
Kini pak Beno sudah mendapatkan informasi siapa Fadlan sebenarnya. Pak Beno langsung tersenyum sinis ketika anak buahnya menceritakan tentang Fadlan.
"Jadi si Fadlan ini seorang Duda beranak dua. Usianya pun cukup jauh berbeda dengan usianya Rania. Fadlan ini cucu pertamanya kiyai Husen pemilik pesantren itu." Gumam pak Beno.
Pak Beno mulai tersenyum senyum. Ia yakin Rania punya niat terselubung mendekati Fadlan.
"Aku yakin Rania mendekati Fadlan hanya untuk memanfaatkannya saja, dia ingin menguras hartanya Fadlan untuk melunasi hutangnya padaku. Dia memanfaatkan Fadlan agar lelaki lugu itu mau membantunya melunasi semua hutangnya padaku. Tidak segampang itu Rania, akan kubuat lelaki itu menjauhi mu, aku akan membongkar semua kebusukan mu." Tutur pak Beno.
"Besok pagi kita ke kota A, kita temui Rania dan ibunya, aku juga ingin sekali bertemu dengan si Fadlan yang bodoh itu." Ujar pak Beno.
"Siap Bos."
***
Sementara dengan Fadlan yang kini sudah berdiri di jembatan bersama Zidan dan juga pipit, ia yakin Rania pasti datang ke jembatan untuk menatap aliran sungai, itu yang sering dilakukan oleh putrinya Dokter Husna akhir-akhir ini. Fadlan ingin mengatakan jika dirinya mau serius dan ingin menghalalkan Rania.
Sedari tadi Fadlan sudah berdo'a semoga niatnya itu diterima dengan hangat oleh Rania, tak lupa juga dia berdo'a agar kali ini tidak gerogi dan merasa malu untuk mengungkapkan niatnya itu.
"Untuk bibir, hati dan otak, kumohon kali ini kompak lah, aku ingin bicara pada Rania, tapi jangan buat aku malu dan gerogi." Batin Fadlan.
Pipit dan Zidan tau kalau Abi mereka itu sedang deg-degan, malu dan juga grogi.
"Lakukan sesuatu kak, si Abi rasa malunya kumat." Bisik Pipit pada Zidan. Zidan pun mengangguk ngangguk.
"Abi ingin makan permen jahe gak biar rasa malunya hilang?" Tanya Zidan.
Fadlan langsung mengernyit dan menggeleng, ia ingat betul bagaimana waktu ia memakan tiga permen jahe saat bertemu kandidat di restoran, rasa malunya hilang, namun rasa pedas datang tak diundang.
"Jangan ngasih ide yang aneh-aneh."
Dari kejauhan nampak lah ustadz Usman dan Fadil yang kini hendak pergi ke kebun.
"Ada pakde Usman sama om Fadil, kalau mereka tanya kita sedang ngapain, jangan bilang kalau kita disini lagi nungguin Tante Rania." Bisik Fadlan. Pipit dan Zidan langsung mengangguk.
"Ok siap Bi."
Ketika mereka berpapasan dengan Ustadz Usman dan Fadil, mereka pun saling sapa.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
Ustadz Usman dan Fadil merasa heran melihat Fadlan dan putra putrinya sedang berdiri diatas jembatan.
"Kalian lagi ngapain disini?" Tanya ustadz Usman.
Fadlan memang menyuruh Zidan dan Pipit untuk merahasiakan jika mereka sedang menunggu Rania disana, namun Fadlan lupa memberi alasan sedang apa mereka berdiri di jembatan jika ditanya ustadz Usman atau Fadil hingga mereka bertiga menjawab berbarengan dengan jawaban yang berbeda beda.
__ADS_1
"Mau mancing ikan." (Fadlan).
"Mau lihat ikan berenang." (Zidan).
"Mau melihat bintang jatuh." (Pipit).
Ustadz Usman dan Fadil sudah mengernyit, merasa heran dengan jawaban Fadlan Pipit dan Zidan.
"Ayo Bi kita lanjut ke kebun, biarkan kak Fadlan dan anak-anaknya itu berimajinasi sendiri." Ujar Fadil.
"Kalian bertiga harus ingat ya, jangan loncat dari jembatan, BA HA YA." ujar ustadz Usman yang kini langsung pergi ke kebun bersama Fadil setelah mengucapkan salam.
Fadlan, Pipit dan Zidan kembali menunggu Rania, namun Rania tak kunjung juga datang.
"Tante Rania ya kemana sih, jangan-jangan hari ini dia gak nongkrong disini. Emang Abi udah menghubungi Tante Rania kalau kita nunggu disini?" Tanya Zidan. Fadlan pun menggeleng hingga Zidan mengernyit.
