan dahinya berkeringat.
"Kau kenapa Fadlan lari-lari begitu, bahkan kening mu sampai berkeringat seperti itu?, Kau seperti habis melihat setan." Ujar ustadz Soleh.
Fadlan sudah menunduk sambil menggaruk kepalanya, tidak mungkin ia bercerita kalau dia berlari kabur dari putrinya Dokter Husna.
"Aku tidak apa-apa Bi, aku permisi dulu, assalamualaikum." pamit Fadlan yang segera pergi ke rumahnya, mencoba kabur dari pertanyaan Abi nya. Ustadz Soleh sudah merasa heran melihat putranya itu.
"Kenapa dengan putraku itu?"
Sesampainya di rumah, Fadlan langsung duduk dan menyender di sofa sambil mengatur nafasnya. Kata kencan yang sering diucapkan Rania mengiang-ngiang terus di pikirannya. Fadlan sudah mengusap-usap wajahnya, berharap kata kencan itu hilang dari pikirannya. Belum lagi nafasnya yang masih terengah-engah.
"Astaghfirullah alazim."
Di rumah itu ada Pipit dan Zidan yang sedang merasa heran melihat kelakuan Abinya itu, hingga mereka berdua saling berbisik.
"Kak, itu Abi kenapa, Abi seperti melihat hantu ya, keningnya berkeringat, Abi juga nampak ngos-ngosan seperti itu" Bisik Pipit.
"Sssttthhh, ayo kita tanya."
Zidan dan Pipit pun mendekati Fadlan.
"Abi kenapa datang-datang keringetan begitu, Abi habis lihat hantu ya?" Tanya Pipit.
Pipit pun merentangkan tangannya, ia memegang dadanya Fadlan yang kini sudah naik turun mengatur nafasnya, belum lagi jantungnya yang berdegup kencang, biasanya ia tidak begitu. Pipit pun ikut terkejut ketika memegang dada Abinya itu.
"Abi kenapa dadanya berdebar kencang banget, Abi kena serangan jantung ya?" Tanya Pipit takut. Fadlan sudah menunduk malu sambil menggeleng.
"Abi gak apa-apa sayang." Jawab Fadlan.
"Gak Bi, Abi gak baik-baik saja, jantung Abi berdebar aneh, sebentar aku panggil nenek Sarah." Ujar Pipit yang langsung berlari ke rumahnya ustadz Soleh.
"Jangan Pipit."
Teriak Fadlan melarang, sayangnya Pipit sudah berlari kencang. Zidan sudah menatap heran pada Abinya itu. Zidan sudah merentangkan tangannya, ia juga ingin tau seperti apa detak jantung Abinya sekarang, namun Fadlan segera menepis tangan putranya itu.
"Mau ngapain?"
"Penasaran Bi sama detak jantungnya Abi." Ujar Zidan.
"Sssttthhh, jangan macam-macam, sebaiknya kau masuk kamar, belajar, besok kan kau ada hafalan."
__ADS_1
Tiba-tiba Sarah datang sambil tergesa bersama Pipit, sejak cucunya mengatakan jika Fadlan terkena serangan jantung, Sarah langsung berlari, merasa khawatir pada putra sulungnya.
"Assalamualaikum, Fadlan kau kenapa?" Tanya Sarah sambil mendekati.
"Waalaikumussalam."
Fadlan sudah menunduk, merasa akan datang kekacauan baru. Sarah sudah memeriksa keadaan Fadlan.
"Kata pipit kau terkena serangan jantung, dadamu berdebar kencang, apa dadamu terasa sakit?" Tanya Sarah.
"Aku baik-baik saja umi, cuma kecapean saja tadi habis lari. Pipit terlalu berlebihan."
"Ayo Fadlan, kita ke klinik, kau harus segera di periksa Dokter Husna biar ketahuan penyakitmu. Umi khawatir dengan keadaanmu."
Mendengar nama Dokter Husna, mendadak Fadlan teringat putrinya, dan jika ia mengingat Rania, pasti kata-kata kencan mulai mengiang kembali dipikirannya.
KENCAN.
KENCAN.
KENCAN.
Fadlan sudah menganga ketika Sarah mengajaknya ke klinik.
"Gak usah umi, aku mendadak sembuh. Aku tidak mau kencan" Ujar Fadlan sambil berlari ke kamarnya dan mengunci pintu. Sarah, Pipit dan Zidan sudah saling lirik, merasa heran dengan sikapnya Fadlan.
"Kencan???. Aku hanya menyuruhnya diperiksa bukan menyuruhnya kencan." Batin Sarah.
"Ada janda ngajakin kencan kayanya," tebak Zidan.
Didalam kamar, Fadlan sudah memegangi dadanya sendiri, dan benar saja dadanya berdebar kencang gak karuan.
Deg.
Deg.
Deg.
"Kenapa dengan dadaku?"