"Yah Abi, kenapa Tante Rania nya gak dihubungi kalau kita nunggu disini, paling tidak kan Abi bisa kirim pesan kalau kita nungguin di jembatan. Ini mah nyampe bedug subuh juga Tante Rania gak akan kesini." Gerutu Zidan. Pipit malah cekikikan.
"Sebentar Abi, kirim pesan dulu."
Baru saja Fadlan mau mengirimkan pesan, tiba-tiba Rania datang, ia sengaja ingin melihat sungai seperti biasa.
"Nah tuh orangnya nongol." Ujar Zidan.
Deg deg deg deg.
Fadlan sudah deg degan gak karuan hingga semenjak melihat Rania ia sudah memegangi dadanya.
Rania sudah tersenyum melihat mereka, tak menyangka jika Fadlan dan anak-anaknya sedang nongkrong di jembatan.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
"Waah kalian tumbenan ada disini. Jangan bilang kalau kalian ini mau bunuh diri berjamaah." Ujar Rania sambil tertawa kecil. Fadlan hanya tersenyum saja.
Pipit dan Zidan sudah memberi kode pada Fadlan.
"Ayo Abi ngomong."
Fadlan sudah menunduk malu disertai gerogi. Kembali bibirnya mendadak kelu, bahkan dahinya sudah berkeringat.
"Aku mau bicara sesuatu padamu." Ujar Fadlan.
"Katakanlah."
Fadlan malah diam menunduk. Rania tau kalau Fadlan sedang merasa malu.
__ADS_1
"Mas Duda mau ngomong apa ya, apa dia mau ngomong cinta seperti waktu itu, kalau benar dia mau mengatakan cinta, aku harus buru-buru pegang sarungnya, soalnya takut seperti kemarin pas udah ngomong cinta si mas Duda langsung ngibrit kabur." (Rania).
"Ya Allah, beri hamba keberanian untuk bicara pada Rania." (Fadlan).
"Kalau sudah seperti ini, ingin rasanya aku meminjamkan keberanian ku dan keberaniannya Pipit untuk ditransferkan ke Abi, biar dia punya keberanian bicara pada Tante Rania." (Zidan).
"Pengen nyubit Abi deh ikh gemez." (Pipit).
Fadlan sudah mengatur nafasnya, sudah mengumpulkan semua keberaniannya untuk bicara.
"Rania."
"Hmmm."
"Aku ingin bicara serius denganmu. Aku dan anak-anak menyukaimu. Jika kau bersedia, aku ingin menghalalkan mu." Ujar Fadlan. Rania sudah tersenyum-senyum, ia tidak menyangka jika Fadlan akan bicara seperti itu.
"Apa kau bersedia menjadi istriku?" Kembali Fadlan bertanya.
Rania mengangguk-angguk sambil tersenyum senyum.
"Aku bersedia. Bersedia pake banget." Jawab Rania.
Fadlan pun tersenyum bahagia, begitu juga dengan anak-anaknya, bahkan Pipit dan Zidan sudah berjingkrak jingkrak karena merasa senang jika kini mereka akan punya ibu baru.
"Horeeeeeee."
"Yakin kau bersedia jadi istriku?"
"Aku sangat bersedia mas Duda. Aku menyukaimu, aku juga menyukai putra putrimu." Jawab Rania pasti. Kembali Fadlan tersenyum.
"Kau tidak malu diperistri oleh seorang Duda sepertiku?"
Rania menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya.
"Kau mau menerima Pipit dan Zidan sebagai anak-anak mu kan?" Fadlan memberikan pertanyaan lagi.
"Aku terima mas, aku terima semuanya."
Fadlan tersenyum.
"Terima kasih kau telah mau menerimaku dan anak-anakku. Besok aku akan menemui ibumu, aku ingin segera melamar mu, aku takut kedekatan kita menjadi sebuah pitnah." Tutur Fadlan.
Rania sudah terkejut bukan main, ia tidak menyangka jika si Duda pemalu itu akan segera melamarnya. Tentunya Rania begitu senang bukan main, matanya sudah berkaca-kaca, tidak disangka jika kedatangannya ke pesantren, rupanya telah mempertemukannya dengan jodoh. Kalau saja Rania tidak punya rasa malu, ingin sekali rasanya dia meloncat ke sungai karena begitu merasa bahagianya akan dilamar si Duda pemalu pujaan hati.
"Mas Duda mau melamar ku?" Tanya Rania memastikan. Fadlan pun mengangguk.
"Apa kau siap jika aku datang melamar mu?"
__ADS_1
"Aku siap, sangat siap." Jawab Rania hingga Fadlan kembali tersenyum.
"Alhamdulillah."