...***...
Sementara dengan Rania yang sekarang sudah masuk ke klinik menemui ibunya. Ia mau melayangkan sebuah protes. Protes dengan sikap ustadzah Ulfi yang sebenarnya adalah Zahira yang mengaku-ngaku sebagai Ustadzah Ulfi.
"Assalamualaikum, Bu, aku mau protes Bu." Tutur Rania sambil duduk dihadapan Dokter Husna. Dokter Husna langsung menatap putrinya dengan heran.
"Waalaikumussalam. Kau mau protes apa Rania?"
__ADS_1
"Aku mau protes Bu, aku gak mau dapat guru privat seperti ustadzah Ulfi. Orangnya narsis banget." Gerutu Rania. Dokter Husna langsung mengernyit. Tidak percaya dengan ucapan Rania yang mengatakan ustadzah Ulfi narsis.
"Apa maksudnya ustadzah Ulfi narsis?"
"Iya, ustadzah Ulfi merasa dirinya perempuan paling cantik sedunia, aku gereget jadinya. Cari saja guru pembimbing yang lain jangan dia deh. Belum sehari kenalan saja rasanya kepalaku sudah kleyengan" Protes Rania.
"Setau ibu ustadzah Ulfi tidak seperti itu. Memangnya dia bilang apa?"
"Dia merasa dirinya paling cantik, yang lain cuma polesan doang. Dia juga bilang katanya aku harus terima nasib jika dia adalah perempuan paling cantik, dia juga bilang katanya aku harus belajar sabar dan ikhlas."
"Selain itu dia bicara apa?" Tanya Dokter Husna kembali.
"Dia bilang aku disuruh ganti penampilan, dia gak suka melihatku pake celana jeans."
"Nah itu bener, pasti ustadzah Ulfi menyarankan mu untuk memakai pakaian gamis kan." ujar Dokter Husna.
"Hmmm. Dia juga merekomendasikan butik yang ada didepan buat tempat belanja. Katanya itu punya saudaranya."
Dokter Husna malah tersenyum.
"Ibu punya beberapa gamis, kau boleh memakainya, tapi kalau kau ingin beli baju baru, itu juga boleh, nanti ibu yang bayarin semua belanjaan mu." Tutur Dokter Husna, ia merasa senang jika putrinya itu mau mengganti penampilannya.
"Nanti saja Bu, aku sedang cape."
Rania malah berbaring ditempat tidur pasien, tiba-tiba ia tertawa ketika dirinya mengingat Fadlan yang tadi berlari ketakutan setelah digodanya. Dokter Husna sudah mengernyit melihat putrinya yang tertawa-tawa sendiri.
"Lucu juga ya kalau mengingat si Duda pemalu itu, entah kenapa semakin hari aku semakin gemas padanya." Batin Rania.
Dokter Husna yang merasa aneh pun langsung mendekati Rania dan memegangi keningnya.
"Kau tidak sakit, tapi kenapa kau senyum-senyum begitu?"
"Aku habis ngajakin kencan si mas Duda, eh dianya malah kabur, ibu pasti tertawa kalau melihat wajahnya yang perpaduan antara malu dan juga takut. Gemez banget deh aku lihatnya." Tutur Rania.
Dokter Husna sudah merasa gereget pada putrinya itu.
"Ibu kan sudah sering bilang, kau jangan selalu menggoda mas Fadlan." protes Dokter Husna.
"Aku tau Bu, ibu takut kan kalau aku jatuh cinta padanya. Kalau pun benar aku jatuh cinta padanya, emangnya ada masalah ya?." Ujar Rania.
"Memang tidak ada masalah, tapi jika kau menggodanya hanya karena merasa gemas atau merasa lucu itu namanya kau mempermainkan mas Fadlan, gimana kalau dia lama-lama suka padamu karena kau rutin menggodanya, sementara kau hanya bercanda saja, bukankah itu nanti akan menyakiti perasaannya." Tutur Dokter Husna.
"Sssttthhh, ibu tenang saja, santai Bu,,,, santai."
"Kalau kau masih terus menggodanya, ibu do'akan kau jatuh cinta pada putranya ustadz Soleh itu." Ujar Dokter Husna sedikit menggerutu. Mendengar itu Rania malah tertawa.
"Kenapa ibu begitu yakin jika suatu saat aku akan jatuh cinta pada si mas Duda pemalu itu."
__ADS_1
"Kau tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi dengan hidupmu itu Rania."
"Hmm, ibu benar, pada kenyataannya, jika dalam tiga bulan ini aku tidak bisa melunasi hutangku, sudah pasti aku akan dinikahi pak Beno si tua bangk* itu." Rania sedikit sedih. Setidaknya dengan selalu menggoda Fadlan, ia sedikit melupakan masalahnya soal hutang, berharap akan ada keajaiban hingga ia terlepas dari semua hutangnya itu.